15 September 2026
Lelaki itu duduk di antara orang-orang yang mendengarkan Ali.
Seorang Khawarij.
Ia berada cukup dekat untuk mendengar setiap perkataan beliau. Cukup dekat pula untuk menyampaikan penghinaan tanpa harus meninggikan suara terlalu keras.
Hari itu, Imam Ali a.s. sedang duduk bersama para sahabatnya ketika seorang perempuan melintas. Beberapa pasang mata mengikuti langkah perempuan tersebut.
Ali memperhatikan mereka.
Beliau mengingatkan bahwa pandangan semacam itu dapat membangkitkan keinginan. Jika seorang suami tertarik kepada perempuan yang dilihatnya, hendaklah ia kembali kepada istrinya, menyalurkan keinginannya melalui hubungan yang halal.
Nasihat itu sederhana, langsung menyentuh sesuatu yang baru saja terjadi di hadapan mereka.
Lalu lelaki Khawarij tersebut berbicara.
“Semoga Allah membinasakannya! Orang kafir ini, (walau) betapa dalam pemahamannya!”
Sejenak, seluruh perhatian berpindah kepadanya.
Ia telah menyebut Ali kafir.
Di hadapan Ali sendiri.
Di tengah para sahabat yang mencintai beliau.
Orang-orang bangkit.
Tubuh-tubuh yang tadi duduk mendengarkan kini bergerak menuju sumber suara. Ruang di sekitar lelaki itu menyempit. Penghinaan yang baru saja terlepas dari mulutnya mendadak membawa akibat yang mengerikan.
Riwayat menyebut mereka hendak membunuhnya.
Semuanya berlangsung begitu cepat. Sebuah kalimat dilontarkan. Kemarahan menyala. Orang-orang bergerak, dan nyawa seseorang kini berada di ujung tindakan mereka.
Lalu suara Ali terdengar.
Perlahan!”
Perintah itu menahan mereka.
Ali masih berada di sana, berhadapan dengan lelaki yang baru saja menyumpahi dan mengkafirkannya. Beliau mendengar penghinaan itu sebagaimana semua orang mendengarnya.
Kini beliau berbicara kepada para pembelanya.
Ini hanyalah penghinaan yang dibalas dengan penghinaan, atau kesalahan yang dimaafkan.”
Kalimat itu membatasi apa yang boleh mereka lakukan.
Mereka harus berhenti.
Kemarahan atas nama Ali telah berhadapan dengan keputusan Ali sendiri.
Lelaki Khawarij itu masih berada di tengah mereka. Ucapannya belum lama berlalu. Bahkan gema kebenciannya seolah masih tertinggal di tempat itu, tetapi orang yang dihinalah yang kini menahan tangan-tangan yang hendak mencelakainya.
Betapa dekatnya ia dengan kematian.
Dan betapa jelas suara yang melindunginya.
Beberapa saat sebelumnya, ia mengakui kedalaman pemahaman Ali dengan mulut yang sama yang melontarkan kutukan. Kekaguman itu tak sanggup membebaskannya dari kebencian.
Sekarang ia menyaksikan sendiri sejauh mana pemahaman tersebut bekerja.
Ali menempatkan kesalahannya pada ukuran yang tepat. Sebuah penghinaan tetap sebuah penghinaan. Kemarahan orang banyak tidak dapat mengubahnya menjadi izin untuk membunuh.
Bahkan ketika orang banyak itu bangkit demi membela dirinya.
Bahkan ketika yang dihina adalah seorang pemimpin yang berada di tengah para pengikutnya.
Beliau telah memberikan perintah. Orang-orang yang mencintainya harus menahan diri, dan lelaki yang membencinya tetap berada dalam perlindungan batas yang beliau tegakkan.
Tadi, Ali mengajarkan kepada para sahabat agar mengendalikan keinginan ketika mata mereka mengikuti seorang perempuan.
Kini beliau menghadapi ujian yang menyentuh kehormatannya sendiri.
Penghinaan telah dilontarkan. Para pembela telah bangkit. Kesempatan untuk membiarkan kemarahan menyelesaikan semuanya terbuka di hadapannya.
Namun, suara yang keluar dari mulut Ali justru menghentikan mereka.
Perlahan!”
Di majelis itu, seorang lelaki telah memperlihatkan kebenciannya kepada Ali.
Dan Ali memperlihatkan bahwa bahkan kebencian lelaki tersebut tidak akan membuat beliau menyerahkan nyawanya kepada amarah.
Berhenti
Bersama Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
Catatan: Berdasarkan Nahj al-Balāghah, Hikmah 420. Gerak dan suasana merupakan dramatisasi; dialog diterjemahkan secara bebas. Judul merupakan pemadatan sastra, bukan kutipan harfiah

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us