15 September 2026

Sehelai Pakaian Hampir Menentukan Nasib Seorang Lelaki.

Pada kain itu terdapat noda putih. Seorang perempuan membawanya sebagai bagian dari tuduhan: lelaki tersebut telah mencemarkan kehormatannya.
Lelaki itu menyangkal.
Tetapi noda tersebut tetap berada di sana—terlihat, dapat ditunjukkan, dan seolah-olah menguatkan segala sesuatu yang dituduhkan kepadanya.
Bagaimana membela diri ketika sesuatu yang tidak pernah dilakukan tampak meninggalkan bukti?
Perkara itu dihadapkan kepada Umar bin Khattab.
Perempuan tersebut menuduh seorang lelaki dari kalangan Anshar. Ia menyebut tempat kejadian dan menyampaikan pengaduannya. Di hadapannya, lelaki itu terus membantah.
Menurut riwayat, Umar telah berniat menjatuhkan hukuman.
Pemuda tersebut bersumpah. Ia memohon agar perkaranya diperiksa dengan teliti.
Di dalam permohonan semacam itu terdapat ketakutan yang sulit dibayangkan oleh orang yang belum pernah mengalaminya: seseorang mengetahui dirinya tidak bersalah, tetapi nasibnya berada di tangan mereka yang sedang mempertimbangkan kemungkinan sebaliknya.
Setiap penyangkalan dapat dianggap sebagai usaha mengelak. Setiap desakan dapat terdengar seperti kepanikan orang yang tertangkap.
Padahal orang yang tidak bersalah pun dapat ketakutan.
Ali berada di majelis itu.
Ketika permohonan sang pemuda terus disampaikan, Umar meminta pendapat beliau.
Sekarang perhatian beralih kepada Ali.
Beliau memperhatikan noda pada pakaian perempuan tersebut.
Ali mencurigai kemungkinan adanya rekayasa.
Perkara itu memerlukan pemeriksaan lebih jauh. Noda memang terlihat. Namun, benda yang terlihat masih harus dikenali: apakah sebenarnya bahan yang menempel pada kain itu?
Pada pertanyaan inilah nasib sang pemuda kini bergantung.
Ali meminta air yang telah mendidih.
Permintaan tersebut membawa pemeriksaan menuju sesuatu yang dapat diamati bersama. Keterangan yang disampaikan akan dihadapkan pada benda yang dipakai untuk mendukungnya.
Air disiapkan.
Lalu dibawa ke hadapan beliau.
Di dalam penggambaran adegan ini, kita dapat membayangkan uap naik perlahan di atas wadah, sementara perhatian tertuju pada bagian kain yang bernoda.
Beberapa saat sebelumnya, noda itu tampak seperti akhir dari segala pembelaan.
Kini benda yang sama menjadi awal pemeriksaan.
Atas perintah Ali, air panas dituangkan pada bagian kain tersebut.
Bahan putih itu mengalami perubahan.
Ia menggumpal, menjadi matang.
Sebuah tindakan yang sangat khusus dilakukan: Ali mengambil bagian dari bahan tersebut, mengenalinya melalui rasa, lalu mengeluarkannya kembali dari mulut.
Bahan itu adalah putih telur.
Namun, pemeriksaan belum berhenti pada perubahan yang terlihat.
Ali kemudian menghadapkan persoalan tersebut kepada perempuan yang mengadukan sang pemuda. Beliau meneruskan pemeriksaan hingga perempuan itu mengakui perbuatannya.
Di sinilah tuduhan tersebut runtuh.
Pengakuan telah datang dari orang yang menyusunnya.
Riwayat mengungkapkan bahwa perempuan itu menghendaki lelaki Anshar tersebut, tetapi keinginannya tidak tercapai.
Ia kemudian mengambil sebutir telur, memisahkan bagian kuningnya, dan mengoleskan bagian putihnya pada pakaian. Bahan itulah yang dibawanya untuk mendukung tuduhan.
Sesuatu yang berasal dari sebuah telur hampir berubah menjadi hukuman bagi seorang manusia.
Begitu dekat jarak antara benda yang sederhana dan akibat yang mengerikan ketika sebuah cerita palsu diletakkan di sekelilingnya.
Kini hubungan antara noda dan tuduhan itu terbuka.
Sang pemuda terhindar dari hukuman.
Kekuatan dan kecerdasan Ali dalam kisah ini terasa pada usaha untuk meneliti titik yang menentukan.
Beliau memperhatikan benda yang ditunjukkan, memeriksanya, lalu meneruskan pertanyaan hingga memperoleh pengakuan. Setiap langkah membawa perkara lebih dekat kepada apa yang sebenarnya terjadi.
Kita dapat merasakan betapa berartinya ketelitian itu bagi orang yang sedang dituduh.
Bagi seorang pengamat, pemeriksaan mungkin hanya tampak sebagai beberapa tindakan sederhana.
Bagi pemuda tersebut, di situlah seluruh nasibnya dipertaruhkan.
Ada namanya yang harus dibersihkan. Ada hukuman yang harus dihindarkan dari orang yang tidak melakukan perbuatan itu. Ada kebenaran yang sedang memerlukan seseorang untuk memeriksanya dengan sungguh-sungguh.
Sehelai pakaian tadi hampir menentukan nasibnya.
Ali memastikan bahwa sebelum hukuman dijatuhkan, benda yang disebut sebagai bukti itu sendiri harus diperiksa.
Dusta yg tak tahan
Bersama Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
Catatan sumber:
Diadaptasi dari riwayat Imam Ja‘far ash-Shadiq dalam Al-Kafi, jilid 7, Kitab al-Qadha’ wa al-Ahkam, bab al-Nawadir, hadis 4.
Al-Majlisi menilainya majhul, sehingga kepastian historisnya belum dapat ditegaskan.
Tapi hikmah kisah ini memiliki nilai tersendiri. Suasana merupakan pengolahan dan pengembangan yang saya bangun; rangkaian pemeriksaan dan pengakuan mengikuti teks riwayat.

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us