16 October 2026

Tidak semua perang dimulai dengan suara pedang.

Ada perang yang dimulai dengan selembar perjanjian.

Para pemimpin Quraisy berkumpul. Mereka telah mencoba menghentikan Muhammad SAW dengan ejekan, ancaman, penyiksaan, dan bujukan. Semuanya gagal.

Muhammad tetap berdiri.

Orang-orang miskin terus mengikutinya.

Para budak mulai berani mengangkat kepala.

Nama Allah Yang Maha Esa semakin sering terdengar di sekitar Ka’bah.

Quraisy kemudian menemukan senjata lain.

Bukan pedang.

Bukan tombak.

Melainkan lapar.

Mereka menulis sebuah perjanjian: tidak boleh membeli dari Bani Hasyim dan Bani Muthalib. Tidak boleh menjual kepada mereka. Tidak boleh menikahi perempuan mereka atau menerima lamaran laki-laki mereka. Tidak boleh duduk, bergaul, atau menjalin hubungan dengan mereka.

Tidak ada jalan keluar, kecuali satu:

Muhammad harus diserahkan untuk dibunuh.

Perjanjian itu ditandatangani para pemimpin Quraisy, lalu digantungkan di dalam Ka’bah.

Kezaliman diberi cap resmi.

Kekejaman ditulis menjadi hukum.

Kelaparan dijadikan senjata politik.

Abu Thalib membaca ancaman itu.

Usianya tidak lagi muda. Tubuhnya mulai melemah. Namun lelaki tua itu tidak menyerahkan keponakannya.

Ia memanggil Bani Hasyim dan Bani Muthalib.

“Kita akan melindungi Muhammad.”

Sebagian dari mereka telah beriman. Sebagian belum menerima Islam. Namun mereka mengetahui satu perkara: Muhammad adalah darah mereka, kehormatan mereka, dan amanat keluarga mereka.

Hanya Abu Lahab yang memilih meninggalkan keluarganya dan berdiri bersama para pembenci Muhammad.

Abu Thalib kemudian membawa seluruh keluarga memasuki sebuah celah sempit di antara bukit-bukit Makkah.

Tempat itu kelak dikenal sebagai Shi‘b Abi Thalib—Lembah Abu Thalib.

Di situlah perang tanpa pedang dimulai.

Pintu-pintu perdagangan ditutup.

Jalur makanan diawasi.

Para pedagang yang datang ke Makkah diancam agar tidak menjual barang kepada Bani Hasyim. Jika ada makanan yang masih dapat mereka beli, para pemimpin Quraisy menaikkan harganya setinggi mungkin.

Tujuannya bukan sekadar membuat mereka kesulitan.

Tujuannya membuat anak-anak mereka menangis.

Membuat ibu-ibu mereka menyerah.

Membuat orang-orang tua mereka mati perlahan.

Membuat Abu Thalib akhirnya keluar membawa Muhammad untuk diserahkan.

Hari pertama berlalu.

Kemudian hari kedua.

Pekan berubah menjadi bulan.

Bulan berubah menjadi tahun.

Lembah itu mulai mengenal suara yang paling menyakitkan di dunia:

tangisan anak yang kelaparan.

Pada malam hari, suara mereka terdengar hingga ke luar celah bukit. Para ibu menggendong anak-anak yang tidak lagi memiliki air mata. Dada mereka telah kering. Perut-perut kecil membengkak karena tidak mendapat makanan.

Daun-daun dikumpulkan.

Kulit-kulit kering dilunakkan.

Apa pun yang dapat dikunyah dibagi menjadi potongan-potongan kecil.

Di tengah lembah itu berdiri seorang perempuan yang dahulu merupakan saudagar paling kaya dan paling terhormat di Makkah.

Khadijah binti Khuwailid.

Ia sebenarnya dapat memilih tinggal di rumahnya. Kedudukannya tinggi. Keluarganya terpandang. Kekayaannya dapat memberinya kehidupan yang nyaman.

Namun Khadijah tidak menikahi Muhammad hanya untuk menikmati hari-hari yang mudah.

Ketika Muhammad masuk ke lembah penderitaan, Khadijah masuk bersamanya.

Perempuan yang dahulu memiliki kafilah-kafilah dagang kini duduk di atas tanah berbatu, membagikan makanan terakhir kepada anak-anak yang kelaparan.

Hartanya dikeluarkan sedikit demi sedikit.

Emas ditukar dengan gandum.

Perhiasan ditukar dengan air.

Simpanan yang dikumpulkannya sepanjang hidup mengalir keluar untuk menjaga orang-orang yang diboikot tetap hidup.

Setiap kali persediaan menipis, Khadijah mencari jalan.

Di antara orang yang bergerak membawa hartanya keluar masuk lembah adalah seorang pemuda belia:

Ali bin Abi Thalib.

Usianya baru sekitar belasan tahun.

Namun malam-malam di Shi‘b Abi Thalib tidak memperlakukannya sebagai seorang anak.

Di tangannya, Khadijah menitipkan kepingan-kepingan emas. Dengan itulah Ali berusaha memperoleh air dan makanan melalui jalan-jalan tersembunyi.

Ia menunggu malam.

Ketika Makkah mulai sunyi, Ali bergerak menyusuri celah bukit. Langkahnya harus ringan. Setiap jalur diawasi. Jika penjaga Quraisy menemukannya membawa makanan, barang itu dapat dirampas.

Ali berjalan dalam gelap.

Naik melewati batu.

Turun melalui lereng.

Menghindari para pengawas.

Kadang-kadang ia kembali membawa kantong air.

Kadang-kadang sekarung kecil gandum berada di pundaknya.

Kadang-kadang ia pulang tanpa membawa apa pun.

Di mulut lembah, anak-anak menunggu.

Mata-mata kecil memandang tangannya.

Jika Ali datang membawa makanan, wajah-wajah itu sejenak hidup kembali. Para ibu membaginya dalam ukuran yang hampir tidak cukup disebut makanan.

Namun tidak jarang Ali kembali dengan tangan kosong.

Tidak ada yang dapat dibeli.

Tidak ada pedagang yang berani menjual.

Malam itu anak-anak kembali tidur dalam keadaan lapar.

Ali menyaksikan semuanya.

Ia melihat Khadijah mengeluarkan kekayaannya sampai nyaris tidak tersisa.

Ia melihat Abu Thalib menahan kantuk demi menjaga Rasulullah.

Ia melihat Nabi membagi makanan, sementara beliau sendiri menahan lapar.

Pemuda itu sedang belajar bahwa membela agama tidak selalu berarti menghunus pedang.

Kadang-kadang membela agama berarti memikul kantong air di tengah malam.

Kadang-kadang berarti memberikan makananmu kepada seorang anak lalu tidur dengan perut kosong.

Kadang-kadang berarti berjaga sampai fajar karena orang yang engkau cintai mungkin dibunuh ketika terlelap.

Abu Thalib tidak pernah tidur dengan tenang.

Ia mengetahui bahwa Quraisy dapat menyusup ke dalam lembah kapan saja. Mereka mungkin tidak sabar menunggu Muhammad mati kelaparan. Satu orang dengan sebilah pedang cukup untuk mengakhiri segalanya.

Setiap malam Abu Thalib memperhatikan tempat Rasulullah berbaring.

Ia menunggu sampai semua orang tertidur.

Kemudian ia membangunkan Muhammad secara perlahan dan memindahkan beliau ke tempat lain.

Sesudah itu, salah seorang putranya diperintahkan tidur di tempat yang sebelumnya ditempati Rasulullah.

Berkali-kali putra itu adalah Ali.

Bayangkanlah pemandangan tersebut.

Seorang ayah yang telah tua memandang putranya yang masih belia.

Ia mengetahui bahwa apabila pembunuh datang malam itu, tubuh di atas pembaringan akan menjadi sasaran pertama.

Namun Abu Thalib tetap meletakkan Ali di sana.

Dan Ali tetap berbaring.

Sang ayah bersedia kehilangan putranya demi menyelamatkan Rasulullah.

Sang putra bersedia menjadi korban demi melanjutkan perlindungan ayahnya.

Tidak ada pidato.

Tidak ada orang yang bertepuk tangan.

Tidak ada kitab sejarah yang dibuka untuk mencatat siapa yang berjaga malam itu.

Hanya ada Abu Thalib yang mondar-mandir dalam gelap, Rasulullah yang dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain, dan Ali yang membaringkan tubuhnya di tempat yang mungkin diserang pedang.

Jauh sebelum Laylatul Mabit—malam ketika Ali tidur menggantikan Rasulullah pada saat hijrah—Ali telah belajar menjadi perisai hidup di Shi‘b Abi Thalib.

Malam hijrah bukanlah keberanian yang muncul tiba-tiba.

Ali telah melatihnya selama tiga tahun di lembah lapar.

Di luar lembah, Islam sebenarnya telah memiliki banyak pengikut.

Abu Bakar telah menjadi Muslim.

Umar telah menyatakan keislamannya.

Utsman pun telah beriman dan termasuk mereka yang berhijrah ke Habasyah.

Sebagian kaum Muslim memang berada di Habasyah. Sebagian lainnya hidup dalam perlindungan kabilah masing-masing. Dan harus diakui, isi pemboikotan secara khusus diarahkan kepada Bani Hasyim dan Bani Muthalib, bukan kepada seluruh orang yang telah memeluk Islam.

Secara historis, selalu ada penjelasan tentang di mana mereka berada.

Namun suara anak-anak dari dalam lembah tetap meninggalkan sebuah pertanyaan:

Ketika Rasulullah dikepung bersama keluarganya, siapakah yang menanggung lapar bersamanya?

Pertanyaan itu tidak perlu dijawab dengan makian.

Cukup buka lembaran sejarah.

Lihat siapa yang berada di dalam lembah.

Lihat siapa yang menghabiskan hartanya.

Lihat siapa yang berjaga sepanjang malam.

Lihat siapa yang menyediakan tubuhnya sebagai pengganti tubuh Rasulullah.

Anehnya, sebagian orang yang belum menyatakan Islam justru ikut menderita karena kesetiaan mereka kepada keluarga. Sementara sebagian nama yang kelak memenuhi mimbar-mimbar keutamaan tidak tampak dalam pusat penderitaan itu.

Kita tidak perlu menuduh.

Sejarah telah memperlihatkan tempat berdiri masing-masing.

Dan di pusat lembah itu, ada tiga manusia yang hampir tidak pernah berpisah dari Rasulullah:

Abu Thalib.

Khadijah.

Ali.

Abu Thalib menjaga nyawa Rasulullah.

Khadijah menjaga kehidupan orang-orang yang bersamanya.

Ali bergerak di antara keduanya—mencari makanan pada siang dan malam, menjaga jalan masuk lembah, serta membaringkan tubuhnya di tempat yang mungkin didatangi pembunuh.

Tiga tahun berlalu.

Tubuh-tubuh semakin kurus.

Wajah-wajah menjadi pucat.

Kekayaan Khadijah hampir habis.

Tenaga Abu Thalib semakin lemah.

Namun Muhammad tidak diserahkan.

Quraisy menunggu keluarga itu pecah.

Mereka tidak pecah.

Quraisy menunggu Abu Thalib menyerah.

Ia tidak menyerah.

Quraisy menunggu Khadijah memilih kenyamanan.

Ia tetap tinggal.

Quraisy menunggu Ali takut.

Ali justru semakin kuat.

Kemudian datang kabar yang aneh.

Rasulullah SAW memberitahukan bahwa lembaran perjanjian yang digantung di Ka’bah telah dimakan rayap. Tulisan-tulisan kezaliman lenyap, sedangkan nama Allah tetap tersisa.

Abu Thalib keluar dari lembah.

Tubuhnya telah tua dan kurus, tetapi langkahnya tetap tegak. Ia mendatangi para pemimpin Quraisy dan menantang mereka membuka perjanjian tersebut.

Lembaran itu diturunkan.

Orang-orang berkumpul.

Segelnya dibuka.

Mata mereka terbelalak.

Rayap telah memakan kalimat-kalimat pemboikotan.

Perjanjian yang disusun para pembesar Quraisy dihancurkan oleh makhluk kecil yang selama ini tidak pernah mereka perhitungkan.

Manusia-manusia besar menuliskan kezaliman.

Seekor rayap membatalkannya.

Pada saat yang sama, beberapa tokoh Quraisy yang masih memiliki nurani mulai menentang pemboikotan. Mereka tidak sanggup terus mendengar tangisan anak-anak dari dalam lembah.

Perjanjian itu akhirnya dirobek.

Pengepungan berakhir.

Jalan menuju Makkah kembali terbuka.

Orang-orang Bani Hasyim keluar dari Shi‘b Abi Thalib dengan tubuh kurus dan wajah pucat.

Tetapi kepala mereka tetap tegak.

Quraisy gagal.

Selama tiga tahun mereka menutup jalan makanan, tetapi tidak dapat menutup jalan wahyu.

Mereka menghabiskan tubuh Bani Hasyim, tetapi tidak mampu menghabiskan kesetiaan mereka.

Mereka membuat Khadijah kehilangan kekayaannya.

Mereka membuat Abu Thalib kehilangan kekuatannya.

Mereka merampas masa muda Ali.

Tetapi mereka tidak mendapatkan Muhammad.

Sayangnya, pengepungan itu telah menagih harga yang mahal.

Tubuh Abu Thalib tidak pernah benar-benar pulih.

Khadijah pun keluar dari lembah dalam keadaan lemah setelah seluruh kekayaan dan tenaganya diberikan untuk Islam.

Tidak lama kemudian, Abu Thalib wafat.

Khadijah menyusul beberapa hari setelahnya.

Rasulullah kehilangan dua pelindung terbesar dalam hidupnya.

Tahun itu disebut Tahun Kesedihan.

Namun dari tiga penjaga cahaya di lembah itu, masih tersisa seorang pemuda.

Ali.

Ia mewarisi keberanian Abu Thalib.

Ia mewarisi kesetiaan Khadijah.

Sejak saat itu, ia akan terus berada di sisi Rasulullah.

Tidur di ranjangnya.

Berdiri di medan Badar.

Menjaga beliau di Uhud.

Menghadapi Amr di Khandaq.

Membuka pintu Khaibar.

Dan memandikan tubuh suci Rasulullah ketika hampir semua orang sibuk menentukan siapa yang akan berkuasa setelahnya.

Shi‘b Abi Thalib bukan sekadar kisah pemboikotan.

Ia adalah tempat sejarah memperlihatkan perbedaan antara orang yang hanya mengucapkan iman dan orang yang membayar harga untuk mempertahankannya.

Di lembah itu tidak ada gelar.

Tidak ada jabatan.

Tidak ada takhta.

Yang ada hanya lapar, ketakutan, dan kematian yang mengintai setiap malam.

Dan ketika seluruh hiasan dunia disingkirkan, tiga nama tetap berdiri di sisi Muhammad:

Abu Thalib dengan perlindungannya.

Khadijah dengan seluruh hartanya.

Ali dengan seluruh hidupnya.

Quraisy mengira mereka sedang mengurung Muhammad di dalam sebuah lembah.

Mereka tidak menyadari bahwa di lembah itulah sedang ditempa keluarga yang kelak menjaga Islam dengan darahnya.

Khadijah keluar dari sana menuju keabadian.

Abu Thalib keluar dari sana setelah menyelesaikan perlindungannya.

Dan Ali keluar dari sana sebagai seorang pemuda yang telah belajar satu perkara:

selama Muhammad masih hidup, tubuh Ali selalu dapat dijadikan benteng.

Shi'b abi thalib

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1J8ECNnujC/

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us