16 October 2026

Musim panas membakar Madinah.

Tanah mengeras. Sumur-sumur menyusut. Buah-buah kurma mulai matang—hasil yang telah ditunggu penduduk selama berbulan-bulan.

Pada saat seperti itulah kabar mengerikan tiba.

Pasukan Romawi dikabarkan sedang berkumpul di perbatasan utara.

Ini bukan lagi kabilah-kabilah kecil Arab.

Ini adalah Romawi—sebuah imperium raksasa dengan pasukan terlatih, persenjataan lengkap, kuda-kuda perang, serta pengalaman menaklukkan bangsa-bangsa.

Rasulullah SAW memerintahkan kaum Muslimin bersiap.

Perjalanan menuju Tabuk sangat jauh. Gurun sedang membara. Air sedikit. Kendaraan terbatas. Musuh yang akan dihadapi adalah kekuatan terbesar pada masa itu.

Karena beratnya perjalanan tersebut, Al-Qur’an menyebutnya sebagai Sa‘at al-‘Usrah—masa yang penuh kesulitan.

Sekitar tiga puluh ribu pasukan bersiap meninggalkan Madinah.

Di tengah hiruk-pikuk persiapan, Rasulullah memanggil Ali bin Abi Thalib.

Ali telah menemani beliau dalam hampir seluruh medan yang mengancam keberadaan Islam.

Di Badar, Ali berada di garis depan.

Di Uhud, Ali berdiri ketika banyak orang berlari.

Di Khandaq, Ali menghadapi Amr bin Abdi Wudd.

Di Khaibar, Ali merobohkan pintu benteng.

Di Hunain, Ali menjadi dinding antara Rasulullah dan pasukan Hawazin.

Maka Ali tentu mengira dirinya kembali akan berada di sisi Rasulullah.

Pedangnya telah siap. Baju perangnya telah dikenakan.

Namun kali ini Rasulullah memberikan perintah yang berbeda: “Tinggallah di Madinah.”

Ali terdiam.

Seluruh pasukan bergerak menuju utara, tetapi dirinya diminta menjaga Madinah, keluarga Rasulullah, serta orang-orang yang ditinggalkan.

Bagi manusia biasa, tugas itu mungkin tampak ringan.

Namun bagi Ali, berada jauh dari Rasulullah ketika beliau menghadapi ancaman adalah sesuatu yang sangat berat.

Selama hidupnya, Ali selalu memilih berada di antara Muhammad dan bahaya.

Kini Rasulullah justru memerintahkannya berdiri jauh di belakang. Pasukan pun berangkat.

Puluhan ribu manusia bergerak meninggalkan kota. Debu mengepul menutupi jalan. Suara derap unta dan kuda perlahan menghilang di balik bukit-bukit Madinah.

Ali tetap tinggal. Bukan karena takut. Bukan karena lemah.

Bukan pula karena tidak dibutuhkan. Ia tinggal karena diperintahkan.

Namun orang-orang munafik melihat kesempatan.

Sebagian dari mereka memang sengaja tidak ikut berangkat. Mereka tidak ingin menempuh gurun yang membakar. Mereka takut menghadapi Romawi. Tetapi mereka membutuhkan alasan untuk menutupi ketakutannya.

Maka mereka mulai berbisik:

“Muhammad meninggalkan Ali karena Ali telah menjadi beban.”

“Rasulullah tidak lagi menginginkannya dalam perjalanan.”

“Kalau Ali benar-benar dicintai, tentu ia dibawa ke medan perang.”

Fitnah itu bergerak dari mulut ke mulut. Mereka tidak sedang sekadar mengejek Ali.

Mereka sedang berusaha merusak hubungan paling kokoh di dalam Islam: hubungan antara Muhammad dan Ali.

Kabar itu akhirnya sampai kepadanya.

Ali dapat menghadapi seratus pedang tanpa gemetar.

Namun mendengar bahwa Rasulullah dianggap tidak lagi menginginkannya adalah luka yang berbeda.

Ali segera mengenakan perlengkapan perjalanannya.

Ia membawa pedang, keluar dari Madinah, lalu menyusul pasukan Rasulullah.

Di tengah terik gurun ia berjalan cepat. Bukit demi bukit dilewatinya.

Hingga akhirnya ia menemukan rombongan Rasulullah di daerah al-Jurf, tidak jauh dari Madinah.

Dari kejauhan, para sahabat melihat seseorang datang seorang diri.

Debu memenuhi pakaiannya. Pedang tergantung di pinggangnya.

Langkahnya cepat. Itu Ali. Ia langsung menuju Rasulullah.

“Wahai Rasulullah, apakah engkau meninggalkanku bersama perempuan dan anak-anak?”

Ada luka dalam pertanyaan itu.

Bukan karena Ali merasa tugas menjaga keluarga adalah kehinaan. Tetapi karena kaum munafik telah menanamkan fitnah bahwa Rasulullah meninggalkannya karena tidak lagi menghendaki kehadirannya.

Ali menceritakan apa yang mereka katakan. Rasulullah memandangnya.

Kemudian beliau menghancurkan fitnah itu dengan satu kalimat yang akan terus bergema sepanjang sejarah:

“Tidakkah engkau ridha bahwa kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa—hanya saja tidak ada nabi sesudahku?”

Gurun seakan membeku. Ali datang karena khawatir dirinya ditinggalkan.

Namun Rasulullah justru mengumumkan bahwa ia sedang ditempatkan pada kedudukan Harun.

Siapakah Harun bagi Musa? Harun adalah saudaranya.

Harun adalah pembantunya. Harun adalah penguatnya.

Harun adalah orang yang diminta Musa menggantikannya ketika ia pergi menemui Allah di Gunung Sinai.

Al-Qur’an merekam perkataan Musa kepada Harun:

“Gantikanlah aku dalam memimpin kaumku, lakukanlah perbaikan, dan jangan mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan.” (QS al-A‘raf: 142)

Itulah kedudukan yang disebutkan Rasulullah untuk Ali.

Bukan sekadar sahabat perjalanan. Bukan sekadar prajurit.

Bukan sekadar sepupu atau menantu.

Ketika Muhammad meninggalkan Madinah, Ali ditempatkan sebagaimana Musa menempatkan Harun di tengah kaumnya.

Rasulullah hanya memberikan satu pengecualian:

“Tidak ada nabi sesudahku.”

Mengapa pengecualian itu harus disebutkan? Karena Harun adalah seorang nabi.

Rasulullah menutup kemungkinan manusia mengira Ali juga menerima kenabian. Kenabian telah berakhir pada Muhammad.

Namun persaudaraan, kedekatan, pertolongan, kepercayaan, dan kedudukan sebagai pengganti ketika Rasulullah tidak berada di tengah umat—semuanya dibiarkan berdiri di dalam kalimat itu.

Ali menundukkan kepala. Luka di dadanya hilang.

Ia tidak lagi melihat perintah tinggal di Madinah sebagai dijauhkan dari medan perjuangan.

Kini ia memahami: Rasulullah tidak meninggalkannya di belakang karena tidak membutuhkannya.

Rasulullah meninggalkannya di tempat yang hanya dapat dipercayakan kepada orang yang memiliki kedudukan seperti Harun.

Pasukan Romawi berada jauh di utara. Namun kaum munafik berada di dalam Madinah.

Musuh di luar dapat dihadapi oleh tiga puluh ribu pasukan.

Tetapi untuk menjaga pusat Islam dari musuh yang bersembunyi di balik nama Muslim, Rasulullah memilih satu orang: Ali.

Ali kemudian kembali ke Madinah. Ia tidak membawa kemenangan perang.

Ia tidak membawa tawanan. Ia tidak membawa harta rampasan.

Namun ia membawa sesuatu yang jauh lebih besar daripada semuanya:

Sebuah pernyataan dari mulut Rasulullah tentang siapa dirinya.

Di Khaibar, Rasulullah menyerahkan panji kepada Ali karena benteng tidak dapat ditaklukkan tanpa dirinya.

Di Tabuk, Rasulullah tidak membawa Ali karena Madinah tidak dapat ditinggalkan tanpa dirinya.

Di medan perang, Ali menjaga tubuh Muhammad.

Di Madinah, Ali menjaga rumah, keluarga, dan umat Muhammad.

Orang-orang munafik ingin membuat Ali merasa dibuang.

Namun fitnah mereka justru menyebabkan Rasulullah membuka sebuah rahasia kedudukan:

Ali bagi Muhammad adalah seperti Harun bagi Musa.

Seandainya mereka tidak mengejek, mungkin kalimat itu tidak terucap di hadapan banyak orang.

Seandainya mereka tidak menabur fitnah, mungkin sejarah tidak akan menerima penjelasan seterang itu.

Mereka ingin merendahkan Ali.

Namun Allah menjadikan mulut mereka sebagai sebab terangkatnya salah satu keutamaan terbesar Ali.

Begitulah Ali.

Dilemparkan fitnah—keluar kemuliaan.

Ditinggalkan di Madinah—terbuka kedudukan.

Tidak ikut berperang—namun pulang membawa pernyataan yang lebih dahsyat daripada kemenangan.

Dan sejak hari itu, siapa pun yang ingin mengetahui kedudukan Ali di sisi Rasulullah tidak perlu menyusun dugaan sendiri.

Cukup tanyakan: Siapakah Harun bagi Musa?

Lalu dengarkan Rasulullah menjawab:

“Begitulah Ali di sisiku—hanya saja tidak ada nabi sesudahku.”

Tabuk ketika

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Catatan sumber:

Penunjukan Imam Ali sebagai pengganti Rasulullah di Madinah dalam ekspedisi Tabuk serta Hadis Manzilah diriwayatkan dalam “Shahih al-Bukhari 4416” (https://sunnah.com/bukhari:4416) dan “Shahih Muslim 2404a”.
Perintah Nabi Musa kepada Harun untuk menggantikannya di tengah kaumnya tercantum dalam “QS al-A‘raf: 142”.
Rincian fitnah kaum munafik dan pertemuan Ali dengan Rasulullah di al-Jurf tercatat dalam “kisah ekspedisi Tabuk”.

—

Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/19v72iQeoa/

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us