12 October 2026

Ketika Surat Ali Memasuki Ruang Kekuasaan

Malam telah turun di sebuah wilayah pemerintahan.

Pintu-pintu kantor gubernur hampir ditutup. Pelita minyak masih menyala di atas meja. Gulungan catatan pemasukan dan pengeluaran tersusun di antara kantong-kantong uang negara.
Para penjaga berdiri di dekat pintu, sementara seorang juru tulis menyelesaikan pekerjaannya.

Lalu terdengar langkah kuda berhenti di halaman. Seorang utusan dari Kufah datang membawa surat.

Tidak ada pasukan yang menyertainya. Tidak ada pedang yang dihunus. Hanya selembar surat dari Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s.

Namun, bagi pejabat yang menyimpan sesuatu di balik pembukuannya, kedatangan surat itu dapat terasa lebih menakutkan daripada kedatangan seribu tentara.

Nahjul Balaghah tidak menyebutkan nama pejabat yang menerima surat tersebut.
Kita tidak mengetahui bagaimana wajahnya ketika segel dibuka. Kita juga tidak mengetahui apakah ia membacanya seorang diri atau di hadapan para pegawainya.

Namun, Surat 40 mempertahankan sesuatu yang jauh lebih penting daripada namanya:

Suara keadilan yang mengetuk pintu kekuasaan.

“Telah Sampai Kepadaku Sebuah Laporan”

Surat itu dimulai tanpa basa-basi:

“Telah sampai kepadaku suatu perkara mengenai dirimu.”

Imam Ali menerima laporan tentang dugaan penyalahgunaan amanah. Tetapi perhatikan ketelitian bahasanya.

Beliau tidak langsung berkata, “Engkau telah mencuri.”

Beliau tidak mengubah laporan menjadi vonis. Beliau tidak menghukum seseorang hanya berdasarkan berita yang sampai kepadanya.

Ali berkata:

“Jika engkau benar-benar melakukannya…”

Satu kata jika menjadi pembatas antara keadilan dan kesewenang-wenangan.

Ali sangat tegas terhadap korupsi, tetapi ketegasan tidak membuatnya mengabaikan pembuktian. Beliau tidak menutup mata terhadap laporan, tetapi juga tidak menganggap setiap tuduhan sebagai fakta.

Laporan harus diperiksa. Pejabat harus dimintai pertanggungjawaban. Pembukuan harus dibuka.

Sebab dalam pemerintahan yang adil, praduga tidak boleh menggantikan bukti. Namun, kedudukan juga tidak boleh digunakan untuk menghindari pemeriksaan.

Jika pejabat itu tidak bersalah, catatannya akan membelanya. Jika ia bersalah, catatannya akan membongkarnya.

Karena itu, Ali tidak meminta sumpah kesetiaan.

Beliau meminta angka. Tiga Pengkhianatan dalam Satu Perbuatan

Imam Ali kemudian menjelaskan beratnya perbuatan itu:

Jika laporan tersebut benar, pejabat itu telah membuat Tuhannya murka, mendurhakai Imamnya, dan mengkhianati amanahnya.

Satu tindakan korupsi ternyata mengandung tiga pengkhianatan.

Pertama, pengkhianatan kepada Allah.

Harta negara bukan benda tanpa pemilik. Di dalamnya terdapat hak manusia yang telah dipercayakan Allah kepada pemerintah. Mengambilnya bukan hanya pelanggaran administrasi. Ia adalah dosa.

Kedua, pembangkangan terhadap Imam.

Pejabat tersebut diangkat bukan untuk menguasai kekayaan rakyat, melainkan untuk menjaganya. Ketika ia mengambil keuntungan dari jabatan, ia telah menggunakan kekuasaan yang diberikan Imam untuk melawan tujuan pemerintahan Imam.

Ketiga, pengkhianatan terhadap amanah.

Ia tidak merampok rumah orang lain pada malam hari. Ia mengambil sesuatu yang justru diserahkan kepadanya untuk dijaga.

Inilah yang membuat korupsi lebih buruk daripada pencurian biasa. Seorang pencuri datang dari luar dan merusak pintu.

Seorang koruptor telah berada di dalam rumah. Kunci diberikan kepadanya. Ia mengetahui tempat penyimpanan harta.
Ia mengenal kelemahan pengawasan. Ia memakai cap negara, kendaraan negara, pegawai negara, dan kewibawaan negara untuk mengambil milik negara.

Pencuri menghancurkan kepercayaan terhadap keamanan. Koruptor menghancurkan kepercayaan terhadap pemerintahan.

Engkau Menghabiskan Tanah Itu

Laporan yang diterima Imam Ali sangat serius.

Beliau menulis bahwa pejabat itu telah “menelanjangi tanah”, mengambil apa yang berada di bawah kakinya, dan memakan apa yang berada di dalam kekuasaannya.

Ungkapan itu seperti memperlihatkan suatu wilayah yang diperas sampai kehilangan isinya.

Tanah yang seharusnya menghasilkan kesejahteraan bagi rakyat diperlakukan sebagai milik pribadi. Pendapatan yang seharusnya kembali kepada masyarakat diambil oleh orang yang menguasai administrasinya.

Ia berdiri di atas tanah negara, lalu menganggap semua yang berada di bawah kakinya sebagai miliknya.

Ia memegang kekuasaan, lalu menganggap semua yang berada di dalam genggamannya halal untuk dimakan.

Beginilah nafsu kekuasaan bekerja. Pada awalnya, seseorang merasa hanya dititipi jabatan. Kemudian ia mulai merasa berjasa.

Setelah merasa berjasa, ia merasa berhak memperoleh lebih banyak.

Lalu batas antara milik negara dan milik pribadi perlahan menghilang.

Ia menggunakan fasilitas negara dan berkata, “Aku pemimpinnya.”

Ia memberikan keuntungan kepada keluarganya dan berkata, “Mereka telah membantuku.”

Ia mengambil bagian dari proyek dan berkata, “Ini sekadar hadiah.”

Ia menerima sesuatu dari orang yang mempunyai kepentingan dan berkata, “Ini tanda persahabatan.”

Nama-nama dibuat lebih halus agar pencurian tidak terdengar seperti pencurian.

Suap disebut hadiah.

Nepotisme disebut kepercayaan.

Perampasan disebut kebijakan.

Penyelewengan disebut biaya operasional.

Namun, di hadapan Ali, permainan istilah berhenti.

Apa pun nama yang diberikan manusia, harta yang bukan hakmu tetap bukan milikmu.

“Kirimkan Perhitungan Hartamu!”

Setelah menyampaikan tuduhan yang diterimanya, Imam Ali memberikan perintah:

“Kirimkan kepadaku perhitunganmu.”

Tidak ada kalimat:

“Kita bicarakan secara kekeluargaan.”

Tidak ada tawaran:

“Berikan sebagian, lalu simpan sisanya.”

Tidak ada pesan rahasia:

“Jangan sampai persoalan ini diketahui rakyat karena akan merusak citra pemerintahan.”

Ali tidak sedang menjaga citra seorang pejabat.

Beliau sedang menjaga amanah rakyat. Perhitungan harus dikirim.

Berapa yang diterima? Dari mana asalnya? Ke mana dikeluarkan? Berapa yang tersisa? Siapa yang memperoleh bagian?

Apakah ada harta yang berpindah ke tangan pejabat, keluarga, atau kelompoknya?

Semua harus dibuka.

Ali memperlihatkan bahwa kesalehan pemerintahan tidak dapat dibangun hanya dengan pidato. Ia memerlukan catatan, pemeriksaan, dan pertanggungjawaban.

Doa seorang pejabat tidak menggantikan pembukuan. Sumpahnya tidak menggantikan bukti.

Pengakuan kesetiaannya kepada Imam tidak menggantikan laporan penggunaan harta rakyat.

Dalam pemerintahan Ali, kalimat “Percayalah kepadaku” tidak cukup.

Tunjukkan perhitungannya. Audit Melindungi Dua Pihak

Pemeriksaan bukan hanya perlindungan bagi rakyat. Ia juga perlindungan bagi pejabat.

Jika setiap tuduhan langsung menjadi hukuman, pemerintahan akan berubah menjadi alat fitnah. Musuh dapat menjatuhkan pejabat yang jujur hanya dengan menyebarkan kabar.

Sebaliknya, jika setiap pejabat dilindungi dengan alasan menjaga kehormatan pemerintahan, kekuasaan akan menjadi sarang korupsi.

Ali tidak memilih keduanya.

Beliau tidak mengabaikan laporan. Beliau juga tidak langsung menjatuhkan vonis. Beliau meminta perhitungan.

Inilah titik pertemuan antara ketegasan dan keadilan.

Audit akan membersihkan nama orang yang tidak bersalah dan membuka pengkhianatan orang yang bersalah. Orang jujur tidak perlu takut kepada pemeriksaan. Justru catatan yang terbuka menjadi saksi atas kejujurannya.

Yang takut kepada pembukuan biasanya bukan orang yang sekadar tidak menyukai angka.

Ia takut karena angka tidak pandai berpidato.

Angka tidak dapat dibujuk oleh hubungan keluarga.

Angka tidak terharu oleh cerita tentang jasa masa lalu.

Angka hanya memperlihatkan sesuatu yang masuk, sesuatu yang keluar, dan sesuatu yang hilang.

Perhitungan Allah Lebih Besar

Surat itu belum selesai.

Ali menutupnya dengan peringatan yang membuat seluruh kekuasaan dunia menjadi kecil:

“Ketahuilah bahwa perhitungan Allah lebih besar daripada perhitungan manusia.”

Seorang pejabat mungkin dapat mengelabui pemeriksa.

Ia dapat mengubah catatan. Ia dapat menyuruh saksi berbohong. Ia dapat menyembunyikan harta atas nama orang lain.

Ia dapat menggunakan kekuasaan untuk menghentikan penyelidikan.

Namun, semua cara itu hanya berlaku di hadapan manusia.

Tidak di hadapan Allah.

Pada hari perhitungan, tidak ada dokumen yang dapat dibakar. Tidak ada saksi yang dapat disuap. Tidak ada hakim yang dapat ditekan. Tidak ada hubungan keluarga yang dapat digunakan sebagai perlindungan.

Tangan akan berbicara. Kaki akan menjadi saksi. Tanah yang dirampas akan memberikan kesaksian.

Makanan yang dibeli dari harta haram akan berdiri sebagai bukti.

Pakaian yang dikenakan dari uang rakyat akan berubah menjadi tuntutan.

Karena itu, Ali tidak hanya membangun sistem pengawasan horizontal—pejabat diperiksa oleh pemerintahan. Beliau membangun pengawasan vertikal—setiap manusia akan diperiksa oleh Allah.

Pemeriksaan manusia mungkin dapat dilewati.

Perhitungan Allah tidak mempunyai jalan belakang.

Tidak Ada “Orang Kita” dalam Keadilan

Surat ini dikirim kepada seorang pejabat dalam pemerintahan Imam Ali sendiri.

Bukan kepada pejabat Muawiyah. Bukan kepada musuh politik.

Bukan kepada orang yang sejak awal menolak kepemimpinannya.

Ali membersihkan rumahnya sendiri. Inilah ujian terbesar keadilan.

Menemukan kesalahan musuh sangat mudah.

Membongkar kesalahan orang yang berada di kelompok sendiri jauh lebih sulit.

Ketika lawan melakukan korupsi, kita menyebutnya kejahatan.

Ketika kawan melakukannya, kita mencari penjelasan.

Ketika musuh mengambil uang negara, kita menuntut hukuman.

Ketika orang dekat mengambilnya, kita meminta persoalan diselesaikan secara diam-diam.

Ali tidak mengenal standar ganda itu. Kawan dan lawan tidak mengubah hukum.

Pujian masa lalu tidak menghapus pengkhianatan hari ini.

Jasa tidak dapat dijadikan kuitansi untuk mengambil harta rakyat.

Dalam keadilan Ali, tidak ada istilah orang kita jika amanah Allah telah dikhianati.

Pedang dan Buku Perhitungan

Manusia lebih senang mengenang Ali di Khaibar.

Kita terpesona ketika beliau mengangkat pintu benteng. Kita mengagumi Dzulfiqar yang membelah barisan musuh. Kita menikmati kisah tentang keberanian yang membuat para pendekar mundur.

Namun, ada wajah Ali yang lebih menakutkan bagi para pencinta dunia.

Ali yang memegang buku perhitungan.

Musuh di medan perang mengetahui bahwa pedang Ali tidak dapat dibeli.

Pejabat di dalam pemerintahannya mengetahui bahwa keadilan Ali juga tidak dapat dibeli.

Dzulfiqar membuat musuh gemetar di luar pemerintahan.

Kalimat “Kirimkan perhitunganmu” membuat pengkhianat gemetar di dalam pemerintahan.

Barangkali inilah sebabnya banyak orang bersedia memuji keberanian Ali, tetapi tidak benar-benar ingin dipimpin oleh Ali.

Mereka menginginkan Ali sebagai pahlawan. Mereka tidak menginginkan Ali sebagai pemeriksa.

Mereka ingin memasang namanya di dinding kantor, tetapi tidak ingin beliau membuka pembukuan di atas meja.

Mereka ingin mengutip kata-katanya tentang keadilan, selama keadilan itu tidak memeriksa kekayaan mereka.

Mengapa Tidak Mengikuti Ali?

Mengikuti Ali bukan hanya menangisi kezaliman yang menimpanya.

Mengikuti Ali berarti membangun pemerintahan yang berani memeriksa dirinya sendiri.

Tidak ada pejabat yang terlalu tinggi untuk ditanya.

Tidak ada keluarga yang terlalu dekat untuk diperiksa.

Tidak ada jasa yang terlalu besar untuk dijadikan alasan menghapus pertanggungjawaban.

Dan tidak ada tuduhan yang boleh langsung dianggap sebagai vonis tanpa pemeriksaan.

Ali mengajarkan dua hal sekaligus:

Jangan menghukum tanpa bukti. Jangan melindungi kekuasaan dari pembuktian.

Itulah keadilan yang lengkap.

Malam itu, seorang pejabat mungkin berdiri lama di hadapan surat dari Kufah. Pelita masih menyala. Kantong-kantong harta negara berada di sekelilingnya. Sang juru tulis menunggu.

Ia dapat menyusun seribu alasan.

Namun, surat Ali hanya meminta satu hal: Kirimkan perhitungan hartamu.

Sebab sebelum catatan itu dibuka di hadapan manusia, sebaiknya ia telah diselesaikan.

Kelak, seluruh manusia akan berdiri di hadapan sebuah perhitungan yang tidak dapat disuap, ditunda, atau dimanipulasi.

Dan perhitungan Allah jauh lebih besar daripada perhitungan manusia.

Kirimkan perhitungan

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Rujukan utama:

Nahjul Balaghah, Surat 40, ditujukan kepada salah seorang pejabat Imam Ali a.s. yang namanya tidak disebutkan dalam teks.
Surat ini menggunakan bentuk bersyarat—“jika engkau melakukannya”—kemudian menuntut pejabat tersebut mengirimkan perhitungannya.
“Teks Surat 40” NB. Lihat pula QS an-Nisa [4]:58, QS al-Anfal [8]:27, dan QS al-Baqarah [2]:188.

—

Artikel dan gambar sumber:  https://www.facebook.com/share/p/1Jf5CJH7ha/

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us