SYARAH DOA KUMAIL
Bagian 3 dari 100
Bagian pertama membawa kita kepada rahmat Allah. Bagian kedua menyadarkan bahwa seluruh kekuatan makhluk hanyalah pinjaman. Kini Doa Kumail membawa kita kepada ‘izzah: kemuliaan yang tidak lahir dari pujian manusia dan tidak dapat dirampas oleh kekuasaan mana pun.
Teks Doa Kumail
وَبِجَبَرُوتِكَ الَّتِي غَلَبْتَ بِهَا كُلَّ شَيْءٍ
وَبِعِزَّتِكَ الَّتِي لَا يَقُومُ لَهَا شَيْءٌ
Wa bijabarūtika allatī ghalabta bihā kulla syay’, wa bi‘izzatika allatī lā yaqūmu lahā syay’.
“Dan dengan kemahaperkasaan-Mu yang dengannya Engkau mengalahkan segala sesuatu; dan dengan kemuliaan-Mu yang di hadapannya tidak ada sesuatu pun dapat berdiri.”
Tema utama
Kemuliaan sejati tidak terletak pada kemampuan menundukkan manusia, melainkan pada keterhubungan dengan Allah Yang Mahamulia.
Manusia dapat memiliki jabatan, pasukan, kekayaan, pengikut, dan kekuasaan. Namun semuanya masih dapat direbut. Jika sesuatu dapat diberikan oleh manusia dan dicabut oleh manusia, itu bukan ‘izzah yang sejati.
‘Izzah Allah tidak bergantung kepada pengakuan siapa pun. Tidak ada kekuatan yang dapat menguranginya dan tidak ada perlawanan yang dapat menggoyahkannya. Seseorang menjadi mulia bukan karena berhasil berdiri di atas manusia lain, melainkan karena tidak bersedia merendahkan dirinya di hadapan selain Allah.
Jangkar Al-Qur’an
1. QS Fathir 35:10
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا
“Barang siapa menghendaki kemuliaan, maka seluruh kemuliaan itu milik Allah.”
Ayat ini tidak melarang manusia mencari kemuliaan. Ia meluruskan tempat mencarinya. Kemuliaan tidak diperoleh dengan mendekati penguasa zalim, menukar prinsip dengan kedudukan, atau mengemis pengakuan dari manusia. Seluruh sumber ‘izzah berada pada Allah. QS Fathir 35:10
2. QS Al-Munafiqun 63:8
وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَٰكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ
“Kemuliaan itu milik Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman, tetapi orang-orang munafik tidak mengetahuinya.”
Kemuliaan pada hakikatnya hanya milik Allah. Kemudian Allah menganugerahkannya kepada Rasul dan kaum beriman. Karena itu, kemuliaan seorang mukmin bukan kesombongan pribadi, melainkan cahaya ketaatan yang diterimanya dari Allah dan Rasul-Nya. QS Al-Munafiqun 63:8
3. QS An-Nisa 4:139
أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا
“Apakah mereka mencari kemuliaan di sisi mereka? Sesungguhnya seluruh kemuliaan hanyalah milik Allah.”
Ayat ini menyingkap salah satu kelemahan manusia: mencari kehormatan pada pihak yang dianggap lebih kuat, meskipun untuk itu ia harus mengorbankan kebenaran. Al-Qur’an menyebutnya sebagai pencarian yang salah alamat. QS An-Nisa 4:139
Jangkar riwayat Ahlul Bait
Dalam khotbah yang dinisbatkan kepada Amirul Mukminin Ali as disebutkan:
وَكُلُّ عَزِيزٍ غَيْرَهُ ذَلِيلٌ، وَكُلُّ قَوِيٍّ غَيْرَهُ ضَعِيفٌ، وَكُلُّ مَالِكٍ غَيْرَهُ مَمْلُوكٌ
“Setiap yang dianggap mulia selain Dia pada hakikatnya rendah; setiap yang kuat selain Dia adalah lemah; dan setiap pemilik selain Dia sesungguhnya dimiliki.”
Kalimat ini terdapat dalam Nahj al-Balaghah, Khotbah 65 menurut penomoran yang digunakan pada edisi tersebut. Nahj al-Balaghah, Khotbah 65
Catatan transmisi: Nahj al-Balaghah dihimpun oleh Sayid asy-Syarif ar-Radhi dan tidak mencantumkan sanad lengkap bagi setiap khotbah. Karena itu, secara akademis teks ini sebaiknya disebut “dinisbatkan kepada Imam Ali as.” Nomor khotbah juga dapat berbeda di antara edisi. Kandungannya jelas selaras dengan ayat-ayat Al-Qur’an bahwa seluruh ‘izzah dan kekuatan hakiki milik Allah.
Kerangka pembahasan
1. Perbedaan antara kemuliaan hakiki dan kehormatan sosial yang dapat berubah.
2. Jabarut Allah: tidak ada kekuasaan makhluk yang berdiri mandiri di hadapan-Nya.
3. Seluruh ‘izzah berasal dari Allah, lalu dianugerahkan kepada Rasul dan orang-orang beriman.
4. Mencari kehormatan melalui kedekatan dengan kezaliman justru merupakan kehinaan ruhani.
5. Karbala memperlihatkan perbedaan antara kekuasaan lahiriah dan kemuliaan sejati.
6. Doa membebaskan manusia dari ketergantungan kepada pujian, jabatan, dan penerimaan makhluk.
Manusia paling mudah tertipu ketika sedang dihormati.
Orang-orang berdiri ketika ia datang. Namanya disebut dengan gelar yang panjang. Ucapannya disambut tepuk tangan. Pintu-pintu dibukakan untuknya. Perlahan-lahan ia mulai mengira bahwa penghormatan manusia adalah bukti kemuliaan dirinya.
Padahal semua itu dapat berakhir dalam satu malam.
Jabatan dapat dicabut. Kekayaan dapat berpindah tangan. Pengikut dapat meninggalkan. Orang yang kemarin memuji dapat menjadi orang pertama yang mencaci. Jika kemuliaan kita diletakkan pada tangan manusia, manusia pula yang dapat merampasnya.
Doa Kumail kemudian membawa hati menghadap kepada satu-satunya kemuliaan yang tidak mungkin direbut:
“Dengan kemuliaan-Mu yang di hadapannya tidak ada sesuatu pun dapat berdiri.”
Di hadapan ‘izzah Allah, semua kemuliaan buatan runtuh. Mahkota hanyalah benda yang diletakkan di atas kepala. Singgasana hanyalah kursi yang dibuat oleh tukang. Pasukan terdiri atas manusia-manusia yang dapat takut dan melarikan diri. Bahkan seorang penguasa yang mampu menjatuhkan hukuman mati kepada ribuan orang tidak mampu menunda kematiannya sendiri satu detik pun.
Ia tampak memiliki, padahal dirinya dimiliki.
Ia tampak berkuasa, padahal napasnya bergantung kepada izin Allah.
Ia tampak tidak terkalahkan, padahal tubuhnya sedang berjalan menuju kelemahan.
Karena itu, kemuliaan dalam jalan Ahlul Bait tidak selalu tampak sebagai kemenangan politik. Karbala merupakan penjelasan yang paling terang. Pada hari Asyura, Yazid memiliki kerajaan, pasukan, dan seluruh perlengkapan kekuasaan. Imam Husain as tampak terkepung, kehausan, dan akhirnya terbunuh.
Jika kemuliaan diukur dari siapa yang menguasai medan, Yazidlah pemenangnya.
Namun sejarah tidak bersujud kepada istana Yazid. Jutaan hati justru berjalan menuju Husain.
Di situlah kita memahami bahwa manusia dapat dibunuh tanpa berhasil direndahkan. Tubuhnya dapat dijatuhkan, tetapi kemuliaannya tidak dapat disentuh. Sebaliknya, seseorang dapat duduk di atas singgasana sambil kehilangan seluruh kehormatan di hadapan Allah dan sejarah.
‘Izzah bukanlah kemampuan membuat orang lain berlutut. ‘Izzah adalah keteguhan untuk tidak berlutut di hadapan kebatilan.
Maka ketika membaca Doa Kumail, kita sedang memohon agar tidak lagi mencari nilai diri dari tepuk tangan manusia. Kita meminta dibebaskan dari kebutuhan untuk selalu dipuji, diakui, dan dimenangkan. Sebab orang yang menggantungkan kemuliaannya kepada Allah tidak akan menjadi budak penilaian manusia.
Ia dapat kehilangan kedudukan tanpa kehilangan dirinya. Ia dapat ditinggalkan banyak orang tanpa merasa sendirian. Ia dapat tampak kalah di mata dunia, tetapi tetap berdiri mulia di hadapan Allah.
Sebab kemuliaan sejati bukan ketika seluruh manusia berdiri menghormati kita.
Kemuliaan sejati adalah ketika kita tetap berdiri bersama kebenaran—meskipun seluruh manusia meninggalkan kita.

Bersama Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/18EtQvSTK3/

