11 October 2026

“Apakah masih ada amalan yang belum kulakukan?”

Lelaki alim itu bertanya kepada dirinya sendiri.

“Aku telah berdoa. Aku telah menangis. Aku mendatangi Masjid Sahla setiap malam Selasa. Empat puluh malam hampir sempurna. Aku melakukan riyadhah, mengurangi tidur, menahan keinginan, dan mengetuk pintu langit. Tetapi mengapa aku belum juga dipertemukan dengan Imam Zaman?”

Ia sangat merindukan Imam Mahdi afs. Bukan sekadar ingin mengetahui keberadaannya, tetapi ingin memandang wajah Hujjah Allah yang selama ini disebutnya dalam doa.

Suatu malam, dalam keadaan ruhani, datanglah petunjuk:

“Jika engkau benar-benar ingin berjumpa dengan Imam Zaman, pergilah ke sebuah kota.”

Ia segera berangkat. Perjalanan jauh ditempuhnya dengan satu harapan: berjumpa dengan Imam yang selama ini dirindukannya.

Sesampainya di kota itu, ia kembali melakukan riyadhah. Hari demi hari berlalu. Hingga pada hari ke-37, datanglah petunjuk:

“Bangunlah! Saat ini Imam Zaman berada di pasar pandai besi, di kedai seorang tukang kunci tua.”

Jantungnya berdegup keras.

Ia segera menuju pasar. Di antara denting palu, bau besi, dan hiruk-pikuk orang berdagang, ia menemukan sebuah kedai kecil. Di sana duduk seorang lelaki tua sederhana—seorang tukang kunci.

Dan di sampingnya, seseorang yang selama ini hanya hadir dalam doa-doanya.

Imam Mahdi afs.

Lelaki alim itu mengucapkan salam. Imam menjawabnya, kemudian memberi isyarat agar ia diam dan memperhatikan.

Tidak lama kemudian, datanglah seorang perempuan tua. Tubuhnya membungkuk, tangannya gemetar memegang tongkat. Dari balik pakaiannya ia mengeluarkan sebuah kunci tua tanpa anak kunci.

“Tuan,” katanya lirih, “maukah engkau membeli kunci ini dariku?”

“Berapa Ibu hendak menjualnya?”

“Tiga syahi saja. Aku sedang membutuhkan uang.”

Tukang kunci itu mengambilnya, memeriksa dengan teliti, lalu berkata:

“Ibu, kunci ini bukan seharga tiga syahi.”

Wajah perempuan tua itu berubah. Ia mengira barangnya tidak berharga.

“Kalau terlalu mahal, bayarlah dua syahi saja. Aku benar-benar sedang membutuhkan uang.”

Tukang kunci itu tersenyum.

“Bukan begitu, Ibu. Kunci ini dapat dijual seharga delapan syahi dalam keadaannya sekarang. Jika dibuatkan anak kunci, nilainya menjadi sepuluh syahi.”

Perempuan tua itu menatapnya keheranan.

“Tetapi aku rela menjualnya tiga syahi.”

“Kerelaan yang lahir karena kebutuhan tidak memberiku hak untuk mengambil keuntungan dari kesulitanmu.”

Tukang kunci itu kemudian melanjutkan:

“Aku seorang pedagang. Wajar jika aku mengambil sedikit keuntungan. Karena itu, aku akan membelinya tujuh syahi. Satu syahi menjadi keuntunganku.”

Perempuan tua itu hampir tidak mempercayai pendengarannya.

“Tujuh syahi?”

“Benar, Ibu. Itulah harga yang adil.”

Ia menyerahkan tujuh syahi kepada perempuan tersebut. Perempuan tua itu menerimanya dengan mata berkaca-kaca, lalu pergi sambil terus mendoakannya.

Setelah perempuan itu menjauh, Imam Mahdi afs menoleh kepada lelaki alim yang telah berpuluh-puluh malam melakukan riyadhah.

“Engkau telah melihatnya?”

Lelaki itu terdiam.

“Jadilah seperti orang ini. Tidak perlu menyusahkan dirimu dengan berbagai perjalanan dan riyadhah yang berat. Berbuatlah benar. Jadilah seorang Muslim yang sesungguhnya. Dari seluruh penduduk kota ini, aku memilih mengunjungi lelaki tua ini karena ia mengenal Allah dan menjaga hak manusia.”

Imam kemudian menjelaskan bahwa seluruh pedagang di pasar mengetahui perempuan tua itu sedang terdesak. Mereka berusaha memanfaatkan kebutuhannya dengan membeli barangnya semurah mungkin. Hanya tukang kunci tersebut yang tidak menjadikan kesulitan orang lain sebagai kesempatan untuk memperoleh keuntungan.

“Karena itulah,” kata Imam, “aku datang mengunjunginya setiap pekan.”

Betapa dahsyatnya kisah ini.

Seorang ulama menempuh perjalanan jauh untuk mencari Imam Mahdi afs. Seorang tukang kunci tidak pergi ke mana-mana—tetapi Imam Mahdi datang mengunjunginya.

Yang seorang ingin melihat Imam. Yang lain hidup dengan cara yang membuat Imam berkenan melihatnya.

Bukan berarti doa, tangisan, ziarah, dan riyadhah tidak penting. Semua itu adalah jalan untuk membersihkan hati. Namun nilai doa akhirnya diuji setelah salam: ketika kita berdagang, menentukan harga, membayar upah, menunaikan janji, dan berhadapan dengan kelemahan orang lain.

Tidak mungkin kita merindukan Imam Keadilan, tetapi diam-diam mengambil keuntungan dari ketidaktahuan manusia.

Tidak mungkin kita memohon agar dipertemukan dengan Imam Zaman, tetapi masih tega mengurangi hak pekerja, menipu pelanggan, memanfaatkan orang yang sedang terdesak, atau menerima sesuatu yang kita tahu bukan hak kita.

Barangkali pertanyaan kita selama ini keliru.

Kita terus bertanya:

“Amalan apakah yang harus kubaca agar dapat berjumpa dengan Imam Mahdi?”

Padahal pertanyaan yang lebih jujur adalah:

“Akhlak apakah yang harus kubangun agar Imam Mahdi berkenan menjumpaiku?”

Imam Mahdi afs bukan sekadar Imam yang namanya kita panggil dalam doa. Ia adalah Imam keadilan. Maka jalan menuju kedekatan dengannya juga bernama keadilan.

Kerinduan kepada Imam tidak hanya diukur dari seberapa sering kita menangis ketika menyebut namanya, tetapi juga dari seberapa takut kita mengambil sesuatu yang bukan hak kita.

Kita mungkin mencari Imam di Masjid Sahla, Jamkaran, Najaf, atau Karbala. Namun boleh jadi Imam sedang memperhatikan kita di pasar, di kantor, di meja pembayaran, di balik sebuah perjanjian, atau ketika seseorang yang sedang kesulitan datang meminta pertolongan.

Di situlah penantian diuji.

Di situlah cinta dibuktikan.

Sebab terkadang hijab yang menghalangi kita dari Imam bukan kurangnya doa, melainkan beberapa keping uang yang kita ambil secara tidak adil.

Dan boleh jadi, perjumpaan dengan Imam Zaman tidak dimulai ketika mata kita berhasil melihatnya, tetapi ketika hidup kita tidak lagi membuat hatinya berduka.

Ketika imam

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Catatan:

Kisah ini dinukil sebagai hikayat tentang keadilan dalam Kīmiyā-ye Maḥabbat (The Elixir of Love) karya Ayatullah Muhammad Muhammadi Reyshahri, yang merujuk kepada Sarmāye-ye Sokhan, jilid I, hlm. 611–613. Sumber kisah

—

Artikel dan gambar sumber:  https://www.facebook.com/share/p/1C45nBzMA2/  

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us