17 October 2026

Malam menyelimuti al-Mada’in.

Di kejauhan, reruntuhan istana para raja Persia berdiri seperti bayangan raksasa—sisa sebuah kekuasaan yang dahulu merasa tidak akan pernah runtuh.

Namun di sebuah rumah sederhana, seorang lelaki tua sedang menghadapi kerajaan yang tidak pernah dapat dikalahkan manusia:

Kematian.

Dialah Salman

Lelaki Persia yang menghabiskan separuh hidupnya berjalan mencari kebenaran. Ia pernah meninggalkan rumah, kemewahan, negeri, bahkan agama nenek moyangnya. Ia berpindah dari seorang rahib kepada rahib berikutnya, menempuh gurun, diperjualbelikan sebagai budak, hingga akhirnya menemukan Muhammad Rasulullah saw.

Nabi tidak memanggilnya orang asing.

Nabi bersabda,

“Salman bagian dari kami, Ahlul Bait.”

Kini tubuh pencari kebenaran itu terbaring lemah.

Di sisinya berdiri Zadhan, sahabat yang merawatnya. Napas Salman semakin pendek. Wajahnya pucat, tetapi matanya justru tampak tenang—seakan ia sedang menunggu seseorang.

Zadhan membungkuk dan bertanya lirih,

“Wahai Abu Abdillah, siapakah yang akan memandikanmu?”

Salman menjawab tanpa ragu,

“Orang yang memandikan Rasulullah.”

Zadhan tercekat.

Ia mengetahui siapa yang dimaksud.

Ali bin Abi Thalib.

“Tetapi engkau berada di al-Mada’in,” katanya. “Sedangkan Ali berada sangat jauh di Madinah.”

Salman menatapnya.

Di bibirnya tampak senyum kecil.

“Ketika aku telah wafat dan engkau mengikat rahangku, engkau akan mendengar suara kedatangannya.”

Zadhan terdiam.

Jarak antara Madinah dan al-Mada’in bukan perjalanan beberapa langkah. Kuda tercepat pun membutuhkan hari-hari panjang untuk menempuhnya.

Tetapi Salman tidak sedang berbicara tentang perjalanan biasa.

Malam semakin pekat.

Angin menyusuri lorong-lorong al-Mada’in. Lampu minyak di dalam rumah bergoyang kecil. Salman mengangkat pandangannya, seakan melihat sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh orang lain.

Lalu bibirnya bergerak perlahan.

Salam untuk Rasulullah.

Salam untuk Fathimah.

Salam untuk Amirul Mukminin.

Sesaat kemudian, napasnya berhenti.

Zadhan menangis.

Ia merapatkan kedua kaki Salman, memejamkan matanya, kemudian mengikat rahangnya sebagaimana pesan terakhirnya.

Tiba-tiba—

terdengar suara keras di luar rumah.

Seperti kaki seekor tunggangan yang baru saja menghantam bumi setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh.

Zadhan tersentak.

Ia berlari menuju pintu.

Ketika daun pintu dibuka, tubuhnya membeku.

Di hadapannya berdiri seorang lelaki tinggi dengan pakaian perjalanan. Debu melekat pada jubahnya. Pedang tergantung di pinggangnya. Malam seakan memberi jalan kepada kehadirannya.

Ali bin Abi Thalib.

Tidak ada pasukan.

Tidak ada rombongan.

Tidak ada orang yang mengabarkan kepadanya.

Hanya Ali—berdiri di ambang pintu seorang sahabat yang baru saja meninggalkan dunia.

Imam memandang Zadhan.

“Apakah Abu Abdillah Salman telah berpulang?”

Air mata Zadhan jatuh semakin deras.

“Benar, wahai Amirul Mukminin.”

Ali masuk.

Langkahnya perlahan.

Lelaki yang tidak pernah gentar di hadapan ribuan pedang itu kini mendekati tubuh sahabatnya dengan mata yang basah.

Beliau duduk di sisi Salman.

Tangannya membuka kain yang menutupi wajah sahabatnya.

Keajaiban terjadi.

Wajah Salman yang telah wafat itu tampak tersenyum menyambut Ali.

Seakan ruhnya belum ingin pergi sebelum melihat wajah sang Imam untuk terakhir kalinya.

Ali menunduk.

“Selamat datang, wahai Abu Abdillah.”

Suara itu bergetar.

“Apabila engkau bertemu Rasulullah, sampaikan kepadanya apa yang dilakukan kaumnya terhadap saudaramu ini.”

Malam menjadi saksi kesedihan yang tidak pernah diceritakan mimbar-mimbar kekuasaan.

Ali tidak mengeluhkan luka di tubuhnya.

Tidak mengeluhkan haknya yang dirampas.

Tidak pula menceritakan kesepian yang mengepung rumah Fathimah.

Beliau hanya menitipkan semua kepedihan itu kepada Salman—

agar dibawanya menghadap Rasulullah.

Imam kemudian bangkit.

Dengan tangannya sendiri, beliau memandikan tubuh Salman.

Tangan yang pernah mengangkat gerbang Khaibar kini dengan lembut menyiramkan air ke tubuh seorang sahabat.

Tangan yang pernah menggenggam Dzulfiqar di tengah ribuan musuh kini mengafani seorang lelaki tua yang tidak meninggalkan istana, emas, ataupun pasukan.

Salman tidak memiliki kerajaan.

Namun pada malam pemakamannya, Amirul Mukminin datang sendiri untuk melayaninya.

Ketika jenazah dibawa menuju pemakaman, langit al-Mada’in terasa berbeda. Dalam tradisi Ahlul Bait diceritakan, barisan malaikat turut hadir menyalatkan Salman.

Manusia mungkin hanya melihat beberapa orang berjalan dalam kegelapan.

Namun langit melihat pemakaman seorang anggota keluarga Muhammad.

Ali turun ke dalam liang lahat.

Perlahan beliau meletakkan tubuh Salman di atas tanah.

Inilah akhir perjalanan panjang itu.

Dari Persia menuju Syam.

Dari Syam menuju Hijaz.

Dari rumah seorang bangsawan menuju pasar perbudakan.

Dari penyembah api menuju pelukan Rasulullah.

Dan dari dunia menuju keabadian—diantar sendiri oleh Ali bin Abi Thalib.

Tanah mulai menutupi tubuh Salman.

Ali berdiri di sisi makamnya.

Malam hampir berakhir.

Beliau memandang pusara itu untuk terakhir kalinya, lalu pergi sebagaimana beliau datang—menembus jarak yang tidak mungkin ditempuh manusia biasa.

Menjelang pagi, Ali telah kembali.

Orang-orang mungkin bertanya bagaimana perjalanan sejauh itu dapat ditempuh hanya dalam satu malam.

Namun cinta memiliki jalannya sendiri.

Wilayah memiliki rahasianya sendiri.

Dan Allah tidak mengukur kekasih-kekasih-Nya dengan keterbatasan manusia.

Salman menghabiskan hidupnya mencari Muhammad.

Ketika kematian datang menjemputnya—

saudara Muhammad datang mencari Salman.

Ia bukan orang Arab.

Bukan Quraisy.

Tidak memiliki hubungan darah dengan Bani Hasyim.

Tetapi kesetiaan membawanya ke tempat yang tidak dapat dicapai oleh nasab semata.

Muhammad menyebutnya bagian dari Ahlul Bait.

Dan ketika seluruh dunia meninggalkannya dalam kesunyian maut—

Ali melipat bumi untuk mengantarkannya pulang

Malam ketika ali datang

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1Kg9utPBqE/

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us