11 October 2026

Pembahasan tentang Imam Mahdi bukanlah isu pinggiran dalam Islam. Ia menyentuh jantung keyakinan tentang kepemimpinan ilahi, kesinambungan risalah Nabi, dan masa depan keadilan manusia.
Hampir seluruh umat Islam—Sunni maupun Ahlul Bait (Syiah)—sepakat bahwa di akhir zaman akan muncul seorang Mahdi yang menegakkan keadilan setelah dunia dipenuhi kezaliman.
Namun, kesepakatan ini berhenti pada nama dan fungsi global. Ketika masuk pada siapa Mahdi itu, dari mana asalnya, dan apa status ontologisnya, perbedaan mendasar pun tak terelakkan.

Perbedaan ini bukan sekadar khilaf detail, melainkan cerminan perbedaan paradigma teologis antara Islam Ahlul Bait dan Sunni.

  1. Imam Mahdi dalam Perspektif Ahlul Bait: Pemimpin Hidup yang Ditentukan Allah

Dalam mazhab Ahlul Bait (Syiah Imamiyah), Imam Mahdi bukan figur masa depan yang belum lahir, melainkan Imam yang telah lahir, hidup, dan ditetapkan secara ilahi.

Beliau adalah:

  • Muhammad bin Hasan al-Askari
  • Imam ke-12 dari rangkaian Imam yang ma‘shum
  • Keturunan Rasulullah ﷺ melalui Fatimah az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib
  • Lahir pada 15 Sya‘ban 255 H
  • Mengalami Ghaibah atas kehendak Allah

Dalam pandangan Ahlul Bait, keberadaan Imam Mahdi bukan spekulasi, tetapi konsekuensi logis dari prinsip Imamah: bahwa bumi tidak pernah kosong dari hujjah Allah, meskipun hujjah itu tidak selalu hadir secara fisik.

Ghaibah bukan ketiadaan, melainkan perubahan mode kehadiran. Sebagaimana Nabi Yusuf hidup di Mesir tanpa dikenali saudara-saudaranya, atau Nabi Khidir hadir tanpa dikenali banyak manusia,
Imam Mahdi hidup sebagai penjaga kesinambungan risalah, meski berada di balik tirai sejarah.

  1. Imam Mahdi dalam Perspektif Sunni: Tokoh Saleh di Akhir Zaman

Dalam tradisi Sunni, Imam Mahdi dipahami secara berbeda secara mendasar.

Ciri-cirinya antara lain:

  • Belum lahir
  • Akan muncul menjelang akhir zaman
  • Seorang lelaki saleh dari keturunan Nabi (sebagian menyebutnya dari jalur Al Hasan)
  • Namanya Muhammad bin Abdullah
  • Tidak ma‘shum
  • Tidak memiliki otoritas ilahi sebelum kemunculannya

Dalam kerangka Sunni, Imam Mahdi adalah pemimpin reformis, bukan mata rantai kepemimpinan ilahi yang berkesinambungan. Ia hadir sebagai solusi darurat pada masa krisis global, bukan sebagai hujjah Allah sepanjang sejarah.

Karena tidak ada konsep Imamah yang terus hidup, Mahdi dalam Sunni tidak dibutuhkan sebelum dunia mencapai puncak kerusakan.

  1. Perbedaan Paradigmatik: Imamah vs Kepemimpinan Sosial

Perbedaan ini bersumber dari fondasi teologis yang berbeda:

Ahlul Bait

  • Kepemimpinan adalah penetapan Allah
  • Imam adalah penjaga agama dan penafsir sahih risalah
  • Mahdi adalah Imam yang hidup, meski ghaib
  • Ghaibah adalah bagian dari sunnatullah
  • Mengenal Imam adalah kewajiban iman

Sunni

  • Kepemimpinan bersifat ijtihadi dan sosial
  • Mahdi adalah pemimpin adil di akhir zaman
  • Tidak ada kebutuhan akan Imam hidup sebelum kemunculan
  • Tidak ada konsep ghaibah yang sistematis
  • Ketaatan bersifat politis dan moral

Maka Mahdi dalam Sunni adalah peristiwa, sedangkan Mahdi dalam Ahlul Bait adalah posisi eksistensial dalam sejarah dan kosmos.

  1. Ghaibah: Titik yang Sering Disalahpahami

Kritik terhadap konsep ghaibah sering lahir dari paradigma yang memang tidak mengenal hujjah ilahi yang berkelanjutan.

Dalam Ahlul Bait, ghaibah justru:

  • Menguji kedewasaan iman
  • Menguatkan peran akal dan tanggung jawab moral
  • Menyiapkan umat hidup tanpa kultus fisik
  • Melahirkan sistem perwakilan (ulama sebagai na’ib al-Imam)

Ghaibah bukan kemunduran, melainkan pendewasaan spiritual umat.

  1. Dampak Sosial dan Teologis dari Dua Pandangan

Perbedaan ini melahirkan dua watak sejarah:

  • Dalam Ahlul Bait, penantian Mahdi melahirkan kesabaran aktif, penolakan terhadap tirani, dan keberanian moral.
  • Dalam Sunni, Mahdi sering menjadi harapan korektif di akhir, bukan poros kesadaran sejarah.

Bukan berarti Sunni menolak keadilan, tetapi struktur teologinya tidak menempatkan Imam Mahdi sebagai pusat kontinuitas kepemimpinan ilahi.

  1. Hadis Nabi dan Makna Mengenal Imam Zaman

Perbedaan pandangan tentang Imam Mahdi pada akhirnya kembali pada satu pertanyaan mendasar:

Apakah Allah membiarkan umat berjalan tanpa hujjah hidup, ataukah Ia senantiasa menghadirkan penunjuk, meski terkadang tersembunyi?

Di sinilah sebuah sabda Rasulullah ﷺ menjadi poros pemahaman lintas mazhab. Nabi bersabda dengan redaksi yang diriwayatkan dalam berbagai jalur:

“Barang siapa wafat dan ia tidak mengenal Imam pada zamannya, maka ia wafat dalam keadaan jahiliah.”

Hadis ini diriwayatkan dalam sumber-sumber Sunni dan Syiah, dengan redaksi yang berbeda namun makna yang sama.

Rujukan dari Sunni

  • Musnad Ahmad bin Hanbal

“Man māta wa laysa fī ‘unuqihi bay‘ah, māta mītatan jāhiliyyah.”

  • Shahih Muslim (makna serupa dalam bab ketaatan dan kepemimpinan)
  • Sunan al-Bayhaqi dan riwayat-riwayat lain yang menegaskan bahaya hidup tanpa kepemimpinan sah

Rujukan dari Syiah (Ahlul Bait)

  • Al-Kafi (Kitab al-Hujjah)
  • Kamal al-Din wa Tamam al-Ni‘mah karya Shaykh al-Shaduq
  • Bihar al-Anwar (kompilasi riwayat tentang Imamah dan Ghaibah)

Yang penting dicatat: hadis ini tidak berbicara tentang baiat politik semata, tetapi tentang pengenalan sadar terhadap hujjah Allah pada setiap zaman.

“Jahiliah” yang dimaksud bukan sekadar masa pra-Islam, melainkan kondisi keterputusan dari kepemimpinan ilahi, meskipun seseorang hidup dalam suasana religius dan penuh ritual.

Dalam perspektif Ahlul Bait, mengenal Imam zaman adalah fondasi keselamatan iman. Sebab Islam bukan hanya teks dan hukum, melainkan jalan hidup yang selalu dijaga oleh penunjuk yang ditetapkan Allah. Ketika Imam itu berada dalam kegaiban, kewajiban mengenalnya tidak gugur—justru menuntut iman yang lebih matang, akal yang jernih, dan kesetiaan yang sunyi namun kokoh.

Maka mengenal Imam zaman adalah mengenal arah.

Dan kehilangan arah—betapapun ramai ibadah—adalah bentuk paling halus dari kembali kepada jahiliah.

Tentu pada gilirannya yang terpenting, baik Sunni maupun Ahlul Bait, sepakat bahwa Imam Mahdi, semoga Allah SWT mempercepat kehadirannya, adalah sosok yang akan membawa keadilan.

Perbedaan imam

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1HiMWpirfk/

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us