Cinta: Jalan yang Mengajarkan Pengorbanan
Imam Ali bin Abi Thalib berkata:
“Barang siapa mencintai sesuatu, ia rela berkorban untuknya.”
Cinta Sejati Bukan di Bibir, Tapi dalam Tindakan
Cinta tanpa pengorbanan hanyalah kata yang kosong. Cinta yang sejati selalu diuji—dan jawabannya ada pada kesediaan hati untuk memberi, meski yang diberikan adalah sesuatu yang paling dicintai.
Pengorbanan adalah Bahasa Cinta
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidaklah kalian beriman hingga kalian mencintai untuk saudaramu apa yang engkau cintai untuk dirimu sendiri.”
(HR. Bukhari-Muslim)
Imam Ali memperjelas: iman dan cinta sejati akan terlihat ketika seseorang rela berbagi kebahagiaan, waktu, harta, bahkan keselamatan dirinya demi orang lain.
Cinta yang Menghapus Ego
Cinta sejati bukan soal mengambil, tetapi soal memberi. Ia membebaskan manusia dari belenggu ego dan keserakahan. Dalam pengorbanan, seseorang menemukan makna hidup yang lebih tinggi. Karena cinta, seseorang sanggup menundukkan nafsunya; dan dengan itu, ia naik ke derajat insan kamil.
Karbala: Puncak Pengorbanan Cinta
Imam Husain as berkata di Karbala:
“Aku tidak keluar untuk mencari kekuasaan atau kedudukan. Aku keluar demi menghidupkan agama kakekku dan menegakkan kebenaran.”
Itulah pengorbanan yang lahir dari cinta sejati. Bukan cinta yang memanjakan diri, tapi cinta yang menghidupkan agama Allah meski harus membayar dengan darah.
Pengorbanan Membuat Cinta Abadi
Cinta yang hanya sebatas rasa akan sirna ditelan waktu. Tetapi cinta yang dibuktikan dengan pengorbanan, abadi dalam sejarah. Nama Imam Ali, Sayyidah Fatimah, Imam Hasan, dan Imam Husain terus hidup karena cinta mereka dibayar dengan pengorbanan yang tulus.

Bersama Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1EXs6zE7FF/

