19 October 2026

Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad

Latar Belakang Embargo Kaum Quraisy

  • Setelah berbagai upaya menekan dakwah Rasulullah SAW gagal—termasuk tawaran kedudukan dan kekayaan yang ditolak mentah-mentah—kaum kafir Quraisy bersekongkol untuk menghentikan beliau.
  • Mereka menulis perjanjian zalim di atas selembar kulit yang kemudian disimpan di dalam Kakbah.
  • Isi perjanjian tersebut adalah mengucilkan Bani Hasyim secara total: melarang pernikahan dengan Bani Hasyim, mengasingkan mereka ke suatu lembah (Syi’b), serta memutus pasokan makanan sehari-hari.
  • Untuk memastikan Bani Hasyim tidak bisa membeli makanan, kaum Quraisy mengancam para pedagang (baik lokal maupun luar) agar tidak menjual barang kepada Bani Hasyim.
    Mereka yang melanggar diancam hukuman berat berupa penyitaan seluruh harta benda.
    Selain itu, mereka sengaja menaikkan harga komoditas secara tidak wajar.

Masa Pengasingan di Syi’b Abu Thalib

  • Embargo dan pengasingan ini berlangsung selama kurang lebih tiga tahun, dimulai dari akhir tahun ke-6 atau awal tahun ke-7 hingga tahun ke-10 Hijrah.
  • Seluruh Bani Hasyim di bawah kepemimpinan Abu Thalib bersatu melindungi Rasulullah, kecuali Abu Lahab.
    Mereka hidup terasing di lembah yang dijaga ketat di luar kota Mekkah dan mengalami penderitaan serta kelaparan yang luar biasa.
  • Meskipun dikecualikan dari pengasingan karena bukan dari Bani Hasyim, Sayyidah Khadijah Ra. memilih untuk ikut masuk ke dalam pengasingan demi menemani dan menunjukkan kesetiaannya kepada sang suami, Rasulullah SAW.

Perjuangan dan Pengorbanan Imam Ali as.

Dalam situasi sulit tersebut, tercatat dua peran penting Imam Ali bin Abi Thalib as.:

  1. Penyelundup Makanan:
    Imam Ali ditugaskan oleh Abu Thalib dan Rasulullah untuk menyelinap keluar dari lembah yang dijaga ketat demi membeli dan membawa masuk makanan pokok, meskipun dengan harga yang sangat mahal dan perjuangan yang berat.
  2. Tameng Tidur Rasulullah:
    Karena kekejaman Quraisy kian melampaui batas, Abu Thalib khawatir Rasulullah akan diserang secara tiba-tiba pada malam hari.
    Oleh karena itu, Abu Thalib memerintahkan Imam Ali untuk tidur di tempat tidur Rasulullah guna menggantikan posisi beliau, sementara Rasulullah dipindahkan ke tempat yang aman.
    Jika ada serangan mendadak, Imam Ali siap menjadi tameng demi keselamatan Rasulullah.

Berakhirnya Embargo

  • Pada tahun ke-10, Rasulullah mengabarkan kepada pamannya, Abu Thalib, bahwa Allah SWT telah mengabarkan bahwa rayap telah memakan seluruh isi lembaran perjanjian zalim tersebut, kecuali bagian yang tertulis nama Allah.
  • Dengan penuh keyakinan, Abu Thalib menemui para tokoh Quraisy. Kaum Quraisy mengira Abu Thalib datang untuk menyerah atau meminta belas kasihan.
  • Abu Thalib kemudian menawarkan kesepakatan: jika keponakannya berdusta, ia siap menyerahkan Rasulullah; namun jika benar, embargo harus dihentikan. Tokoh Quraisy setuju karena menganggap tawaran tersebut sangat adil.
  • Ketika lembaran itu diambil dan dibuka di hadapan semua orang, mereka terkejut melihat seluruh tulisan telah habis dimakan rayap dan hanya menyisakan nama Allah.
  • Umat Muslim menyambut mukjizat ini dengan takbir syukur.
    Kaum Quraisy yang kecewa terpaksa menepati kesepakatan mereka, sehingga embargo ekonomi dan pengasingan terhadap Bani Hasyim pun resmi berakhir.

Kisah Imam Ali di Syi b

 

Judul video: Sejarah Imam Ali bin Abi Thalib as (03) Kesetiaan dan Pengorbanan – Watch on Youtube

Yuk Subscribe PANDU AHLULBAYT:
Subscribe Channel PANDU AHLULBAYT

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us