16 October 2026

Tangisan di Meja Mewah

Oleh Hasyim Arsal Alhabsi-Dehills Institute

Beberapa tahun kemudian, di Damaskus, dunia yang sama sekali berbeda terbentang di hadapan Ahnaf bin Qais. Ia diundang ke istana Muawiyah bin Abi Sufyan, dan seperti tamu kehormatan lainnya, ia disambut dengan perjamuan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Karpet makan terbentang luas. Hidangan panas dan dingin tersaji bersamaan. Manis dan asam saling berlomba memanjakan lidah. Salah satu yang paling mencolok adalah usus bebek berisi sumsum domba, digoreng dengan minyak pistachio, lalu ditaburi gula. Sebuah keindahan kuliner yang mencerminkan kosmopolitanisme Damaskus—dan transformasi besar yang sedang terjadi dalam dunia Islam.

Namun justru di hadapan kelimpahan itulah Ahnaf terdiam. Sendok terasa berat. Pandangannya kabur. Dan tiba-tiba—tanpa pidato, tanpa kata-kata—ia menangis.

Tangisan itu jelas kontras dengan keadaan yang sedang berlaku saat itu.

Ahnaf, seketika, teringat Ali bin Abi Thalib. Teringat tas gandum yang disegel. Teringat roti keras yang ditekan dengan lutut. Teringat seorang pemimpin yang berpuasa dari kenikmatan bukan karena tak mampu, tetapi karena tak ingin mendahului dan berbeda dengan rakyatnya dalam menjalani hidup kesehariannya.

Muawiyah memperhatikan. Ia tidak memarahi Ahnaf. Bahkan, ia mengakui dalam hati: Ali memang lain. Meski yang keluar dari mulutnya berbeda.

Inilah dua paradigma kepemimpinan saling menatap tanpa saling menyentuh. Berhadapan di sudut yang begitu bertentangan.

Bagi Muawiyah, kemewahan adalah instrumen stabilitas. Bagi Ali, kesederhanaan adalah syarat legitimasi.

Bagi Muawiyah, istana adalah panggung politik.

Bagi Ali, kepemimpinan adalah mimbar pertanggungjawaban.

Tangisan Ahnaf adalah momen langka ketika sejarah berbicara bukan lewat pedang atau dekrit, melainkan lewat air mata seorang saksi. Ia sedang meratapi hilangnya satu jenis kepemimpinan—kepemimpinan yang menahan diri sebelum menahan rakyat.

Dan di meja mewah itu, Ahnaf memahami sesuatu yang mungkin tak disadari banyak orang:

bahwa ketika seorang pemimpin mulai berdamai dengan kelimpahan, ia akan kehilangan kemampuan mendengarkan orang lapar.

Tangisan itu tidak mengubah kebijakan. Tidak menggulingkan kekuasaan.

Namun ia mengabadikan satu kebenaran:

bahwa sejarah Islam tidak hanya bergerak maju, tetapi juga telah bergeser.

Dan pergeseran itu—antara roti keras dan hidangan mewah—adalah pergeseran dari kepemimpinan sebagai amanah menuju kekuasaan para raja dan kaisar.

Ahnaf bin Qais pulang dari Damaskus tidak membawa cerita tentang jamuan,

melainkan membawa luka sunyi tentang sesuatu yang tak lagi sama.

Roti yang2

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1JrPfSGaky/

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us