15 September 2026

Anak panah itu mencapai kemah Rasulullah.

Jarak yang semula terasa aman mendadak kehilangan artinya. Dari arah pertahanan Bani Nadhir, seorang pemanah mampu mengirimkan ancaman sampai ke tempat Nabi SAW berada.
Namanya ‘Azwak.
Ia dikenal berani dan mahir memanah. Kemah Rasulullah kemudian dipindahkan ke tempat yang tidak terjangkau anak panahnya.
Namun, pemanah itu masih berada di luar sana.
Pengepungan berlanjut. Ketika malam turun, benteng-benteng menjadi bayangan gelap. Suara dari kejauhan sulit dikenali; setiap gerakan dapat tersembunyi di antara pekatnya malam dan pepohonan.
Pada salah satu malam itulah mereka menyadari sesuatu.
Ali tidak terlihat.
Di antara orang-orang yang berada di perkemahan, sosoknya tak ditemukan.
Kabar itu sampai kepada Rasulullah.
Beliau menjawab:
“Ia sedang mengurus suatu kepentingan kalian.”
Jawaban itu singkat. Di perkemahan, orang-orang belum mengetahui apa yang sedang dikerjakan Ali.
Sementara itu, di luar jangkauan pandangan mereka, Ali telah mengambil tempat untuk mengintai.
Ia memperhatikan keberanian ‘Azwak. Seorang yang berani mengarahkan anak panah sampai ke kemah Rasulullah mungkin akan mencoba sesuatu yang lebih dekat ketika malam memberinya perlindungan.
Ali menunggu.
Di hadapannya terbentang ruang gelap yang memisahkan pertahanan lawan dari pasukan Muslim. Di suatu tempat di belakangnya berada orang-orang yang sedang bertanya ke mana ia pergi.
Lalu gerakan itu muncul.
‘Azwak keluar bersama beberapa orang bersenjata.
Mereka mencari kelengahan pasukan Muslim. Malam menyediakan kesempatan untuk mendekat tanpa segera terlihat, menghantam ketika penjagaan melemah, lalu menghilang kembali.
Pedang ‘Azwak telah terhunus.
Ali tetap menunggu sampai orang yang diincarnya berada dalam jangkauan.
Kemudian beliau menyerang.
Jarak yang dilalui para penyusup dengan hati-hati mendadak berubah menjadi tempat benturan. Ali menerjang pemimpin mereka, mematahkan rencana serangan sebelum kelompok itu mencapai sasarannya.
‘Azwak terbunuh.
Orang-orang yang menyertainya berpencar.
Malam yang hendak mereka gunakan untuk menyembunyikan kedatangan kini menelan langkah pelarian mereka. Pemimpin yang membawa mereka keluar telah jatuh, dan di hadapan mereka muncul Ali.
Pertemuan itu mengubah arah serangan.
Ali kembali ke perkemahan, membawa bukti bahwa ‘Azwak telah tewas. Riwayat menyebut beliau membawa kepala pemanah tersebut.
Kini orang-orang mengetahui ke mana ia pergi.
Ancaman yang sebelumnya mencapai kemah Rasulullah itu telah dihadapi Ali dari dekat.
Beliau menyampaikan apa yang terjadi: ia mengintai ‘Azwak, melihatnya keluar dengan pedang terhunus bersama beberapa orang, lalu menyerangnya. Para penyertanya melarikan diri dan masih berada tidak jauh dari tempat kejadian.
Ali meminta beberapa orang menyertainya untuk menghadapi sisa kelompok penyerang.
Rasulullah mengutus Abu Dujanah dan Sahl bin Hunaif bersama sejumlah prajurit untuk mendukungnya.
Tugas malam itu diteruskan.
Di perkemahan, kalimat Rasulullah kini mempunyai wujud yang jelas.
“Ia sedang mengurus suatu kepentingan kalian.”
Ketika mereka menyadari Ali tak berada di antara mereka, beliau sedang berada di jalur yang akan dilalui ancaman.
Ketika mereka bertanya ke mana ia pergi, beliau sedang menunggu orang yang hendak menerobos pertahanan mereka.
Dan ketika Ali kembali, pemanah itu tak akan lagi mengarahkan busurnya ke kemah Rasulullah.
Malam masih menyelimuti pengepungan.
Tetapi kini mereka tahu:
Ali telah lebih dahulu menemui bahaya yang sedang mencari jalan menuju mereka.
Malam ketika ali
Bersama Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
Catatan sumber:
kisah ini tercantum dalam Imtā‘ al-Asmā‘ karya Al-Maqrizi, bagian pengepungan Bani Nadhir, dengan rincian pengintaian dalam riwayat Al-Maghāzī yang dikutip di sini.
Suasana dan gerak adegan saya bangun dan kembangkan sesuai dengan tafsir riwayat; percakapan diparafrasakan

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us