Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Surat Al-Furqan ayat 27-29.
(Ingatlah) hari (ketika) orang zalim menggigit kedua tangannya seraya berkata, “Oh, seandainya (dahulu) aku mengambil jalan bersama rasul. (27)
Oh, celaka aku! Sekiranya (dahulu) aku tidak menjadikan si fulan530) sebagai teman setia. (28)
Sungguh, dia benar-benar telah menyesatkanku dari peringatan (Al-Qur’an) ketika telah datang kepadaku. Setan itu adalah (makhluk) yang sangat enggan menolong manusia.” (29)
Pengaruh Persahabatan dalam Merawat atau Merusak Keimanan
Al-Qur’anul Karim tidak hanya menjadi kitab pedoman hidup, tetapi juga menjelaskan berbagai aspek penting yang dibutuhkan manusia, salah satunya adalah tema tentang persahabatan dan pengaruhnya dalam menjaga keimanan atau justru menghalangi seseorang dari kebenaran.
Penyesalan di Hari Kiamat (Surat Al-Furqan: 27-29)
Salah satu rujukan utama mengenai pengaruh buruk pertemanan digambarkan oleh Allah SWT dalam Surat Al-Furqan ayat 27-29. Ayat ini menceritakan penyesalan yang sangat mendalam dari orang-orang yang zalim di hari kiamat:
- Menggigit Jari:
Di akhirat kelak, orang yang zalim akan menggigit kedua tangannya sebagai simbol penyesalan yang luar biasa karena tidak mengambil jalan yang ditunjukkan oleh Rasul. - Salah Memilih Teman Akrab (Khalil):
Mereka akan meratapi nasibnya dan berkata, “Alangkah celakanya aku, andai aku dahulu tidak menjadikan Si Fulan sebagai teman akrabku”. - Tersesat dari Kebenaran:
Teman akrab tersebut telah menyesatkan mereka dari Zikir (wahyu Allah/ajaran para rasul) setelah petunjuk itu datang. - Tipu Daya Setan:
Di dunia, setan merayu dan menjanjikan pembelaan, namun di akhirat mereka berkhianat dan berlepas diri dari manusia (sebagaimana juga digambarkan dalam Surat Al-Hasyr).
Allamah Thabathaba’i dalam Tafsir Al-Mizan menjelaskan bahwa ayat ini berlaku umum bagi siapa saja—baik umat terdahulu maupun umat Nabi Muhammad SAW—yang menzalimi diri sendiri dengan menolak petunjuk Rasul akibat wilayah (loyalitas/kedekatan) kepada para penyembah hawa nafsu dan kekasih setan.
Kisah Nyata Penyebab Turunnya Ayat: Uqbah bin Abi Mu’ith dan Ubay bin Khalaf
Untuk memperjelas konteks ayat ini, Jalaluddin as-Suyuthi dalam Tafsir ad-Durrul Mantsur meriwayatkan sebuah kisah nyata dari Ibnu Abbas mengenai dua tokoh kafir Quraisy di Mekah:
- Kebiasaan Uqbah bin Abi Mu’ith:
Uqbah adalah pembesar Quraisy yang gemar mengadakan jamuan makan bagi penduduk Mekah setiap kali pulang dari perjalanan jauh.
Ia juga sering duduk bersama Rasulullah SAW dan merasa takjub mendengar ucapan beliau. - Syarat Rasulullah untuk Makan:
Pada suatu hari, Uqbah mengundang Rasulullah ke jamuannya. Namun, Rasulullah menolak menyentuh hidangan tersebut sebelum Uqbah bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.
Karena merasa malu jika tamunya pulang tanpa makan, Uqbah akhirnya mengucapkan syahadat tersebut. - Hasutan Ubay bin Khalaf:
Kabar keislaman Uqbah sampai ke telinga teman akrabnya, Ubay bin Khalaf.
Ubay marah dan menuduh Uqbah telah keluar dari agama nenek moyang. Meskipun Uqbah menjelaskan bahwa ia bersyahadat hanya demi menghormati Rasulullah sebagai tamu, Ubay tetap tidak terima. - Tindakan Keji demi Teman:
Ubay menekan Uqbah dan berkata ia tidak akan rida sebelum Uqbah mendatangi Rasulullah dan meludahi wajah beliau.
Demi menjaga hubungan dengan teman akrabnya, Uqbah menuruti desakan keji tersebut. - Akhir Hidup yang Mengenaskan:
Atas tindakan tersebut, Rasulullah memperingatkan Uqbah bahwa jika ia keluar dari kota Mekah, beliau akan menghukumnya dengan pedang.
Ketika Perang Badar terjadi, Uqbah ditawan oleh kaum muslimin dan menjadi satu-satunya tawanan yang dihukum mati.
Hubungan persahabatan antara Uqbah bin Abi Mu’ith dan Ubay bin Khalaf ini menjadi contoh nyata bagaimana salah memilih teman akrab dapat menyeret seseorang pada kebinasaan fisik di dunia dan kerugian abadi (kekafiran) di akhirat.
Judul video: Mereka Menjadi Kafir Karena Teman! (01) – Watch on Youtube
Yuk Subscribe PANDU AHLULBAYT:


