11 October 2026

Orang yang akan membunuh Malik al-Asytar menyambutnya dengan menawarkan tempat beristirahat.

Ada makanan untuknya. Ada pakan untuk tunggangannya. Sesudah perjalanan panjang menuju Mesir, persinggahan itu tampak seperti kemurahan hati seorang tuan rumah.

Kemudian, minuman madu disuguhkan.

Di dalamnya, sebuah pembunuhan telah disiapkan.

⸻

Imam Ali a.s. telah memilih Malik untuk memimpin Mesir. Keadaan wilayah itu semakin genting, dan beliau membutuhkan seseorang yang dapat dipercaya menghadapi tekanan sebesar itu.

Malik bin al-Harits al-Asytar.

Namanya membawa ingatan tentang medan pertempuran, keberanian, dan kesetiaan yang telah berkali-kali diuji. Kini, tangan yang terbiasa menggenggam pedang itu akan memikul tanggung jawab atas kehidupan sebuah negeri.

Sebelum keberangkatannya, Ali berpesan:

“Padukan ketegasan dengan kelembutan. Bersikaplah lembut selama kelembutan lebih berhasil. Gunakan ketegasan ketika hanya ketegasan yang dapat mengatasi keadaan.”

Malik berangkat membawa kepercayaan itu.

Namun, berita pengangkatannya telah lebih dahulu sampai kepada Muawiyah.

Mesir merupakan wilayah yang diincarnya. Kedatangan Malik akan membuat upaya menguasainya jauh lebih sulit.

Sebuah rencana pun disusun.

Muawiyah menghubungi seorang pembayar kharaj dan menawarkan imbalan untuk menyingkirkan Malik:

“Jika engkau dapat membereskannya untukku, aku tidak akan mengambil kharaj darimu selama engkau hidup.”

Orang itu kemudian menunggu di al-Qulzum, pada jalur perjalanan menuju Mesir.

Ketika Malik tiba, ia menyambutnya sebagai tamu.

Makanan dihidangkan. Setelah Malik makan, minuman madu yang telah dicampuri racun diberikan kepadanya.

Malik meminumnya.

Perjalanan itu berakhir di al-Qulzum.

Mesir belum sempat menerima pemimpinnya.

⸻

Kabar kematian Malik sampai kepada Imam Ali.

“Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn. Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.”

Beliau mengembalikan kehilangan itu kepada Pemilik segala kehidupan. Tetapi kata-kata berikutnya memperlihatkan betapa berat musibah yang baru menimpa hatinya:

“Ya Allah, aku mengharapkan pahala dari-Mu atas kehilangan dirinya. Sesungguhnya kematiannya termasuk musibah besar zaman ini.”

Malik telah wafat.

Nama itu kini harus disebut bersama doa untuk seseorang yang tidak akan kembali.

“Semoga Allah merahmati Malik. Ia telah memenuhi janjinya, menuntaskan ajalnya, dan menemui Tuhannya.”

Ali kemudian menyebut Rasulullah SAW.

Beliau mengatakan bahwa sejak kehilangan Rasulullah, mereka telah meneguhkan diri untuk bersabar menghadapi setiap musibah, sebab kehilangan beliau merupakan salah satu musibah terbesar.

Duka yang baru itu bersentuhan dengan duka yang begitu dalam.

Dan Ali kembali bersabar.

⸻

Para tetua kabilah Nakha‘ datang menemui beliau.

Mereka adalah orang-orang dari kaum Malik sendiri. Mereka mengenal lelaki yang telah tiada itu. Kehilangan tersebut juga menghantam mereka.

Namun, di hadapan Ali, mereka menyaksikan kedukaan yang membuat mereka terdiam.

Beliau terus mengenang Malik dengan perasaan kehilangan yang mendalam.

“Betapa luar biasanya Malik…! Siapakah yang seperti Malik!”

Kemudian beliau menggambarkan sahabatnya:

“Seandainya ia sebuah gunung, niscaya ia gunung yang menjulang kukuh. Seandainya ia batu, niscaya ia batu yang sangat keras.”

Sebuah gunung. Begitulah Ali melihat lelaki yang telah direnggut dari sisinya.

Gunung tempat keteguhan berdiri. Sosok yang dapat dipercaya ketika keadaan menuntut keberanian, ketika sebuah amanah terlalu berat untuk diserahkan kepada orang yang mudah goyah.

Lalu, keluarlah perkataan itu:

“Demi Allah, kematianmu akan meremukkan suatu kaum dan menggembirakan kaum yang lain.”

Satu kematian telah membelah manusia menjadi dua perasaan.

Di suatu tempat, orang-orang merasa jalan mereka kini lebih lapang.

Di hadapan para tetua Nakha‘, Ali mengucapkan:

“Untuk orang seperti Maliklah orang-orang yang menangis patut menangis.”

Kemudian sebuah pertanyaan menyusul:

“Adakah orang seperti Malik?”

Pertanyaan itu meninggalkan ruang yang begitu sunyi.

‘Alqamah bin Qais al-Nakha‘i, yang menyaksikan kedukaan tersebut, mengenangnya dengan ungkapan yang menyayat:

“Ali terus berduka dan merasa kehilangan, sampai kami mengira beliaulah yang tertimpa musibah itu, bukan kami.”

Bekas kesedihan itu, katanya, tampak pada wajah Ali selama beberapa hari.

⸻

Di antara barang-barang peninggalan Malik, ditemukan sepucuk surat.

Surat dari Imam Ali untuk penduduk Mesir.

Di dalamnya, beliau memperkenalkan lelaki yang sedang dikirim kepada mereka: seorang hamba Allah yang tetap terjaga pada hari-hari penuh ketakutan, yang tidak mundur menghadapi musuh ketika bahaya mendekat.

Ali menyebut Malik sebagai salah satu pedang Allah.

Kemudian beliau menulis:

“Aku telah mengutamakan kalian atas diriku sendiri dengan mengirimkannya kepada kalian.”

Betapa besar harga kalimat itu.

Ali telah merelakan seorang yang sangat dibutuhkannya agar penduduk Mesir mendapatkan perlindungan dan kepemimpinan yang mereka perlukan.

Kini Malik telah tiada, dan surat itu tetap menyimpan kesaksian tentang besarnya kepercayaan yang dibawanya.

Sementara di Kufah, kedukaan masih menetap pada wajah sang Imam.

“Adakah orang seperti Malik?”

Malik asytar

Hasyim Arsal Alhabsi

Dehills Institute

 

Dasar kisah: riwayat perjalanan dan peracunan Malik dalam Tarikh al-Tabari, peristiwa tahun 38 H⁠, serta kesaksian tentang kedukaan Ali dalam riwayat Ibrahim al-Tsaqafi yang dikutip Syarh Nahj al-Balaghah, jilid 6, hlm. 77⁠. Narasi dikembangkan dan saya olah melalui riwayat; dan ucapan diterjemahkan menurut maknanya.

—

 

Artikel dan gambar sumber:  https://www.facebook.com/share/p/1FFJGFRatw/

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us