24 September 2026
Muawiyah: “Wahai Saudah, apa yang dahulu mendorongmu membela Ali?”
Saudah binti ‘Umarah: “Kecintaan kepada Ali dan mengikuti kebenaran.”
Muawiyah: “Apa keperluanmu sekarang?”
Saudah: “Engkau memegang urusan rakyat. Allah akan meminta pertanggungjawabanmu atas hak kami. Orang-orang yang mengandalkan kekuasaanmu datang menindas kami. Busr bin Arthah membunuh orang-orangku dan mengambil hartaku. Singkirkan dia dari kami.”
Muawiyah: “Apakah engkau mengancamku dengan kaummu? Aku dapat mengirimmu kembali kepadanya agar ia menjalankan keputusannya atas dirimu.”
Saudah: “Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada jasad yang dipeluk kubur; bersama dirinya, keadilan seakan turut dikuburkan. Ia mengikat janji dengan kebenaran, tidak mencari penggantinya, hingga dirinya berpadu dengan kebenaran dan iman.”
Muawiyah: “Siapa yang engkau maksud?”
Saudah: “Ali bin Abi Thalib.”
Muawiyah: “Apa yang telah dilakukannya untukmu sehingga engkau mengenangnya demikian?”
Saudah: “Aku pernah datang mengadukan seorang petugas yang diangkatnya untuk mengurus sedekah kami. Aku mendapatinya sedang salat. Ketika beralih dari salatnya, ia menyapaku dengan lembut: ‘Apakah engkau mempunyai keperluan?’”
Muawiyah: “Kemudian?”
Saudah: “Aku menceritakan perlakuan petugas itu. Ali menangis. Ia berkata: ‘Ya Allah, Engkau menjadi saksi atas diriku dan mereka. Aku tidak memerintahkan mereka menzalimi makhluk-Mu ataupun meninggalkan hak-Mu.’”
Muawiyah: “Lalu apa yang dilakukannya?”
Saudah: “Ia mengambil sepotong kulit dan menulis surat. Petugas itu diperintahkan menjaga seluruh amanah dalam tangannya sampai seseorang datang mengambil alih. Ali menyerahkan surat itu kepadaku.”
Muawiyah: “Ali telah membiasakan kalian berani terhadap penguasa. Sukar sekali kalian meninggalkan kebiasaan itu.”
Saudah: “Apakah keadilan yang akan diberikan hanya untuk diriku, atau juga untuk seluruh kaumku?”
Muawiyah: “Apa urusanmu dengan kaummu?”
Saudah: “Sungguh tercela apabila keadilan tidak berlaku menyeluruh. Jika demikian, biarlah aku menjadi seperti seorang di antara kaumku.”
Muawiyah: “Wahai Az-Zarqa’, bukankah engkau yang menunggang unta merah di antara kedua barisan pada hari Shiffin, mengobarkan perang dan mendorong orang-orang bertempur?”
Az-Zarqa’ binti ‘Adi: “Pemimpin telah wafat. Zaman mengalami perubahan. Satu perkara disusul perkara yang lain.”
Muawiyah: “Apakah engkau masih mengingat perkataanmu saat itu?”
Az-Zarqa’: “Aku tidak menghafalnya.”
Muawiyah: “Tetapi, demi Allah, aku mengingatnya. Engkau menyerukan kesabaran kepada Muhajirin dan Anshar. Engkau mendorong mereka maju dan mengatakan bahwa hari itu menentukan apa yang datang sesudahnya.”
Az-Zarqa’: “…”
Muawiyah: “Demi Allah, melalui perkataanmu itu, engkau turut bersama Ali dalam setiap darah yang ditumpahkannya.”
Az-Zarqa’: “Engkau telah menyampaikan kabar yang menggembirakanku.”
Muawiyah: “Apakah perkataanku itu membuatmu senang?”
Az-Zarqa’: “Ya. Demi Allah, perkataanmu membuatku senang.”
Muawiyah: “Kesetiaan kalian kepadanya sesudah kematiannya sungguh mengagumkan. Sebutkan keperluanmu.”
Az-Zarqa’: “Aku telah berjanji kepada diriku sendiri untuk tidak meminta sesuatu kepada penguasa yang dahulu pernah kulawan.”
Marwan bin al-Hakam: “Apakah engkau mengenal perempuan ini?”
Muawiyah: “Siapakah dia?”
Marwan: “Bakkarah al-Hilaliyyah. Ia dahulu membantu pihak Ali di Shiffin. Dialah yang menyerukan agar pedang yang tersimpan dikeluarkan untuk menghadapi perkara besar.”
Amr bin Ash: “Dan dialah yang menggubah syair menentang kekhalifahanmu. Ia menyebut namaku sebagai orang yang mendorongmu menuju kesengsaraan.”
Seorang dalam majelis: “Ia juga pernah berkata bahwa dirinya berharap meninggal sebelum melihat orang-orang Bani Umayyah berkhotbah di atas mimbar. Ia mengeluhkan para pengkhotbah yang mencela keluarga Ahmad di tengah orang banyak.”
Bakkarah al-Hilaliyyah: “Orang-orangmu menyerangku dari segala arah. Tongkatku telah pendek, penglihatanku telah meredup, dan keherananku semakin besar.”
Bakkarah: “Demi Allah, akulah yang mengatakan apa yang mereka sebutkan.”
Bakkarah: “Aku tidak akan menyangkalnya dengan kebohongan.”
Bakkarah: “Apa yang belum engkau ketahui masih lebih banyak.”
Perempuan
Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—–
Catatan riwayat: Dialog tiga perempuan dalam tulisan diolah dari Balāghāt al-Nisā’ karya Ahmad bin Abi Thahir Ibn Thayfur (w. 280 H), pada bagian berikut:
Saudah binti ‘Umarah al-Hamdaniyyah. Penuturannya memuat pembelaannya kepada Ali, pengaduan tentang seorang petugas, tangisan Ali, serta surat perintah pengambilalihan tugas pejabat tersebut. Ketika berhadapan dengan Muawiyah, Saudah menuntut keadilan bagi seluruh kaumnya. Teks bagian pertama, kelanjutan.
Az-Zarqa’ binti ‘Adi. Kisahnya memuat seruan mendukung Ali di Shiffin dan percakapannya dengan Muawiyah sesudahnya. Ia tetap mengakui keberpihakannya kepada Ali ketika keterlibatannya dalam peperangan dipersoalkan. Teks pertemuan dan seruan, jawaban dan penutup.
Bakkarah al-Hilaliyyah. Ia datang dalam keadaan lanjut usia. Ketika syair-syair pembelaannya kepada Ali diungkit dalam majelis Muawiyah, ia mengakuinya dan menolak menyangkal dengan kebohongan. Kitab tersebut mencantumkan beberapa variasi penuturannya. Awal kisah, jawaban dan variasi riwayat.
Ketiganya merupakan pertemuan terpisah. Dialog dalam esai disajikan secara selektif, diringkas, dan diterjemahkan menurut maknanya; bukan transkripsi harfiah seluruh percakapan. Judul “Tak Bisa Dibeli” merupakan penafsiran sastra atas keteguhan mereka mempertahankan keberpihakan kepada Ali.
Balāghāt al-Nisā’ merupakan kumpulan sastra dan penuturan sejarah.

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us