18 October 2026

Harits bin Hawth menatap Ali, lalu menunduk sejenak. Pertanyaan itu sudah dibawanya sejak datang. Namun sekarang, ketika harus mengucapkannya sendiri, ia merasakan betapa berat nama-nama yang akan disebutnya.

Thalhah dan Zubair adalah sahabat Rasulullah. Aisyah adalah istri beliau. Harits mengenal kedudukan mereka. Justru itulah yang membuatnya sulit menerima kenyataan bahwa dalam pertikaian Jamal, mereka berhadapan dengan Ali.

Bagaimana ia harus menilai semua ini? Nama-nama yang selama ini dihormatinya tidak lagi berada di pihak yang sama.

Harits menarik napas. Jemarinya merapat pada lipatan pakaian. Kemudian ia menyampaikan kegelisahannya.

“Amirul Mukminin, bagaimana mungkin orang-orang Jamal itu berada dalam kesesatan?”

Ia menyebut Thalhah, Zubair, dan Aisyah. Baginya, kedudukan mereka membuat alasan-alasan yang mereka ajukan terasa kontradiktif.

Ali mendengarkannya.

Ada ketegangan dalam pertanyaan itu. Harits sedang berbicara kepada orang yang mereka lawan. Ia mengakui di hadapan Ali bahwa nama-nama di pihak seberang masih membuatnya ragu. Namun ia tetap datang dan bertanya, membawa sesuatu yang belum sanggup dibereskannya sendiri.

Ali menghadap kepadanya.

“Kebenaran dan kebatilan tidak dikenal melalui orang-orang.”

Harits mengangkat wajah.

Ia datang dengan menyebut siapa orang-orang itu: sahabat Rasulullah, istri Rasulullah, orang-orang yang mempunyai kedudukan di tengah umat. Jawaban Ali mengarahkannya untuk memeriksa apa yang mereka lakukan.

Perbedaannya tampak sederhana. Menjalaninya bisa sangat sulit.

Selama ini, kebesaran nama mereka membuat Harits sukar membayangkan bahwa mereka dapat berada di pihak yang keliru. Kini ia diminta memeriksa perbuatan mereka tanpa lebih dahulu membebaskannya dari kemungkinan salah.

Ali melanjutkan nasihatnya.

“Engkau belum mengenal kebenaran, sehingga belum mengenal orang yang mengikutinya. Demikian pula kebatilan.”

Angin menggerakkan ujung pakaian Harits. Ia menahannya dengan satu tangan, sementara perhatiannya tetap tertuju kepada Ali.

Jawaban itu menyentuh pangkal kebimbangannya. Harits hendak memastikan kebenaran dengan menyebut nama orang. Ali menyuruhnya mengenali kebenaran agar dapat menilai orang dengan jernih.

Seseorang bisa mempunyai jasa besar, lalu mengambil keputusan yang keliru. Mengakui kekeliruan itu tidak menghapus seluruh jasanya. Tetapi jasa pun tidak mengubah yang salah menjadi benar.

Di hadapan Ali, Harits harus berhadapan dengan kemungkinan yang sejak tadi sulit diterimanya: orang yang dihormati tetap dapat melakukan kesalahan. Rasa hormat tidak cukup untuk membantahnya. Perbuatannya harus diperiksa.

Harits menggeser letak tangannya pada lipatan kain. Masih ada sesuatu yang hendak dikatakannya.

Kalau memilih pihak terasa demikian berat, barangkali ia dapat menjauh. Ada orang-orang lain yang mengambil sikap itu: Sa‘d bin Malik dan Abdullah bin Umar. Ia bisa mengikuti mereka, menarik diri dari pertikaian.

“Mengapa aku tidak mengikuti Sa‘d dan Abdullah saja?”

Untuk sesaat, kemungkinan itu seperti memberi ruang bernapas. Harits tidak perlu berdiri bersama orang-orang yang diragukannya. Ia juga tidak perlu menghadapi nama-nama besar yang membuat hatinya gentar untuk menyatakan bahwa mereka keliru. Ia dapat mengambil jarak.

Lagi pula, ia tidak akan sendirian. Ada Sa‘d. Ada Abdullah.

Harits menunggu jawaban Ali.

Namun Imam mengingatkannya bahwa kedua orang itu telah meninggalkan pertolongan terhadap kebenaran, meskipun tidak membantu kebatilan.

Kata-kata itu membuat usul Harits terdengar berbeda.

Ia membayangkan ketenangan dengan menjauh. Ali mengingatkannya pada kebenaran yang ditinggalkan. Ketika seseorang menarik diri, persoalan yang dihadapinya belum tentu selesai. Ada pihak yang tetap memerlukan pertolongan, sementara orang yang diharapkan membantunya memilih pergi.

Harits tidak dapat menyerahkan seluruh penilaian itu kepada Sa‘d dan Abdullah. Pilihan mereka pun harus diperiksa. Apakah sikap tersebut menunaikan kewajiban terhadap kebenaran, atau justru membiarkannya tanpa dukungan?

Baru saja ia menyebut Thalhah, Zubair, dan Aisyah sebagai alasan untuk ragu. Sekarang ia menyebut Sa‘d dan Abdullah sebagai alasan untuk menjauh. Dalam kedua usul itu, nama seseorang masih menjadi tempatnya mencari kepastian.

Ali membawanya kembali kepada hal yang sama: kenali dahulu apa yang benar.

Harits masih berada di hadapannya. Pertemuan itu belum memberinya jalan yang ringan. Mula-mula ia harus berani menilai tindakan orang yang dihormatinya. Sesudah itu, ia harus memikirkan tanggung jawabnya sendiri.

Sebab mengenali kebenaran dapat menuntut sesuatu dari orang yang mengenalinya. Ada sikap yang harus diambil, ada pertolongan yang harus diberikan. Seseorang tidak selalu dapat menenangkan hati dengan mengatakan bahwa ia sekadar mengikuti pilihan orang lain.

Ali lalu mengajukan pertanyaan tentang dua orang yang hendak dijadikan Harits panutan untuk menarik diri.

“Sejak kapan mereka menjadi teladan kebaikan untuk diikuti?”

Pertanyaan itu meninggalkan Harits di hadapan pilihan yang tidak dapat diwakilkan.

Ia datang membawa nama-nama besar, berharap kebesarannya cukup untuk menghilangkan kebimbangan. Ali mengajaknya melihat lebih jauh: apa yang mereka bela, apa yang mereka lakukan, dan apa akibatnya bagi kebenaran.

Betapa mudah mengatakan bahwa kita mencintai kebenaran ketika ia sejalan dengan orang yang kita kagumi. Ujian datang ketika kita harus memilih antara mempertahankan kekaguman itu atau mengakui sebuah kesalahan.

Di hadapan Harits, Ali telah menunjukkan dari mana penilaian itu harus dimulai.

Kenalilah kebenaran terlebih dahulu. Sesudah itu, lihatlah siapa yang setia mengikutinya.

Harits kenalilah

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Catatan pengisahan:

Kisah berpijak pada al-Amali, riwayat 216/29, dan Nahj al-Balaghah, Hikmah 262.
Suasana, gerak kecil, dan penggambaran batin merupakan rekonstruksi sastra. Kedua sumber tidak menerangkan keputusan akhir Harits. Catatan sumber lengkap dan perbedaan redaksinya tetap disertakan dalam naskah.

—

Artikel dan gambar sumber:  https://www.facebook.com/share/p/1CBCZp5Avd/

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us