21 October 2026

Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad

Masa Kanak-Kanak dan Pemberian Nama “Ali”

Imam Ali bin Abi Thalib lahir dan dirawat dengan penuh kasih sayang serta kelembutan oleh kedua orang tuanya, yaitu Abu Thalib dan Fathimah binti Asad.
Abu Thalib, yang merupakan tokoh kaum Quraisy yang sangat disegani, memberikan nama “Ali” (yang berarti “yang tinggi”) kepada putranya atas ilham dari Allah SWT.
Nama ini disematkan dengan harapan besar agar kelak ia menjadi sosok yang tinggi kedudukannya di sisi Allah, mulia, serta menjadi manusia yang sangat berjasa bagi umat.

Asuhan dan Didikan Langsung dari Rasulullah SAW

Kedekatan Imam Ali dengan Rasulullah SAW terjalin sangat erat karena sejarah keluarga mereka.
Sejak kecil, setelah kakek beliau (Abdul Muthalib) wafat, Rasulullah dirawat oleh Abu Thalib dan Fathimah binti Asad layaknya anak kandung mereka sendiri.
Bahkan setelah Rasulullah menikah dengan Khadijah dan tinggal terpisah, hubungan erat tersebut tidak pernah terputus.

Rasulullah memberikan perhatian yang sangat luar biasa kepada Ali sejak ia masih bayi, mulai dari menggendong, menidurkan, menjaga, hingga menciumkan keharuman jasad beliau kepada Ali.
Atas ilham dari Allah SWT, Rasulullah kemudian meminta izin kepada Abu Thalib untuk mengadopsi dan mengasuh Ali di rumah beliau bersama Khadijah.
Pengasuhan ini bukanlah karena alasan ekonomi, melainkan kehendak Allah agar Rasulullah mendidik Ali secara langsung selama 24 jam penuh sejak dini.

Dalam pidatonya, Imam Ali mengenang masa kecilnya yang sangat istimewa di bawah asuhan Rasulullah: beliau selalu memangkunya, mendekapnya erat ke dada, menidurkannya di ranjang beliau, menciumkan keharuman jasadnya, bahkan menyuapinya dengan makanan yang telah dikunyah terlebih dahulu oleh Rasulullah.
Di bawah didikan akhlak mulia ini, Ali tumbuh menjadi duplikat Rasulullah dalam hal kejujuran, kesetiaan, dan keluhuran budi pekerti.
Ali selalu mengikuti ke mana pun Rasulullah pergi layaknya anak unta yang mengikuti induknya. Setiap hari, Rasulullah senantiasa menyajikan keteladanan akhlak mulia sebagai panji untuk diikuti dan dipraktikkan oleh Ali.
Hubungan sedini mungkin ini dipersiapkan Allah untuk membentuk sosok pemimpin masa depan sepeninggal Rasulullah kelak.

Keimanan, Keberanian, dan Kesetiaan Sejak Dini

Ketika Rasulullah SAW diangkat menjadi nabi pada tanggal 27 Rajab dan mulai berdakwah secara terbuka, gangguan dari kaum kafir Quraisy pun berdatangan.
Orang-orang Quraisy secara licik memerintahkan anak-anak kecil untuk melempari dan mengolok-olok Rasulullah ketika beliau berjalan menuju Ka’bah.
Melihat hal tersebut, Ali yang masih kanak-kanak meminta izin kepada Rasulullah untuk menyertainya.
Ketika anak-anak kecil itu bersiap mengganggu, Ali mengejar dan memukuli mereka satu per satu hingga mereka pulang menangis kepada orang tua mereka, membuktikan pembelaan dan penjagaan Ali kepada Rasulullah sejak dini.

Imam Ali juga merupakan orang pertama dari kalangan laki-laki yang beriman kepada kerasulan Nabi Muhammad SAW.
Rumah yang ditempati oleh Rasulullah, Khadijah, dan Ali merupakan rumah pertama di dunia yang menyembah Allah atas dasar Islam.
Cinta Imam Ali kepada Rasulullah sangatlah mendalam. Beliau pernah menyatakan bahwa Rasulullah lebih mereka cintai melebihi harta, anak-anak, ibu mereka sendiri, dan bahkan lebih berharga daripada air dingin di kala dahaga yang sangat mencekik.
Kesetiaan ini ia buktikan dengan membela Rasulullah menggunakan seluruh jiwa raganya.

Peristiwa Yawm ad-Dar: Pengangkatan Wazir dan Khalifah

Saat turun perintah Allah untuk memberikan peringatan kepada keluarga terdekat (Wa andzir ‘asyiratakal aqrabin), Rasulullah meminta Ali untuk mempersiapkan pertemuan dan hidangan bagi keluarga besar Bani Hasyim.
Pada hari pertama, Abu Lahab mengacaukan pertemuan tersebut sehingga Rasulullah belum sempat menyampaikan pesannya.
Pada keesokan harinya, Rasulullah kembali mengundang mereka dan menyajikan hidangan yang secara mukjizat mencukupi seluruh tamu meskipun jumlahnya sedikit.

Rasulullah kemudian menyampaikan dakwahnya dan bersabda: “Siapa di antara kalian yang mau menerima dakwahku ini? Aku akan jadikan dia sebagai saudaraku, penerima wasiatku (wasi), dan khalifahku di tengah-tengah kalian.“.

Mendengar tawaran tersebut, seluruh keluarga besar Bani Hasyim terdiam.
Hanya Ali—yang saat itu merupakan remaja paling muda di antara yang hadir—yang dengan berani mengacungkan tangannya dan menyatakan kesiapannya untuk mendukung serta membela perjuangan Rasulullah.
Rasulullah kemudian memegang tangan Ali dan menegaskan kepada semua yang hadir: “Sesungguhnya anak ini adalah saudaraku, wasiku, dan khalifahku di tengah-tengah kalian, maka dengarkan perintahnya dan taati dia.”.

Meskipun orang-orang yang hadir saat itu menertawakan dan mengolok-olok Abu Thalib karena diperintahkan untuk menaati anaknya yang masih kecil, Rasulullah tidak pernah meralat keputusan tersebut.
Sebaliknya, beliau terus mempertegas posisi istimewa Imam Ali sebagai saudaranya, penerima wasiatnya, dan khalifahnya di sepanjang fase dakwah Islam.

Masa Kecil Imam Ali

 

Bersama Ustadz Ali Umar Al Habsyi

 

Judul video: Sejarah Imam Ali bin Abi Thalib as (02) – Watch on Youtube

Yuk Subscribe PANDU AHLULBAYT:
Subscribe Channel PANDU AHLULBAYT

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us