Ketika Kesetiaan Tidak Lagi Diukur dari Kata-kata
Madinah belum selesai menangis.
Tanah yang baru saja menerima jasad Rasulullah saw. seakan masih bergetar oleh kehilangan. Udara terasa berat. Lorong-lorong yang dahulu hidup oleh salam beliau kini dipenuhi suara berbisik.
Di satu rumah, keluarga Nabi masih diselimuti duka. Di tempat lain, kekuasaan telah diputuskan dengan tergesa-gesa.
Sejarah bergerak lebih cepat daripada air mata.
Ketika sebagian orang berkumpul menentukan siapa yang akan memimpin umat, Ali bin Abi Thalib a.s. sedang menunaikan kewajiban terakhirnya kepada Rasulullah saw.—memandikan, mengafani, menyalatkan, dan mengantarkan manusia paling mulia itu menuju peristirahatan terakhirnya.
Ali tidak meninggalkan jasad Nabi demi mengejar kekuasaan.
Namun, ketika ia keluar dari rumah duka, keputusan politik telah berubah menjadi kenyataan. Tangan-tangan telah dijabat.
Nama telah diumumkan. Baiat telah dikumpulkan.
Sesuatu yang menurut keyakinan Ali telah ditetapkan di Ghadir, kini diperlakukan seakan tidak pernah disampaikan.
Ali tidak segera menghunus pedang.
Bukan karena takut.
Bukan karena mengakui bahwa hak itu telah berpindah.
Ia mengetahui bahwa pedang yang diangkat tanpa kekuatan yang memadai tidak hanya akan menumpahkan darahnya, tetapi juga dapat menghancurkan rumah Rasulullah saw. dan menyeret umat yang masih muda ke dalam perang saudara.
Namun, Ali tetap menegakkan hujah.
Malam ketika pintu-pintu diketuk
Menurut riwayat yang dinukil dalam Kitab Sulaym bin Qays, pada malam hari Imam Ali membawa Sayidah Fatimah az-Zahra a.s. di atas tunggangan. Hasan dan Husain a.s. menyertai mereka.
Bayangkanlah malam itu.
Putri Rasulullah saw., yang belum kering air matanya, mendatangi rumah-rumah kaum Muhajirin dan Ansar. Ali berdiri di hadapan orang-orang yang pernah menyaksikan Badar, Uhud, Khandaq, dan Ghadir. Hasan dan Husain—dua cucu Rasulullah yang dahulu dipeluk dan dicium di hadapan kaum Muslimin—berdiri menyaksikan janji manusia diuji.
Ali mengingatkan mereka tentang haknya.
Fatimah meminta mereka membela kebenaran.
Mereka mendengar.
Mereka mengenal siapa yang berdiri di hadapan mereka.
Mereka juga mengetahui siapa yang sedang dimakamkan oleh keluarga itu.
Dalam riwayat tersebut, empat puluh empat orang menyatakan kesiapan untuk membantu.
Empat puluh empat suara berkata, “Kami akan datang.”
Empat puluh empat mulut mengucapkan janji.
Akan tetapi, Ali tidak memerlukan tepuk tangan. Ia tidak mencari simpati. Ia tidak membutuhkan dukungan yang hanya hidup di dalam ruangan, tetapi mati ketika pintu rumah dibuka.
Ali meminta bukti.
Mereka diperintahkan datang pada pagi hari dengan membawa senjata dan kepala yang telah dicukur. Kepala yang tercukur menjadi tanda bahwa mereka benar-benar siap berjuang, tidak akan bersembunyi di tengah kerumunan, serta bersedia mempertaruhkan hidup.
Ini bukan undangan menuju pesta kekuasaan.
Ini adalah panggilan menuju kematian.
Fajar yang membongkar manusia
Malam berlalu perlahan.
Di rumah masing-masing, empat puluh empat orang itu memiliki cukup waktu untuk berpikir. Mungkin ada yang memandangi pedangnya. Ada yang memikirkan keluarganya. Ada yang menghitung kekuatan lawan. Ada yang teringat janji yang baru saja diucapkannya.
Namun, antara mengucapkan kebenaran dan menanggung akibatnya terbentang jarak yang sangat panjang.
Kemudian fajar datang.
Langit Madinah mulai berubah warna. Dari hitam menjadi kelabu, lalu perlahan disapu cahaya.
Imam Ali menunggu.
Tidak ada pasukan besar.
Tidak terdengar derap puluhan kuda.
Tidak datang empat puluh empat orang yang malam sebelumnya menyatakan kesediaannya.
Yang muncul hanyalah beberapa sosok—kurang dari sepuluh orang.
Satu riwayat menyebut secara khusus empat orang yang memenuhi panggilan dengan kepala tercukur dan senjata di tangan: Salman al-Farisi, Abu Dzar al-Ghifari, Miqdad bin Amr, dan Zubair bin Awwam.
Riwayat lain tentang malam-malam genting sesudah Saqifah memperlihatkan lingkaran yang lebih luas. Al-Barra’ bin Azib menyaksikan sekelompok kecil sahabat berkumpul secara diam-diam: Miqdad, Abu Dzar, Salman, Ammar bin Yasir, Ubadah bin Shamit, Hudzaifah bin Yaman, Zubair bin Awwam, dan—dalam sebagian penukilan—Abu al-Haitsam bin at-Tayyihan.
Karena laporan-laporan itu tidak menggunakan susunan nama dan konteks yang sepenuhnya sama, kita tidak dapat memastikan bahwa kedelapan orang tersebut seluruhnya datang pada saat yang persis sama dengan kepala tercukur. Akan tetapi, keberadaan Ammar dalam lingkaran kecil pembela Ali pada malam-malam krisis itu disebut dengan jelas. Karena itu, sangat mungkin Ammar bin Yasir juga hadir dalam rangkaian perlawanan dan pembelaan tersebut, meskipun namanya tidak dicantumkan dalam daftar empat orang pada redaksi yang secara khusus membicarakan kepala tercukur.
Angka riwayat boleh berbeda.
Namun, seluruh laporan bertemu pada satu kenyataan yang sama:
Yang berjanji berjumlah puluhan. Yang benar-benar berdiri bersama Ali tidak mencapai sepuluh orang.
Mereka yang datang
Di sana berdiri Salman.
Lelaki Persia yang telah menempuh perjalanan panjang mencari kebenaran. Ia pernah berpindah dari satu guru kepada guru yang lain, dari satu negeri menuju negeri berikutnya, hingga menemukan Rasulullah saw. Ia tidak mungkin kehilangan jalan hanya beberapa hari setelah Nabi wafat. Baginya, mengikuti Ali bukan pilihan politik. Itu adalah kelanjutan dari mengikuti Muhammad.
Di sisinya berdiri Abu Dzar.
Lelaki yang tidak pandai berdamai dengan kebatilan. Suaranya keras karena nuraninya tidak dapat dibeli. Dunia kelak akan mengasingkannya, tetapi kesendirian tidak pernah menakutkannya.
Ada Miqdad.
Dalam sejumlah riwayat Ahlul Bait, Miqdad digambarkan sebagai orang yang keteguhan hatinya paling sedikit diguncang keraguan. Ia tidak menunggu siapa yang menang untuk menentukan siapa yang benar. Ia telah mengetahui kebenaran sebelum manusia menghitung kekuatan.
Ada pula Ammar bin Yasir—kemungkinan besar berada dalam lingkaran kecil itu.
Putra Yasir dan Sumayyah. Anak dari dua syahid pertama Islam. Tubuhnya pernah disiksa di Makkah, tetapi hatinya tidak pernah berhasil ditundukkan oleh Quraisy. Riwayat Ahlul Bait menyebut Ammar sempat mengalami keguncangan sesaat, kemudian segera kembali. Perjalanan hidupnya kelak menutup semua keraguan: ia berdiri bersama Ali dalam Perang Jamal dan gugur dalam barisan Ali di Shiffin.
Darah Ammar kelak menjadi hujah yang tidak mampu dibungkam oleh propaganda.
Dan di antara mereka terdapat Zubair bin Awwam.
Ya, Zubair yang sama.
Pada malam-malam pertama setelah wafatnya Rasulullah saw., ia berdiri membela Ali. Pedangnya pernah terhunus ketika rumah Fatimah dikepung. Imam Ali bahkan pernah menyebut bahwa Zubair dahulu termasuk bagian dari Ahlul Baitnya—sampai putranya, Abdullah, tumbuh dan mengubah arah hidupnya.
Sekitar dua puluh lima tahun kemudian, Zubair akan mematahkan baiatnya kepada Imam Ali dan bergerak bersama Thalhah serta Aisyah menuju Bashrah. Ia akan menjadi salah seorang penggerak Perang Jamal.
Inilah tragedi manusia.
Seseorang dapat berdiri di sisi kebenaran pada suatu pagi, tetapi meninggalkannya pada petang kehidupannya.
Kebaikan masa lalu harus diakui. Namun, kebaikan masa lalu tidak dapat digunakan untuk menghapus kesalahan yang dilakukan kemudian. Sebaliknya, kesalahan pada akhir perjalanan tidak mengizinkan kita memalsukan kenyataan bahwa dahulu ia pernah berdiri membela Ali.
Sejarah bukan lukisan manusia tanpa perubahan.
Sejarah adalah perjalanan hati—dan hati dapat bertahan, dapat terguncang, bahkan dapat berbalik arah.
Ali tidak kekurangan keberanian
Orang mungkin bertanya:
Mengapa Ali tidak tetap bangkit?
Mengapa Singa Allah itu tidak menghunuskan Dzulfiqar?
Bukankah ia orang yang merobohkan para jawara Quraisy di Badar? Bukankah ia yang berdiri di depan Amr bin Abdi Wudd ketika semua orang terdiam? Bukankah di tangannya benteng Khaibar runtuh?
Jawabannya justru berada pada keberanian Ali sendiri.
Orang yang berani tidak selalu menghunus pedang. Kadang-kadang keberanian tertinggi adalah menahan pedang ketika ayunannya hanya akan menghancurkan sesuatu yang lebih besar.
Ali tidak sedang menghitung keselamatan dirinya.
Ia sedang menghitung keselamatan Islam.
Ia membutuhkan kekuatan minimum yang mampu mempertahankan rumah kenabian sekaligus mencegah perjuangan itu dihancurkan dalam satu malam.
Dalam riwayat yang sama, Imam Ali menyatakan bahwa seandainya empat puluh orang yang telah berjanji benar-benar menepati baiat mereka, ia akan bangkit menghadapi perampasan tersebut.
Tetapi mereka tidak datang.
Empat puluh empat orang telah menjawab panggilannya.
Kurang dari sepuluh yang benar-benar berdiri.
Maka Ali melihat kenyataan dengan mata seorang imam, bukan dengan amarah seorang lelaki yang haknya dirampas. Ia dapat maju dan gugur bersama segelintir orang.
Namun, setelah itu, siapa yang akan melindungi Fatimah? Siapa yang akan menjaga Hasan dan Husain? Siapa yang akan memelihara tafsir Al-Qur’an dan warisan Rasulullah saw.?
Ali menyarungkan pedangnya.
Bukan karena baiat di Saqifah telah menjadi benar.
Bukan karena ia tidak memiliki hak.
Bukan pula karena ia takut mati.
Ali menahan pedang karena ia tidak ingin Islam yang baru ditinggalkan Rasulullah saw. terkubur bersama darah keluarga Nabi.
Tiga kali janji diuji
Riwayat itu menyebut bahwa Imam Ali tidak hanya memanggil mereka sekali.
Pada malam berikutnya ia kembali mendatangi dan mengingatkan mereka. Mereka kembali berkata akan datang pada pagi hari.
Fajar kembali menyingsing.
Namun, orang-orang yang sama tetap tidak terlihat.
Pada malam ketiga, Ali sekali lagi menegakkan hujah. Ia memberi kesempatan agar mereka memperbaiki janji yang telah dikhianati.
Pagi ketiga tiba.
Madinah tetap sunyi.
Menurut redaksi yang menyebut empat orang, hanya orang-orang yang sama kembali berdiri di hadapan Ali.
Di situlah janji kehilangan seluruh keindahan katanya.
Sebab janji yang tidak diwujudkan hanyalah suara yang mati setelah meninggalkan mulut.
Imam Ali akhirnya berpaling kepada Al-Qur’an. Ia mengumpulkan dan menyusunnya bersama penjelasan tentang ayat-ayatnya, nasikh dan mansukhnya, serta ilmu yang diwariskan Rasulullah saw. kepadanya.
Jika umat belum bersedia menerima pemerintahannya, Ali tetap akan menjaga agama mereka.
Jika mereka meninggalkan pintunya, ia tidak akan meninggalkan amanah Nabi.
Jika mereka menolak tangannya, ia tetap akan menyalakan cahaya untuk generasi yang belum lahir.
Kurang dari sepuluh
Empat puluh empat orang telah berjanji.
Kurang dari sepuluh yang menepati atau setidaknya tetap berada dalam lingkaran perlawanan.
Itulah jarak antara kekaguman dan kesetiaan.
Banyak orang mengagumi Ali ketika ia memenangkan peperangan. Banyak yang memuji Ali ketika pedangnya menyelamatkan mereka. Banyak yang mengetahui keutamaannya ketika Rasulullah saw. masih berdiri di tengah-tengah mereka.
Tetapi ketika mengikuti Ali berarti kehilangan kedudukan, menghadapi kekuasaan, dan mempertaruhkan nyawa—jumlah mereka menyusut sebelum matahari terbit.
Sejarah tidak selalu berubah karena ribuan orang melakukan sesuatu.
Kadang-kadang sejarah justru dibongkar oleh sedikit orang yang tidak datang.
Pada pagi itu, Imam Ali tidak sekadar menghitung kepala-kepala yang tercukur.
Ia sedang memperlihatkan kepada zaman perbedaan antara orang yang mengenal kebenaran dan orang yang bersedia membayar harga untuk membelanya.
Empat puluh empat orang berkata, “Kami siap.”
Kurang dari sepuluh orang melangkahkan kaki.
Dan sejak pagi itu, sejarah mengetahui bahwa ukuran kesetiaan bukanlah apa yang diucapkan seseorang pada malam yang aman—
melainkan ke mana kakinya melangkah ketika fajar menuntut pembuktian.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Catatan sumber:
Riwayat mengenai 44 orang yang menyatakan kesiapan, perintah datang dengan kepala tercukur dan senjata, serta empat nama—Salman, Abu Dzar, Miqdad, dan Zubair—terdapat dalam Kitab Sulaym bin Qays, hadis 4.
Dalam bagian selanjutnya Imam Ali menyebut seandainya 40 orang itu menepati baiat, beliau akan melakukan perlawanan. “Kitab Sulaym bin Qays, bagian I, hlm. 28–36”
Pada hadis sebelumnya, riwayat al-Barra’ bin Azib menyebut kelompok kecil yang berkumpul pada malam Saqifah: Miqdad, Abu Dzar, Salman, Ammar bin Yasir, Ubadah bin Shamit, Hudzaifah bin Yaman, dan Zubair bin Awwam.
Sebagian penukilan menambahkan Abu al-Haitsam bin at-Tayyihan sehingga jumlahnya menjadi delapan.
Peristiwa pertemuan malam ini berdekatan dan berhubungan dengan penolakan terhadap hasil Saqifah, tetapi tidak boleh dipastikan sebagai redaksi identik dengan peristiwa kepala tercukur. “Kitab Sulaym, hadis 3, hlm. 22–24”
Tarikh al-Ya‘qubi juga menempatkan Ammar bersama sejumlah sahabat yang tidak menerima hasil baiat Saqifah pada fase awal. Sumber-sumber lain menyebut dua belas orang yang menyampaikan penolakan. Karena variasi inilah, judul “44 Berjanji,
Kurang dari 10 yang Menepati” dipilih sebagai rumusan naratif yang lebih aman daripada mengunci seluruh peristiwa pada angka empat atau delapan.
Mengenai Zubair, Nahjul Balaghah mencatat bahwa ia kemudian mematahkan baiatnya kepada Imam Ali.
Imam Ali juga berkata bahwa Zubair dahulu termasuk bagian dari mereka, Ahlul Bait, hingga putranya Abdullah tumbuh dan memengaruhinya. “Nahjul Balaghah, Khutbah 8 dan Hikmah 453”.
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1JbdGDvYPX/

