Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad
Bulan Muharram Bulan Duka
Bulan Muharram merupakan momentum duka yang mendalam bagi keluarga suci Nabi (Ahlulbait) dan para pengikutnya.
Berdasarkan riwayat dari Imam Ali bin Musa ar-Ridha, setiap kali bulan Muharram tiba, ayah beliau (Imam Musa al-Kadhim) tidak pernah terlihat tertawa, dan rasa sedih yang mendalam senantiasa menyelimutinya hingga mencapai puncaknya pada hari kesepuluh (Hari Asyura), yaitu hari gugurnya Imam Husain.
Para Imam Suci senantiasa berupaya menjaga ingatan akan peristiwa Karbala ini tetap hidup. Sebab, keberlangsungan, kejayaan, dan keabadian nilai-nilai Islam sangat bergantung pada sejauh mana umat memahami dan meneladani pengorbanan agung yang dilakukan oleh Imam Husain di Padang Karbala.
Karbala sebagai Madrasah Kehidupan
Tragedi Karbala bukan sekadar peristiwa sejarah masa lalu, melainkan sebuah madrasah (sekolah) yang mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan luhur, seperti:
- Kejujuran dan Keimanan:
Komitmen total untuk setia pada kebenaran. - Kesetiaan terhadap Janji:
Memenuhi perjanjian dengan Allah SWT untuk senantiasa mengawal iman dan membela agama-Nya.
Hanya dengan merealisasikan nilai-nilai luhur yang telah diperagakan secara utuh oleh para syuhada Karbala ini, kaum muslimin dapat bangkit dari keterpurukan menuju kejayaannya kembali.
Ayat Kesetiaan: QS. Al-Ahzab Ayat 23
Selama peristiwa Karbala dan hari-hari sebelumnya, Imam Husain senantiasa membacakan Surat Al-Ahzab ayat 23.
Ayat ini dibacakan setiap kali beliau menerima kabar gugurnya pendukung beliau (seperti Muslim bin Aqil) maupun ketika menyaksikan para sahabatnya gugur satu per satu di medan laga:
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah…”
Melalui ayat ini, Imam Husain ingin menegaskan kepada dunia bahwa para sahabatnya adalah orang-orang mukmin sejati yang jujur dalam keimanan mereka.
Mereka telah membuktikan kesetiaan kepada Allah dengan mengorbankan jiwa tanpa pernah mengubah janji setia mereka sedikit pun.
Ujian Kesetiaan di Malam Asyura
Pada malam kesepuluh Muharram, Imam Husain mengumpulkan seluruh sahabatnya.
Beliau secara terbuka membebaskan mereka dari baiat dan mempersilakan mereka untuk pergi menyelamatkan diri di bawah kegelapan malam tanpa rasa bersalah atau celaan sedikit pun.
Hal ini karena musuh hanya mengincar nyawa Imam Husain seorang.
Namun, tawaran tersebut justru melahirkan ikrar kesetiaan yang luar biasa dari para sahabatnya:
- Zaid bin Abdillah Al-Hanafi
menegaskan: “Demi Allah, andai aku tahu bahwa aku akan terbunuh, kemudian dihidupkan kembali, lalu dibakar hidup-hidup hingga abuku ditiupkan ke angkasa, dan hal itu dilakukan sampai 70 kali, aku tetap tidak akan pernah meninggalkanmu, wahai Husain!”. - Zuhair bin Qain
menyatakan kesiapannya untuk dibunuh bahkan digergaji hingga 1000 kali demi melindungi Imam Husain dan para pemuda Ahlulbait.
Kisah Agung Muslim bin Ausajah: Teladan Kesetiaan Tanpa Batas
Salah satu potret kesetiaan paling mengharukan ditunjukkan oleh Muslim bin Ausajah, seorang sahabat Nabi yang telah berusia sangat senja (diperkirakan sekitar 90 tahun).
Meski secara hukum Islam usianya telah membebaskannya dari kewajiban jihad, ia tetap memilih berdiri teguh membela Imam Husain. Ia berikrar akan terus menyerang musuh dengan tombak dan pedangnya, bahkan dengan batu sekalipun, hingga ajal menjemputnya.
Ketika Muslim terluka parah dan berada dalam detik-detik terakhirnya, Imam Husain bersama Habib bin Mazhahir datang menghampirinya. Di saat kritis tersebut, Habib memberikan kabar gembira tentang surga dan menawarkan diri untuk menerima wasiat terakhirnya. Dengan suara yang parau, Muslim bin Ausajah menunjuk ke arah Imam Husain dan berpesan:
“Aku wasiatkan kepadamu untuk siap mati membela dirinya (Imam Husain) dan jangan pernah meninggalkannya.”
Wasiat agung ini dijalankan dengan penuh komitmen oleh Habib bin Mazhahir. Atas pengorbanannya yang luar biasa, Imam Mahdi dalam ziarahnya secara khusus memberikan salam penghormatan kepada Muslim bin Ausajah sebagai orang pertama yang mengorbankan jiwanya demi membela Imam Husain di Karbala.
Refleksi Kesetiaan di Masa Kini
Para pembela Imam Husain di Karbala adalah sosok-sosok yang dikenal zahid (sederhana), abid (ahli ibadah), dan selalu berbuat baik kepada sesama.
Pelajaran penting yang harus diambil oleh umat Islam saat ini adalah bagaimana mengaplikasikan nilai kesetiaan tersebut dalam kehidupan modern.
Wujud kesetiaan kepada ajaran Ahlulbait di masa kini dapat diimplementasikan melalui:
- Menjaga dan mengawal keimanan secara konsisten.
- Mengkaji dan mendalami ajaran-ajaran suci Ahlulbait untuk memantapkan keyakinan.
- Menghidupkan majelis-majelis Asyura sebagai sarana pembimbingan jiwa dan pengingat akan nilai-nilai perjuangan Imam Husain.
- Memperbaiki diri dengan menanamkan sifat-sifat mulia serta mengikis sifat-sifat buruk dalam jiwa kita.
Dengan demikian, bulan Muharram benar-benar menjadi madrasah spiritual yang memberikan keberkahan dan transformasi nyata bagi kehidupan umat.

Judul video: Muharram Bulan Kesetiaan Keimanan – Watch on Youtube
Yuk Subscribe PANDU AHLULBAYT:


