I. Kehancuran Bumi, Perintah Tuhan, dan Penyesalan Hari Kiamat (Ayat 21–26)
- Peristiwa Kehancuran Bumi (Ayat 21):
Ayat ke-21 (Kalla iza dukkatil-ardu dakkan dakka) menjelaskan peristiwa ketika bumi dihantam dan ditumbuk hingga permukaannya luluh lantak serta rata. Makna kata dakka menggambarkan proses meratakan permukaan tanah.
Peringatan ini disampaikan untuk menyadarkan manusia yang sebelumnya sangat rakus, gelap mata, dan cinta mati terhadap harta serta kehidupan dunia. - Kedatangan Perintah Tuhan dan Barisan Malaikat (Ayat 22):
Ayat Wa ja’a rabbuka wal-malaku saffan saffa menjelaskan bahwa yang datang pada hari kiamat bukanlah zat atau fisik Tuhan, melainkan perintah, titah, dan ketentuan Allah.
Para malaikat akan berbaris rapi siap menjalankan seluruh perintah-Nya. Pada hari itu, manusia tidak bisa lagi membangkang, ingkar, atau sombong sebagaimana di dunia. - Penyingkapan Neraka Jahanam (Ayat 23):
Pada hari kiamat, tabir penutup neraka Jahanam akan dibuka sehingga manusia melihat wujud aslinya secara nyata.
Saat itulah manusia baru menyadari kekhilafannya, namun kesadaran di hari kiamat sudah terlambat dan tidak lagi berguna. - Penyesalan Manusia (Ayat 24):
Manusia akan berangan-angan dan berkata: “Seandainya dahulu sewaktu di dunia aku melakukan kebaikan sebagai bekal kehidupanku”.
Kesempatan beramal sholeh di dunia telah habis, sementara kejahatan yang pernah dilakukan kini menjadi ancaman nyata bagi dirinya. - Pedihnya Siksaan Allah (Ayat 25–26):
Ayat ini menegaskan bahwa tidak ada siksaan dan ikatan yang sedahsyat siksaan dan ikatan Allah pada hari kiamat.
Menurut pandangan ahli Irfan, sumber siksaan terberat bagi manusia adalah rasa penyesalan yang mendalam karena telah kehilangan kebahagiaan abadi.
Bahkan azab Allah pada hakikatnya mengandung rahmat agar manusia tidak semakin tersiksa oleh penyesalannya sendiri. - Kesedihan Rasulullah SAW Saat Ayat Turun:
Diriwayatkan bahwa ketika ayat mengenai penyingkapan Jahanam (Wa ji’a yauma’izin bijahannam) turun, Rasulullah SAW mengalami kesedihan dan kedukaan yang sangat mendalam.
Beliau begitu bersedih hingga tidak ada seorang pun sahabat yang berani mengajak beliau berbicara. - Pengobat Cinta Dunia:
Peringatan mengenai hari kiamat (dzikrul qiyamah) merupakan obat utama untuk menyembuhkan sifat rakus dan kecintaan yang berlebihan terhadap dunia. Manusia diingatkan bahwa kehidupan yang sejati adalah kehidupan pasca-dunia.
II. Panggilan Jiwa yang Tenang dan Kemuliaan Derajat Hamba (Ayat 27–30)
- Panggilan Khusus Jiwa yang Tenang (Ayat 27):
Allah memanggil jiwa yang tenang (Ya ayyatuhan-nafsul mutma’innah). - Perbedaan Raga (Insan) dan Jiwa (Nafs):
Ketika kematian tiba, yang berhenti berfungsi hanyalah raga (insan), sedangkan jiwa (nafs) tetap hidup, dapat melihat, serta merasakan proses kematian itu sendiri (kullu nafsin za’iqatul maut).
Jiwa dapat melihat jasadnya terkapar dan menyaksikan orang-orang yang mengurus jenazahnya. - Keadaan Ridha dan Diridhai (Ayat 28):
Melalui ayat Irji’i ila rabbiki radiyatan mardiyyah, jiwa yang tenang dipanggil kembali kepada Tuhan dalam keadaan ridha (menerima segala ketentuan Allah di dunia tanpa mengeluh) dan diridhai oleh Allah.
Seseorang yang ridha kepada Allah pasti akan memperoleh keridhaan-Nya (mardiyyah). - Golongan Hamba Allah dan Surga (Ayat 29–30):
Melalui ayat Fadkhuli fi ‘ibadi wadkhuli jannati, Allah memerintahkan jiwa yang tenang untuk masuk ke dalam golongan hamba-hamba pilihan-Nya dan masuk ke dalam surga-Nya. - Makna Kedudukan Hamba (Maqam ‘Abd):
Kedudukan tertinggi yang bisa dicapai manusia adalah menjadi hamba Allah yang benar-benar menghamba.
Meskipun semua manusia adalah ciptaan Allah, tidak semua manusia diterima sebagai hamba jika ia tidak mau menghamba kepada-Nya. - Teladan Penghambaan dari Imam Ali bin Abi Thalib AS:
Imam Ali bin Abi Thalib AS tidak membanggakan ilmu, kedudukan, nasab keturunan, atau hubungan kekerabatannya dengan Rasulullah SAW.
Beliau bermunajat dan menegaskan bahwa kemuliaan tertinggi baginya adalah ketika beliau menjadi hamba Allah, dan kebanggaan terbesarnya adalah karena Allah adalah Tuhannya. - Langkah Memperoleh Jiwa yang Tenang:
Ketenangan jiwa diperoleh dengan senantiasa melibatkan Allah dalam setiap aktivitas kehidupan serta memaksimalkan ibadah shalat wajib lima waktu secara khusyuk dan fokus dari awal hingga akhir.
III. Keindahan Kematian Orang Beriman dan Kisah Kehadiran Amal Perbuatan
- Kelembutan Malaikat Maut Kepada Orang Beriman:
Secara fitrah, manusia mencintai kehidupan dunia dan takut akan kematian.
Namun bagi orang beriman, Malaikat Maut (Izrail) akan menghibur dan memperlakukannya dengan penuh kelembutan serta kasih sayang yang melebihi kasih sayang seorang ayah kepada anaknya. - Penyambutan Ruh Orang Beriman:
Sebelum nyawanya dicabut, Malaikat Maut akan memperlihatkan tempat kembalinya serta sosok Rasulullah SAW dan para Ahlul Bait yang siap menyambut kedatangannya.
Penglihatan ini membuat jiwa orang beriman menjadi sangat tenang, bahagia, dan rida menjalani kematian. - Kisah Allamah Al-Hilli dan Penuntut Ilmu yang Meninggal:
Diceritakan pengalaman Allamah Al-Hilli yang mengunjungi pemakaman dan mendapati sebuah makam baru milik seorang pemuda Sayyid (penuntut ilmu).
Allamah Al-Hilli mendoakan dan membacakan Surah Al-Fatihah untuk almarhum. - Pengalaman Detik-Detik Kematian dalam Mimpi:
Malam harinya, pemuda tersebut hadir dalam mimpi Allamah Al-Hilli untuk mengucapkan terima kasih. Ia menceritakan bahwa saat ia sakit parah di kamarnya, datanglah dua sosok bercahaya dan beraroma wangi.
Sosok kedua mengusap tubuhnya dari ujung kaki hingga kepala, hingga seluruh rasa sakitnya hilang dan ia merasa sangat sehat bugar.
Namun setelah itu, ia terkejut melihat jasadnya sendiri masih terkapar dan teman-temannya menangis, barulah ia sadar bahwa ia telah meninggal dunia. - Identitas Malaikat Maut dan Amal Perbuatan:
Ketika jasadnya hendak dimasukkan ke liang lahat dan ia merasa cemas, sosok tampan pertama menegaskan bahwa sosok yang mengusap tubuhnya hingga sembuh adalah Malaikat Maut (Izrail).
Sedangkan sosok tampan pertama yang akan terus mendampinginya di alam kubur, barzakh, hingga akhirat adalah amal perbuatannya sendiri. - Kesesuaian dengan Hadis Rasulullah SAW:
Kisah tersebut selaras dengan sabda Rasulullah SAW bahwa setiap manusia memiliki Qarin (teman setia) yang ikut masuk ke dalam kubur, yaitu amal perbuatannya.
Jika amalnya sholeh dan mulia, maka ia akan hadir sebagai sosok yang menyenangkan dan memberikan rasa damai.

Bersama Ustadz Abdillah Baabud
—
Video sumber: ALQURBA TV
LINK QRIS UNTUK HUSEINYAH :
https://drive.google.com/file/d/1VXsk0FpT1yEwU6RILR4f1iO4YQOhUr2t/view

