15 September 2026

Namanya Ya‘qub bin Ishaq.

Dunia ilmu mengenalnya sebagai Ibn al-Sikkīt—seorang ahli bahasa, sastra, syair, dan Al-Qur’an yang nyaris tidak memiliki tandingan pada zamannya. Kitabnya, Iṣlāḥ al-Manṭiq, menjadi salah satu karya penting dalam khazanah bahasa Arab.
Beliau adalah murid dan sahabat Imam Muhammad al-Jawād dan Imam Ali al-Hādī as. Al-Najāsyī menyebutnya sebagai seorang yang terpercaya, memiliki kedudukan khusus di sisi kedua Imam.
Ilmunya mengantarkan Ibn al-Sikkīt ke tempat yang paling berbahaya bagi seorang pecinta Ahlul Bait: istana Khalifah Abbasiyah, al-Mutawakkil.
Al-Mutawakkil bukan penguasa yang menyembunyikan kebenciannya kepada keluarga Rasulullah ﷺ. Pada masanya, makam Imam Husain as di Karbala diperintahkan untuk dihancurkan. Tanah di sekitarnya dibajak dan digenangi air agar para peziarah kehilangan jejak menuju pusara cucu Nabi.
Namun cinta selalu menemukan jalannya. Jalan menuju Husain boleh dihancurkan, tetapi kerinduan manusia tidak dapat dibajak oleh kekuasaan.
Di tengah istana seperti itulah Ibn al-Sikkīt hidup.
Ia ditugaskan oleh Imam untuk menjadi guru bagi dua putra al-Mutawakkil, al-Mu‘tazz dan al-Mu’ayyad. Setiap hari ia mengajari mereka bahasa Arab, sastra, syair, dan adab. Ia membimbing lidah kedua putra khalifah agar mampu berbicara dengan benar, sementara ia sendiri harus menjaga lidahnya agar tidak mengantarkannya kepada kematian.
Ia mengenakan jubah taqiah.
Taqiah bukan kemunafikan. Seorang munafik menyembunyikan kekafiran di balik pernyataan iman. Ibn al-Sikkīt justru menyembunyikan imannya dari kekuasaan yang akan membunuhnya apabila keyakinannya diketahui.
Taqiah adalah kecerdasan untuk mengetahui kapan sebuah kebenaran harus diucapkan dan kapan ia harus dijaga di dalam dada. Sebab tidak semua kebenaran wajib diteriakkan di hadapan orang yang tidak mencari kebenaran, melainkan mencari leher untuk dipenggal.
Bertahun-tahun Ibn al-Sikkīt menjalani hidup seperti itu. Ia berada dekat dengan singgasana, tetapi hatinya tertambat kepada keluarga kenabian. Tangannya mengajari anak-anak khalifah menulis, tetapi jiwanya tetap menulis nama Ali, Fathimah, Hasan, dan Husain dalam ruang paling rahasia di dalam dirinya.
Al-Mutawakkil akhirnya mengetahui kecenderungan hati guru anak-anaknya itu. Ia menunggu saat yang tepat untuk membuka rahasia itu.
Suatu hari, kedua putra khalifah datang menghadap. Mereka memperlihatkan kemajuan yang mengagumkan dalam pelajaran. Al-Mutawakkil memandang anak-anaknya dengan bangga. Kemudian ia menoleh kepada Ibn al-Sikkīt.
Pertanyaannya terdengar sederhana, tetapi di dalamnya tersembunyi sebilah pedang.
“Wahai Ya‘qub,” katanya, “siapakah yang lebih engkau cintai: kedua putraku ini, atau Hasan dan Husain?”
Ruangan itu mendadak terasa sempit.
Ibn al-Sikkīt memahami maksud pertanyaan tersebut. Al-Mutawakkil tidak sedang meminta penilaian seorang guru terhadap muridnya. Ia sedang memaksa seorang pengikut Ahlul Bait merendahkan dua cucu Rasulullah ﷺ.
Ia dapat saja mencari kalimat yang aman. Ia seorang ahli bahasa. Tidak sulit baginya menyusun jawaban yang memiliki banyak makna: menyenangkan khalifah tanpa sepenuhnya mengkhianati keyakinannya.
Bukankah selama ini ia telah hidup dengan taqiah?
Bukankah keselamatan jiwa merupakan sesuatu yang dibenarkan agama?
Bukankah ia masih dapat memberikan manfaat kepada banyak orang apabila tetap hidup?
Semua alasan itu benar.
Namun kali ini persoalannya berbeda. Al-Mutawakkil tidak lagi hanya meminta Ibn al-Sikkīt menyembunyikan kecintaannya. Ia menghendaki lidah seorang pecinta Ahlul Bait dipergunakan untuk merendahkan Hasan dan Husain.
Ada saatnya taqiah menjadi perisai. Tetapi ada pula saatnya seorang pecinta merasa bahwa terus mengenakan perisai justru membuatnya kehilangan dirinya sendiri.
Ibn al-Sikkīt memandang khalifah. Mungkin pada saat itu ia telah melihat kematiannya sendiri. Mungkin ia telah mendengar gemeretak pedang sebelum pedang itu dihunuskan.
Perlahan-lahan ia menanggalkan jubah taqiahnya.
Lalu, dengan lidah yang selama bertahun-tahun dijaganya, ia berkata:
«وَاللهِ إِنَّ قَنْبَرًا خَادِمَ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ خَيْرٌ مِنْكَ وَمِنِ ابْنَيْكَ»
“Demi Allah, Qanbar, pelayan Ali bin Abi Thalib, lebih baik daripada engkau dan kedua putramu!”
Bukan hanya Hasan dan Husain yang lebih mulia daripada mereka. Bahkan Qanbar—pelayan setia Imam Ali as—lebih mulia daripada khalifah dan kedua putranya.
Wajah al-Mutawakkil berubah. Kemarahannya meledak. Ia tidak dapat menerima seorang guru yang hidup dari istananya berani meletakkan dirinya di bawah kaki Qanbar.
Khalifah lalu memerintahkan para pengawalnya:
“Cabut lidahnya dari belakang kepalanya!”
Lidah yang mengajari anak-anak istana berbicara itu akhirnya menjadi sebab kematiannya.
Ibn al-Sikkīt pun syahid.
Tubuhnya dapat dihancurkan. Lidahnya dapat dicabut. Tetapi kalimatnya tidak pernah berhasil dibungkam. Lebih dari seribu tahun kemudian, kita masih mengulangnya:
Qanbar, pelayan Ali, lebih baik daripada engkau dan kedua putramu‼️
Di sinilah kita memahami bahwa taqiah bukan kepengecutan. Hanya orang yang mengetahui nilai kebenaran yang memahami kapan ia harus menyembunyikannya dan kapan ia harus mengorbankan hidup untuk menyatakannya.
Ibn al-Sikkīt mengenakan taqiah bukan karena takut mati. Ketika waktunya tiba, ia membuktikan bahwa kematian tidak pernah menjadi ketakutan terbesarnya. Ketakutannya yang terbesar adalah apabila lidahnya masih hidup, tetapi dipergunakan untuk merendahkan orang-orang yang dicintai Rasulullah ﷺ.
Ia dapat menyelamatkan lidahnya dengan satu pujian kepada anak-anak khalifah. Namun ia memilih kehilangan lidah daripada kehilangan kesetiaan dan cinta kepada Ahlul Bait Nabi.
Taqiah adalah jubah perlindungan. Ia boleh dikenakan ketika badai kezaliman datang. Tetapi jubah itu bukan kulit, bukan iman, dan bukan harga diri. Ketika penguasa memaksa seseorang memilih antara keselamatan tubuh dan kesetiaan kepada Ahlul Bait, sebagian manusia tetap mengenakannya—dan agama memberi mereka ruang.
Namun sebagian lainnya menanggalkannya.
Bukan karena taqiah tidak boleh, melainkan karena kerinduan kepada kesyahidan telah mengalahkan keinginan untuk bertahan.
Ibn al-Sikkīt menanggalkan jubah itu di hadapan al-Mutawakkil. Ia berdiri tanpa perlindungan, hanya membawa cinta dan satu kalimat kebenaran.
Lidahnya kemudian dicabut.
Tetapi justru sejak hari itulah suaranya tidak pernah lagi dapat dibungkam.
Ketika jubah taqiah
Bersama Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us