Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Keutamaan Memperbanyak Shalawat di Hari Jum’at
Di dalam kitab Shahih At-Targhib wa At-Tarhib karya Al-Albani, salah satu ulama besar Salafiyah (Juz 2, Penerbit Maktabah Al-Ma’arif, Cetakan Pertama, tahun 2000, halaman 296), terdapat riwayat dari Abu al-Darda.
Beliau menyampaikan bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Perbanyaklah bershalawat kepadaku pada hari Jum’at, karena hari itu adalah hari yang disaksikan, di mana para malaikat menyaksikannya. Sungguh, tidaklah seseorang bershalawat kepadaku melainkan shalawatnya itu akan ditunjukkan kepadaku hingga ia selesai membacanya.”
Abu al-Darda kemudian bertanya, “Apakah hal itu juga terjadi setelah kematian?” Rasulullah SAW menjawab, “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan bagi bumi untuk memakan jasad para Nabi ‘alaihimussalam.” Hadits ini diriwayatkan oleh Ibn Majah dengan sanad yang dinilai baik (jayyid) oleh Al-Albani.
Kedekatan Derajat di Sisi Rasulullah SAW
Masih dalam kitab yang sama pada halaman 297, diriwayatkan dari Abu Umamah bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Perbanyaklah bershalawat kepadaku pada hari Jum’at, karena sesungguhnya shalawat umatku ditunjukkan kepadaku pada setiap hari Jum’at. Maka, barangsiapa yang paling banyak bershalawat kepadaku, dialah yang paling dekat kedudukannya denganku.”
Al-Albani menyebutkan hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bayhaqi dengan sanad yang baik (hasan), meskipun terdapat catatan bahwa perawi bernama Makhul disebut-sebut tidak mendengar langsung riwayat ini dari Abu Umamah.
Keutamaan Hari Jum’at dan Larangan Bumi Memakan Jasad Nabi
Diriwayatkan dari Aws bin Aws, Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya di antara hari-hari kalian yang paling utama adalah hari Jum’at. Pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu ia wafat, pada hari itu tiupan terompet (sangkakala) dilakukan, dan pada hari itu pula terjadi keguncangan yang mematikan (shaiqah). Maka, perbanyaklah bershalawat kepadaku pada hari itu, karena sesungguhnya shalawat kalian ditunjukkan kepadaku.”
Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana mungkin shalawat kami ditunjukkan kepadamu padahal engkau telah hancur (telah usang)?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla mengharamkan bagi bumi untuk memakan jasad para Nabi.”
Al-Albani menyatakan bahwa hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, Ibn Majah, Ibn Hibban dalam kitab Shahihnya, serta Al-Hakim yang juga menshahihkannya.
Cara dan Lafadz Shalawat yang Diajarkan Rasulullah SAW
Bagaimanakah cara kita bershalawat kepada Rasulullah SAW?
Cara ini diajarkan langsung oleh beliau dalam riwayat yang dishahihkan oleh Al-Albani dalam kitab Sahih Sunan An-Nasa’i (Jilid 1, Penerbit Maktabah Al-Ma’arif, Cetakan Pertama, tahun 1998, halaman 413).
Dari Musa bin Talhah, ia bertanya kepada Zaid bin Kharijah yang sebelumnya pernah bertanya langsung kepada Rasulullah SAW mengenai hal ini. Rasulullah SAW bersabda:
“Bershalawatlah kepadaku, bersungguh-sungguhlah dalam berdoa, dan ucapkanlah: Allahumma salli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad
(Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad).”
Selain itu, riwayat serupa juga ditemukan dalam kitab Al-Mawahib Al-Ladunniyyah (Jilid 3, halaman 334) karya Al-Qastallani, salah satu ulama Ahlus Sunnah (Penerbit Al-Maktab Al-Islami, Cetakan Kedua, tahun 2004).
Dari Abdurrahman bin Abi Layla, ia menceritakan bahwa dirinya pernah bertemu dengan Ka’b bin ‘Ujrah yang menawarkan sebuah “hadiah” berharga. Ka’b menceritakan bahwa ketika Nabi SAW keluar menemui para sahabat, mereka bertanya:
“Wahai Rasulullah, kami telah mengetahui bagaimana cara mengucapkan salam kepadamu, lalu bagaimana cara kami bershalawat kepadamu?”
Rasulullah SAW menjawab, “Ucapkanlah: Allahumma salli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad.”
Kesimpulan dan Penutup
Inilah amalan dan tuntunan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada umatnya hingga hari kiamat, yaitu bershalawat kepada beliau beserta keluarganya dengan mengucapkan lafadz Allahumma salli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad.
Berdasarkan hadits-hadits shahih yang telah dipaparkan, amalan membaca shalawat dengan lafadz ini bersifat umum bagi umat Muslim dan tidak dikhususkan atau dibatasi untuk kelompok atau golongan tertentu saja.
Semua rujukan hadits di atas bersumber secara valid dari kitab Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, Al-Mawahib Al-Ladunniyyah, dan Sahih Sunan An-Nasa’i.
Sallallahu ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala alihit-tayyibina-tahirin walhamdulillahi rabbil ‘alamin.

Judul video: Amalan Terbaik di Hari Jum’at – Watch on Youtube
Yuk Subscribe Dalil-dalil Channel:


