SEBUAH CINCIN, SEBUAH JAWABAN DARI LANGIT
Ukuran teks:
Tangan itu terangkat di dalam masjid Rasulullah.
Tangan seorang peminta-minta yang belum menerima apa pun.
Ia telah menyampaikan kebutuhannya. Kini ia mengadukannya kepada Allah:
โYa Allah, saksikanlah. Aku telah meminta di masjid Rasul-Mu, tetapi tidak seorang pun memberikan sesuatu kepadaku.โ
Di antara orang-orang yang sedang beribadah, permohonan itu menggantung.
Lalu sebuah jari memberi isyarat.
โธป
Madinah berada dalam waktu Zuhur. Cahaya siang jatuh di pelataran masjid, sementara naungan atap menahan sebagian teriknya. Di tempat itulah manusia datang membawa berbagai keadaan: urusan yang belum selesai, hati yang mencari ketenteraman, dan kebutuhan yang terkadang terlalu berat untuk ditanggung sendiri.
Abu Dzar berada bersama Rasulullah pada hari itu.
Kelak, ia akan menuturkan peristiwa yang disaksikannya.
Seorang peminta datang ke masjid. Permohonannya belum memperoleh jawaban hingga ia mengangkat tangan dan mengadukan keadaannya kepada Allah.
Pada saat itulah Ali bin Abi Thalib sedang rukuk.
Tubuhnya membungkuk dalam shalat. Pada kelingking tangan kanannya terdapat sebuah cincin.
Ali memberi isyarat kepada orang yang meminta itu.
Gerakannya sederhana. Sebuah isyarat yang mengarahkan perhatian kepada cincin di jarinya.
Sang peminta mendekat.
โธป
Dalam adegan itu, perhatian seolah menyempit kepada dua tangan.
Tangan seseorang yang membutuhkan pertolongan.
Dan tangan Ali yang memberikannya di tengah ibadah.
Sang peminta mengambil cincin dari kelingking beliau. Benda itu terlepas, lalu berpindah ke tangannya.
Ali masih dalam keadaan rukuk.
Betapa singkatnya sebuah pemberian dapat berlangsung. Namun, bagi orang yang sedang membutuhkan, saat ketika pertolongan akhirnya datang dapat terasa jauh lebih luas daripada waktu yang dilaluinya.
Sebuah permohonan telah memperoleh jawaban.
Ada sesuatu yang kini dapat dibawa oleh orang yang sebelumnya belum menerima apa-apa.
Rasulullah menyaksikan peristiwa tersebut.
Dan kisah ini belum selesai.
โธป
Setelah menuntaskan shalat, Rasulullah mengangkat wajah ke langit dan berdoa.
Dalam doa itu, beliau menyebut saudaranya, Musa.
Musa pernah memohon agar dadanya dilapangkan dan urusannya dimudahkan. Ia meminta seorang penolong dari keluarganya: Harun, saudaranya, yang akan menguatkan dirinya dalam mengemban tugas.
Rasulullah mengingat permohonan itu, juga jawaban Allah yang menjanjikan penguatan melalui seorang saudara.
Kemudian doa beliau menyebut sebuah nama.
Ali.
โYa Allah, aku adalah Muhammad, nabi-Mu dan pilihan-Mu. Lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku, dan jadikanlah bagiku seorang penolong dari keluargaku, Ali. Kuatkanlah dengannya punggungku.โ
Beberapa saat sebelumnya, seorang yang membutuhkan mengangkat tangan memohon pertolongan.
Kini Rasulullah memohon kepada Allah agar Ali menjadi penopang beliau dalam mengemban amanah.
Di dalam rangkaian peristiwa itu, sebuah pemberian kecil membawa kita menuju permohonan yang agung.
โธป
Menurut penuturan Abu Dzar, doa Rasulullah belum selesai ketika Jibril datang membawa wahyu.
โWahai Muhammad, bacalah.โ
โApa yang kubaca?โ
Lalu disampaikan firman Allah:
ุฅููููู
ูุง ูููููููููู
ู ุงูููููู ููุฑูุณูููููู ููุงูููุฐูููู ุขู
ููููุง ุงูููุฐูููู ูููููู
ูููู ุงูุตููููุงุฉู ููููุคูุชูููู ุงูุฒููููุงุฉู ููููู
ู ุฑูุงููุนูููู
โSesungguhnya wali kalian hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat dalam keadaan rukuk.โ
Surah al-Maโidah, ayat 55.
Perhatikan bagaimana ayat itu menggambarkan sebuah perbuatan.
Shalat didirikan.
Pemberian ditunaikan.
Dan orang yang memberikannya sedang rukuk.
Gerakan yang baru saja berlangsung di dalam masjid kini hadir dalam rangkaian firman yang akan dibaca dari generasi ke generasi.
โธป
Di sinilah tradisi Ahlul Bait membaca peristiwa tersebut sebagai penegasan wilayah Ali.
Nama beliau dikenali melalui perbuatan yang menyertainya: memberikan sesuatu kepada orang yang membutuhkan ketika sedang rukuk menghadap Allah.
Ada keindahan yang begitu dalam pada gambaran itu.
Penghambaan dan kepedulian bertemu dalam satu gerakan. Tangan yang berada dalam shalat tetap menjadi jalan datangnya pertolongan. Orang yang sedang memohon kepada Allah menerima pemberian melalui seorang hamba yang sedang tunduk kepada-Nya.
Ali memberi dengan apa yang ada pada dirinya saat itu.
Sebuah cincin.
Tetapi makna yang ditinggalkan peristiwa tersebut melampaui benda yang berpindah tangan.
Ia memperlihatkan kepada kita kepemimpinan yang mengenali kebutuhan manusia, bahkan dalam keheningan ibadah; kedekatan kepada Allah yang menghadirkan kasih kepada hamba-Nya.
Dan ketika cerita itu mendekati akhirnya, pandangan kita kembali kepada tempat ia bermula.
Seorang peminta di dalam masjid.
Tangan yang tadi terangkat dalam pengaduan kini telah menerima pemberian.
Cincin itu berpindah dari jari Ali.
Jejak rukuknya tinggal dalam firman Allah.

Bersama Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
Sumber artikel dan gambar: https://www.facebook.com/share/p/1Ar6EVuDdG/
Catatan sumber: Alur mengikuti riwayat Abu Dzar yang dinukil al-Thabarsi dalam Majmaโ al-Bayan, penafsiran Surah al-Maโidah 55โ56. Makna wilayah disampaikan menurut pembacaan Ahlul Bait. Penggambaran suasana dan perenungan penulis merupakan pengolahan riwayat
SebelumnyaMajlis Tadabbur Al Qur’an Tafsir Surah Ibrahim, Ayat 1-4 (Bag. 1)
BerikutnyaEps.12 Kunci Pintu Kebahagiaan(seri Rasulullah SAW dalam Al Qur’an)
Saksikan Video di Bawah Ini:
Video: Hak Asasi Setiap Orang
Rekomendasi
Benarkah keluarga Nabi saw Ditawan?
Pura-Pura Tidak Mengenalnya
Memberi Makan 100 Keluarga
SYARAH DOA KUMAIL (100) – MODAL TERAKHIR SEORANG HAMBA: HARAPAN DAN AIR MATA
SYARAH DOA KUMAIL (99) – JANGAN BIARKAN CINTA BERHENTI SEBAGAI KEINGINAN
BERITA DARI BERBAGAI MEDIA


