Dalam kitab Kanzul Ummal karya al-Muttaqi al-Hindi jilid 4 halaman 301 terbitan Dar al-Kutub al-Ilmiyyah cet kedua thn 2004 M*

Dari Atha bahwa Urwah berkata kepada Abdullah bin Umar, “Apakah Rasulullah saw berpuasa rajab? Dia menjawab, “Benar, dan beliau memuliakannya.

Al-hindi berkata, “Abul Hasan Ali ibn Muhammad bn Syuja al-Rubai tentang keutamaan rajab dan para perawinya semuanya terpercaya”.

Dalam kitab al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyyah karya Ibn Hajar al-Haitami Jilid 2 halaman 54

Ibn Hajar al-haitami berkata, “Dan telah ditetapkan bahwa hadis dhaif, mursal, munqathi’, mu’dhol dan mauquf dapat diamalkan dalam (hal) keutamaan amal-amal secara ijma, dan tidak ada keraguan bahwa puasa rajab termasuk dari amal-amal utama, maka dianggap cukup dalam mengamalkannya dengan hadis-hadis dhaif dan semisalnya dan tidak ada yang mengingkari hal itu kecuali orang bodoh yang tertipu.

Dalam kitab sahih Muslim syarah Nawawi jilid 1 halaman 113 terbitan Dar al-Fikr cet thn 2004 M*

An-Nawawi berkata, “Ke-empat; mereka terkadang meriwayatkan hadis berkenaan tentang Targib (sesuatu yang membuat orang suka) dan Tarhib (sesuatu yang membuat orang takut) keutamaan-keutamaan amal ibadah, kisah-kisah, hadis tentang kezuhudan dan kemuliaan akhlak, dan semacam itu yang tidak ada kaitannya dengan hukum halal, haram ataupun hal-hal yang berhubungan dengan hukum agama. Dan hadis semacam ini diperbolehkan bagi para ahli hadis dan selainnya. Memudahkan meriwayatkannya selain hadis maudhu dan diperbolehkan juga beramal dengannya, inilah kaidah dasar yang benar dan diakui.

Dalam kitab I’anatu Thalibin karya al-Dimyathi jilid 1 halaman 272 terbitan Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyyah

Al-Dimyathi berkata, “Ada yang mengatakan, ‘dan di antara yang bid’ah adalah puasa rajab, bukan seperti itu, akan tetapi puasa rajab adalah sunnah yang utama sebagaimana yang telah saya jelaskan dalam al-fatawa dan saya permudah pembahasan tentangnya (puasa rajab)”

Dalam kitab Bulghatus Salik karya al-Shawi jilid 1 halaman 446 terbitan Dar al-kutub al-ilmiyyah cet pertama thn 1995 M*

Dan disunnahkan berpuasa pada hari arafah bagi yang tidak berhaji dan dihukumi makruh puasa tersebut bagi yang berhaji. Dan disunnahkan pula puasa 8 hari sebelum hari arafah, dan hari asyura, hari tasu’a (9 Muharram) dan 8 hari sebelumnya…disunnahkan pula puasa rajab dan sya’ban.

Dalam kitab al-Inshaf karya al-Mardawi jilid 3 halaman 347

Al-Mardawi berkata, “Kebanyakan para sahabat (ulama mazhab Hanbali) tidak menyebutkan kesunnahan puasa rajab dan Syaban. Dan Ibn Abu Musa telah menghasankannya dalam al-Irsyad.
Ibn al-Jauzi telah berkata, “Dalam kitab Asbabul Hidayah, disunnahkan puasa pada bulan-bulan haram yaitu Syaban seluruhnya”.

Dari pernyataan para ulama tersebut, bahwa puasa di bulan rajab merupakan sunnah dan dapat diamalkan, apakah para ulama generasi sekarang lebih alim dari mereka?