Bagian 5 dari 5
Pada akhirnya, pembicaraan tentang tawasul akan membawa kita ke sebuah pintu.
Di depan pintu itu berdiri manusia dengan seluruh kelemahannya: membawa dosa yang tidak sedikit, amal yang belum sempurna, hati yang mudah berubah, serta doa-doa yang tidak selalu pantas dibanggakan.
Di balik pintu itu terbentang rahmat Allah yang tidak terbatas.
Lalu manusia bertanya:
Dengan apa aku mengetuk pintu sebesar itu?
Kita telah membahas bahwa cinta membutuhkan jalan, doa yang tertunda bukan berarti ditolak, Allah memilih waktu, tempat, benda, dan sosok tertentu sebagai tanda rahmat-Nya, serta tawasul menjaga manusia agar tidak tenggelam dalam keputusasaan.
Sekarang kita sampai pada puncaknya:
Mengapa kita mengetuk pintu Allah melalui Rasulullah SAWW dan Ahlul Baitnya?
Jawabannya bukan karena Allah jauh.
Bukan pula karena Allah tidak mendengar.
Apalagi karena Rasulullah dan Ahlul Bait memiliki kekuasaan yang berdiri sendiri di samping Allah.
Justru sebaliknya: kita bertawasul karena Allah sendiri mengajarkan bahwa perjalanan menuju-Nya memiliki adab, jalan, dan pintu-pintu yang Dia pilih.
«Tawasul dimulai dari tauhid, berjalan melalui cinta, dan berakhir hanya kepada Allah.»
Allah Dekat, Tetapi Dia Tetap Memerintahkan Wasilah
Salah satu kekeliruan dalam perdebatan mengenai tawasul adalah membuat pilihan palsu:
“Berdoa langsung kepada Allah atau bertawasul?”
Seolah-olah apabila seseorang menggunakan wasilah, ia telah meninggalkan Allah. Padahal Al-Qur’an tidak mempertentangkan keduanya. Al-Qur’an justru memerintahkan:
«“Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah untuk mendekat kepada-Nya.”
— “QS Al-Ma’idah 5:35” .
Perhatikan susunannya.
Pertama, bertakwa kepada Allah.
Kedua, mencari wasilah menuju Allah.
Ketiga, berjuang di jalan Allah.
Tujuan dari awal sampai akhir tetap Allah. Wasilah tidak mengambil tempat Allah; wasilah mengantarkan manusia kepada-Nya.
Allah memberi rezeki, tetapi manusia tetap bekerja. Allah menyembuhkan, tetapi manusia tetap berobat. Allah menurunkan ilmu, tetapi manusia belajar melalui guru. Allah memberi petunjuk, tetapi petunjuk itu disampaikan melalui para nabi.
Apakah bekerja berarti menyekutukan Allah sebagai Pemberi Rezeki?
Apakah berobat berarti menyekutukan Allah sebagai Penyembuh?
Tentu tidak.
Sebab yang dipersoalkan bukan keberadaan perantara, melainkan keyakinan terhadap perantara itu. Apabila seseorang meyakini bahwa suatu makhluk bekerja secara mandiri, terlepas dari kehendak Allah, maka keyakinan itu telah melanggar tauhid. Namun apabila ia meyakini bahwa segala pengaruh terjadi dengan izin Allah—bi idznillah—maka perantara itu berada di bawah kekuasaan Allah, bukan menjadi tandingan-Nya.
Karena itu, persoalan tawasul tidak boleh dinilai hanya dari kata “melalui”. Ia harus dinilai dari keyakinan yang berada di belakangnya.
Kami tidak berkata bahwa Muhammad dan keluarga Muhammad adalah tuhan-tuhan kecil.
Kami berkata bahwa mereka adalah hamba-hamba Allah yang paling dicintai-Nya, yang telah dipilih-Nya sebagai pembimbing, teladan, dan jalan untuk mendekat kepada-Nya.
Jangan Memotong Gerak Sebuah Ayat
Allah berfirman:
«وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا»
“Sekiranya setelah menzalimi diri sendiri mereka datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun bagi mereka, niscaya mereka mendapati Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.”
— “QS An-Nisa 4:64”.
Ayat ini memiliki gerakan spiritual yang sangat indah.
Pertama:
جَاءُوكَ — mereka datang kepadamu.
Orang yang berdosa tidak hanya disuruh mengakui kesalahannya dari kejauhan. Mereka diperintahkan datang kepada Rasulullah SAWW.
Kedua:
فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ — mereka memohon ampun kepada Allah.
Yang dimintai ampun tetap Allah. Rasulullah tidak menggantikan Allah sebagai Pengampun.
Ketiga:
وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ — Rasul memohonkan ampun bagi mereka.
Doa Rasulullah menjadi wasilah bagi tobat mereka.
Keempat:
لَوَجَدُوا اللَّهَ — mereka akan menemukan Allah.
Mereka datang kepada Rasul, tetapi yang mereka temukan adalah Allah: Allah yang menerima tobat dan melimpahkan rahmat.
Inilah bangunan tawasul yang Qur’ani.
Datang kepada Rasul tidak menjauhkan manusia dari Allah. Jika dilakukan dengan keyakinan yang benar, datang kepada Rasul justru mengantarkannya untuk menemukan keluasan ampunan Allah.
Andaikan meminta Rasulullah memohonkan ampun merupakan kemusyrikan, mustahil Al-Qur’an menyebutnya sebagai jalan menuju tobat dan rahmat. Allah tidak mungkin menyuruh manusia melakukan sesuatu yang merusak tauhid, kemudian menjanjikan ampunan melalui perbuatan tersebut.
Ayat itu seakan-akan berkata:
«“Jangan datang kepada Allah dengan kesombonganmu. Datanglah dengan penyesalanmu, bawalah cintamu kepada Rasul, mintalah doa Rasul, lalu temukanlah Aku sebagai Tuhan Yang Maha Menerima Tobat.”»
Putra-Putra Ya’qub Tidak Ditegur karena Meminta Tawasul
Kisah yang sama hadir dalam keluarga Nabi Ya’qub as.
Setelah menyadari dosa mereka terhadap Nabi Yusuf as, putra-putra Ya’qub berkata:
«قَالُوا يَا أَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ»
“Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi dosa-dosa kami. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah.”
Nabi Ya’qub menjawab:
«قَالَ سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ»
“Aku akan memohonkan ampun bagi kalian kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
— “QS Yusuf 12:97–98”.
Putra-putra Ya’qub berkata, “Mohonkanlah ampun bagi kami.”
Mereka tidak berkata, “Wahai ayah, ampunilah dosa kami dengan kekuasaanmu sendiri.” Mereka meminta seorang nabi memohon kepada Allah bagi mereka.
Nabi Ya’qub pun tidak menjawab:
“Jangan meminta kepadaku! Mintalah langsung kepada Allah! Perbuatan kalian adalah syirik!”
Tidak.
Beliau menerima permintaan itu dan berkata:
“Aku akan memohonkan ampun bagi kalian kepada Tuhanku.”
Inilah tata bahasa tawasul.
Yang meminta mengetahui bahwa Ya’qub bukan Tuhan. Ya’qub pun mengetahui bahwa dirinya bukan pemberi ampun. Namun Allah menerima doa seorang nabi sebagai jalan turunnya rahmat kepada orang-orang yang bertobat.
Jadi, meminta seorang hamba saleh mendoakan kita tidak memutus hubungan langsung dengan Allah. Justru hal itu dapat menjadi bagian dari hubungan dengan Allah—selama tujuan, keyakinan, dan sandaran akhirnya tetap kepada-Nya.
Syafaat Bukan Kudeta terhadap Kekuasaan Allah
Sebagian orang membayangkan syafaat seolah-olah Allah sedang murka dan tidak ingin mengampuni, kemudian seorang nabi datang untuk memaksa Allah mengubah keputusan-Nya.
Gambaran seperti itu keliru.
Syafaat bukan usaha melunakkan Tuhan yang keras. Syafaat adalah bentuk rahmat yang sejak awal diciptakan, diizinkan, dan dikehendaki oleh Allah sendiri.
Ayat Kursi menegaskan:
«مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ»
“Siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya kecuali dengan izin-Nya?”
— “QS Al-Baqarah 2:255”
Ayat ini tidak mengatakan bahwa syafaat sama sekali tidak ada. Ayat ini menolak syafaat yang independen, lalu menetapkan adanya syafaat dengan izin Allah.
Kata “kecuali dengan izin-Nya” adalah benteng tauhid.
Rasulullah tidak memberi syafaat melawan Allah, melainkan dengan izin Allah. Ahlul Bait tidak mengubah keputusan Allah secara mandiri, melainkan menjadi jalan bagi rahmat yang memang dikehendaki Allah.
Karena itu, ketika kita berkata:
«“Ya Rasulullah, mohonkanlah ampun bagi kami,”»
maknanya bukan:
«“Berikanlah ampunan tanpa Allah.”»
Maknanya adalah:
«“Wahai Rasul yang dicintai Allah, doakan dan beri syafaat kepada kami dengan izin-Nya.”»
Demikian pula ketika seseorang berdoa:
«“Ya Allah, demi Muhammad dan keluarga Muhammad, kabulkanlah doaku,”»
yang diminta tetap Allah. Nama-nama suci itu dibawa sebagai wasilah, karena merekalah manusia-manusia yang paling dicintai-Nya.
Tawasul bukan memindahkan ketuhanan kepada makhluk. Tawasul adalah membawa kefakiran kita kepada Allah melalui hamba-hamba yang dimuliakan-Nya.
Apakah Memanggil dengan Kata “Ya” Berarti Menyembah?
Tidak setiap panggilan adalah ibadah.
Seseorang berkata, “Wahai dokter, tolonglah saya.” Ia tidak sedang menyembah dokter.
Orang yang tenggelam berteriak, “Tolong aku!” kepada orang yang berada di perahu. Ia tidak sedang mengangkat orang itu menjadi Tuhan.
Ibadah tidak ditentukan semata-mata oleh penggunaan kata “wahai” atau “tolong”. Ibadah berkaitan dengan keyakinan terhadap ketuhanan, kekuasaan mutlak, dan kemandirian yang hanya dimiliki Allah.
Namun seorang mukmin harus menjaga kejernihan akidahnya. Ia harus menanamkan di dalam hati:
– Allah adalah sumber seluruh kekuatan.
– Tidak ada yang dapat memberi manfaat atau menolak bahaya secara independen dari-Nya.
– Para nabi, wali, dan Ahlul Bait bekerja hanya dalam lingkup izin dan kehendak Allah.
– Permohonan melalui mereka harus membawa manusia semakin taat kepada Allah.
Dengan demikian, lafaz boleh beragam, tetapi tauhidnya tidak boleh kabur.
Mengapa Muhammad dan Keluarga Muhammad?
Ahlul Bait bukan dipilih semata-mata karena hubungan darah. Hubungan darah tanpa kesucian, ilmu, dan ketaatan tidak otomatis menjadikan seseorang sebagai hujah Allah.
Al-Qur’an berbicara mengenai penyucian Ahlul Bait:
«“Sesungguhnya Allah hanya berkehendak menghilangkan dosa dari kalian, wahai Ahlul Bait, dan menyucikan kalian sesuci-sucinya.”
— “QS Al-Ahzab 33:33”.
Dalam riwayat Al-Kafi mengenai Hadis Tsaqalain, Rasulullah SAWW menghubungkan Al-Qur’an dengan Ahlul Bait dan menyatakan bahwa keduanya tidak akan berpisah hingga kembali kepadanya di telaga. Riwayat tersebut juga mengidentifikasi Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain sebagai keluarga sucinya. (“Lihat Al-Kafi, jilid 1, bab 64”.)
Al-Qur’an juga menempatkan mawaddah fi al-qurba—kecintaan mendalam kepada keluarga dekat Rasul—dalam pesan kenabian.
“QS Asy-Syura 42:23”.
Mencintai Ahlul Bait, dengan demikian, bukan aksesori emosional di pinggir agama. Cinta itu harus menjadi jembatan menuju kesetiaan kepada Al-Qur’an, akhlak Rasulullah, keadilan Imam Ali, kesucian Sayidah Fatimah, keluhuran Imam Hasan, serta keberanian dan pengorbanan Imam Husain.
Ahlul Bait bukan pesaing Al-Qur’an. Mereka adalah penjelas, penjaga, dan pengamal Al-Qur’an.
Mereka bukan alternatif bagi Rasulullah. Mereka adalah keluarga yang membawa ilmu, akhlak, dan cahaya risalahnya kepada generasi-generasi sesudahnya.
Karena itu, mengikuti Ahlul Bait berarti berjalan menuju Rasulullah; dan mengikuti Rasulullah berarti berjalan menuju Allah.
Tawasul dalam Doa-Doa Ahlul Bait
Apabila kita ingin mengetahui kedudukan tawasul dalam ajaran Ahlul Bait, jangan hanya membaca polemik orang-orang yang datang berabad-abad kemudian. Dengarkan bagaimana para Imam sendiri berdoa.
Dalam Munajat al-Mutawassilin, Imam Ali Zainal Abidin as bermunajat:
«إِلَهِي لَيْسَ لِي وَسِيلَةٌ إِلَيْكَ إِلَّا عَوَاطِفُ رَأْفَتِكَ، وَشَفَاعَةُ نَبِيِّكَ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ»
Imam memohon kepada Allah melalui kelembutan rahmat-Nya dan syafaat Nabi-Nya, Nabi pembawa rahmat. (“Lihat Munajat al-Mutawassilin”.)
Susunannya sangat cerdas.
Imam Sajjad terlebih dahulu menyebut kasih sayang Allah, kemudian syafaat Nabi. Artinya, syafaat Nabi tidak berdiri di luar rahmat Allah. Syafaat Nabi berada di dalam, berasal dari, dan menjadi manifestasi rahmat Allah.
Dalam Doa Arafah, Imam Sajjad berbicara mengenai Ahlul Bait:
«وَجَعَلْتَهُمُ الْوَسِيلَةَ إِلَيْكَ وَالْمَسْلَكَ إِلَى جَنَّتِكَ»
“Engkau menjadikan mereka sebagai wasilah menuju-Mu dan jalan menuju surga-Mu.”
— “Ash-Shahifah As-Sajjadiyyah, Doa 47”.
Lebih tegas lagi, dalam riwayat Al-Kafi, terdapat doa yang diajarkan sebelum salat:
«اللَّهُمَّ إِنِّي أَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِمُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ»
“Ya Allah, sesungguhnya aku menghadap kepada-Mu melalui Muhammad dan keluarga Muhammad.”
Doa itu dilanjutkan dengan:
«وَأَتَقَرَّبُ بِهِمْ إِلَيْكَ»
“Dan aku mendekatkan diri kepada-Mu melalui mereka.”
— “Al-Kafi, jilid 2, Kitab Doa, bab 51”.
Perhatikan kembali arah doanya:
“Kepada-Mu.”
Bukan berhenti pada Muhammad dan keluarga Muhammad, melainkan menghadap kepada Allah melalui mereka.
Inilah tawasul menurut bahasa doa Ahlul Bait: tauhid yang dihiasi cinta, dan cinta yang diarahkan menuju tauhid.
Bagaimana dengan Tawasul Setelah Wafatnya Rasulullah?
Ada yang berpendapat bahwa QS An-Nisa ayat 64 hanya berlaku ketika Rasulullah masih hidup secara jasmani.
Marilah kita menanggapinya dengan adil.
Pertama, andaikan seseorang mengambil penafsiran paling terbatas sekalipun, ayat itu tetap membuktikan bahwa meminta doa dan istigfar Rasulullah bukan perbuatan yang pada dirinya sendiri merupakan kemusyrikan.
Perdebatan mengenai apakah suatu bentuk tawasul berlaku setelah wafat adalah pembahasan lain. Perbedaan tentang jangkauan waktu tidak boleh dengan ceroboh diubah menjadi tuduhan bahwa prinsip tawasul adalah penyembahan kepada selain Allah.
Kedua, Al-Qur’an sendiri melarang kita menyamakan kematian di jalan Allah dengan ketiadaan. Para syuhada disebut hidup, walaupun kehidupan itu tidak kita tangkap dengan indra biasa. “QS Al-Baqarah 2:154”.
Ini tidak berarti mereka menjalani kehidupan duniawi seperti kita. Yang dimaksud adalah kehidupan barzakh yang berada dalam aturan Allah. Cara salam disampaikan, doa didengar, atau hubungan ruhani terjadi bukanlah kekuasaan mandiri mereka. Semuanya berada dalam ilmu dan izin Allah.
Ketiga, praktik doa para Imam memberikan jawaban yang sangat jelas bagi pengikut Ahlul Bait. Imam Sajjad dan Imam Ja’far Al-Shadiq hidup setelah wafatnya Rasulullah SAWW, tetapi tetap mengajarkan tawasul melalui Rasulullah dan keluarganya. Maka, di dalam tradisi Ahlul Bait, hubungan ruhani dengan Rasulullah tidak dianggap berakhir karena berakhirnya kehidupan jasmaninya di dunia.
Kematian memindahkan alam kehidupan; ia tidak menghapus kemuliaan yang telah diberikan Allah.
Tawasul Bukan Surat Izin untuk Bermaksiat
Di sinilah kita harus bersikap keras terhadap diri sendiri.
Ada orang yang sangat lantang menyeru nama Ahlul Bait, tetapi tidak menjaga salatnya. Menangisi Imam Husain, tetapi menzalimi manusia. Mengharapkan syafaat Sayidah Fatimah, tetapi menyakiti keluarganya sendiri. Mengaku mencintai Imam Ali, tetapi berdusta dalam perdagangan dan berkhianat dalam amanah.
Tawasul semacam ini tinggal suara tanpa jiwa.
Imam Muhammad Al-Baqir as memperingatkan bahwa cinta kepada Imam Ali tidak akan bermanfaat apabila seseorang tidak mengikuti jalan hidup dan ketaatannya. Beliau menegaskan bahwa tidak ada hubungan kekerabatan yang dapat memaksa Allah; kedekatan kepada-Nya diperoleh melalui ketaatan. (“Lihat Al-Kafi, jilid 2, bab “Ketaatan dan Ketakwaan””)
Imam Ja’far Al-Shadiq as juga memberikan peringatan yang mengguncangkan:
«إِنَّ شَفَاعَتَنَا لَا تَنَالُ مُسْتَخِفًّا بِالصَّلَاةِ»
“Sesungguhnya syafaat kami tidak akan mencapai orang yang meremehkan salat.”
— “Man La Yahdhuruhu Al-Faqih, hadis 618”.
Inilah keseimbangan ajaran Ahlul Bait.
Mereka membuka pintu harapan, tetapi tidak menjual pengampunan palsu.
Mereka mengajarkan syafaat, tetapi tidak membenarkan kemalasan.
Mereka menerima cinta, tetapi menuntut bukti cinta berupa ketaatan.
Karena itu:
«Tawasul yang benar tidak membuat manusia merasa aman untuk bermaksiat. Tawasul membuatnya malu bermaksiat di hadapan orang-orang suci yang dicintainya.»
Jika tawasul kita benar, salat kita seharusnya semakin terjaga. Akhlak semakin lembut. Kejujuran semakin kuat. Kepedulian kepada kaum tertindas semakin besar. Ego semakin mengecil dan kecintaan kepada Allah semakin dalam.
Ahlul Bait bukan tempat bersembunyi dari tanggung jawab. Mereka adalah sekolah yang mendidik kita agar pantas menerima rahmat.
Shalawat: Sandi yang Mengembalikan Hati kepada Allah
Allah berfirman:
«“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang beriman, bershalawatlah kepadanya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.”
— “QS Al-Ahzab 33:56”.
Dalam riwayat Al-Kafi, Imam Ja’far Al-Shadiq as berkata:
«لَا يَزَالُ الدُّعَاءُ مَحْجُوبًا حَتَّى يُصَلَّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ»
“Doa tetap terhalang sampai dibacakan shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.”
— “Al-Kafi, jilid 2, bab Shalawat” .
Shalawat bukan mantra untuk memaksa langit.
Ia bukan kode rahasia untuk “mengakali” kehendak Allah.
Shalawat adalah sandi adab: ia mengingatkan bahwa kita menerima iman melalui Rasulullah, mengenal Al-Qur’an melalui lisannya, dan memperoleh penjelasan risalah melalui keluarga sucinya.
Ketika seseorang membaca:
«اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ»
ia sedang berkata:
“Ya Allah, aku tidak datang dengan kesombongan. Aku datang membawa cinta kepada manusia-manusia yang Engkau cintai. Bersihkanlah cintaku, luruskanlah langkahku, dan masukkan aku ke dalam jalan mereka.”
Shalawat tidak hanya mengangkat doa. Shalawat seharusnya mengangkat kualitas orang yang berdoa.
Puncak Tawasul
Pada akhirnya, tawasul bukan sekadar persoalan boleh atau tidak boleh mengucapkan sebuah nama dalam doa.
Tawasul adalah cara memandang agama.
Apakah kita menganggap jalan menuju Allah hanya dibangun oleh pikiran dan kemampuan kita sendiri?
Ataukah kita bersedia mengakui bahwa Allah telah mengutus pembimbing, menyucikan keluarga Rasul, serta menjadikan cinta dan ketaatan kepada mereka sebagai jalan pendidikan ruhani?
Kita tidak bertawasul karena Allah tidak mengenal kita.
Kitalah yang sering tidak mengenal bagaimana seharusnya menghadap kepada Allah.
Kita tidak membawa nama Muhammad dan keluarga Muhammad untuk memberi tahu Allah tentang kemuliaan mereka. Allah jauh lebih mengetahui kedudukan mereka.
Kita membawa nama-nama itu untuk mengingatkan diri kita sendiri bahwa kita sedang berdiri di hadapan Allah dengan membawa cinta, kerendahan hati, dan pengakuan atas jalan yang telah dipilih-Nya.
Maka katakanlah:
«Ya Allah, kami tidak memiliki amal yang pantas kami banggakan.
Kami datang membawa luka, dosa, dan harapan.
Kami memohon kepada-Mu, bukan kepada selain-Mu.
Namun kami menghadap kepada-Mu melalui Muhammad dan keluarga Muhammad.
Jangan pisahkan kami dari Al-Qur’an.
Jangan pisahkan kami dari Rasul-Mu.
Jangan pisahkan kami dari Ali, Fatimah, Hasan, Husain, dan para Imam suci dari keturunan mereka.
Jadikan cinta kepada mereka sebagai cahaya yang memperbaiki akhlak kami,
bukan sekadar slogan di bibir kami.
Jadikan tangisan kami sebagai tobat,
shalawat kami sebagai kesetiaan,
dan tawasul kami sebagai jalan menuju ketaatan.
Ampunilah kami dengan rahmat-Mu.
Terimalah kami dengan kemurahan-Mu.
Dan karuniakanlah kepada kami syafaat Nabi-Mu dengan izin-Mu.»
Inilah hakikatnya:
Kami tidak meminta mereka sebagai pengganti Allah.
Kami datang kepada Allah bersama cinta kepada mereka.
Kami tidak berhenti pada pintu. Kami mengetuknya melalui nama-nama yang dicintai Pemilik pintu.
Dan ketika pintu itu terbuka, yang kami temukan bukan tuhan yang lain.
Yang kami temukan hanyalah Allah:
Tuhan Yang Maha Esa, Maha Pengampun, Maha Penyayang—tujuan seluruh cinta dan ujung seluruh perjalanan.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ

Selesai — Bagian 5
—
Bersama Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/19KhJKiRmH/

