Dalam kitab Ruhul Ma’ani karya al-Alusi Jilid 4 halaman 184 terbitan Dar al-Fikr, Al-Alusi berkata: “Adapun bersumpah kepada Allah dengan salah satu dari makhluk-Nya, seperti mengucapkan; “Ya Allah, sesungguhnya aku bersumpah kepada-Mu, atau aku memohon kepada-Mu demi si fulan agar Engkau memenuhi hajatku”, ada sebagian manusia melarang bertawasul dengan zat dan bersumpah kepada Allah dengan salah satu dari makhluk-Nya secara mutlak, orang yang memercikkan keyakinan ini adalah yang mulia Ibn Taimiyyah,

Dalam kitab Syifa al-Siqam karya Taqiyuddin al-Subki halaman 357 terbitan Dar al-Kutub al-Ilmiyyah cetakan pertama tahun 2008 M, Imam al-Subki berkata: “Ketahuilah bahwasanya dibolehkan dan merupakan perbuatan baik yaitu bertawassul, meminta perolongan dan memohon syafaat melalui Nabi saw kepada Allah swt, dibolehkannya hal itu dan baiknya perbuatan tersebut; merupakan hal-hal yang telah diketahui oleh setiap orang yang beragama, yang dikenal termasuk perbuatan para Nabi dan para Rasul, para tokoh salafus salih, para ulama serta masyarakat Muslimin, dan tidak ada seorangpun ahli agama YANG MEMUNGKIRI DIBOLEHKANNYA TAWASUL, dan juga tidak pernah terdengar pada masa manapun, sampai datangnya seseorang yang bernama Ibn Taimiyyah yang mana dia berbicara tentang hal itu.

Dalam kitab Faidhul Qadir karya al-Manawi jilid 2 halaman 167 terbitan Dar al-Fikr cetakan tahun 2006 M, Al-Manawi berkata: al-Subki berkata; “Dan bagus bertawasul, meminta pertolongan, dan meminta syafaat dengan Nabi kepada Tuhan-Nya, hal itu tidak diingkari oleh salaf dan khilaf, sampai datangnya seorang yang bernama Ibn Taimiyyah, dia mengingkari hal tersebut dan menyimpang dari jalan yang lurus, serta mengada-ada apa yang tidak dikatakan oleh seorang ulama pun sebelumnya, yang kemudian menjadi penyakit di tengah-tengah umat Islam”.

Dalam kitab al-Jawahir al-Munadzam karya Ibn Hajar al-Haitami halaman 148 terbitan Dar Jawami’ al-Kalim, Ibn Hajar al-Haitami berkata: “diantara khurafatnya Ibn Taimiyyah yang belum pernah diucapkan oleh seorang ulama pun sebelumnya, karena khurafat tersebut menjadi penyakit di tengah umat Islam, yang mana Ibn Taimiyyah mengingkari Istighotsah DAN TAWASUL dengan Nabi saw.

Inilah bukti kuat bahwa Ibn Taimiyyah adalah orang pertama yang melarang tawasul melalui Nabi saw, keyakinannya sangat bertentangan dengan ulama ahlus sunnah, sehingga bagi mereka yang berpandangan sama seperti Ibn Taimiyyah di dalam masalah ini, maka mereka tidak sama keyakinannya dengan Ahlu Sunnah