Bagian 3 dari 5
Ada pertanyaan sederhana yang sering dilupakan ketika orang tergesa-gesa menuduh tawasul sebagai kemusyrikan: bukankah Allah sendiri yang membedakan kemuliaan antara satu waktu dengan waktu lainnya, satu tempat dengan tempat lainnya, satu benda dengan benda lainnya, dan satu manusia dengan manusia lainnya?
Seluruh waktu diciptakan Allah, tetapi tidak semua waktu mempunyai nilai yang sama. Seluruh bumi milik Allah, tetapi tidak semua tempat memperoleh kedudukan yang sama. Seluruh benda berasal dari unsur alam yang sama, tetapi Allah dapat menjadikan satu benda sebagai tanda kekuasaan-Nya. Semua manusia adalah makhluk, tetapi Allah memilih sebagian dari mereka menjadi nabi, rasul, wali, dan hujah bagi manusia.
Perbedaan kemuliaan ini tidak lahir dari kekuatan mandiri yang terdapat pada waktu, tempat, benda, ataupun manusia. Kemuliaan itu merupakan anugerah dan pilihan Allah.
Allah berfirman:
«“Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada pilihan bagi mereka.”
(QS Al-Qashash [28]: 68)»
Allah bukan hanya menciptakan. Allah juga memilih. Dia menciptakan seluruh malam, lalu memilih Lailatulqadar. Dia menciptakan seluruh bumi, lalu memilih Makkah sebagai tempat Ka‘bah. Dia menciptakan seluruh manusia, lalu memilih para nabi dan keluarga suci mereka.
Karena itu, menghormati sesuatu yang dimuliakan Allah bukanlah menyaingi Allah. Justru menolak seluruh perbedaan yang telah ditetapkan-Nya dapat berubah menjadi penolakan terhadap hak Allah untuk memilih.
Tauhid tidak berarti menganggap segala sesuatu sama. Tauhid berarti mengetahui bahwa seluruh kemuliaan berasal dari Allah.
Ketika Allah Memilih Waktu
Semua malam berlangsung dari terbenamnya matahari hingga terbitnya fajar. Secara astronomis, Lailatulqadar tidak berbeda dari malam lainnya. Namun Allah memberikan nilai yang tidak dimiliki oleh malam-malam lain:
«“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam kemuliaan. Tahukah engkau apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan lebih baik daripada seribu bulan.”
(QS Al-Qadr [97]: 1–3)»
Satu malam dapat lebih baik daripada seribu bulan. Bukan karena malam itu menciptakan keberkahannya sendiri, tetapi karena Allah menurunkan Al-Qur’an di dalamnya, menurunkan para malaikat, dan menjadikannya ruang bagi penetapan urusan-urusan penuh hikmah.
Imam Ja‘far ash-Shadiq as ditanya mengapa Lailatulqadar lebih baik daripada seribu bulan. Beliau menjawab bahwa amal yang dilakukan pada malam itu lebih baik daripada amal selama seribu bulan yang tidak memiliki Lailatulqadar. (“Al-Kāfi, jilid 4, Bab Lailatulqadar, hadis 4”).
Ini berarti waktu dapat menjadi wasilah. Ibadahnya tetap ditujukan kepada Allah, tetapi Allah membuka peluang spiritual yang berbeda pada waktu tertentu.
Doa pada hari Arafah, amal pada bulan Ramadan, ibadah pada Lailatulqadar, shalawat pada malam Jumat, dan mengenang pengorbanan Imam Husain pada hari Asyura tidak memperoleh makna karena waktu memiliki ketuhanan. Waktu-waktu itu memperoleh kemuliaan karena Allah menghubungkannya dengan peristiwa, ibadah, dan hamba-hamba pilihan-Nya.
Namun kemuliaan waktu tidak bekerja secara otomatis. Seseorang dapat berada di malam Lailatulqadar tetapi sibuk dengan kelalaian. Sementara orang lain menghidupkan malam itu dengan tobat, doa, dan penyerahan diri.
Waktu yang mulia adalah pintu. Manusia tetap harus memasukinya.
Karena itu, bertawasul dengan waktu bukan berarti meminta kepada waktu. Kita tidak berkata, “Wahai malam, kabulkanlah doaku.” Kita memohon kepada Allah sambil mengakui bahwa Allah sendiri telah memberikan keistimewaan kepada malam itu.
Waktu tetap makhluk. Allah tetap tujuan doa.
Ketika Allah Memilih Tempat
Jika seluruh tempat harus dianggap sama, mengapa Allah memerintahkan manusia menghadap Ka‘bah ketika salat?
Ka‘bah bukan Allah. Batu-batunya tidak disembah. Namun menghadap ke arahnya merupakan ketaatan kepada Allah. Seseorang yang menghadap Ka‘bah tidak sedang menyembah bangunan; ia sedang menyembah Tuhan yang memerintahkannya menghadap ke sana.
Allah berfirman:
«“Sesungguhnya rumah pertama yang dibangun untuk manusia adalah yang berada di Bakkah, yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam.”
(QS Ali ‘Imran [3]: 96)»
Perhatikan kata yang digunakan Al-Qur’an: mubārakan—diberkahi. Allah sendiri menyatakan adanya keberkahan pada suatu tempat.
Tentang Maqam Ibrahim, Allah berfirman:
«“Jadikanlah sebagian Maqam Ibrahim sebagai tempat salat.”
(QS Al-Baqarah [2]: 125)»
Maqam Ibrahim adalah sebuah tempat yang berhubungan dengan jejak seorang nabi. Allah kemudian memerintahkan manusia menjadikannya sebagai tempat salat. Ini membuktikan bahwa hubungan suatu lokasi dengan manusia pilihan Allah dapat memberikan makna spiritual kepada lokasi tersebut.
Masjidil Aqsa juga disebut sebagai tempat yang diberkahi sekelilingnya:
«“Mahasuci Dia yang memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya…”
(QS Al-Isra’ [17]: 1)»
Jika meyakini kemuliaan tempat dengan sendirinya merupakan kemusyrikan, maka ayat-ayat ini akan kehilangan makna. Al-Qur’an justru mengajarkan bahwa Allah dapat meletakkan keberkahan pada tempat yang dikehendaki-Nya.
Dalam tradisi Ahlul Bait, hal yang sama menjelaskan mengapa umat mengunjungi Madinah, Najaf, Karbala, Kazhimain, Masyhad, dan tempat-tempat peristirahatan manusia suci. Tanah itu tidak disembah. Kubur itu bukan Tuhan. Ziarah dilakukan karena tempat tersebut terhubung dengan hamba yang hidup dan wafatnya diabdikan kepada Allah.
Imam Ja‘far ash-Shadiq as menganjurkan ziarah ke Karbala karena Imam Husain as dimakamkan di sana. Dalam Kāmil az-Ziyārāt, beliau bersabda:
«“Berziarahlah ke Karbala dan jangan meninggalkannya, karena putra terbaik dari keturunan para nabi dimakamkan di sana.”»
Karbala bukan menjadi agung karena unsur tanahnya berdiri sendiri. Karbala menjadi agung karena di atasnya darah Imam Husain as ditumpahkan untuk menjaga tauhid, keadilan, dan kehormatan agama Rasulullah. (“Kāmil az-Ziyārāt, Bab 88, riwayat 9”.)
Di sinilah kita memahami bahwa suatu tempat dapat memperoleh identitas dari peristiwa dan manusia yang berhubungan dengannya. Sebuah rumah biasa menjadi tempat yang dirindukan karena pernah dihuni orang yang kita cintai. Sebuah jalan menjadi bersejarah karena pernah dilalui para pejuang. Sebidang tanah menjadi saksi karena di atasnya seseorang menyerahkan hidup demi kebenaran.
Jika hubungan semacam itu diakui dalam kehidupan manusia, mengapa ia dianggap mustahil dalam hubungan spiritual?
Sekali lagi, keberkahannya bukan diciptakan oleh tempat. Allah-lah yang meletakkan keberkahan padanya.
Ketika Allah Menjadikan Benda sebagai Tanda
Sebagian orang dapat menerima kemuliaan waktu dan tempat, tetapi mulai gelisah ketika tawasul atau tabaruk berhubungan dengan benda. Padahal Al-Qur’an memberikan contoh yang sangat jelas.
Ketika Nabi Ya‘qub as kehilangan penglihatannya akibat kesedihan yang mendalam, Nabi Yusuf as tidak hanya berkata, “Berdoalah langsung kepada Allah.” Yusuf justru memberikan bajunya dan berkata:
«“Pergilah dengan membawa bajuku ini, lalu usapkanlah ke wajah ayahku; nanti ia akan kembali melihat.”
(QS Yusuf [12]: 93)»
Kemudian Al-Qur’an menceritakan:
«“Tatkala pembawa kabar gembira itu tiba, diletakkannya baju itu pada wajah Ya‘qub, lalu ia kembali dapat melihat.”
(QS Yusuf [12]: 96)»
Peristiwa ini sangat terang. Nabi Yusuf mengirimkan sebuah benda. Benda itu disentuhkan kepada Nabi Ya‘qub, lalu penglihatannya kembali.
Apakah baju itu Tuhan? Tentu tidak.
Apakah serat kain itu memiliki kekuatan mandiri untuk menyembuhkan kebutaan? Tidak.
Baju itu menjadi wasilah karena berhubungan dengan Nabi Yusuf dan digunakan berdasarkan pengetahuan serta petunjuk yang diberikan Allah kepadanya.
Kalau menggunakan benda sebagai wasilah selalu merupakan kemusyrikan, Nabi Yusuf tidak mungkin memerintahkannya dan Nabi Ya‘qub tidak mungkin menerimanya.
Kisah itu juga mengajarkan bahwa persoalannya bukan pada jenis bendanya. Secara material, baju Yusuf mungkin terbuat dari bahan yang sama dengan pakaian manusia lainnya. Yang membedakannya adalah hubungan dan makna yang Allah letakkan padanya.
Benda lain dalam Al-Qur’an adalah tongkat Nabi Musa as. Dengan perintah Allah, tongkat itu dipukulkan ke batu dan memancarkan dua belas mata air:
«“Pukullah batu itu dengan tongkatmu. Maka memancarlah darinya dua belas mata air.”
(QS Al-Baqarah [2]: 60)»
Tongkat itu juga menjadi bagian dari tanda ketika laut terbelah. Tentu bukan kayu tongkat yang menandingi kekuasaan Allah. Tongkat tersebut hanyalah sarana yang dipilih Allah untuk menampakkan kekuasaan-Nya.
Al-Qur’an juga menceritakan Tabut atau peti peninggalan keluarga Nabi Musa dan Nabi Harun:
«“Tanda kerajaannya ialah datangnya Tabut kepada kalian; di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhan kalian dan peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun, yang dibawa oleh para malaikat.”
(QS Al-Baqarah [2]: 248)»
Tabut itu sebuah benda. Di dalamnya terdapat peninggalan keluarga para nabi. Namun Allah menjadikannya sebagai pembawa sakinah—ketenteraman—dan tanda kebenaran.
Al-Qur’an tidak memerintahkan manusia membuang peninggalan para nabi karena dianggap benda mati. Justru peninggalan tersebut menjadi tanda yang dibawa oleh malaikat.
Dari sini kita memahami makna tabaruk: mencari keberkahan Allah melalui sesuatu yang Allah hubungkan dengan tanda-tanda, tempat, atau hamba pilihan-Nya.
Namun keyakinan ini juga mempunyai batas. Tidak setiap benda yang diklaim keramat harus dipercaya. Tidak semua jimat, benda pusaka, atau klaim kesaktian dapat dibenarkan. Hubungan dengan kesucian harus mempunyai dasar yang benar, tidak bertentangan dengan Al-Qur’an, tidak melahirkan eksploitasi, dan tidak memberikan kekuasaan mandiri kepada benda tersebut.
Tabaruk Qur’ani berbeda dari takhayul. Takhayul memberikan daya kepada benda tanpa dasar. Tabaruk mengembalikan seluruh keberkahan kepada Allah.
Materi Tidak Bertentangan dengan Spiritualitas
Ada kecenderungan menganggap agama yang murni harus sepenuhnya abstrak. Seolah-olah semakin jauh dari benda dan tubuh, semakin spiritual seseorang. Pandangan semacam ini tidak sesuai dengan struktur ibadah dalam Islam.
Salat menggunakan tubuh. Haji mengharuskan perjalanan ke tempat tertentu. Tawaf dilakukan mengelilingi bangunan tertentu. Wukuf harus dilakukan di Arafah pada waktu tertentu. Sujud dilakukan dengan dahi menyentuh bumi. Wudhu menggunakan air.
Allah yang Mahasuci tidak membutuhkan arah, air, tanah, gerakan tubuh, atau perjalanan. Kitalah yang membutuhkan semua itu untuk membentuk kesadaran dan ketaatan.
Ka‘bah bukan Tuhan, tetapi kita menghadap kepadanya. Hajar Aswad bukan Tuhan, tetapi dihormati dalam ibadah haji. Air Zamzam bukan Tuhan, tetapi diminum dengan rasa syukur dan harapan. Mushaf bukan Allah, tetapi kita memperlakukannya dengan hormat karena di dalamnya tertulis kalam-Nya.
Agama tidak memusuhi materi. Agama menyucikan hubungan manusia dengan materi.
Yang dilarang bukan menggunakan benda sebagai sarana. Yang dilarang adalah menyembah benda dan memberinya kekuasaan yang terpisah dari Allah.
Dari Benda Menuju Sosok
Di antara waktu, tempat, benda, dan sosok, manusia pilihan Allah mempunyai kedudukan yang sangat penting. Sebab sering kali waktu, tempat, dan benda memperoleh kemuliaannya karena berhubungan dengan seorang sosok.
Baju itu mulia karena berhubungan dengan Yusuf.
Maqam itu mulia karena berhubungan dengan Ibrahim.
Madinah dirindukan karena Rasulullah SAWW hidup dan dimakamkan di sana.
Najaf dirindukan karena Imam Ali as.
Karbala menjadi tanah air air mata karena Imam Husain as.
Benda, tempat, dan waktu menjadi jalan yang membawa ingatan kita kepada manusia yang seluruh hidupnya membawa manusia menuju Allah.
Al-Qur’an bahkan menjelaskan bahwa Allah memberikan kemampuan luar biasa kepada Nabi Isa as. Isa berkata:
«“Aku menyembuhkan orang yang buta sejak lahir dan orang yang berpenyakit kulit, dan aku menghidupkan orang mati dengan izin Allah.”
(QS Ali ‘Imran [3]: 49)»
Kalimat bi idznillāh—“dengan izin Allah”—adalah kunci untuk memahami seluruh persoalan tawasul.
Al-Qur’an menisbahkan perbuatan itu kepada Nabi Isa: “Aku menyembuhkan” dan “aku menghidupkan.” Namun pada saat yang sama, Al-Qur’an menegaskan bahwa semuanya terjadi dengan izin Allah.
Inilah bahasa tauhid yang utuh. Ia tidak meniadakan peran hamba pilihan, tetapi juga tidak memberinya kemandirian dari Allah.
Mengatakan bahwa Nabi Isa menyembuhkan dengan izin Allah bukanlah syirik. Yang menjadi syirik adalah meyakini bahwa Isa mempunyai kekuasaan yang berdiri sendiri, tidak berasal dari Allah dan tidak tunduk kepada-Nya.
Demikian pula ketika kita berkata bahwa Nabi Muhammad SAWW, Sayidah Fathimah az-Zahra as, Imam Ali as, Imam Hasan as, Imam Husain as, dan para Imam Ahlul Bait merupakan wasilah. Kita tidak sedang memindahkan ketuhanan kepada mereka. Kita mengakui bahwa Allah telah memilih, menyucikan, dan menjadikan mereka sebagai penunjuk jalan.
Imam Ali Zainal Abidin as berkata dalam Doa Arafah:
«وَجَعَلْتَهُمُ الْوَسِيلَةَ إِلَيْكَ وَالْمَسْلَكَ إِلَى جَنَّتِكَ»
“Engkau telah menjadikan mereka sebagai wasilah menuju-Mu dan jalan menuju surga-Mu.”
Kalimat itu dimulai dengan “Engkau telah menjadikan.” Allah yang memilih. Allah yang menyucikan. Allah yang memberikan kedudukan. Mereka tidak memiliki sesuatu pun di luar kehendak-Nya. (“Shahifah Sajjadiyah, Doa ke-47, bagian 56”.)
Tidak Semua Sosok Layak Menjadi Wasilah
Menerima tawasul tidak berarti membenarkan semua orang yang mengaku wali, keramat, mempunyai karamah, atau mampu menyelesaikan seluruh persoalan.
Al-Qur’an memerintahkan mencari wasilah, tetapi wasilah harus membawa manusia semakin bertakwa, bukan semakin jauh dari Allah. Sosok yang dijadikan teladan harus selaras dengan wahyu, akhlak, ilmu, keadilan, dan ketaatan.
Wasilah yang benar tidak mengumpulkan manusia untuk mengagungkan dirinya. Ia mengarahkan manusia kepada Allah.
Wasilah yang benar tidak memperdagangkan kesucian. Ia memberikan, bukan mengeksploitasi.
Wasilah yang benar tidak menghalalkan maksiat. Ia membersihkan manusia dari dosa.
Wasilah yang benar tidak menuntut dirinya diperlakukan sebagai Tuhan. Ia justru merupakan hamba Allah yang paling sempurna.
Karena itu, ukuran tawasul bukan sekadar adanya rasa kagum. Ukurannya adalah pilihan Allah dan keselarasan dengan jalan-Nya.
Kita dapat memeriksa keyakinan tawasul melalui beberapa pertanyaan: apakah Allah tetap diyakini sebagai satu-satunya pemberi? Apakah wasilah dipahami sepenuhnya bergantung kepada-Nya? Apakah bentuk tawasul itu mempunyai dasar yang dapat dipertanggungjawabkan? Dan apakah ia membawa manusia kepada ketaatan atau justru menjauhkannya?
Apabila Allah tetap menjadi tujuan, sumber kekuatan, pemberi izin, dan pengabul doa, maka penggunaan wasilah tidak merusak tauhid.
Tauhid yang Tidak Takut kepada Tanda-Tanda Allah
Tauhid bukanlah ketakutan berlebihan kepada setiap tanda kesucian. Tauhid juga bukan menghancurkan seluruh jejak para nabi agar manusia hanya berhadapan dengan kehampaan.
Tauhid adalah melihat Allah di balik seluruh tanda tanpa pernah menyamakan tanda dengan-Nya.
Kita menghormati Ka‘bah, tetapi tidak menyembah Ka‘bah. Kita memuliakan Al-Qur’an, tetapi kertas dan tintanya bukan Tuhan. Kita mencintai Rasulullah, tetapi Rasulullah adalah hamba dan utusan-Nya. Kita berziarah kepada Imam Husain, tetapi seluruh doa, harapan, dan pengabulan pada akhirnya kembali kepada Allah.
Orang yang bertawasul tidak berhenti pada wasilah sebagaimana seorang musafir tidak berhenti pada jalan. Ia menempuh jalan karena mengetahui tujuan yang hendak dicapai.
Baju Yusuf tidak menghentikan perjalanan kepada Allah. Ia justru memperlihatkan kekuasaan Allah.
Tongkat Musa tidak menandingi Allah. Ia menampakkan perintah Allah.
Nabi Isa tidak mengambil tempat Allah. Ia menyembuhkan dengan izin Allah.
Muhammad dan keluarga Muhammad tidak menghalangi manusia dari Allah. Mereka mengajarkan bagaimana menyembah, mengenal, mencintai, dan menaati-Nya dengan benar.
Karena itu, masalahnya bukan apakah kita menggunakan waktu, tempat, benda, atau sosok. Masalahnya adalah apakah kita melihat semuanya sebagai milik Allah atau sebagai kekuatan yang berdiri sendiri.
Jika semuanya dikembalikan kepada Allah, waktu menjadi kesempatan, tempat menjadi ruang penyucian, benda menjadi tanda, dan manusia suci menjadi penunjuk jalan.
Mereka bukan tujuan terakhir. Tetapi tanpa mengenali petunjuk yang Allah sediakan, manusia dapat menghabiskan hidupnya berjalan sambil merasa dekat, padahal arah langkahnya semakin menjauh.
Tawasul bukan menyembah jalan. Tawasul adalah kerendahan hati untuk menempuh jalan yang telah dipilih Allah.
Allahumma shalli ‘alā Muhammad wa āli Muhammad.

Rujukan Utama
1. Al-Qur’an: QS Al-Baqarah [2]: 60, 125, dan 248; QS Ali ‘Imran [3]: 49 dan 96; QS Yusuf [12]: 93 dan 96; QS Al-Isra’ [17]: 1; QS Al-Qashash [28]: 68; serta QS Al-Qadr [97]: 1–3.
2. Syekh al-Kulaini, Al-Kāfi, jilid 4, Bab Lailatulqadar.
3. Imam Ali Zainal Abidin as, Ash-Shahifah as-Sajjadiyah, Doa ke-47.
4. Ibnu Qulawayh al-Qummi, Kāmil az-Ziyārāt, Bab 88.
Bersama Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1GdNid5WWQ/

