Cinta: Pengikat Iman dan Persaudaraan
Imam Ali bin Abi Thalib berkata:
โOrang yang paling mencintai Allah adalah yang paling banyak mencintai manusia.โ
Kecintaan kepada Allah tidak mungkin berdiam hanya dalam hati. Ia pasti memancar menjadi kasih sayang, empati, dan kepedulian kepada sesama. Barangsiapa mengaku mencintai Allah, tetapi membenci manusia, sesungguhnya cintanya palsu.
Rasulullah SAW bersabda:
โTidaklah beriman salah seorang dari kalian, hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.โ
(HR. Bukhari & Muslim)
Imam Ali memperdalam makna ini: iman bukan sekadar keyakinan akal, melainkan simpul cinta yang menyatukan hati manusia. Tanpa cinta, iman menjadi kering dan rapuh. Dengan cinta, iman menjadi kokoh, seakan berakar di bumi dan menjulang ke langit.
Imam Ali juga berkata:
โCintailah manusia, karena mereka adalah saudaramu dalam iman, atau sesamamu dalam kemanusiaan.โ
Kebencian memecah belah, cinta menyatukan. Maka Islam datang bukan hanya untuk mengikat Muslim dengan Muslim, tapi juga untuk menumbuhkan kasih kepada semua ciptaan Allah.
Cinta sejati membuat manusia berani. Seseorang yang mencintai saudaranya tidak akan membiarkannya dizalimi. Seorang yang mencintai kebenaran tidak akan diam melihat kebatilan. Dari cinta lahir keberanian yang suci, bukan keberanian yang lahir dari amarah semata.

Bersama Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/14s5dA22hMD/

