11 October 2026

Mengapa Imam Ali Menegur Orang Kaya yang Meniru Pakaiannya

Basrah sedang tenang ketika Imam Ali bin Abi Thalib memasuki rumah al-‘Ala bin Ziyad al-Haritsi.

Rumah itu besar.

Halamannya luas. Tiang-tiangnya kokoh. Ruangan-ruangannya cukup untuk menampung banyak orang.

Al-‘Ala menyambut Amirul Mukminin dengan penuh penghormatan.

Namun ketika Ali berdiri di tengah rumah itu, pandangannya berkeliling.

Beliau melihat kemegahan bangunan tersebut.

Kemudian bertanya:

“Untuk apa rumah sebesar ini di dunia, sementara engkau lebih membutuhkannya di akhirat?”

Wajah al-‘Ala berubah.

Mungkin ia mengira Ali sedang mencela kekayaannya.

Mungkin ia merasa bersalah karena memiliki rumah besar, sementara khalifahnya tinggal dengan sangat sederhana.

Namun Ali belum selesai.

Beliau melanjutkan:

“Engkau dapat menjadikan rumah ini sebagai jalan menuju akhirat.”

Al-‘Ala mengangkat wajahnya.

“Bagaimana caranya, wahai Amirul Mukminin?”

“Di rumah ini, sambutlah tamu. Sambunglah hubungan dengan kerabat. Tunaikanlah hak orang yang membutuhkan. Gunakanlah ia untuk menolong manusia.”

Ali tidak menyuruhnya merobohkan rumah itu.

Tidak menyuruhnya menjual seluruh hartanya.

Tidak mengatakan bahwa seorang Muslim harus hidup miskin agar dicintai Allah.

Islam tidak memusuhi kekayaan.

Yang dimusuhi Islam adalah ketika kekayaan menguasai hati, membuat manusia lupa kepada Allah dan menutup pintunya dari sesama.

Rumah yang besar dapat menjadi kesombongan.

Namun rumah yang sama dapat menjadi tempat orang lapar menemukan makanan, musafir memperoleh perlindungan, keluarga kembali dipersatukan, dan hak Allah ditunaikan.

Bukan besarnya rumah yang menentukan nilainya.

Yang menentukan adalah untuk siapa pintunya dibuka.

Al-‘Ala kemudian menghela napas.

Seakan ada persoalan lain yang telah lama memenuhi pikirannya.

“Wahai Amirul Mukminin, aku ingin mengadukan saudaraku kepadamu.”

“Siapakah dia?”

“‘Ashim bin Ziyad.”

“Apa yang telah dilakukannya?”

“Dia meninggalkan kehidupan dunia. Ia memakai pakaian kasar. Menjauhi kenikmatan. Mengasingkan diri dari keluarganya. Ia berkata bahwa dirinya sedang mengikuti jalanmu.”

Ali terdiam. Wajahnya berubah.

Beliau tidak merasa tersanjung karena seseorang meniru pakaian kasarnya.

Beliau justru marah. “Bawa dia kepadaku.”

Beberapa saat kemudian, ‘Ashim bin Ziyad datang.

Tubuhnya dibalut kain kasar.

Wajahnya tampak pucat.

Ia berdiri di hadapan Ali seperti seseorang yang merasa telah mencapai puncak kezuhudan.

Ia meninggalkan pakaian yang baik.

Menjauhi makanan yang layak.

Mengurangi perhatian kepada keluarganya.

Dalam pikirannya, semakin menderita seseorang, semakin dekatlah ia kepada Allah.

Bukankah Ali hidup seperti itu?

Bukankah khalifah kaum Muslimin memakai pakaian penuh tambalan?

Bukankah Ali memakan roti jelai yang keras?

Maka ‘Ashim merasa sedang berjalan tepat di belakang Amirul Mukminin.

Namun suara Ali tiba-tiba menggelegar:

“Wahai musuh bagi dirimu sendiri!”

‘Ashim terkejut.

Orang-orang di ruangan itu terdiam.

Ali melanjutkan: “Setan telah menyesatkan pikiranmu.”

‘Ashim tidak mengerti. Ia datang dengan pakaian seorang zahid, tetapi Ali menyebutnya sebagai orang yang diperdaya setan.

“Tidakkah engkau merasa kasihan kepada istri dan anak-anakmu?”

Pertanyaan itu menghantamnya.

Sebab kezuhudan yang membuat seorang lelaki menelantarkan keluarganya bukanlah ibadah.

Kesalehan yang membuat anak-anak kehilangan haknya bukanlah kesalehan.

Dan pakaian kasar yang dikenakan agar terlihat seperti orang suci belum tentu menunjukkan hati yang suci.

Ali bertanya:

“Apakah engkau mengira Allah menghalalkan berbagai kenikmatan yang baik untukmu, tetapi kemudian membenci apabila engkau menikmatinya?”

‘Ashim terdiam.

“Allah lebih mulia daripada itu.”

Islam tidak memerintahkan orang kaya berpura-pura miskin.

Jika hartanya halal, zakat dan kewajiban Allah telah ditunaikan, keluarganya telah dipenuhi haknya, dan kaum lemah tidak dilupakan—ia boleh memakai pakaian yang baik.

Ia boleh memakan makanan yang baik.

Ia boleh memiliki rumah yang nyaman.

Ia bahkan patut memperlihatkan nikmat Allah dengan penuh rasa syukur, tanpa kesombongan.

Menikmati yang halal bukan dosa.

Yang berdosa adalah menikmati sesuatu yang dibangun dari hak orang lain.

‘Ashim mengangkat kepalanya.

Ia mengumpulkan keberanian untuk menjawab:

“Wahai Amirul Mukminin…”

Ia memandang pakaian Ali yang kasar.

“Engkau menegurku karena mengenakan pakaian seperti ini dan membatasi makananku.”

Kemudian ia bertanya: “Bukankah engkau sendiri hidup seperti ini?”

Ruangan itu kembali hening. Semua mata tertuju kepada Ali.

Pertanyaan ‘Ashim masuk akal.

Jika pakaian kasar tidak diwajibkan, mengapa Ali mengenakannya?

Jika makanan lezat halal, mengapa Ali menjauhinya?

Jika seorang Muslim boleh menikmati kekayaannya, mengapa orang yang menguasai wilayah seluas itu hidup lebih sederhana daripada kebanyakan rakyatnya?

Ali memandang ‘Ashim. Kemudian berkata:

“Celakalah engkau. Aku bukan seperti dirimu.”

Kalimat itu memecah seluruh kesalahpahaman.

“Allah telah mewajibkan para pemimpin yang adil untuk mengukur kehidupannya dengan kehidupan rakyatnya yang paling lemah.”

Bukan dengan kehidupan orang terkaya. Bukan dengan para saudagar.

Bukan dengan para pejabat yang tinggal di rumah-rumah besar.

Seorang pemimpin harus melihat orang termiskin yang berada di bawah pemerintahannya.

Apa yang dapat dimakan oleh orang itu?

Pakaian seperti apa yang sanggup dibelinya?

Bagaimana keluarganya menjalani malam?

Kemudian Ali melanjutkan:

“Agar kemiskinan tidak membuat orang miskin bergolak.”

Ali mengenakan pakaian kasar bukan karena pakaian bagus haram.

Ia memakan roti jelai bukan karena makanan lezat dosa.

Ia hidup sederhana karena di sudut kekuasaannya mungkin masih ada seseorang yang hanya memiliki kain kasar dan sepotong roti.

Ali tidak ingin orang miskin memandang istana pemerintahannya lalu berkata:

Pemimpinku hidup kenyang dari negeri yang membuatku kelaparan.

Karena itu Ali membedakan dua kedudukan.

Engkau orang kaya? Nikmatilah hartamu yang halal.

Berikan pakaian yang baik kepada istrimu.

Berikan makanan yang layak kepada anak-anakmu.

Bangun rumah yang nyaman.

Tetapi tunaikan hak Allah.

Bayarkan kewajibanmu.

Bukakan pintu bagi tamu.

Bantulah keluarga.

Jangan biarkan tetanggamu lapar.

Jangan jadikan kekayaan sebagai panggung kesombongan.

Namun jika engkau seorang pemimpin— ukuranmu berbeda.

Setiap kemewahanmu akan berhadapan dengan air mata rakyat.

Setiap pesta yang engkau gelar akan dibandingkan dengan dapur yang tidak mengepul.

Setiap pakaian mahal yang menempel di tubuhmu akan dipertanyakan oleh mereka yang tidak mampu menutup tubuh anak-anaknya.

Seorang rakyat boleh berkata: “Harta ini milikku.”

Namun seorang pemimpin harus bertanya:

“Apakah di dalam kenikmatanku terdapat hak rakyat yang belum kutunaikan?”

‘Ashim menundukkan kepala.

Kini ia mengerti.

Ia mengira sedang meniru Ali dengan memakai pakaian kasar.

Padahal yang membuat Ali agung bukan kasarnya pakaian itu.

Yang membuat Ali agung adalah alasan mengapa beliau mengenakannya.

Pakaian itu bukan kostum kesalehan.

Pakaian itu adalah pernyataan politik.

Setiap tambalan pada jubah Ali berkata kepada rakyat miskin:

“Aku tidak akan menjalani kehidupan yang tidak mungkin kalian jangkau.”

Ali tidak melarang orang kaya hidup nyaman.

Ali melarang pemimpin menjadikan jabatan sebagai jalan menuju kemewahan.

Ia tidak meminta rakyat meniru makanannya.

Ia meminta penguasa merasakan kehidupan rakyatnya.

Itulah perbedaan antara kezuhudan sejati dan kemiskinan yang dipertontonkan.

Zuhud bukan berarti tidak memiliki sesuatu.

Zuhud berarti tidak dimiliki oleh sesuatu.

Orang dapat mengenakan pakaian mahal, tetapi hatinya tidak diperbudak pakaian itu.

Sebaliknya, seseorang dapat memakai kain penuh tambalan, tetapi diam-diam diperbudak oleh keinginan untuk disebut sebagai orang suci.

Ali membongkar semuanya. Ia tidak tertipu oleh penampilan.

Tidak semua orang yang berpakaian kasar adalah zahid.

Tidak semua orang kaya adalah pecinta dunia.

Dan tidak semua kemewahan adalah dosa.

Yang dilihat Allah bukan sekadar apa yang kita kenakan—

tetapi hak siapa yang telah kita tunaikan sebelum mengenakannya.

Hari itu, ‘Ashim datang dengan keyakinan bahwa ia telah meniru Ali.

Ia meninggalkan ruangan dengan kesadaran bahwa pakaian Ali tidak dapat ditiru tanpa memikul tanggung jawab Ali.

Sebab seorang rakyat memakai pakaian sederhana karena pilihan.

Namun seorang pemimpin seperti Ali memakainya karena ia merasa setiap penderitaan rakyat melekat pada tubuhnya.

Maka nikmatilah rezeki halal yang diberikan Allah.

Pakailah barang yang baik sesuai kemampuan.

Bahagiakan keluarga. Muliakan tamu. Bantu kerabat dan fakir miskin.

Tidak ada kesalehan dalam menyengsarakan diri dan keluarga hanya agar terlihat sederhana.

Namun jangan menggunakan kehidupan pribadi orang biasa untuk membenarkan kemewahan pejabat.

Karena Ali sendiri telah menarik garis pembatasnya:

“Aku bukan seperti dirimu.”

Engkau bertanggung jawab atas rumahmu.

Sedangkan seorang pemimpin— bertanggung jawab atas setiap rumah yang tidak memiliki makanan.

Aku bukan

—

Bersama Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Artikel dan gambar sumber:  https://www.facebook.com/share/p/1DCXhpVzzq/

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us