11 October 2026

Ketika Ali Mengguncang Kufah demi Kehormatan Seorang Perempuan Non-Muslim

Fajar belum sempurna menyentuh kota al-Anbar ketika debu hitam terlihat menggulung dari kejauhan.

Mula-mula hanya seperti kabut. Kemudian terdengar gemuruh.

Ribuan kaki kuda menghantam bumi. Tombak-tombak muncul di antara kepulan debu. Panji-panji pasukan Syam bergerak mendekati kota yang berada dalam wilayah pemerintahan Imam Ali.

Di depan mereka berkuda Sufyan bin Auf al-Ghamidi. Ia datang atas perintah Muawiyah.

Bukan untuk berunding. Bukan untuk membawa surat.

Ia datang bersama ribuan pasukan untuk menebarkan ketakutan di wilayah yang penduduknya telah memberikan baiat kepada Ali.

Pasukan penjaga al-Anbar terlalu sedikit.

Hasan bin Hasan al-Bakri, pemimpin pertahanan kota, melihat lautan manusia bergerak ke arahnya. Ia tahu pasukannya tidak seimbang. Namun ia tidak mundur.

Pedang terhunus. Gerbang diguncang. Teriakan memenuhi udara.

Pasukan kecil itu melawan sekuat tenaga, tetapi jumlah mereka ditelan gelombang penyerbu. Hasan bin Hasan al-Bakri gugur bersama sejumlah pasukannya.

Pertahanan runtuh. Al-Anbar terbuka.

Dan ketika tidak ada lagi laki-laki yang mampu menghadang mereka, para penyerbu memasuki rumah-rumah penduduk.

Pintu-pintu didobrak. Anak-anak menangis.

Perempuan-perempuan bersembunyi di sudut rumah, tidak mengetahui apa yang akan dilakukan pasukan yang baru saja membunuh para penjaga kota mereka.

Di salah satu rumah, seorang prajurit menemukan seorang perempuan.

Ia bukan Muslimah. Ia adalah perempuan non-Muslim yang hidup dalam perjanjian dan perlindungan pemerintahan Islam.

Ia tidak memegang pedang. Tidak berada di medan perang. Tidak mengancam siapa pun.

Prajurit itu mendekatinya. Perempuan tersebut mundur hingga punggungnya menyentuh dinding.

Tangannya gemetar. Prajurit itu merampas gelang dari lengannya. Perhiasan pada kakinya dilepaskan. Kalung ditarik dari lehernya. Anting dicabut dari telinganya.

Ia tidak mampu melawan. Tidak ada pasukan yang datang menyelamatkannya.

Tidak ada penguasa yang berada di sana untuk melindunginya.

Yang dapat keluar dari bibirnya hanya permohonan belas kasihan dan kalimat:

“Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.”

Para penyerbu meninggalkan al-Anbar dengan barang-barang rampasan.

Mereka pulang dalam keadaan utuh. Tidak satu pun dari mereka terluka.

Tidak setetes pun darah mereka tertumpah.

Kota itu tertinggal dalam kesunyian yang mengerikan.

Mayat-mayat terbaring. Pintu-pintu rumah terbuka.

Dan seorang perempuan non-Muslim duduk memandangi tangan serta kakinya yang telah kehilangan perhiasan—tetapi luka terbesar bukanlah hilangnya benda-benda itu.

Yang hilang adalah rasa aman. Beberapa hari kemudian, seorang utusan tiba di Kufah.

Kudanya kelelahan. Pakaiannya dipenuhi debu. Wajahnya membawa berita yang bahkan sebelum diucapkan telah membuat orang-orang merasa tidak tenang.

Ia menghadap Imam Ali. Berita itu disampaikan.

Tentang serbuan al-Anbar. Tentang gugurnya Hasan bin Hasan al-Bakri.

Tentang rumah-rumah yang dimasuki.

Tentang perempuan-perempuan yang dirampas gelang, kalung, dan antingnya.

Tentang seorang Muslimah.

Dan tentang seorang perempuan non-Muslim yang seharusnya aman karena hidup dalam perlindungan pemerintahan Ali.

Imam Ali mendengarkan. Tidak ada suara di ruangan itu.

Namun setiap kalimat seperti pedang yang ditusukkan ke dadanya.

Ali pernah terluka di medan perang. Tubuhnya pernah dihantam pedang, tombak, dan panah.

Tetapi berita tentang seorang perempuan tak berdaya yang dirampas kehormatannya di wilayah kekuasaannya telah melukai sesuatu yang jauh lebih dalam.

Ali berdiri. Ia menuju masjid. Orang-orang dipanggil berkumpul.

Masjid Kufah dipenuhi wajah-wajah yang menunggu. Mereka mengenal Ali sebagai lelaki yang tidak pernah mundur dari peperangan. Mereka pernah mendengar bagaimana ia menerjang musuh ketika orang lain memilih diam.

Namun hari itu, yang berdiri di atas mimbar bukan hanya seorang panglima.

Ia adalah seorang pemimpin yang merasa dirinya telah gagal melindungi seorang rakyat.

Ali memandang mereka. Suaranya mula-mula berat, seperti menahan sesuatu yang hampir meledak:

“Aku telah menyeru kalian untuk menghadapi mereka siang dan malam. Secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Aku telah memperingatkan kalian: seranglah mereka sebelum mereka menyerang kalian.”

Orang-orang menunduk. Ali melanjutkan:

“Demi Allah, tidak ada suatu kaum yang diserang di dalam rumahnya sendiri kecuali mereka akan mengalami kehinaan.”

Masjid membisu. Kemudian Ali menceritakan apa yang terjadi kepada perempuan-perempuan al-Anbar.

Bukan hanya perempuan Muslimah.

Ali dengan sengaja menyebut perempuan non-Muslim yang berada dalam perlindungan pemerintahan Islam.

Ia tidak berkata: “Dia bukan bagian dari kita.”

Ia tidak bertanya: “Apa agamanya?”

Ia tidak mengecilkan penderitaannya karena perempuan itu tidak bersujud seperti kaum Muslimin.

Bagi Ali, ketika seseorang hidup di bawah perlindungan pemerintahannya, kehormatan orang itu menjadi amanah di pundaknya.

Lalu keluarlah kalimat yang mengguncang dinding-dinding Kufah:

“Seandainya seorang Muslim mati karena kesedihan setelah mendengar peristiwa ini, ia tidak pantas dicela. Bahkan menurutku, kematian seperti itu layak baginya.”

Orang-orang mengangkat kepala. Mereka melihat amarah pada diri Ali.

Bukan amarah karena singgasananya diremehkan. Bukan karena kekayaannya dirampas.

Bukan karena keluarganya dihina.

Ali terguncang karena gelang seorang perempuan non-Muslim telah direnggut oleh pasukan musuh—dan pemerintahannya terlambat melindunginya.

Ali menghantam mereka dengan pertanyaan:

“Betapa mengherankan! Demi Allah, hati menjadi mati dan kesedihan memenuhi dada ketika melihat mereka bersatu di atas kebatilan, sementara kalian tercerai-berai dari kebenaran!”

Suaranya semakin keras.

“Kalian diserang, tetapi kalian tidak menyerang. Kalian diperangi, tetapi kalian tidak melawan. Allah didurhakai, sementara kalian membiarkannya!”

Orang-orang yang selama ini mempunyai banyak alasan mulai gelisah.

Ketika diperintahkan bergerak pada musim panas, mereka mengeluh kepanasan.

Ketika dipanggil pada musim dingin, mereka mengeluh kedinginan.

Ali membongkar semua alasan itu di hadapan mereka:

“Jika dari panas dan dingin saja kalian melarikan diri, demi Allah, dari pedang kalian akan lebih cepat melarikan diri!”

Tidak ada yang berani menjawab. Ali turun dari mimbar.

Tidak ada pasukan yang langsung berdiri. Tidak ada gelombang manusia yang menyambut seruannya.

Masjid tetap dipenuhi kebisuan. Maka sesuatu yang menggetarkan terjadi.

Ali tidak pulang. Khalifah yang telah berusia lebih dari enam puluh tahun itu berjalan keluar menuju an-Nukhailah—sendirian.

Jika penduduk Kufah tidak mau berangkat, Ali akan berangkat.

Jika pasukannya takut terhadap panas, dingin, dan pedang, lelaki tua yang tubuhnya dipenuhi bekas luka itu akan menghadapi musuh sendiri.

Langkah Ali memukul rasa malu mereka lebih keras daripada seribu pidato.

Orang-orang mulai bangkit. Mereka berlari menyusulnya.

Mereka memohon agar Ali kembali dan membiarkan pasukan mengejar para penyerbu.

Namun hari itu, sejarah telah mencatat sesuatu yang tidak akan pernah dapat dihapus:

Ali tidak mengenal istilah “hanya seorang perempuan.”

Ali tidak mengenal kalimat “apalagi dia bukan Muslim.”

Bagi Ali, kekuasaan bukan hak untuk memerintah.

Kekuasaan adalah janji bahwa seorang perempuan—apa pun agama dan kedudukannya—dapat tidur tanpa takut pintunya didobrak, tubuhnya disentuh, dan kehormatannya dirampas.

Sebab sebuah pemerintahan tidak pertama-tama diukur dari luas wilayahnya.

Ia diukur dari seberapa aman orang paling lemah hidup di dalamnya.

Dan Ali telah menetapkan ukurannya:

Jika seorang perempuan non-Muslim dizalimi di bawah perlindungan Islam, lalu kaum Muslimin tidak terguncang karenanya—yang telah mati bukan perempuan itu.

Yang telah mati adalah hati umat.

Hari itu tidak ada pintu Khaibar yang dijebol. Namun suara Ali menjebol pintu yang jauh lebih tebal:

pintu hati manusia yang telah terbiasa mendengar penderitaan orang lain tanpa merasakan apa-apa.

Jika seorang

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Sumber kisah:

Nahj al-Balāghah, Khotbah 27⁠. Teks khotbah ini juga dicatat memiliki jalur dalam karya-karya sebelum dan selain kompilasi Nahj al-Balāghah, antara lain al-Jāḥiẓ, Ibn Qutaibah, al-Dīnawarī, al-Balādzurī, al-Mas‘ūdī, dan al-Mufīd.

—

Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/195b1EHTeu/

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us