25 September 2026
Madinah pernah menyaksikan tangan Ali menggenggam pedang.
Tangan itu menjatuhkan para jagoan Quraisy, melindungi Rasulullah ﷺ di medan Uhud, dan kelak mengangkat pintu benteng Khaibar. Namun, pada hari itu, tangan yang sama tidak sedang memegang Dzulfiqar.
Tangan itu menggenggam seutas tali kasar.
Ali sedang sangat lapar.
Tidak ada makanan yang dapat dimakannya. Namun, putra Abu Thalib itu tidak berjalan dari satu pintu ke pintu lain untuk meminta belas kasihan. Ia meninggalkan Madinah menuju kawasan perkebunan di dataran tingginya, mencari sesuatu yang dapat dikerjakan.
Bukan sedekah yang dicarinya.
Pekerjaan.
Di sana, Ali melihat seorang perempuan sedang mengumpulkan tanah liat. Sepertinya tanah itu hendak dibasahi. Untuk pekerjaan itu, ia memerlukan air—banyak air.
Ali mendekatinya.
“Apakah engkau memerlukan air untuk membasahi tanah itu?”
Perempuan itu mengangguk.
“Aku akan menimbanya untukmu.”
“Berapa upah yang kauinginkan?”
“Satu timba, satu kurma.”
Kesepakatan pun terjadi.
Ali berjalan menuju sumur. Ia menjatuhkan timba, membiarkannya tenggelam, kemudian menariknya kembali. Air di dalam timba membuat tali itu semakin berat.
Satu timba.
Satu kurma.
Ia menuangkan air ke atas tanah yang kering.
Kemudian kembali ke sumur.
Dua timba.
Dua kurma.
Tali itu bergesekan dengan telapak tangannya. Panas Madinah membakar tubuhnya, sementara rasa lapar menggerogoti perutnya. Namun Ali terus menarik.
Tiga.
Empat.
Lima.
Sumur tidak pernah mengangkat airnya sendiri. Setiap timba harus ditarik dengan tenaga. Setiap tetes harus dibayar dengan otot yang menegang dan telapak yang mulai terluka.
Enam.
Tujuh.
Delapan.
Kulit tangannya mulai memerah. Tali kasar itu terus mengikisnya. Akan tetapi, Ali tidak berhenti. Ia tidak mengurangi isi timba dan tidak pula menghitung satu timba sebagai dua.
Sembilan.
Sepuluh.
Sebelas.
Orang yang jujur tidak berubah hanya karena tidak ada yang mengawasinya. Ali menimba air sebagaimana ia kelak menjalankan pemerintahan: tidak mengurangi hak orang lain dan tidak mengambil sesuatu melebihi haknya sendiri.
Dua belas.
Tiga belas.
Empat belas.
Telapak tangannya mulai melepuh. Setiap tarikan terasa seperti tali itu sedang menyayat kulitnya. Namun ia tetap menariknya.
Lima belas.
Lalu timba terakhir dijatuhkan.
Ali menarik napas, menggenggam tali sekali lagi, dan mengangkat timba keenam belas dari dalam sumur.
Enam belas timba.
Enam belas kurma.
Pekerjaan itu selesai.
Ali mendatangi air dan minum sekadarnya. Setelah itu ia kembali kepada perempuan tadi. Ia tidak berteriak menuntut upahnya. Ia hanya berdiri di hadapannya, lalu membuka kedua telapak tangannya yang telah melepuh.
Perempuan itu menghitung kurma satu demi satu.
Satu.
Dua.
Tiga.
Hingga enam belas butir kurma memenuhi tangan yang terluka itu.
Itulah seluruh upahnya.
Ali sedang sangat lapar. Ia dapat saja duduk di bawah pohon dan memakan semua kurma tersebut. Tidak seorang pun akan menyalahkannya. Kurma-kurma itu diperoleh dari keringatnya sendiri. Setiap butirnya telah dibayar dengan satu timba air yang berat.
Namun Ali tidak memakannya sendirian.
Ia membawa kurma-kurma itu kembali ke Madinah. Langkahnya menuju seseorang yang selalu hadir di dalam hatinya: Rasulullah Muhammad ﷺ.
Di hadapan Nabi, Ali menceritakan apa yang telah dialaminya. Nabi SAW memandangnya penuh kasih.
Kemudian keduanya memakan kurma-kurma itu bersama-sama.
Hanya enam belas butir.
Tidak ada meja perjamuan. Tidak ada piring emas. Tidak ada hidangan para raja. Hanya kurma yang dibeli dengan luka pada telapak tangan seorang pemuda.
Namun barangkali, tidak banyak perjamuan di dunia ini yang lebih indah daripada perjamuan itu.
Rasulullah ﷺ memakan hasil kerja Ali.
Ali memandang orang yang paling dicintainya menikmati kurma yang diperoleh dari keringatnya.
Pada saat itulah enam belas butir kurma menjadi lebih berharga daripada harta yang memenuhi sebuah istana. Sebab cinta tidak selalu dinyatakan dengan kata-kata. Kadang-kadang cinta hadir sebagai tangan yang melepuh dan makanan sederhana yang tidak sanggup dinikmati sendirian.
Inilah Ali.
Ia tidak merasa hina karena bekerja sebagai penimba air. Kemuliaan tidak pernah terletak pada jenis pekerjaan, melainkan pada kejujuran orang yang mengerjakannya.
Ia tidak menggunakan kedekatannya dengan Rasulullah untuk memperoleh keistimewaan. Ia mencari pekerjaan, menarik timba, menerima upah, lalu membawanya kepada Nabi.
Ali mengajarkan bahwa kemiskinan tidak boleh membunuh kehormatan. Ketika lapar, ia bekerja. Ketika memperoleh upah, ia berbagi. Ketika tangannya terluka, ia tidak menjadikan lukanya sebagai alasan untuk meminta lebih daripada haknya.
Orang-orang sering mengenang Ali di medan perang. Mereka mengingat Dzulfiqar, Khandaq, dan pintu Khaibar. Namun sebelum mengagumi tangan Ali yang menumbangkan para pendekar, lihatlah lebih dahulu telapak tangan yang melepuh karena menarik air dari sumur.
Sebab keberanian bukan hanya berdiri menghadapi pedang.
Keberanian juga berarti tetap bekerja ketika tubuh kelaparan, tetap jujur ketika hidup menghimpit, dan tetap berbagi ketika yang dimiliki hanya enam belas butir kurma.
Tangan itulah yang kelak menggenggam panji Rasulullah.
Tangan itulah yang mengangkat pintu Khaibar.
Namun pada hari itu, tangan tersebut hanya terbuka di hadapan seorang perempuan untuk menerima upahnya:
Enam belas kurma.
Lalu seluruhnya dibawa kepada Rasulullah ﷺ.
Karena bagi Ali, cinta bukanlah sesuatu yang diteriakkan.
Cinta adalah sesuatu yang dikerjakan—meskipun untuk itu telapak tangannya harus melepuh.
Telapak yang
Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—–
Catatan riwayat:
Pokok kisah ini diriwayatkan dalam Musnad Ahmad no. 1135: Imam Ali mengisahkan bahwa ia pernah sangat lapar di Madinah, lalu mencari pekerjaan di kawasan ‘Awālī. Ia menimba enam belas timba air dengan upah satu kurma setiap timba hingga kedua tangannya melepuh. Setelah menerima enam belas kurma, ia mendatangi Rasulullah ﷺ dan keduanya memakannya bersama-sama. Riwayat yang sama terdapat dalam al-Jū‘ karya Ibn Abī al-Dunyā, Ḥilyat al-Awliyā’ karya Abū Nu‘aim, dan al-Sunan al-Kubrā karya al-Baihaqī.
Penilaian sanadnya berbeda. Versi Musnad Ahmad dinilai lemah oleh sebagian peneliti karena jalurnya melalui Mujāhid dari Imam Ali dianggap terputus, sedangkan Ibn Katsīr menilainya jayyid qawī—baik dan kuat. “Musnad Ahmad 1135”.
Pokok bahwa Imam Ali bekerja menimba air dengan upah satu kurma setiap timba juga diriwayatkan secara ringkas dalam Sunan Ibn Mājah no. 2447 dan dinilai sahih dalam edisi Darussalam. “Sunan Ibn Mājah 2447”.
Ada versi lain dalam Sunan Ibn Mājah no. 2446 yang menyebut tujuh belas timba di kebun milik seorang Yahudi dan menyatakan bahwa Ali bekerja untuk membantu Rasulullah. Namun versi tersebut dinilai lemah, sehingga rincian itu tidak dijadikan kerangka utama kisah ini.
—
Telapak yang

Bersama Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute

—

Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1EpvkdQ53q/ 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us