16 October 2026

Seorang yang sedang sakit kedatangan tamu.

Tamu itu duduk menemaninya. Kehadirannya membawa kehangatan ke dalam rumah, mengisi waktu yang biasanya terasa panjang bagi seseorang yang harus berbaring menunggu tubuhnya kembali kuat.

Namun menjelang berpisah, sang tamu menyampaikan sesuatu yang tidak mudah dilupakan:

“Jangan membanggakan kunjunganku kepadamu.”

Yang datang menjenguk itu adalah Ali bin Abi Thalib.

Yang sedang sakit adalah Sha‘sha‘ah bin Shauhan.

Dan kunjungan yang semula tampak sederhana itu meninggalkan sebuah pesan yang menjangkau jauh melampaui dinding rumah.

⸻

Terlihat rumah itu teduh. Cahaya dari pintu jatuh memanjang di lantai. Di luar, kehidupan tetap bergerak, sedangkan bagi orang yang sedang sakit, waktu seakan berjalan dengan langkah yang berbeda.

Tubuh yang lemah membuat hal-hal kecil terasa berat.

Bangkit.

Duduk.

Menjangkau sesuatu yang sebenarnya tidak jauh.

Ketika sehat, manusia mudah lupa bahwa kekuatan yang digunakannya setiap hari dapat berkurang begitu cepat. Ia menyusun rencana seolah esok sudah berada di dalam genggamannya. Ia menunda sesuatu karena merasa masih memiliki banyak kesempatan.

Lalu sakit datang.

Dan tubuh meminta manusia berhenti.

Pada saat seperti itulah Ali mengunjungi Sha‘sha‘ah.

Betapa berarti sebuah kunjungan ketika seseorang sedang lemah. Ada orang yang menyisihkan waktunya untuk datang. Ada perhatian yang menempuh perjalanan hingga mencapai tempat kita berbaring.

Apalagi jika yang hadir adalah seseorang yang begitu dicintai.

Kehadirannya saja dapat menjadi penghiburan.

Tetapi sebuah kehormatan juga membawa ujian yang halus. Hati dapat menerima perhatian dengan syukur, lalu tanpa disadari mulai mengubahnya menjadi kebanggaan atas diri sendiri.

Ia datang kepadaku.

Ia menyempatkan waktu untukku.

Dari sana, hanya selangkah menuju perasaan bahwa diri kita lebih istimewa daripada orang lain.

Riwayat tidak mengatakan Sha‘sha‘ah telah mengucapkan kebanggaan semacam itu. Namun Ali meninggalkan pesan yang menjaga agar kunjungan tersebut tidak dijadikan alasan untuk membanggakan diri.

⸻

Waktu berkunjung mendekati akhirnya.

Ali hendak bangkit.

Biasanya, di saat seperti itu, orang yang sakit menerima doa kesembuhan dan salam perpisahan. Ada kesedihan kecil ketika seorang tamu yang disayangi bersiap meninggalkan rumah.

Tetapi sebelum beranjak, Ali memanggilnya:

“Wahai Sha‘sha‘ah bin Shauhan…”

Kemudian datanglah pesan itu:

“Jangan membanggakan kunjunganku kepadamu. Perhatikanlah dirimu sendiri, seakan-akan perkara itu telah sampai kepadamu. Janganlah angan-angan melalaikanmu.”

Kata-kata tersebut mengalihkan perhatian dari sebuah kehormatan menuju sesuatu yang lebih mendesak.

Diri sendiri.

Apa yang sedang tumbuh di dalam hati.

Apa yang masih belum diperbaiki.

Apa yang terus ditunda karena manusia merasa masih memiliki waktu.

Ungkapan tentang “perkara itu” membawa pengingat akan ajal: sesuatu yang terasa jauh ketika kita sibuk merancang kehidupan, tetapi tidak pernah membutuhkan persetujuan kita untuk mendekat.

Ali sedang berada di rumahnya.

Namun kehidupan Sha‘sha‘ah tetap harus dijalani oleh Sha‘sha‘ah sendiri.

Perhatian seorang yang mulia merupakan karunia. Karunia itu perlu diterima dengan hati yang semakin terjaga, dengan kesediaan untuk melihat kekurangan sendiri.

⸻

“Janganlah angan-angan melalaikanmu.”

Betapa tenang kalimat itu.

Betapa jauh jangkauannya.

Manusia sering mempunyai waktu untuk membayangkan masa depan, tetapi kesulitan menyediakan waktu untuk memperbaiki hari ini.

Nanti akan meminta maaf.

Nanti akan mengembalikan hak seseorang.

Nanti akan memperbaiki ibadah.

Nanti, ketika urusan sudah selesai. Ketika keadaan sudah lapang. Ketika tubuh sudah sehat. Ketika hati sudah siap.

Sementara itu, hari-hari terus berangkat.

Pesan Ali menyentuh kebiasaan manusia menaruh pekerjaan terpenting di tempat yang belum tentu akan dicapainya: hari esok.

Di sisi orang yang sedang sakit, kalimat tersebut mempunyai bobot yang dalam. Tubuh sedang memperlihatkan keterbatasannya. Kehidupan sedang mengingatkan bahwa manusia tidak memegang seluruh kendali.

Inilah saat untuk memperhatikan diri.

Untuk menyambut kasih sayang sebagai dorongan memperbaiki hidup.

Untuk pulang ke dalam hati dan memeriksa apa yang selama ini luput diperhatikan.

⸻

Lalu Ali menutup pesannya:

“Aku menitipkanmu kepada Allah dan menyampaikan banyak salam kepadamu.”

Di sana, teguran itu memperoleh kehangatannya yang utuh.

Setelah mengingatkan tentang kebanggaan, kelalaian, dan dekatnya ajal, Ali menitipkan orang yang dijenguknya kepada Allah.

Ada kasih yang menyertai nasihat tersebut.

Kasih yang menghendaki keselamatan seseorang sampai ke bagian dirinya yang tidak dapat dijangkau oleh obat: hatinya.

Tamu akan beranjak.

Suara percakapan akan berhenti.

Rumah akan kembali pada kesunyiannya.

Tetapi orang yang ditinggalkan menerima sesuatu yang dapat terus menemaninya: sebuah nasihat untuk menjaga diri, dan salam dari orang yang datang dengan perhatian.

⸻

Berabad-abad kemudian, kita membaca kisah itu dan mungkin merasa ingin berada di tempat Sha‘sha‘ah.

Dijenguk Ali.

Didampingi Ali.

Disebut namanya oleh Ali.

Namun sebelum keinginan itu berubah menjadi kebanggaan dalam bayangan kita sendiri, pesannya telah lebih dahulu sampai:

Perhatikanlah dirimu.

Apa yang dilakukan kecintaan itu terhadap hidupmu?

Apakah engkau menjadi lebih jujur? Lebih mudah mengembalikan hak orang lain? Lebih sungguh-sungguh menjaga lisan? Lebih cepat memperbaiki kesalahan?

Di ambang perpisahan itu, Ali meninggalkan ukuran yang sunyi dan berat.

Kehormatan menerima kunjungan harus tumbuh menjadi kesungguhan menjaga diri.

Dan bagi kita yang hanya dapat mengunjungi beliau melalui kisah-kisahnya, pesan tersebut tetap terasa dekat:

Setelah hatimu bergetar karena mencintai Ali, bawalah getaran itu pulang ke dalam perbuatanmu.

Jangan membanggakan

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

Catatan sumber:

Kisah ini dikutip Syekh Abbas al-Qummi dalam Al-Kunā wa al-Alqāb⁠, jilid 2, hlm. 80, merujuk Qurb al-Isnād, hlm. 377, hadis 1333.
Dalam teks tersebut, Imam Ali al-Ridha menceritakan kembali kunjungan Imam Ali kepada Sha‘sha‘ah.
Riwayat tidak menyebut Sha‘sha‘ah sudah menyombongkan diri; pesannya berupa pengingat. Penjelasan tentang ajal dan perubahan perilaku di atas merupakan pemaknaan atas nasihat tersebut.

—

Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1EJdP4QELQ/

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us