11 October 2026

Pasar Kufah dipenuhi suara pedagang.

Orang-orang menawar kain, gandum, minyak, dan rempah-rempah. Di salah satu sudutnya, seorang lelaki sederhana duduk di balik keranjang-keranjang kurma.

Namanya Maytsam.

Orang-orang memanggilnya Maytsam at-Tammar—Maytsam si penjual kurma.

Ia bukan pemimpin kabilah. Bukan bangsawan Quraisy.

Bukan panglima yang memiliki ribuan prajurit.

Ia pernah menjadi budak. Namun Ali bin Abi Thalib melihat sesuatu di dalam dirinya yang tidak dilihat manusia lain.

Imam membebaskannya. Mengajarinya.

Membawanya mendekati rahasia-rahasia yang tidak diberikan kepada sembarang orang.

Pada malam-malam tertentu, ketika Kufah telah tertidur, Maytsam berjalan bersama Ali. Mereka meninggalkan keramaian kota dan memasuki padang sunyi.

Di sana, di bawah langit yang dipenuhi bintang, Ali mengajarkan kepadanya tentang hidup, kematian, fitnah yang akan datang, dan harga yang harus dibayar oleh mereka yang memilih tetap setia.

Suatu hari, Imam Ali mengajaknya menuju sebuah tempat di dekat rumah Amr bin Huraits.

Di sana tumbuh beberapa pohon kurma.

Ali berhenti di hadapan salah satunya.

Pohon itu bukan yang paling tinggi. Bukan pula yang paling kokoh.

Imam meletakkan tangannya pada batangnya, kemudian memandang Maytsam.

“Wahai Maytsam…” Suara beliau berubah.

“Setelah kepergianku, engkau akan ditangkap.” Maytsam terdiam.

“Tangan dan kakimu akan dipotong. Engkau akan digantung pada batang pohon ini. Dan karena engkau terus menyebut keutamaanku, lidahmu akan dipotong.”

Angin menggerakkan pelepah-pelepah kurma. Maytsam memandang pohon itu.

Kemudian memandang Imamnya. Ia tidak bertanya bagaimana menyelamatkan diri.

Ia tidak meminta alamat tempat persembunyian. Ia hanya bertanya,

“Wahai Amirul Mukminin, apakah aku mati dalam Islam?”

Ali menjawab, “Engkau akan bersamaku di dunia dan akhirat.”

Wajah Maytsam berubah cerah. Baginya, persoalan telah selesai.

Tubuhnya boleh dipotong. Lidahnya boleh direnggut.

Asalkan ia tidak dipisahkan dari Ali.

Sejak hari itu, Maytsam sering mendatangi pohon tersebut.

Orang-orang melihatnya membersihkan tanah di sekelilingnya.

Ia menyiram akarnya.

Kemudian berdiri melakukan salat di bawah naungannya.

Sebagian orang menertawakannya. “Untuk apa engkau merawat pohon itu?”

Maytsam mengusap batangnya dengan penuh kasih.

“Engkau diciptakan untukku,” bisiknya, “dan aku diciptakan untukmu.”

Orang-orang menganggapnya aneh.

Mereka tidak mengetahui bahwa seorang pecinta sedang merawat tempat pertemuan terakhirnya dengan Tuhan.

Tahun-tahun berlalu. Imam Ali telah syahid. Imam Hasan telah diracun.

Muawiyah telah mati. Kini Kufah berada dalam cengkeraman Ubaidillah bin Ziyad.

Langit kota itu semakin gelap.

Nama Ali dicaci dari mimbar-mimbar. Para pencintanya diburu, dipenjara, dan dibunuh. Ketakutan memasuki rumah-rumah.

Namun di pasar Kufah, Maytsam tetap menjual kurma. Dan tetap berbicara tentang Ali.

Suatu hari ia melewati pohon yang dahulu ditunjukkan Imam.

Pelepahnya telah ditebang. Batangnya mulai dipersiapkan.

Maytsam berhenti. Ia menatap pohon itu lama sekali.

Lalu tersenyum. “Waktunya telah dekat.”

Tak lama kemudian, pasukan Ubaidillah bin Ziyad datang menangkapnya.

Maytsam dibawa ke istana. Tangannya terikat, tetapi kepalanya tegak.

Ubaidillah menatapnya dengan angkuh.

“Berlepas dirilah dari Ali bin Abi Thalib. Caci dia, maka aku akan membebaskanmu.”

Maytsam tersenyum. Orang-orang di ruangan itu saling berpandangan.

Bagaimana mungkin seorang penjual kurma yang tak memiliki pasukan berani tersenyum di hadapan gubernur yang dapat mengambil nyawanya dengan satu isyarat?

Maytsam menjawab, “Aku tidak akan berlepas diri dari Ali.”

Ubaidillah membentak, “Bukankah tuanmu telah memberitahukan bagaimana engkau akan mati?”

“Benar.”

“Apa yang dikatakannya?”

Maytsam menceritakan semuanya. Tangannya akan dipotong.

Kakinya akan dipotong. Tubuhnya akan digantung pada batang kurma.

Dan lidahnya akan dipotong karena tidak berhenti menyebut keutamaan Ali.

Ubaidillah tertawa.

“Aku akan mendustakan ramalan Ali. Aku akan melakukan semuanya—tetapi aku tidak akan memotong lidahmu.”

Maytsam menatapnya dengan tenang. “Engkau tidak akan mampu mendustakan Amirul Mukminin.”

Amarah memenuhi wajah Ubaidillah. Perintah dijatuhkan.

Maytsam dibawa keluar dari istana.

Pohon yang selama bertahun-tahun disiraminya kini telah berubah menjadi tiang hukuman.

Di sanalah tubuhnya digantung. Orang-orang Kufah berkumpul.

Mereka mengira Maytsam akan menangis. Memohon ampun.

Atau menyelamatkan dirinya dengan mencaci Ali.

Namun dari atas batang kurma itu terdengar suara lantang:

“Wahai penduduk Kufah! Berkumpullah! Aku akan menceritakan kepada kalian keutamaan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib!”

Ubaidillah ingin menjadikan batang itu sebagai tempat penghinaan.

Maytsam mengubahnya menjadi mimbar. Ia berbicara tentang keberanian Ali.

Tentang ilmu Ali. Tentang keadilan Ali.

Tentang kedudukan Ali di sisi Rasulullah.

Semakin tubuhnya disiksa, semakin keras ia menyebut nama Ali.

Orang-orang mulai berkerumun. Tangisan terdengar.

Bisikan berubah menjadi kegelisahan. Para penjaga berlari menghadap Ubaidillah.

“Jika ia terus berbicara, penduduk Kufah akan bangkit melawanmu!”

Wajah Ubaidillah memucat.

Ia telah memotong kekuatan tubuh Maytsam.

Namun ia tidak dapat mengalahkan suaranya.

Akhirnya keluar perintah yang sebelumnya ingin ia hindari:

“Potong lidahnya!”

Algojo mendekati Maytsam. Maytsam tersenyum.

“Amirul Mukminin telah berkata benar.”

Lidah yang selama hidupnya menyebut keutamaan Ali akhirnya dibungkam oleh pedang penguasa.

Tetapi terlambat. Kufah telah mendengar.

Sejarah telah mendengar. Langit telah mendengar.

Pada hari ketiga, sebuah tombak mengakhiri hidup Maytsam. Darah mengalir membasahi janggutnya—persis seperti yang pernah dikabarkan Ali kepadanya bertahun-tahun sebelumnya.

Maytsam gugur beberapa hari sebelum Imam Husain memasuki Irak.

Kufah sedang dipersiapkan untuk pengkhianatan terbesar dalam sejarah.

Sebelum darah Husain membasahi Karbala, darah seorang penjual kurma lebih dahulu menjadi peringatan:

Kota yang membiarkan lidah pecinta Ali dipotong— kelak akan membiarkan kepala cucu Rasulullah diangkat di atas tombak.

Pohon kurma itu akhirnya mengerti mengapa Maytsam selalu menyiraminya.

Ia tidak sedang merawat alat kematiannya. Ia sedang merawat mimbar terakhirnya.

Maytsam tidak takut kepada pohon tempat ia digantung.

Ia takut hidup lebih lama, tetapi dipaksa berlepas diri dari Ali.

Tubuhnya dihancurkan. Suaranya dibungkam.

Namun Ubaidillah gagal mendapatkan satu hal yang paling diinginkannya:

Maytsam tidak pernah mencaci Ali. Ia pernah menjadi budak yang dibebaskan oleh Ali.

Dan pada akhirnya— cintanya kepada Ali membebaskannya dari ketakutan terhadap seluruh penguasa dunia.

Pohon yg

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1CN6NbSYmY/

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us