21 October 2026

Ketika Ibnu al-Kawwa menyerang Ali dengan Al-Qur’an di dalam salat

Fajar belum sepenuhnya pecah di atas Kufah.

Lampu-lampu minyak masih menyala redup di dalam masjid. Bayangan tiang-tiang memanjang di atas lantai. Orang-orang berdiri dalam barisan, menunggu seorang lelaki memasuki mihrab.

Lelaki itu adalah Ali bin Abi Thalib.

Amirul Mukminin berdiri menghadap kiblat.

Di belakangnya ada sahabat-sahabat setia. Ada penduduk Kufah. Ada pula orang-orang yang menyimpan kebencian kepadanya, tetapi masih datang ke masjid yang dipimpinnya.

Salah seorang dari mereka adalah Abdullah bin al-Kawwa—tokoh keras yang kemudian dikenal dekat dengan barisan Khawarij.

Ia berada di belakang Ali. Masjid menjadi sunyi.

“Allahu Akbar.”

Ali mengangkat kedua tangannya. Salat dimulai.

Suara beliau membaca Al-Qur’an mengalir di tengah keheningan. Tidak keras, tetapi setiap hurufnya terasa hidup.
Inilah lelaki yang tumbuh di rumah tempat wahyu turun. Lelaki yang mendengar ayat-ayat Al-Qur’an langsung dari lisan Rasulullah ﷺ.

Namun pagi itu, seseorang datang bukan untuk mengambil cahaya dari Al-Qur’an.

Ia datang untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai senjata.

Ketika Ali sedang membaca, tiba-tiba suara Ibnu al-Kawwa terdengar dari belakang:

“Sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu: Jika engkau mempersekutukan Allah, niscaya seluruh amalmu akan gugur dan engkau pasti termasuk orang-orang yang merugi.” (QS az-Zumar: 65)

Bacaan Ali berhenti. Masjid membeku.

Semua orang mengetahui ayat itu ditujukan kepada siapa.

Ibnu al-Kawwa tidak sedang melanjutkan bacaan imam. Ia sengaja meninggikan suaranya untuk menyindir Ali.

Ia hendak mengatakan:

Engkau dahulu beriman, wahai Ali. Engkau dahulu bersama Rasulullah. Tetapi kini, karena menerima tahkim dan mengambil jalan yang tidak kami setujui, seluruh amalmu telah gugur.

Satu ayat ditembakkan seperti anak panah ke punggung imam yang sedang salat.

Ali tidak berbalik. Tidak memutus salat.

Tidak mengangkat tangan untuk memerintahkan pengawalnya menangkap lelaki itu.

Beliau hanya… diam.

Ali membiarkan Ibnu al-Kawwa menyelesaikan ayatnya.

Sebab meskipun ayat itu sedang digunakan untuk menyerangnya, ia tetap firman Allah.

Ali menghormati Al-Qur’an—bahkan ketika seseorang menyalahgunakannya untuk menghina dirinya.

Setelah Ibnu al-Kawwa berhenti, Ali melanjutkan bacaannya.

Suara beliau kembali memenuhi masjid. Tenang. Seakan tidak terjadi apa-apa.

Namun Ibnu al-Kawwa belum selesai.

Untuk kedua kalinya ia mengangkat suara:

“Jika engkau mempersekutukan Allah, niscaya gugurlah amalmu dan engkau termasuk orang-orang yang merugi!”

Ali kembali menghentikan bacaannya. Untuk kedua kalinya, beliau diam dan mendengarkan hingga ayat itu selesai.

Orang-orang mulai gelisah.

Mungkin beberapa tangan telah mengepal. Mungkin para pengikut Ali hanya menunggu sedikit gerakan untuk menyeret Ibnu al-Kawwa keluar dari masjid.

Tetapi Imam tidak memberi isyarat apa pun. Ia tidak kehilangan kekhusyukan. Tidak terpancing.

Tidak membalas ayat dengan makian. Tidak membalas penghinaan dengan kekuasaan.

Setelah Ibnu al-Kawwa selesai, Ali kembali melanjutkan bacaannya.

Suara beliau tetap tenang.

Tetapi lelaki itu mengulanginya lagi.

Untuk ketiga kalinya, ayat yang sama dilemparkan:

“Jika engkau mempersekutukan Allah, seluruh amalmu pasti gugur!”

Tiga kali. Di dalam salat. Di belakang imam. Di hadapan khalifah.

Jika peristiwa itu terjadi di istana penguasa lain, mungkin kepala Ibnu al-Kawwa telah terlepas sebelum ia menyelesaikan kalimat pertamanya.

Namun ia berdiri di belakang Ali. Penguasa yang tidak menghukum seseorang hanya karena lidahnya.

Imam yang dapat membelah perisai di medan perang, tetapi mampu menahan dirinya ketika kehormatan pribadinya diserang.

Ali kembali diam. Ia menunggu hingga Ibnu al-Kawwa menyelesaikan bacaannya.

Kemudian…

Amirul Mukminin menjawab. Bukan dengan kata-katanya sendiri.

Bukan dengan ancaman. Bukan dengan perintah penangkapan.

Ali menjawab Al-Qur’an yang disalahgunakan dengan Al-Qur’an yang ditempatkan pada tempatnya.

Suara beliau terdengar dari mihrab:

“Maka bersabarlah. Sesungguhnya janji Allah adalah benar. Janganlah orang-orang yang tidak memiliki keyakinan membuatmu gelisah.” (QS ar-Rūm: 60)

Ibnu al-Kawwa terdiam.

Satu ayat. Hanya satu ayat.

Tidak menyebut namanya. Tidak mencacinya.

Tidak menuduhnya kafir. Tetapi seluruh kesombongan lelaki itu seakan runtuh di dalam masjid.

Ia datang untuk mengguncang Ali.

Al-Qur’an justru mengatakan:

Jangan biarkan orang yang tidak memiliki keyakinan mengguncangmu.

Ia menggunakan ayat untuk menuduh Ali kehilangan iman.

Ali menjawab bahwa yang sedang kehilangan kepastian justru orang yang mempermainkan ayat demi kebencian.

Setelah membacanya, Ali menyelesaikan bacaannya.

Lalu beliau rukuk. “Allahu Akbar.”

Masjid kembali bergerak mengikuti imamnya.

Tidak ada pengawal yang menyeret Ibnu al-Kawwa.

Tidak ada pedang yang dihunus. Tidak ada hukuman yang dijatuhkan.

Ali melanjutkan salatnya seakan lelaki itu tidak pernah memiliki kekuatan untuk mengganggu hubungannya dengan Allah.

Pagi itu Kufah menyaksikan dua cara memperlakukan Al-Qur’an.

Yang pertama membaca ayat untuk melukai manusia.

Yang kedua membaca ayat untuk menundukkan dirinya kepada Tuhan.

Yang pertama menggunakan firman Allah sebagai amunisi politik.

Yang kedua menjadikan firman Allah sebagai penjaga kesabaran.

Ibnu al-Kawwa mengira kedahsyatan adalah mampu mempermalukan seorang khalifah di depan jamaah.

Padahal kedahsyatan sesungguhnya adalah kemampuan Ali:

mendengar dirinya dituduh sesat ketika sedang menghadap Allah—

namun hatinya tidak bergeser, bacaannya tidak kacau, dan tangannya tidak menyentuh pedang.

Ali tidak dikalahkan oleh ayat yang ditembakkan kepadanya.

Sebab tidak seorang pun lebih memahami Al-Qur’an daripada pintu ilmu Rasulullah.

Dan tidak setiap orang yang membaca Al-Qur’an sedang mengikuti Al-Qur’an.

Khawarij juga membaca ayat. Mereka menghafalnya.

Mereka mengulanginya pada malam hari.

Namun ayat-ayat itu hanya melewati tenggorokan, tidak pernah turun menerangi hati.

Di dalam masjid Kufah, Ibnu al-Kawwa membawa sebuah ayat untuk menghakimi Ali.

Ali hanya membutuhkan satu ayat untuk membuka siapa sebenarnya yang sedang berdiri di hadapannya:

“Bersabarlah. Janji Allah itu benar. Dan jangan sampai orang-orang yang tidak yakin mengguncangkanmu.”

Tiga kali Ibnu al-Kawwa menembakkan ayat.

Ali tidak membalasnya dengan pedang.

Ia membalasnya dengan kesabaran—dan Al-Qur’an sendiri memenangkan pertarungan itu.

3 kali

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

Catatan:

Inti peristiwa ini tercatat dalam Tafsir Ali bin Ibrahim al-Qummi pada penjelasan QS ar-Rūm: 60 dan dikutip dalam karya-karya Ahlul Bait, termasuk pembahasan tentang adab Imam Ali terhadap bacaan Al-Qur’an⁠. Penggambaran suasananya disajikan secara sinematik.

 —

Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1bSamh4h6w/

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us