Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Peristiwa Agung di Bulan Rajab
Bulan Rajab Al Ashab dikenal sebagai bulan yang mulia, penuh ampunan, rahmat, serta menjadi saksi dari berbagai peristiwa besar dalam sejarah Islam. Dua peristiwa paling menonjol yang disoroti dalam kajian kali ini adalah:
- Kelahiran Imam Ali bin Abi Thalib AS
pada tanggal 13 Rajab (tahun ke-30 dari kelahiran Rasulullah SAW) di dalam Ka’bah. Beliau digambarkan sebagai manusia teragung setelah Rasulullah SAW. - Pengangkatan Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan rasul penutup pada tanggal 27 Rajab, yang ditandai dengan turunnya wahyu pertama.
Mengenal Rasulullah Melalui Imam Ali bin Abi Thalib
Sebagai sosok yang paling mengenali Rasulullah SAW, Imam Ali adalah pribadi yang paling layak untuk memperkenalkan keagungan pribadi serta risalah Rasulullah kepada umat.
Salah satu kisah yang menggambarkan pandangan mendalam Imam Ali ini diabadikan dalam kitab mulia Al-Kafi (Jilid 1, Kitab At-Tauhidi, Bab Al-Kawn wal Makan, hadis nomor 5) karya Syaikhul Islam Al-Kulaini.
Riwayat ini ditransmisikan melalui jalur Imam Ja’far ash-Sadiq AS.
Dialog Imam Ali dengan Pendeta Yahudi
Dalam riwayat tersebut, dikisahkan bahwa suatu hari seorang pendeta Yahudi mendatangi Imam Ali bin Abi Thalib dan mengajukan sebuah pertanyaan teologis yang mendasar: “Wahai Amirul Mukminin, kapan awal mula keberadaan Tuhanmu?”.
Mendengar pertanyaan tersebut, Imam Ali memberikan jawaban yang sangat tegas dan filosofis:
- Beliau memperingatkan sang pendeta dengan berkata, “Celaka engkau… Sejak kapan Allah dikatakan tidak ada, sehingga ditanya kapan mulai ada?”.
- Beliau menjelaskan hakikat ketauhidan bahwa Allah SWT senantiasa ada sebelum segala sesuatu tanpa ada permulaan (awal), dan tetap ada setelah segala sesuatu tanpa ada batas akhir (akhir).
Puncak Pengakuan: “Aku Hanyalah Budak Muhammad”
Jawaban teologis yang luar biasa ini benar-benar memuaskan sang pendeta Yahudi.
Karena takjub dengan kedalaman ilmu dan jawaban tersebut, sang pendeta bertanya: “Wahai Amirul Mukminin, apakah engkau seorang nabi?”.
Mendengar dugaan itu, Imam Ali segera meluruskannya dengan penuh kerendahan hati sekaligus kebanggaan yang luar biasa:
- Beliau menjawab, “Celaka engkau, sesungguhnya aku tidak lain hanyalah seorang budak dari budak-budak Muhammad (Ana abdun min ‘abidi Muhammad).”.
- Beliau menegaskan bahwa kedudukannya yang sejati adalah sebagai pengikut setia yang sangat bangga berada di bawah naungan bimbingan Nabi Muhammad SAW.
Kesimpulan dan Hikmah
Riwayat ringkas ini menjadi bukti nyata mengenai keagungan maqam Rasulullah SAW.
Kisah ini memperlihatkan bagaimana sosok semulia Imam Ali pun memosisikan dirinya sebagai “budak” dari budak-budak Nabi Muhammad, yang menegaskan bahwa kemuliaan Rasulullah tidak dapat dibandingkan dengan siapa pun.
Melalui pemahaman terhadap dialog ini, umat Islam diajak untuk terus belajar mengenai keagungan pribadi Rasulullah dan risalahnya agar dapat senantiasa istiqomah dalam memegang teguh ajaran beliau.

Bersama Ustadz Ali Umar Al Habsyi
Judul video: Aku Hanya Seorang Budak Muhammad! – Watch on Youtube
Yuk Subscribe PANDU AHLULBAYT:


