16 October 2026

Ketika Hak yang Suci Ditawari Jalan yang Kotor

Madinah belum selesai menangis.

Rumah-rumahnya masih dipenuhi suara tangis yang ditahan. Jalan-jalan yang biasanya menyambut langkah Rasulullah saw. kini terasa asing. Masjid masih berdiri, mimbar masih berada di tempatnya, tetapi suara yang dahulu menghidupkan semuanya telah terdiam.

Rasulullah saw. baru saja meninggalkan dunia.

Namun bahkan sebelum tanah makam beliau mengering, urusan kekuasaan telah bergerak dengan cepat.

Di Saqifah Bani Sa’idah, sejumlah orang telah berkumpul. Perdebatan berlangsung. Suara meninggi. Tangan-tangan dijulurkan. Baiat pun diberikan kepada Abu Bakar.

Sementara itu, Ali bin Abi Thalib berada di tempat yang seharusnya: di sisi Rasulullah.

Ia memandikan jasad Nabi, mengafaninya, menyalatkannya, dan mengantarkan manusia paling mulia itu menuju peristirahatan terakhir. Ketika sebagian orang sibuk menentukan siapa yang akan memegang kekuasaan, Ali sedang menunaikan hak terakhir Rasulullah atas keluarganya.

Bagi Ahlul Bait, kepemimpinan bukan perkara yang baru akan diputuskan setelah Rasulullah wafat. Ghadir Khum telah berbicara. Rasulullah telah mengangkat tangan Ali di hadapan kaum Muslimin. Namun kini, mandat itu sedang ditutupi oleh kegaduhan politik.

Madinah berdiri di ambang sesuatu yang belum pernah dialaminya.

Dan pada saat yang genting itulah seorang lelaki memasuki kota.

Namanya Abu Sufyan bin Harb.

—

Abu Sufyan bukan orang asing dalam permainan kekuasaan.

Selama bertahun-tahun sebelum Fathu Makkah, ia berdiri sebagai salah seorang pemimpin utama perlawanan Quraisy terhadap Rasulullah. Ia memahami kabilah, perdagangan, peperangan, dan kelemahan manusia. Ia tahu kapan sebuah persekutuan dapat dibeli, kapan kemarahan harus ditiupkan, dan kapan kekacauan dapat dijadikan tangga.

Ketika mendengar bahwa Abu Bakar telah menerima baiat, perhatian Abu Sufyan bukan pertama-tama tertuju kepada dalil, wasiat Nabi, atau nasib risalah.

Ia melihat peta kabilah.

Kekuasaan jatuh kepada Bani Taim—kabilah Abu Bakar—sementara Bani Hasyim, keluarga Rasulullah, tersisih dari pusat pemerintahan.

Bagi Abu Sufyan, ini bukan sekadar persoalan benar dan salah.

Ini adalah penghinaan politik terhadap kabilah besar.

Ia mendatangi Abbas bin Abdul Muthalib. Keduanya kemudian menuju Ali. Riwayat yang menjadi latar Khutbah Kelima Nahjul Balaghah menyebutkan bahwa Abbas dan Abu Sufyan menawarkan baiat kepada Amirul Mukminin setelah wafatnya Rasulullah.

Namun Abu Sufyan tidak datang hanya membawa kata-kata.

Ia datang membawa kemungkinan perang.

Di luar rumah sederhana itu, bayangan beberapa penunggang kuda dapat terlihat di antara nyala lampu. Kuda-kuda menghentakkan kaki ke tanah. Sejumlah lelaki menunggu, seolah hanya memerlukan satu perintah untuk mengubah kesunyian Madinah menjadi medan pertumpahan darah.

Abu Sufyan berdiri di hadapan Ali.

Di depannya bukan lelaki yang tidak mengerti peperangan. Ali adalah orang yang berdiri ketika para pemberani mundur. Pedangnya mengenal Badr, Uhud, Khandaq, Khaibar, dan Hunain. Jika persoalannya hanya keberanian, tidak ada seorang pun di Madinah yang lebih siap menghadapi maut daripada putra Abu Thalib.

Abu Sufyan mengulurkan tangannya.

“Ulurkan tanganmu,” demikian inti tawarannya. “Aku akan berbaiat kepadamu. Bila engkau menghendaki, akan kupenuhi Madinah dengan pasukan berkuda dan pasukan berjalan kaki.”

Udara terasa menegang.

Tawaran itu, sepintas, tampak seperti pertolongan.

Ali telah disingkirkan dari haknya. Kini seorang pemimpin Quraisy datang menawarkan kekuatan untuk mengembalikannya. Kuda tersedia. Pedang tersedia. Kemarahan kabilah dapat dibangkitkan.

Satu anggukan dari Ali mungkin cukup untuk membakar Madinah.

Namun Ali tidak hanya mendengar kata-kata.

Ia membaca niat yang bersembunyi di belakangnya.

—

Abu Sufyan berbicara seolah sedang membela Ali.

Tetapi Ali melihat bahwa orang itu tidak sedang membela imamah. Ia sedang membangkitkan fanatisme kabilah.

Abu Sufyan tidak berkata, “Mari kita tegakkan perintah Rasulullah.”

Yang ia lihat adalah Bani Hasyim dikalahkan oleh Bani Taim.

Ia tidak datang karena tiba-tiba memahami Ghadir. Ia datang karena mengetahui bahwa konflik antara keluarga-keluarga besar Quraisy dapat membuka kembali ruang bagi ambisi politiknya.

Bila Ali menerima tawaran itu, kebenaran akan segera ditarik turun menjadi pertengkaran antarkabilah.

Perintah Nabi akan dipersempit menjadi kemarahan Bani Hasyim.

Imamah akan digambarkan sebagai ambisi keluarga.

Dan Abu Sufyan—orang yang selama bertahun-tahun memerangi Rasulullah—akan tampil sebagai penyelamat keluarga Rasulullah.

Itulah perangkapnya.

Ali kemudian mengucapkan kata-kata yang kelak dihimpun dalam Nahjul Balaghah:

“Belahlah gelombang fitnah dengan bahtera keselamatan. Berpalinglah dari jalan perpecahan dan lepaskan mahkota kesombongan.”

Jawaban itu tidak hanya ditujukan kepada satu orang.

Ia adalah pembedahan terhadap seluruh watak politik Abu Sufyan.

Ali menyebut tawaran itu sebagai gelombang fitnah.

Bukan karena hak Ali tidak benar.

Bukan pula karena baiat kepada orang lain tiba-tiba menjadi lebih benar.

Hak tetaplah hak. Yang batil tetaplah batil.

Namun sebuah tujuan yang benar tidak menjadikan setiap jalan menuju kepadanya ikut menjadi benar.

Ali tidak akan menegakkan imamah dengan bahan bakar fanatisme jahiliah. Ia tidak akan mengambil kembali hak Rasulullah dengan tangan orang yang ingin menjadikan keluarga Rasulullah sebagai pion dalam pertarungan kabilah.

Ia tidak membutuhkan Abu Sufyan untuk memberitahukan siapa dirinya.

Lebih dari tujuh puluh hari sebelumnya, di Ghadir Khum, Rasulullah telah menyampaikan kedudukan Ali kepada umat.

Ali tidak membutuhkan legitimasi Abu Sufyan.

Dan ia tidak akan membayar dukungan itu dengan darah kaum Muslimin.

—

Barangkali Abu Sufyan mengira Ali akan menerima tawarannya karena sedang terluka.

Manusia yang haknya dirampas mudah didekati oleh siapa saja yang menawarkan pembalasan. Kemarahan dapat membuat seseorang menerima tangan yang dahulu memusuhinya, selama tangan itu menjanjikan kemenangan.

Namun Ali bukan tawanan amarahnya.

Ia mampu membedakan antara orang yang datang untuk menolong kebenaran dan orang yang datang untuk menunggangi luka.

Inilah kecerdasan yang tidak dimiliki banyak pemimpin.

Sebagian orang hanya bertanya:

“Apakah ia mendukung saya?”

Ali bertanya lebih dalam:

“Mengapa ia mendukung saya?”

Sebagian pemimpin menerima siapa pun yang menawarkan kekuatan. Mereka mengira banyaknya pedang berarti bertambahnya kebenaran. Mereka tidak menyadari bahwa setiap bantuan membawa arah, harga, dan kepentingannya sendiri.

Ali mengetahui siapa Abu Sufyan.

Ia mengenal perjalanan panjang permusuhannya terhadap Islam. Ia tahu bahwa lelaki itu tidak berubah menjadi pembela wasiat Rasulullah hanya karena kekuasaan jatuh ke tangan kabilah lain.

Tawaran Abu Sufyan tampak memberi kekuatan kepada Ali.

Sesungguhnya, tawaran itu hendak menggunakan Ali untuk mengguncang tatanan yang baru lahir, menyalakan perang antarkabilah, lalu membuka jalan bagi kekuatan lama Quraisy kembali mengambil kendali.

Ali menolaknya.

Dengan tegas.

Tanpa terpesona oleh jumlah pasukan.

Tanpa tergoda oleh kesempatan.

Tanpa menggadaikan prinsip demi kemenangan yang cepat.

—

Lalu Ali mengucapkan sebuah perumpamaan yang dahsyat:

Orang yang memetik buah sebelum waktunya seperti orang yang menanam di tanah milik orang lain.

Buah yang belum matang mungkin sudah terlihat indah. Tangan dapat meraihnya. Namun ketika dipetik terlalu cepat, buah itu tidak memberikan rasa yang dijanjikannya.

Demikian pula perlawanan bersenjata pada saat itu.

Ali mengetahui haknya. Ia juga mengetahui peta kekuatan yang tersedia. Pendukung yang benar-benar teguh belum cukup untuk menghadapi gelombang besar yang akan timbul. Sementara kekuatan yang ditawarkan Abu Sufyan bukan sayap yang dapat dipercaya.

Dalam khutbah itu Ali menyatakan bahwa orang yang bangkit harus mempunyai “sayap”—yakni kekuatan dan pendukung yang dapat menopangnya. Jika tidak, ia memilih menahan diri agar masyarakat tidak dibakar oleh perang yang hasilnya hanya menguntungkan para penghasut.

Itu bukan ketakutan.

Ali sendiri menjawab tuduhan yang mungkin muncul:

Jika ia berbicara, orang akan menuduhnya rakus terhadap kekuasaan. Jika ia diam, orang akan mengatakan bahwa ia takut mati.

Lalu datanglah jawaban yang mengguncang sejarah:

Putra Abu Thalib lebih akrab dengan kematian daripada seorang bayi dengan susu ibunya.

Ali tidak takut mati.

Di Badr, ia tidak takut mati.

Di Uhud, ketika banyak orang tercerai-berai, ia tidak takut mati.

Di Khandaq, ketika Amr bin Abdu Wud menantang seluruh pasukan Islam, ia tidak takut mati.

Di Khaibar, ketika benteng-benteng tampak tidak dapat ditembus, ia tidak takut mati.

Bagaimana mungkin orang yang tidak pernah mundur di hadapan pasukan musuh tiba-tiba dianggap gentar menghadapi kematian?

Yang ditakutkan Ali bukan kematiannya.

Yang ia jaga adalah kehidupan Islam.

Ia mengetahui bahwa bila Madinah pecah pada hari itu, kaum munafik akan memperoleh ruang. Kabilah-kabilah yang baru masuk Islam dapat kembali memberontak. Kekaisaran-kekaisaran di luar Jazirah akan melihat umat yang baru kehilangan Nabinya sedang saling membunuh.

Api yang dinyalakan atas nama membela Ali dapat membakar risalah yang selama ini Ali bela dengan seluruh hidupnya.

Karena itulah ia menahan pedang.

Bukan karena pedangnya tumpul.

Melainkan karena pandangannya jauh melampaui kilatan besi.

—

Di sinilah keagungan Ali tampak dalam bentuk yang jarang dipahami.

Ia tidak menolak haknya.

Ia menolak mengotori hak itu.

Ia tidak mengakui bahwa keputusan Saqifah lebih tinggi daripada penetapan Rasulullah. Ia justru menjaga agar penolakannya tidak berubah menjadi perang yang dikendalikan oleh dendam jahiliah.

Diamnya Ali bukan persetujuan.

Kesabarannya bukan baiat batin.

Tidak mengangkat pedang pada saat itu bukan berarti tidak mempunyai hujah. Justru karena hujahnya begitu suci, ia tidak menyerahkannya kepada Abu Sufyan untuk dijadikan bendera perang kabilah.

Abu Sufyan menawarkan pasukan.

Ali menawarkan keselamatan umat.

Abu Sufyan menghitung kuda dan lelaki bersenjata.

Ali menghitung akibat yang akan ditanggung generasi-generasi setelahnya.

Abu Sufyan memandang kekuasaan sebagai kemenangan satu kabilah atas kabilah lain.

Ali memandang kepemimpinan sebagai kelanjutan risalah Tuhan.

Mereka berdiri berhadapan, tetapi sesungguhnya mereka sedang berbicara dalam dua bahasa yang berbeda.

Yang satu berbicara dalam bahasa kekuasaan.

Yang lain menjawab dalam bahasa imamah.

—

Tawaran itu akhirnya mati di tempat ia diucapkan.

Tidak ada perintah menyerang.

Tidak ada kuda yang dilepaskan.

Tidak ada jalan Madinah yang dipenuhi darah karena ambisi Abu Sufyan.

Ali tetap menanggung luka. Haknya tetap dirampas. Rumah Rasulullah tetap berada dalam kesedihan. Namun Abu Sufyan tidak diizinkan mengubah kesedihan itu menjadi bahan bakar untuk kepentingannya.

Malam semakin pekat.

Abu Sufyan pergi tanpa membawa baiat Ali dan tanpa memperoleh perang yang mungkin diharapkannya.

Ali tetap berdiri dalam keheningan.

Di hadapannya terbentang jalan yang jauh lebih berat daripada pertempuran: jalan kesabaran yang sadar, perlawanan yang terukur, dan penjagaan terhadap kebenaran tanpa menyerahkan umat kepada kehancuran.

Banyak orang mampu mencabut pedang ketika marah.

Hanya sedikit yang mampu menyarungkannya ketika seluruh alasan pribadi membenarkan pembalasan.

Dan hanya Ali yang dapat berdiri di hadapan orang yang menawarkan sebuah kerajaan, lalu melihat bahwa di balik kerajaan itu bersembunyi sebuah jurang.

—

Inilah pelajaran besarnya:

Kebenaran sebuah tujuan tidak menyucikan semua cara untuk mencapainya.

Tidak setiap orang yang mengaku membela kita adalah pembela kebenaran. Sebagian hanya menemukan kepentingannya di dalam luka kita.

Tidak setiap dukungan harus diterima.

Tidak setiap pasukan adalah kekuatan.

Tidak setiap kesempatan merupakan perintah untuk bergerak.

Ali mengajarkan bahwa seorang pemimpin sejati tidak hanya mengetahui kapan harus bertempur. Ia juga mengetahui pedang siapa yang harus ditolak.

Ia tidak menerima tawaran Abu Sufyan karena Ali tidak dapat dijadikan kendaraan bagi ambisi siapa pun.

Ia adalah pemilik hak, tetapi bukan pemburu kekuasaan.

Ia adalah lelaki paling berani, tetapi keberanian tidak membuatnya kehilangan kebijaksanaan.

Ia adalah orang yang dizalimi, tetapi kezaliman yang menimpanya tidak membuatnya menghalalkan fitnah.

Ali tidak menolak imamah.

Ali menolak Abu Sufyan menjadi jalan menuju imamah itu.

Sebab hak yang datang dari Allah tidak memerlukan tangga yang dibangun oleh kelicikan manusia.

Dan pada malam ketika satu kalimat dapat menyalakan perang saudara, Ali memilih menyelamatkan Islam—meskipun sejarah kemudian membiarkan dirinya dituduh diam, takut, atau tidak menginginkan haknya.

Padahal sesungguhnya, ia sedang memperlihatkan bentuk keberanian yang paling tinggi:

mampu berperang, tetapi menolak berperang untuk memenuhi ambisi orang yang salah.

—

Catatan sumber:

Pijakan utama kisah ini adalah Nahjul Balaghah, Khutbah 5. Mukadimah khutbah menyebutnya sebagai ucapan Imam Ali ketika Abbas bin Abdul Muthalib dan Abu Sufyan bin Harb menawarkan baiat kepadanya setelah wafat Rasulullah.
Khutbah tersebut memuat peringatan agar menghadapi gelombang fitnah dengan “bahtera keselamatan”, meninggalkan perpecahan dan kesombongan, serta perumpamaan tentang memetik buah sebelum matang.
Edisi ini juga mencantumkan al-Ihtijaj karya ath-Thabarsi, jilid I, sebagai salah satu sumber alternatif. Lihat “Nahjul Balaghah, Khutbah 5, beserta keterangan sumbernya”.

Tawaran Abu Sufyan untuk membaiat Ali dan memenuhi Madinah dengan pasukan berkuda serta berjalan disebut dalam keterangan historis khutbah tersebut.
Gambaran halaman rumah, cahaya lampu, pasukan yang menunggu, gerak tubuh, dan suasana percakapan adalah rekonstruksi sastra.
Adapun peristiwa penawaran, penolakan Imam Ali, serta isi pokok nasihatnya bersandar pada riwayat yang disebutkan di atas.

Pedang abu

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1Bn2e4SwYL/

 

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us