Bagian 4 dari 5
Setan mempunyai dua cara memperlakukan dosa. Sebelum manusia melakukannya, dosa dibuat tampak kecil: “Tidak apa-apa. Hanya sekali. Allah Maha Pengampun.” Namun setelah manusia terjatuh, dosa yang sama dibesarkan sedemikian rupa: “Engkau sudah terlalu kotor. Tidak mungkin diampuni. Tidak ada gunanya kembali.”
Sebelum dosa, setan menjual kelalaian atas nama rahmat. Setelah dosa, ia menjual keputusasaan atas nama kesadaran diri.
Keduanya adalah tipu daya.
Allah berfirman:
«“Setan menjanjikan kemiskinan kepada kalian dan menyuruh kalian melakukan kekejian, sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepada kalian.”
(QS Al-Baqarah [2]: 268)»
Setan tidak hanya menakut-nakuti manusia dengan kemiskinan harta. Ia membisikkan seluruh bentuk kelemahan: engkau tidak mampu berubah, tidak layak kembali, terlalu banyak kesalahan, terlalu jauh tertinggal, dan terlalu hina untuk mendekati Allah.
Ketika bisikan itu dipercaya, manusia kehilangan sesuatu yang lebih berharga daripada harta: harapan.
Di sinilah tawasul memperoleh makna spiritual yang sangat dalam. Tawasul bukan sekadar cara meminta agar suatu kebutuhan terpenuhi. Tawasul adalah jalan yang disediakan Allah agar manusia—betapapun berat masa lalunya—tidak pernah merasa pintu rahmat telah tertutup.
Tawasul bukan surat izin untuk melakukan dosa. Ia adalah tali penyelamat bagi orang yang ingin keluar dari dosa.
Allah Masih Memanggil Mereka “Hamba-Ku”
Salah satu ayat paling mengguncangkan tentang harapan adalah firman Allah:
«“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa seluruhnya. Sungguh, Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS Az-Zumar [39]: 53)»
Perhatikan siapa yang dipanggil. Ayat itu tidak berbicara kepada manusia tanpa dosa. Allah berbicara kepada orang-orang yang telah asrafū ‘alā anfusihim—melampaui batas terhadap diri mereka sendiri.
Namun setelah semua pelanggaran itu, Allah masih memanggil mereka:
«يَا عِبَادِي
“Wahai hamba-hamba-Ku.”»
Dosa-dosa mereka besar, tetapi Allah tidak berkata, “Wahai orang asing.” Allah tetap menisbahkan mereka kepada diri-Nya: “Hamba-hamba-Ku.”
Seakan-akan Allah berkata: “Kalian mungkin telah meninggalkan jalan-Ku, tetapi Aku belum menutup jalan pulang. Kalian mungkin menjauh, tetapi jangan mengira rahmat-Ku telah kehilangan kalian.”
Akan tetapi, ayat ini tidak berhenti pada pengampunan. Ayat berikutnya memerintahkan:
«“Kembalilah kepada Tuhan kalian dan berserah dirilah kepada-Nya…” (QS Az-Zumar [39]: 54)»
Jadi, harapan harus melahirkan kepulangan. Rahmat bukan alasan untuk tetap berada dalam dosa. Rahmat adalah alasan untuk keluar darinya.
Orang yang berharap kepada Allah tetapi tidak mau kembali sebenarnya bukan sedang berharap. Ia hanya sedang membenarkan keinginannya sendiri.
Putus Asa yang Menyamar sebagai Kerendahan Hati
Kadang-kadang keputusasaan memakai pakaian kerendahan hati. Seseorang berkata, “Saya tahu diri. Saya terlalu hina untuk diampuni.”
Kalimat itu terdengar seperti tawaduk, padahal di dalamnya dapat tersembunyi prasangka buruk kepada Allah. Seolah-olah dosa manusia lebih besar daripada rahmat-Nya, atau kesalahan manusia telah membuat Allah kehilangan kemampuan untuk mengampuni.
Pengakuan dosa memang penting. Tetapi pengakuan dosa berbeda dari keputusasaan.
Pengakuan berkata: “Ya Allah, aku telah menzalimi diriku, maka ampunilah aku.”
Keputusasaan berkata: “Dosa-dosaku terlalu besar, bahkan Allah tidak akan mengampuniku.”
Yang pertama adalah kerendahan hati. Yang kedua diam-diam membatasi keluasan rahmat Allah.
Karena itu, Nabi Ya‘qub as berkata kepada anak-anaknya:
«“Janganlah kalian berputus asa dari pertolongan Allah. Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari pertolongan Allah kecuali kaum yang kafir.” (QS Yusuf [12]: 87)»
Keputusasaan menjadi berbahaya bukan hanya karena membuat manusia sedih, melainkan karena ia memutuskan hubungan manusia dengan Allah. Orang yang merasa tidak mungkin diampuni akan berhenti memohon, berhenti bertobat, lalu semakin tenggelam karena mengira tidak ada lagi yang dapat diselamatkan.
Dosa melukai manusia, tetapi keputusasaan membuatnya menolak pengobatan.
Modalnya Harapan, Senjatanya Tangisan
Dalam Doa Kumail, Imam Ali as mengajarkan satu kalimat yang sangat indah:
«اِرْحَمْ مَنْ رَأْسُ مَالِهِ الرَّجَاءُ، وَسِلَاحُهُ الْبُكَاءُ»
“Kasihanilah orang yang modalnya hanyalah harapan dan senjatanya hanyalah tangisan.”
Seorang hamba datang kepada Allah tanpa membawa sesuatu yang dapat dibanggakan. Ia tidak membawa ibadah yang sempurna, hati yang sepenuhnya bersih, ataupun amal yang bebas dari cacat.
Modalnya hanya harapan.
Senjatanya hanya tangisan.
Tangisan itu bukan senjata untuk melawan Allah. Ia adalah senjata untuk meruntuhkan ego, kesombongan, dan kekerasan hati sendiri. Air mata tidak memaksa Allah memberikan sesuatu. Air mata mengakui bahwa manusia telah kehabisan alasan untuk membela dirinya.
Dalam Doa Kumail, Imam Ali tidak berdiri di hadapan Allah dengan rasa aman palsu. Beliau berbicara tentang dosa yang menahan doa, perbuatan yang menurunkan bencana, dan akibat maksiat. Tetapi seluruh rasa takut itu tidak pernah berubah menjadi putus asa.
Bahkan ketika menggambarkan hukuman, Imam bertanya:
«“Jika aku dapat bersabar menanggung azab-Mu, bagaimana mungkin aku bersabar berpisah dari-Mu?”»
Inilah khauf dalam makrifat Ahlul Bait. Ketakutan tertingginya bukan hanya kepada api, melainkan kepada perpisahan dari Allah.
Api menyakitkan tubuh, tetapi jauh dari Allah membakar jiwa.
Maka Doa Kumail mempertemukan rasa takut dan harapan dalam satu sujud. Dosa tidak disembunyikan, tetapi rahmat juga tidak diragukan. Hukuman diakui, tetapi pintu ampunan tetap diketuk.
Raja’ Bukan Angan-Angan
Harapan dalam bahasa agama disebut rajā’. Namun rajā’ tidak sama dengan tamannī—angan-angan kosong.
Petani yang berharap panen akan mengolah tanah, menanam benih, menyiram, dan menjaga tanamannya. Orang yang tidak pernah menanam lalu mengaku berharap panen bukan sedang berharap. Ia sedang berkhayal.
Demikian pula dalam agama. Orang yang mengharapkan ampunan akan bertobat. Orang yang mengharapkan kedekatan akan menempuh jalan ketaatan. Orang yang mengharapkan syafaat Rasulullah akan berusaha hidup dalam cinta dan tuntunan Rasulullah.
Imam Ja‘far ash-Shadiq as berkata:
«“Seorang mukmin belum menjadi mukmin sampai ia mempunyai rasa takut dan harapan.”»
Namun beliau juga menegaskan bahwa rasa takut dan harapan menuntut pengetahuan: mengetahui apa yang harus ditakuti dan kepada siapa harapan diarahkan. (“Al-Kāfi, jilid 2, Bab Khauf dan Rajā’, hadis 11”).
Rajā’ yang benar melahirkan gerakan. Jika seseorang mengaku berharap kepada Allah tetapi harapannya tidak mendorong perubahan apa pun, yang dimilikinya belum tentu harapan. Bisa jadi itu hanya rasa aman palsu.
Ahlul Bait tidak mengajarkan manusia putus asa karena dosa. Namun mereka juga tidak mengajarkan seseorang merasa aman sambil terus-menerus menantang Allah.
Imam Ali as berkata:
«“Orang yang benar-benar memahami agama ialah yang tidak membuat manusia berputus asa dari rahmat Allah, tidak memutuskan harapan mereka, dan tidak membuat mereka merasa aman dari pembalasan-Nya.”»
Inilah keseimbangan pendidikan Ahlul Bait. Seorang pembimbing agama yang hanya membuat manusia ketakutan belum menyampaikan agama secara utuh. Namun orang yang hanya menjanjikan keselamatan tanpa pertobatan juga belum menyampaikan kebenaran secara utuh. (“Nahj al-Balaghah, Hikmah 90”).
Agama tidak dibangun hanya dengan ancaman. Agama juga tidak dibangun hanya dengan janji. Ia berdiri di antara khauf dan rajā’: takut yang membuat manusia berhati-hati dan harapan yang membuatnya terus berjalan.
Dua Cahaya dalam Satu Hati
Imam Muhammad al-Baqir as menggambarkan bahwa di dalam hati seorang mukmin terdapat dua cahaya: cahaya takut dan cahaya harapan. Jika keduanya ditimbang, yang satu tidak akan melebihi yang lain.
Mengapa keduanya harus seimbang?
Harapan tanpa rasa takut dapat membuat manusia meremehkan dosa. Ia berkata, “Allah Maha Pengampun,” tetapi tidak pernah serius meninggalkan kesalahan.
Rasa takut tanpa harapan dapat membuat manusia melarikan diri dari Allah. Ia melihat agama hanya sebagai ruang pengadilan dan tidak pernah merasakan bahwa Allah juga merupakan tempat perlindungan.
- Khauf berkata: jangan bermain-main dengan dosa.
- Rajā’ berkata: jangan berhenti setelah terjatuh.
Khauf menjaga langkah sebelum dosa. Rajā’ menyelamatkan jiwa setelah dosa.
Keduanya tidak bertentangan. Keduanya bekerja seperti dua sayap. Burung tidak dapat terbang dengan satu sayap, sebagaimana jiwa tidak dapat menuju Allah hanya dengan ancaman atau hanya dengan penghiburan.
Al-Qur’an pun mendidik manusia dengan dua bahasa. Ia menggambarkan surga dengan sungai-sungai air yang tidak berubah, susu yang tidak rusak rasanya, minuman yang lezat, madu yang murni, buah-buahan, dan ampunan Allah:
«(QS Muhammad [47]: 15)»
Namun Al-Qur’an juga menggambarkan akibat penolakan dan kezaliman:
«“Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak pula mendapat minuman, selain air yang mendidih dan cairan yang sangat dingin atau menjijikkan.”
(QS An-Naba’ [78]: 24–25)»
Gambaran surga menumbuhkan rajā’. Gambaran neraka melahirkan khauf. Yang satu mengundang, yang lain memperingatkan.
Namun Ahlul Bait membawa manusia lebih dalam: berharap bukan sekadar menginginkan taman, dan takut bukan semata-mata menghindari api. Harapan tertinggi adalah kedekatan dengan Allah. Ketakutan tertinggi adalah terpisah dari-Nya.
Allah Tidak Mengecewakan Harapan yang Benar
Dalam riwayat Al-Kāfi, Imam Muhammad al-Baqir as menukil dari kitab Imam Ali bahwa Rasulullah SAWW menyerukan agar seorang mukmin mempunyai harapan baik kepada Allah.
Riwayat itu menegaskan bahwa kemuliaan merupakan salah satu sifat Allah dan seluruh kebaikan berada dalam kekuasaan-Nya. Karena itu, seorang mukmin diperintahkan berharap kepada Allah dan menginginkan apa yang berada di sisi-Nya. (“Al-Kāfi, jilid 2, Bab Berharap kepada Allah”.)
Berharap baik kepada Allah bukan berarti memastikan seluruh keinginan kita akan diberikan persis seperti yang diminta. Husnuzan kepada Allah adalah keyakinan bahwa apa pun keputusan-Nya tidak lahir dari kebencian, kelalaian, atau kekurangan kasih sayang.
- Jika Allah memberi, pemberian itu adalah rahmat.
- Jika Allah menunda, penundaan itu mengandung hikmah.
- Jika Allah mengganti, penggantian itu berdasarkan pengetahuan.
- Jika Allah menolak sesuatu, bisa jadi penolakan itulah bentuk perlindungan.
Orang yang berharap kepada Allah tidak memaksa Allah mengikuti rencananya. Ia percaya bahwa rencana Allah tidak akan menzaliminya.
Dalam Munajat para Pengharap, Imam Ali Zainal Abidin as berkata:
«“Wahai Dia yang pintu-Nya terbuka bagi orang-orang yang berdoa dan yang tidak mengecewakan orang yang berharap kepada-Nya.”»
Imam kemudian memohon agar harapan kepada Allah memberikan ketenteraman kepada jiwanya dan keyakinan meringankan berbagai ujian dunia. (“Munajat al-Rājīn, dalam Lima Belas Munajat Imam Sajjad”.)
Harapan tidak selalu mengubah keadaan seketika. Tetapi harapan mengubah cara manusia berdiri di dalam keadaan itu.
Tawasulnya Orang-Orang yang Belum Beriman
Al-Qur’an memberikan kisah yang sangat menarik tentang kaum Fir‘aun. Ketika mereka ditimpa azab, mereka datang kepada Nabi Musa as dan berkata:
«“Wahai Musa, mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu dengan perantaraan kenabian yang diketahui Allah ada padamu. Jika engkau menghilangkan azab itu dari kami, niscaya kami akan beriman kepadamu dan membiarkan Bani Israil pergi bersamamu.”
(QS Al-A‘raf [7]: 134)»
Perhatikan kalimat mereka: “Mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu.”
Mereka belum beriman. Bahkan mereka menyebut “Tuhanmu”, bukan “Tuhan kami”. Namun mereka mengetahui bahwa Musa mempunyai kedudukan di sisi Allah. Mereka meminta Musa berdoa agar azab dihilangkan.
Lalu apa yang terjadi?
«“Setelah Kami hilangkan azab itu dari mereka sampai batas waktu yang harus mereka capai, tiba-tiba mereka mengingkari janji.”
(QS Al-A‘raf [7]: 135)»
Allah menghilangkan azab tersebut. Permohonan yang disampaikan melalui Nabi Musa menghasilkan pertolongan, meskipun orang-orang yang meminta belum beriman.
Kisah ini memperlihatkan beberapa hal.
Pertama, meminta seorang nabi memohon kepada Allah bukanlah kemusyrikan. Al-Qur’an tidak mengecam mereka karena mendatangi Musa. Yang dikecam adalah pengingkaran mereka setelah memperoleh pertolongan.
Kedua, kemuliaan wasilah tidak ditentukan oleh kesucian orang yang meminta. Orang berdosa dan bahkan orang yang belum beriman dapat mengetuk pintu melalui hamba yang mempunyai kedudukan di sisi Allah.
Ketiga, terkabulnya tawasul tidak otomatis menyelamatkan seseorang apabila ia kembali mengingkari janji. Azab mereka dihilangkan, tetapi karena mereka tidak menepati komitmen, pertolongan itu tidak mengubah akhir perjalanan mereka.
Tawasul membuka pintu, tetapi manusia tetap harus masuk.
Tawasul memberikan kesempatan, tetapi manusia tetap harus berubah.
Tawasul mendatangkan pertolongan, tetapi tidak menghapus tanggung jawab.
Inilah jawaban terhadap dua ekstrem. Ekstrem pertama menolak tawasul karena menganggap pendosa tidak layak mendekati hamba-hamba suci. Ekstrem kedua menjadikan tawasul sebagai jaminan keselamatan meskipun seseorang terus melakukan kezaliman.
Al-Qur’an membantah keduanya. Pendosa boleh datang, bahkan harus datang. Namun setelah pintu dibukakan, ia harus menepati jalan pertobatannya.
Tawasul Bukan Pengganti Tobat
Seseorang tidak dapat menzalimi manusia, merampas hak mereka, menghancurkan kehidupan orang lain, lalu menganggap seluruhnya selesai hanya karena ia membaca doa tawasul.
Ahlul Bait tidak datang untuk memberikan perlindungan kepada kezaliman. Mereka datang untuk membebaskan manusia darinya.
Syafaat bukan pembelaan terhadap dosa. Syafaat adalah pertolongan untuk melepaskan manusia dari dosa dan akibatnya.
Tawasul bukan jalan belakang untuk menghindari hukum Allah. Tawasul adalah jalan kembali menuju hukum, kasih sayang, dan keridaan-Nya.
Orang yang benar-benar mencintai Imam Husain as tidak akan merasa nyaman melakukan kezaliman yang dilawan Imam Husain. Orang yang bertawasul kepada Imam Ali as tidak akan dengan tenang merampas hak orang lain, sementara seluruh kehidupan Ali dibangun untuk menegakkan keadilan.
Jika tawasul tidak memperbaiki hubungan kita dengan Allah dan manusia, mungkin yang kita lakukan baru penyebutan nama, belum perjalanan spiritual.
Nama-nama suci itu bukan stempel untuk membenarkan kehidupan kita. Nama-nama itu adalah cermin yang memperlihatkan betapa jauhnya kita dari kesucian yang kita cintai.
Ketika Kita Merasa Tidak Pantas
Ada saatnya seseorang ingin berdoa, tetapi melihat tangannya sendiri dan merasa tangan itu terlalu kotor. Ia ingin memohon, tetapi lisannya kelu. Ia ingin kembali, tetapi dosa-dosa masa lalu berdiri di hadapannya seperti tembok.
Tawasul tidak mengatakan bahwa dosa itu kecil. Tawasul mengatakan bahwa rahmat Allah lebih besar.
Tawasul tidak mengatakan bahwa kita pantas. Tawasul mengajari kita mengakui bahwa kita tidak pantas, tetapi Allah mencintai hamba-hamba suci-Nya dan memerintahkan manusia mencari jalan menuju-Nya.
Kita datang bukan dengan membanggakan amal, melainkan membawa cinta kepada Muhammad dan keluarga Muhammad.
Kita datang bukan karena tangan kita bersih, tetapi karena kita ingin meminjam arah dari tangan-tangan yang tidak pernah menunjuk selain kepada Allah.
Kita tidak berkata, “Ya Allah, berilah karena aku layak.”
Kita berkata, “Ya Allah, aku tidak mempunyai apa-apa kecuali harapan kepada rahmat-Mu dan cinta kepada manusia-manusia yang Engkau cintai.”
Inilah tawasul sebagai penghancur keputusasaan. Ia membuat manusia yang terjatuh tetap berani merangkak menuju pintu. Ia membuat pendosa tidak mengubah rasa malu menjadi pelarian. Ia membuat kesadaran akan dosa menjadi alasan untuk pulang, bukan alasan untuk semakin menjauh.
Jangan Biarkan Setan Menutup Pintu yang Dibuka Allah
Setan tidak selalu menyuruh manusia meninggalkan Allah secara terang-terangan. Kadang-kadang ia hanya membisikkan: “Tunggu sampai engkau menjadi baik, baru berdoa.”
Padahal bagaimana seseorang menjadi baik jika ia menjauh dari sumber segala kebaikan?
Ia berkata: “Bersihkan dirimu terlebih dahulu, baru datang kepada Allah.”
Padahal kepada siapa manusia memohon pembersihan kalau bukan kepada Allah?
Ia berkata: “Engkau terlalu kotor untuk menyebut nama Muhammad dan keluarga Muhammad.”
Padahal mereka justru merupakan jalan yang diberikan Allah agar manusia yang terluka tidak kehilangan arah pulang.
Kita tidak menunggu sehat untuk menemui dokter. Kita mendatangi dokter karena sedang sakit.
Demikian pula kita tidak menunggu suci untuk mengetuk pintu rahmat. Kita mengetuk karena membutuhkan penyucian.
Tentu kita harus datang dengan niat berubah. Datang kepada Allah sambil berencana mempertahankan dosa bukanlah tobat. Tetapi menunda kepulangan karena merasa belum sempurna adalah perangkap yang tidak pernah berakhir.
Tidak ada orang yang harus menjadi suci sebelum datang kepada Sang Mahasuci. Ia menjadi bersih karena terus mendekat kepada-Nya.
Selalu Ada Jalan Pulang
Tawasul menjaga seorang hamba dari dua penyakit spiritual: kesombongan dan keputusasaan.
Kesombongan berkata: “Aku dapat sampai sendiri.”
Keputusasaan berkata: “Aku tidak mungkin sampai.”
Tawasul menjawab keduanya: “Engkau memang tidak dapat sampai dengan kekuatanmu sendiri, tetapi Allah telah menyediakan jalan.”
Jalan itu adalah iman, amal saleh, doa, tobat, shalawat, dan cinta kepada hamba-hamba yang telah disucikan-Nya.
Selama manusia masih dapat mengucapkan “Ya Allah,” pintu itu belum tertutup.
Selama lidah masih mampu bershalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, jalan itu belum hilang.
Selama hati masih menyesali dosa, meskipun hanya berupa getaran kecil, masih terdapat kehidupan yang dapat diselamatkan.
Mungkin kita datang dengan langkah yang tertatih. Mungkin kita membawa sejarah yang tidak ingin diketahui siapa pun. Mungkin kita tidak memiliki amal yang dapat dibanggakan.
Namun sebagaimana doa Imam Ali:
«“Modal kita adalah harapan dan senjata kita adalah tangisan.”»
Maka jangan biarkan setan mengambil modal terakhir itu.
Dosa sebesar apa pun tidak memberi kita hak untuk berputus asa dari Allah. Masa lalu sekelam apa pun tidak lebih kuat daripada cahaya rahmat-Nya. Tawasul bukan jaminan bahwa kita boleh tetap seperti sekarang. Tawasul adalah jaminan bahwa kita masih dapat berubah.
Allah telah membuka pintu. Rasulullah menunjukkan jalannya. Ahlul Bait berdiri sebagai pelita yang tidak padam.
Yang tersisa hanyalah keberanian kita untuk pulang.
Allahumma shalli ‘alā Muhammad wa āli Muhammad.

Rujukan Utama
1. Al-Qur’an: QS Al-Baqarah [2]: 268; QS Al-A‘raf [7]: 134–135; QS Yusuf [12]: 87; QS Az-Zumar [39]: 53–54; QS Muhammad [47]: 15; dan QS An-Naba’ [78]: 24–25.
2. Syekh al-Kulaini, Al-Kāfi, jilid 2, Bab Khauf dan Rajā’ serta Bab Berharap kepada Allah.
3. Imam Ali as, Doa Kumail.
4. Imam Ali as, Nahj al-Balaghah, Hikmah 90.
5. Imam Ali Zainal Abidin as, Munajat al-Rājīn dalam Lima Belas Munajat.
—
Bersama Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1DpnAW6ywW/

