24 September 2026

SYARAH DOA KUMAIL

Bagian 5 dari 100
Bagian sebelumnya menjelaskan bahwa Allah dekat tanpa menempati ruang. Kini Doa Kumail membawa kesadaran kita kepada kefanaan: semua yang memenuhi hidup akan pergi, sedangkan hanya Allah dan segala yang diarahkan kepada-Nya yang tidak berakhir sia-sia.

Teks Doa Kumail

> وَبِوَجْهِكَ الْبَاقِي بَعْدَ فَنَاءِ كُلِّ شَيْءٍ
Wa biwajhikal-bāqī ba‘da fanā’i kulli syay’.
“Dan dengan Wajah-Mu yang tetap kekal setelah fananya segala sesuatu.”
Dalam konteks tauhid, wajh Allah tidak boleh dipahami sebagai wajah jasmani. Kata wajh dapat menunjuk Zat Allah Yang Mahakekal, keridaan-Nya, agama-Nya, atau arah Ilahi yang melaluinya manusia mendekat kepada-Nya.

Tema utama

Semua yang ditujukan kepada diri akan berakhir bersama diri, sedangkan yang diarahkan kepada Allah memperoleh makna yang melampaui usia pelakunya.
Doa Kumail tidak sekadar mengingatkan bahwa manusia akan mati. Ia mengajukan pertanyaan yang lebih dalam: ketika nama, kedudukan, tubuh, pujian, dan kepemilikan kita telah lenyap, adakah sesuatu dari hidup ini yang masih bernilai di hadapan Allah?

Jangkar Al-Qur’an

1. QS Al-Qashash 28:88
> كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ ۚ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
“Segala sesuatu akan binasa kecuali Wajah-Nya. Milik-Nya segala keputusan dan kepada-Nya kamu dikembalikan.”
Ayat ini tidak sedang membagi Allah menjadi bagian yang binasa dan bagian yang tersisa. Allah Mahasuci dari tubuh dan susunan. Wajah-Nya menunjukkan Zat-Nya Yang Mahakekal serta segala yang benar-benar diarahkan kepada-Nya. QS Al-Qashash 28:88
2. QS Ar-Rahman 55:26–27
> كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ
وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ
“Semua yang berada di atas bumi akan fana. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu, Pemilik keagungan dan kemuliaan.”
Kefanaan bukan kemungkinan, melainkan hukum keberadaan makhluk. Tidak ada tubuh, kekuasaan, ataupun peradaban yang dapat membatalkannya. QS Ar-Rahman 55:26–27
3. QS An-Nahl 16:96
> مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ
“Apa yang ada padamu akan habis, sedangkan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.”
Ayat ini memberikan jalan keluar dari kefanaan. Kita tidak dapat membuat dunia menjadi kekal, tetapi dapat menitipkan umur, cinta, ilmu, dan perbuatan kita di sisi Allah. QS An-Nahl 16:96

Jangkar riwayat Ahlul Bait

Al-Kulaini meriwayatkan dari Shafwan al-Jammal bahwa Imam Ja‘far ash-Shadiq as, ketika menjelaskan ayat “Segala sesuatu akan binasa kecuali Wajah-Nya,” bersabda:
> مَنْ أَتَى اللَّهَ بِمَا أُمِرَ بِهِ مِنْ طَاعَةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ فَهُوَ الْوَجْهُ الَّذِي لَا يَهْلِكُ
“Barang siapa datang kepada Allah dengan melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya berupa ketaatan kepada Muhammad saw, dialah ‘wajah’ yang tidak binasa.”
Kemudian Imam menghubungkannya dengan firman Allah:
> مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ
“Barang siapa menaati Rasul, sungguh ia telah menaati Allah.” QS An-Nisa 4:80
Riwayat ini menunjukkan bahwa manusia dapat memperoleh bagian dari “yang tidak binasa” ketika hidupnya diarahkan kepada Allah melalui ketaatan kepada Rasul-Nya. Al-Kafi, riwayat tentang QS 28:88
Catatan transmisi:
Riwayat tersebut dicantumkan dalam Mu‘jam al-Ahadits al-Mu‘tabarah karya Syekh Muhammad Asif Muhsini, sebuah himpunan riwayat yang dipilih berdasarkan penilaian sanad.
Redaksi lain yang menyebut para Nabi dan Imam sebagai Wajh Allah juga terdapat dalam berbagai sumber tafsir Imamiyah, tetapi jalur dan redaksinya beragam. Karena itu, ungkapan tersebut harus dipahami secara metaforis: mereka adalah hujjah dan arah yang ditetapkan Allah untuk mengenal serta menaati-Nya—bukan bagian dari Zat Allah.
Kerangka pembahasan
1. Wajh Allah bukan wajah jasmani, melainkan Zat, keridaan, dan arah menuju Allah.
2. Kefanaan adalah hukum bagi seluruh makhluk tanpa pengecualian.
3. Yang fana bukan hanya tubuh, tetapi juga pujian, jabatan, kepemilikan, dan citra diri.
4. Ketaatan kepada Rasul menjadikan hidup terarah kepada Allah.
5. Ahlul Bait menjaga arah kenabian agar agama tidak dibelokkan oleh kekuasaan dan hawa nafsu.
6. Keabadian amal bukan karena amal itu besar, melainkan karena diletakkan “di sisi Allah.”
Pembuka yang dapat dikembangkan
Ada kekejaman yang sunyi dalam perjalanan waktu: ia mengambil segala sesuatu satu per satu.
Wajah yang dahulu muda perlahan berubah. Tubuh yang kuat mulai melemah. Rumah berganti penghuni. Jabatan berpindah tangan.
Suara yang pernah memenuhi ruangan akhirnya hanya tersimpan dalam ingatan—kemudian ingatan itu pun ikut menghilang bersama orang yang menyimpannya.
Tidak ada yang benar-benar dapat kita tahan.
Lalu Doa Kumail menghadapkan kita kepada satu-satunya kenyataan yang tidak ikut pergi:
> “Dengan Wajah-Mu yang tetap kekal setelah fananya segala sesuatu.”
Doa ini tidak meminta agar kita dibebaskan dari kefanaan. Ia mengajarkan sesuatu yang lebih agung: bagaimana menjalani kehidupan yang fana tanpa menghabiskannya untuk sesuatu yang ikut fana.
Persoalan terbesar manusia bukan bahwa ia akan mati. Semua orang mengetahuinya. Persoalannya adalah manusia hidup seolah-olah segala sesuatu yang dikumpulkannya akan tinggal selamanya.
Ia mengorbankan kejujuran demi jabatan yang akan berakhir. Ia merusak persaudaraan demi harta yang akan berpindah tangan.
Ia mengejar pujian dari manusia yang suatu hari juga akan mati. Ia menghabiskan kehidupan untuk membangun nama, tetapi lupa menanyakan apakah nama itu memiliki arti di hadapan Allah.
Al-Qur’an tidak mengatakan bahwa segala sesuatu tidak berharga karena akan fana. Ia justru mengajarkan bagaimana sesuatu yang fana memperoleh nilai yang melampaui kefanaannya:
> “Apa yang ada padamu akan habis, sedangkan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal.”
Harta akan habis, tetapi harta yang diberikan karena Allah tidak hilang. Ilmu dapat terlupakan, tetapi ilmu yang menunjukkan manusia kepada kebenaran tidak berakhir bersama penulisnya.
Tubuh akan dikuburkan, tetapi tangan yang pernah menolong, lidah yang membela kebenaran, dan hati yang mencintai karena Allah telah dititipkan di sisi-Nya.
Yang menjadikan suatu perbuatan kekal bukan bentuk lahiriahnya, melainkan ke mana ia diarahkan.
Di sinilah makna wajh menjadi sangat indah. Wajah adalah arah seseorang menghadap. Maka Wajh Allah mengajarkan bahwa kehidupan harus mempunyai arah.
Banyak manusia bergerak sangat cepat, tetapi tidak mengetahui ke mana dirinya sedang menuju. Ia memiliki kesibukan, tetapi tidak mempunyai kiblat ruhani.
Imam Ja‘far ash-Shadiq as menjelaskan bahwa orang yang datang membawa ketaatan kepada Muhammad saw adalah “wajah yang tidak binasa.” Ketaatan kepada Rasul adalah arah menuju Allah. Dan setelah Rasulullah saw, Ahlul Bait menjaga agar arah itu tidak diganti oleh ambisi, kekuasaan, dan selera manusia.
Mencintai Ahlul Bait bukan sekadar menyimpan nama-nama mulia di dalam hati. Cinta itu menjaga arah: berusaha melihat keadilan sebagaimana mereka melihatnya, membela kebenaran sebagaimana mereka membelanya, dan menolak kehinaan sebagaimana Imam Husain as menolaknya.
Sebab seseorang dapat menyebut Allah, tetapi berjalan menjauhi-Nya. Ia dapat membawa agama, tetapi menjadikannya kendaraan menuju dirinya sendiri. Ia dapat mengucapkan nama Rasulullah saw, tetapi menolak petunjuk yang beliau tinggalkan.
Doa Kumail mengembalikan seluruh perjalanan itu kepada satu pertanyaan:
Untuk siapa kehidupan ini kita jalani?
Jika semuanya dilakukan untuk diri, semuanya akan berakhir bersama diri. Jika dilakukan demi tepuk tangan, nilainya berakhir ketika tepuk tangan berhenti. Namun jika diarahkan kepada Allah, perbuatan yang sangat kecil sekalipun dapat tinggal ketika pelakunya telah lama meninggalkan dunia.
Pada akhirnya, kita tidak membutuhkan kehidupan yang tidak pernah selesai.
Kita membutuhkan kehidupan yang—ketika selesai—telah dititipkan kepada Dia Yang Tidak Pernah Berakhir.
Doa kumail

Bersama Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

 

Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/19NiCLHLPP/

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us