𝗞𝗲𝗮𝗷𝗮𝗶𝗯𝗮𝗻 𝗞𝗲𝗹𝗮𝗵𝗶𝗿𝗮𝗻 𝗜𝗺𝗮𝗺 𝗔𝗹𝗶 𝗯𝗶𝗻 𝗔𝗯𝗶 𝗧𝗵𝗮𝗹𝗶𝗯
Kelahiran Imam Ali bin Abi Thalib (ʿ𝘢𝘭𝘢𝘪𝘩𝘪𝘴𝘴𝘢𝘭𝘢̂𝘮) merupakan sebuah fenomena yang amat unik dalam sejarah umat manusia.
Boleh dibilang, beliaulah satu-satunya di antara anak cucu Adam (ʿ𝘢𝘭𝘢𝘪𝘩𝘪𝘴𝘴𝘢𝘭𝘢̂𝘮) yang mendapatkan keistimewaan mutlak untuk dilahirkan di dalam rongga suci Ka’bah.
Sebelum masa itu, dan bahkan berabad-abad sesudahnya hingga detik ini, belum pernah tercatat dalam lembaran sejarah manapun ada manusia lain yang terlahir di tempat paling sakral bagi umat Islam tersebut. Peristiwa ini bukan sekadar kebetulan, melainkan isyarat langit akan kedudukan istimewa sang bayi di kemudian hari.
𝗠𝘂𝗻𝗮𝗷𝗮𝘁 𝗱𝗶 𝗧𝗲𝗻𝗴𝗮𝗵 𝗧𝗮𝘄𝗮𝗳
Kisah bermula pada hari Jumat, 13 Rajab. Kota Makkah disinari matahari yang cerah ketika Fatimah binti Asad, ibunda Imam Ali, tengah berjalan menuju Masjidil Haram.
Kandungannya telah memasuki usia tua, namun semangatnya untuk mendekatkan diri kepada Allah tidak surut.
Dikisahkan, wanita mulia ini tengah khusyuk bertawaf mengelilingi Ka’bah. Di tengah putaran tawaf itulah, tanda-tanda kelahiran tiba-tiba muncul.
Rasa sakit kontraksi datang tanpa permisi. Ketika desakan melahirkan itu menguat, tentu saja hal ini membuat sang bunda diliputi rasa cemas.
Secara manusiawi, tak ada lagi waktu yang cukup untuk kembali ke rumah. Jarak tempuh dan kondisi fisiknya yang melemah membuat perjalanan pulang menjadi mustahil.
Dalam kondisi terdesak antara rasa sakit fisik dan kepasrahan spiritual, Fatimah binti Asad merapat ke dinding Ka’bah.
Ia menengadahkan wajahnya ke langit, bermunajat memohon pertolongan dan kemudahan dari Tuhan Pemilik Rumah Suci tersebut.
𝗞𝗲𝗮𝗷𝗮𝗶𝗯𝗮𝗻 𝗱𝗶 𝗗𝗶𝗻𝗱𝗶𝗻𝗴 𝗔𝗹-𝗠𝘂𝘀𝘁𝗮𝗷𝗮𝗿
Di saat puncak kepasrahan itulah keajaiban terjadi. Diriwayatkan bahwa dinding Ka’bah di bagian 𝘈𝘭-𝘔𝘶𝘴𝘵𝘢𝘫𝘢𝘳 (belakang Ka’bah, berhadapan dengan Rukun Yamani dan Rukun Syami) tiba-tiba terbelah.
Bukan pintu Ka’bah yang terbuka, melainkan dinding batu yang kokoh itu merekah, memberikan jalan masuk khusus bagi wanita mulia tersebut.
Seolah mendapat undangan ilahiah, Fatimah binti Asad melangkah masuk ke dalam perut Ka’bah. Seketika itu pula, dinding yang terbelah kembali menutup rapat, meninggalkan kerumunan orang-orang Quraisy di luar yang terperangah.
Mereka berusaha membuka kunci pintu Ka’bah untuk menolong, namun pintu itu tak bergeming, menandakan bahwa peristiwa ini adalah urusan Tuhan semata.
Selama tiga hari, Fatimah binti Asad menjadi tamu Allah di dalam Baitullah. Di tempat yang sunyi dan suci itulah, ia melahirkan putranya tanpa bantuan bidan, hanya ditemani oleh penjagaan malaikat dan rahmat Tuhan.
Tepat pada hari ketiga, dinding yang sama kembali terbuka. Fatimah binti Asad melangkah keluar dengan wajah berseri-seri, menggendong bayi yang kelak akan menjadi “Pintu Kota Ilmu”.
𝗝𝗲𝗷𝗮𝗸 𝗩𝗮𝗹𝗶𝗱𝗶𝘁𝗮𝘀 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗟𝗲𝗺𝗯𝗮𝗿𝗮𝗻 𝗦𝗲𝗷𝗮𝗿𝗮𝗵
Peristiwa kelahiran di dalam Ka’bah ini bukan sekadar cerita rakyat, melainkan fakta yang dicatat oleh para ulama dan sejarawan terkemuka lintas mazhab.
Kesepakatan para perawi sejarah ini menegaskan betapa istimewanya kedudukan Imam Ali (ʿ𝘢𝘭𝘢𝘪𝘩𝘪𝘴𝘴𝘢𝘭𝘢̂𝘮).
𝗔𝗹-𝗛𝗮𝗸𝗶𝗺 𝗔𝗻-𝗡𝗶𝘀𝗵𝗮𝗽𝘂𝗿𝗶, ulama hadis terkemuka abad ke-4 H, dalam kitab monumentalnya 𝘈𝘭-𝘔𝘶𝘴𝘵𝘢𝘥𝘳𝘢𝘬 ‘𝘢𝘭𝘢 𝘢𝘴𝘩-𝘚𝘩𝘢𝘩𝘪𝘩𝘢𝘪𝘯 (Juz 3, hal. 483), menegaskan:
“Telah mutawatir (diriwayatkan oleh banyak orang sehingga mustahil mereka bersepakat untuk berdusta) kabar bahwa Fatimah binti Asad melahirkan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib di dalam perut Ka’bah.”
Senada dengan itu, sejarawan masyhur 𝗔𝗹-𝗠𝗮𝘀’𝘂𝗱𝗶 dalam 𝘔𝘶𝘳𝘶𝘫 𝘢𝘭-𝘋𝘩𝘢𝘩𝘢𝘣 (Juz 2, hal. 273) mencatat:
“Beliau (Ali) dilahirkan di dalam Ka’bah di Makkah. Beliau adalah satu-satunya orang yang lahir di tempat itu.”
Bahkan, ulama besar India 𝗦𝘆𝗮𝗵 𝗪𝗮𝗹𝗶𝘆𝘂𝗹𝗹𝗮𝗵 𝗔𝗱-𝗗𝗲𝗵𝗹𝗮𝘄𝗶 dalam 𝘐𝘻𝘢𝘭𝘢𝘵 𝘢𝘭-𝘒𝘩𝘢𝘧𝘢 menulis bahwa keutamaan ini adalah kekhususan yang diberikan Allah kepadanya dan tidak pernah diberikan kepada siapapun sebelumnya, maupun sesudahnya.
𝗦𝗲𝗻𝗮𝗻𝗱𝘂𝗻𝗴 𝗔𝗯𝗮𝗱𝗶 𝗣𝗮𝗿𝗮 𝗣𝗲𝗻𝘆𝗮𝗶𝗿
Keagungan peristiwa ini juga diabadikan dalam bait-bait syair Arab yang indah. Para penyair melihat adanya hubungan spiritual yang tak terpisahkan antara “Rumah Allah” dan “Wali Allah”.
Penyair klasik 𝗦𝗮𝘆𝘆𝗶𝗱 𝗜𝘀𝗺𝗮𝗶𝗹 𝗔𝗹-𝗛𝗶𝗺𝘆𝗮𝗿𝗶 (Wafat 173 H) melukiskan kesucian momen tersebut:
وَلَدَتْهُ فِي حَرَمِ الْإِلَهِ وَأَمْنِهِ *** وَالْبَيْتِ حَيْثُ الْفِنَاءُ وَالْمَسْجِدُ
بَيْضَاءُ طَاهِرَةُ الثِّيَابِ كَرِيمَةٌ *** طَابَتْ وَطَابَ وَلِيدُهَا وَالْمَوْلِدُ
𝘞𝘢𝘭𝘢𝘥𝘢𝘵𝘩𝘶 𝘧𝘪̂ 𝘩𝘢𝘳𝘢𝘮𝘪𝘭 𝘪𝘭𝘢̂𝘩𝘪 𝘸𝘢 𝘢𝘮𝘯𝘪𝘩𝘪… 𝘞𝘢𝘭 𝘣𝘢𝘪𝘵𝘪 𝘩𝘢𝘪𝘵𝘴𝘶𝘭 𝘧𝘪𝘯𝘢̂-𝘶 𝘸𝘢𝘭 𝘮𝘢𝘴𝘫𝘪𝘥𝘶
𝘉𝘢𝘪𝘥𝘩𝘰̂-𝘶 𝘵𝘩𝘰̂𝘩𝘪𝘳𝘢𝘵𝘶𝘵𝘴 𝘵𝘴𝘪𝘺𝘢̂𝘣𝘪 𝘬𝘢𝘳𝘪̂𝘮𝘢𝘵𝘶𝘯… 𝘛𝘩𝘰̂𝘣𝘢𝘵 𝘸𝘢 𝘵𝘩𝘰̂𝘣𝘢 𝘸𝘢𝘭𝘪̂𝘥𝘶𝘩𝘢̂ 𝘸𝘢𝘭 𝘮𝘢𝘸𝘭𝘪𝘥𝘶
“𝗗𝗶𝗮 𝗺𝗲𝗹𝗮𝗵𝗶𝗿𝗸𝗮𝗻𝗻𝘆𝗮 𝗱𝗶 𝘁𝗮𝗻𝗮𝗵 𝗵𝗮𝗿𝗮𝗺 𝗔𝗹𝗹𝗮𝗵, 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗻𝗮𝘂𝗻𝗴𝗮𝗻 𝗮𝗺𝗮𝗻-𝗡𝘆𝗮,
𝗗𝗶 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗞𝗮’𝗯𝗮𝗵, 𝘁𝗲𝗺𝗽𝗮𝘁 𝗽𝗲𝗹𝗮𝘁𝗮𝗿𝗮𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝗺𝗮𝘀𝗷𝗶𝗱 𝗯𝗲𝗿𝘀𝗮𝘁𝘂.
(𝗦𝗮𝗻𝗴 𝗜𝗯𝘂) 𝘄𝗮𝗻𝗶𝘁𝗮 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘀𝘂𝗰𝗶 𝗷𝗶𝘄𝗮, 𝗯𝗲𝗿𝘀𝗶𝗵 𝗽𝗮𝗸𝗮𝗶𝗮𝗻, 𝗹𝗮𝗴𝗶 𝗺𝘂𝗹𝗶𝗮,
𝗠𝗮𝗸𝗮 𝘀𝘂𝗰𝗶𝗹𝗮𝗵 𝗶𝗮, 𝘀𝘂𝗰𝗶 𝗽𝘂𝗹𝗮 𝗯𝗮𝘆𝗶𝗻𝘆𝗮, 𝗱𝗮𝗻 𝘀𝘂𝗰𝗶 𝗽𝘂𝗹𝗮 𝘁𝗲𝗺𝗽𝗮𝘁 𝗸𝗲𝗹𝗮𝗵𝗶𝗿𝗮𝗻𝗻𝘆𝗮.”
Sementara itu, 𝗔𝗯𝗱𝘂𝗹 𝗕𝗮𝗾𝗶 𝗔𝗹-𝗨𝗺𝗮𝗿𝗶 menggubah syair yang sangat populer, menggambarkan betapa tingginya derajat sang bayi:
أَنْتَ العَلِيُّ الَّذِي فَوْقَ العُلَى رُفِعَا *** بِبَطْنِ مَكَّةَ وَسْطَ البَيْتِ إِذْ وُضِعَا
𝘈𝘯𝘵𝘢𝘭 ‘𝘈𝘭𝘪𝘺𝘺𝘶𝘭 𝘭𝘢𝘥𝘻𝘪̂ 𝘧𝘢𝘸𝘲𝘢𝘭 ‘𝘶𝘭𝘢̂ 𝘳𝘶𝘧𝘪’𝘢̂… 𝘉𝘪 𝘣𝘢𝘵𝘩𝘯𝘪 𝘔𝘢𝘬𝘬𝘢𝘵𝘢 𝘸𝘢𝘴𝘵𝘩𝘢𝘭 𝘣𝘢𝘪𝘵𝘪 𝘪𝘥𝘻 𝘸𝘶𝘥𝘩𝘪’𝘢̂
“𝗘𝗻𝗴𝗸𝗮𝘂𝗹𝗮𝗵 𝗔𝗹𝗶 (𝗬𝗮𝗻𝗴 𝗧𝗶𝗻𝗴𝗴𝗶), 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗱𝗲𝗿𝗮𝗷𝗮𝘁𝗻𝘆𝗮 𝗱𝗶𝗮𝗻𝗴𝗸𝗮𝘁 𝗺𝗲𝗹𝗮𝗺𝗽𝗮𝘂𝗶 𝘀𝗲𝗴𝗮𝗹𝗮 𝗸𝗲𝘁𝗶𝗻𝗴𝗴𝗶𝗮𝗻,
(𝗦𝗮𝗮𝘁 𝗲𝗻𝗴𝗸𝗮𝘂) 𝗱𝗶𝗹𝗲𝘁𝗮𝗸𝗸𝗮𝗻 𝗱𝗶 𝗽𝗲𝗿𝘂𝘁 𝗠𝗮𝗸𝗸𝗮𝗵, 𝘁𝗲𝗽𝗮𝘁 𝗱𝗶 𝘁𝗲𝗻𝗴𝗮𝗵 𝗥𝘂𝗺𝗮𝗵 𝗦𝘂𝗰𝗶.”
𝗦𝗶𝗺𝗯𝗼𝗹𝗶𝘀𝗺𝗲 𝗞𝗲𝘀𝘂𝗰𝗶𝗮𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗣𝗮𝗿𝗶𝗽𝘂𝗿𝗻𝗮
Kelahiran di dalam Ka’bah membawa simbolisme yang sangat dalam. Ka’bah adalah kiblat, titik tuju bagi wajah-wajah yang bersujud. Dengan dilahirkannya Imam Ali di dalamnya, seolah ada pesan tersirat bahwa kelak sosok inilah yang akan membersihkan Ka’bah dari berhala-berhala jahiliah.
Jika Ka’bah adalah rumah fisik Allah di bumi, maka Imam Ali dipersiapkan menjadi penjaga nilai-nilai spiritual rumah tersebut. Kehidupannya pun menjadi sebuah siklus yang sempurna: ia lahir di rumah Allah (Ka’bah) dan kelak menjemput syahadahnya pun di rumah Allah (Masjid Kufa).
Peristiwa ini mengukuhkan posisi Imam Ali (ʿ𝘢𝘭𝘢𝘪𝘩𝘪𝘴𝘴𝘢𝘭𝘢̂𝘮) sebagai sosok terpilih yang kesuciannya dijaga sejak detik pertama ia menghirup udara dunia.*****
[Alfaqîr Ilallâh]

—
Bersama Usman Soekarno Arsal
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1BhAtJG3UB/

