15 September 2026

Tangan itu terangkat di dalam masjid Rasulullah.

Tangan seorang peminta-minta yang belum menerima apa pun.
Ia telah menyampaikan kebutuhannya. Kini ia mengadukannya kepada Allah:
“Ya Allah, saksikanlah. Aku telah meminta di masjid Rasul-Mu, tetapi tidak seorang pun memberikan sesuatu kepadaku.”
Di antara orang-orang yang sedang beribadah, permohonan itu menggantung.
Lalu sebuah jari memberi isyarat.
Madinah berada dalam waktu Zuhur. Cahaya siang jatuh di pelataran masjid, sementara naungan atap menahan sebagian teriknya. Di tempat itulah manusia datang membawa berbagai keadaan: urusan yang belum selesai, hati yang mencari ketenteraman, dan kebutuhan yang terkadang terlalu berat untuk ditanggung sendiri.
Abu Dzar berada bersama Rasulullah pada hari itu.
Kelak, ia akan menuturkan peristiwa yang disaksikannya.
Seorang peminta datang ke masjid. Permohonannya belum memperoleh jawaban hingga ia mengangkat tangan dan mengadukan keadaannya kepada Allah.
Pada saat itulah Ali bin Abi Thalib sedang rukuk.
Tubuhnya membungkuk dalam shalat. Pada kelingking tangan kanannya terdapat sebuah cincin.
Ali memberi isyarat kepada orang yang meminta itu.
Gerakannya sederhana. Sebuah isyarat yang mengarahkan perhatian kepada cincin di jarinya.
Sang peminta mendekat.
Dalam adegan itu, perhatian seolah menyempit kepada dua tangan.
Tangan seseorang yang membutuhkan pertolongan.
Dan tangan Ali yang memberikannya di tengah ibadah.
Sang peminta mengambil cincin dari kelingking beliau. Benda itu terlepas, lalu berpindah ke tangannya.
Ali masih dalam keadaan rukuk.
Betapa singkatnya sebuah pemberian dapat berlangsung. Namun, bagi orang yang sedang membutuhkan, saat ketika pertolongan akhirnya datang dapat terasa jauh lebih luas daripada waktu yang dilaluinya.
Sebuah permohonan telah memperoleh jawaban.
Ada sesuatu yang kini dapat dibawa oleh orang yang sebelumnya belum menerima apa-apa.
Rasulullah menyaksikan peristiwa tersebut.
Dan kisah ini belum selesai.
Setelah menuntaskan shalat, Rasulullah mengangkat wajah ke langit dan berdoa.
Dalam doa itu, beliau menyebut saudaranya, Musa.
Musa pernah memohon agar dadanya dilapangkan dan urusannya dimudahkan. Ia meminta seorang penolong dari keluarganya: Harun, saudaranya, yang akan menguatkan dirinya dalam mengemban tugas.
Rasulullah mengingat permohonan itu, juga jawaban Allah yang menjanjikan penguatan melalui seorang saudara.
Kemudian doa beliau menyebut sebuah nama.
Ali.
“Ya Allah, aku adalah Muhammad, nabi-Mu dan pilihan-Mu. Lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku, dan jadikanlah bagiku seorang penolong dari keluargaku, Ali. Kuatkanlah dengannya punggungku.”
Beberapa saat sebelumnya, seorang yang membutuhkan mengangkat tangan memohon pertolongan.
Kini Rasulullah memohon kepada Allah agar Ali menjadi penopang beliau dalam mengemban amanah.
Di dalam rangkaian peristiwa itu, sebuah pemberian kecil membawa kita menuju permohonan yang agung.
Menurut penuturan Abu Dzar, doa Rasulullah belum selesai ketika Jibril datang membawa wahyu.
“Wahai Muhammad, bacalah.”
“Apa yang kubaca?”
Lalu disampaikan firman Allah:
إِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَالَّذِينَ آمَنُوا الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَهُمْ رَاكِعُونَ
“Sesungguhnya wali kalian hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat dalam keadaan rukuk.”
Surah al-Ma’idah, ayat 55.
Perhatikan bagaimana ayat itu menggambarkan sebuah perbuatan.
Shalat didirikan.
Pemberian ditunaikan.
Dan orang yang memberikannya sedang rukuk.
Gerakan yang baru saja berlangsung di dalam masjid kini hadir dalam rangkaian firman yang akan dibaca dari generasi ke generasi.
Di sinilah tradisi Ahlul Bait membaca peristiwa tersebut sebagai penegasan wilayah Ali.
Nama beliau dikenali melalui perbuatan yang menyertainya: memberikan sesuatu kepada orang yang membutuhkan ketika sedang rukuk menghadap Allah.
Ada keindahan yang begitu dalam pada gambaran itu.
Penghambaan dan kepedulian bertemu dalam satu gerakan. Tangan yang berada dalam shalat tetap menjadi jalan datangnya pertolongan. Orang yang sedang memohon kepada Allah menerima pemberian melalui seorang hamba yang sedang tunduk kepada-Nya.
Ali memberi dengan apa yang ada pada dirinya saat itu.
Sebuah cincin.
Tetapi makna yang ditinggalkan peristiwa tersebut melampaui benda yang berpindah tangan.
Ia memperlihatkan kepada kita kepemimpinan yang mengenali kebutuhan manusia, bahkan dalam keheningan ibadah; kedekatan kepada Allah yang menghadirkan kasih kepada hamba-Nya.
Dan ketika cerita itu mendekati akhirnya, pandangan kita kembali kepada tempat ia bermula.
Seorang peminta di dalam masjid.
Tangan yang tadi terangkat dalam pengaduan kini telah menerima pemberian.
Cincin itu berpindah dari jari Ali.
Jejak rukuknya tinggal dalam firman Allah.
Sebuah cincin
Bersama Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
Catatan sumber: Alur mengikuti riwayat Abu Dzar yang dinukil al-Thabarsi dalam Majma‘ al-Bayan, penafsiran Surah al-Ma’idah 55–56. Makna wilayah disampaikan menurut pembacaan Ahlul Bait. Penggambaran suasana dan perenungan penulis merupakan pengolahan riwayat

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us