Makkah ketika itu bukan kota yang aman bagi seseorang yang ingin mencari Muhammad.
Nama beliau dibicarakan dengan bisik-bisik. Orang yang bertanya dapat dicurigai. Orang yang menunjukkan jalan dapat diawasi. Bahkan sekadar ingin mendengar sendiri perkataan Muhammad dapat mengundang ancaman.
Jauh dari Makkah, seorang lelaki dari kabilah Ghifar mendengar kabar bahwa telah muncul seseorang yang mengaku menerima berita dari langit. Lelaki itu adalah Abu Dzar.
Ia menyuruh saudaranya pergi menyelidiki.
Saudaranya kembali dan berkata bahwa Muhammad memerintahkan manusia kepada akhlak yang mulia. Perkataannya bukan syair. Ia mengajak kepada kebaikan dan melarang keburukan.
Namun Abu Dzar belum puas.
“Engkau belum memberiku keterangan yang benar-benar memuaskan.”
Ia tidak ingin mengenal Muhammad melalui penilaian orang lain. Ia ingin melihat sendiri. Mendengar sendiri. Menentukan sikap dengan kesadarannya sendiri.
Abu Dzar lalu membawa bekal dan kantong air, kemudian berangkat menuju Makkah.
Ia tiba sebagai orang asing di tengah kota yang tidak ramah kepada para pencari Muhammad. Ia mendatangi Masjidil Haram, tetapi tidak mengetahui seperti apa wajah Rasulullah SAW. Ia pun takut bertanya kepada sembarang orang.
Salah bertanya, nyawa dapat menjadi taruhannya.
Hari berganti malam. Abu Dzar tetap berada di sekitar masjid, seorang diri, meminum air Zamzam dan menyimpan pertanyaannya rapat-rapat.
Di tengah kesunyian itulah Ali bin Abi Thalib melihatnya.
Ali memperhatikan lelaki asing yang tidak mempunyai tempat untuk bermalam. Ia tidak menginterogasinya. Tidak memaksanya menjelaskan dari mana ia datang dan apa tujuannya.
Ali hanya berkata,
“Sepertinya engkau orang asing.”
“Benar,” jawab Abu Dzar.
“Kalau begitu, ikutlah ke rumah.”
Abu Dzar mengikuti Ali.
Malam itu keduanya hampir tidak berbicara. Ali tidak bertanya dan Abu Dzar tidak bercerita. Ali memberikan tempat berlindung tanpa menuntut penjelasan.
Begitulah Ali.
Ia menolong lebih dahulu sebelum meminta seseorang memperkenalkan dirinya.
Keesokan harinya Abu Dzar kembali ke Masjidil Haram. Ia masih mencari Muhammad, tetapi tetap tidak berani bertanya. Tidak seorang pun memberitahukan kepadanya di mana Rasulullah SAW berada.
Ketika malam kembali datang, Ali melihatnya lagi.
“Belum jugakah orang ini mengetahui tempat tujuannya?”
Ali kembali membawanya pulang. Barulah kemudian ia bertanya,
“Apa urusanmu? Apa yang membawamu datang ke kota ini?”
Abu Dzar masih berhati-hati.
“Jika engkau bersedia merahasiakannya dan menunjukkan jalan kepadaku, aku akan mengatakannya.”
Ali memberikan janjinya.
Abu Dzar pun berkata bahwa ia mendengar telah muncul seorang lelaki di Makkah yang mengaku sebagai nabi. Ia telah mengutus saudaranya untuk menyelidiki, tetapi keterangan yang dibawanya belum memuaskan. Karena itulah ia datang sendiri untuk bertemu dengannya.
Ali tidak berputar-putar.
“Engkau telah mendapatkan petunjuk. Orang itu benar. Ia adalah Rasul Allah.”
Bayangkan perasaan Abu Dzar saat itu.
Berhari-hari ia menempuh perjalanan. Ia memasuki kota yang penuh bahaya. Ia menahan lapar, haus, dan kecemasan. Ia tidak mengetahui kepada siapa harus mempercayakan rahasianya.
Lalu Allah mempertemukannya dengan Ali.
Tetapi Ali memahami bahwa membawa Abu Dzar menemui Rasulullah SAW tidak dapat dilakukan secara terbuka. Mata kaum Quraisy berada di mana-mana. Maka Ali menyusun cara agar Abu Dzar dapat mengikuti langkahnya tanpa membangkitkan kecurigaan.
“Besok pagi, ikutilah aku. Masuklah ke tempat aku masuk. Jika aku melihat seseorang yang kukhawatirkan dapat membahayakanmu, aku akan berhenti di dekat dinding seolah-olah sedang memperbaiki sandalku. Engkau teruslah berjalan seakan-akan tidak mengenalku. Jika aku terus berjalan, ikutilah aku sampai aku masuk.”
Pagi itu Ali berjalan lebih dahulu.
Abu Dzar mengikutinya dari belakang.
Tidak ada percakapan. Tidak ada panggilan. Tidak ada gerakan mencurigakan. Keduanya berjalan seolah tidak saling mengenal.
Ali menjadi penunjuk jalan, tetapi bukan dengan teriakan. Ia menunjukkan jalan dengan langkah kaki.
Di antara lorong-lorong Makkah, setiap langkah mempunyai risiko. Satu tatapan yang terlalu lama dapat menimbulkan kecurigaan. Satu gerakan yang keliru dapat membongkar semuanya.
Namun Ali terus berjalan.
Abu Dzar terus mengikutinya.
Sampai akhirnya Ali memasuki suatu tempat. Abu Dzar masuk di belakangnya.
Di sanalah Abu Dzar akhirnya berhadapan dengan manusia yang selama ini dicarinya: Muhammad Rasulullah SAW.
Tidak dibutuhkan perdebatan panjang.
Abu Dzar meminta Rasulullah SAW menjelaskan Islam kepadanya. Rasulullah menjelaskannya, dan pada saat itu juga Abu Dzar menyatakan keimanannya.
Pencarian panjang itu selesai.
Rasulullah SAW kemudian meminta Abu Dzar merahasiakan keimanannya dan kembali kepada kaumnya sampai datang perintah berikutnya. Itu adalah nasihat untuk melindunginya dari kebengisan Quraisy.
Namun Abu Dzar adalah Abu Dzar.
“Demi Zat yang mengutusmu dengan kebenaran, aku akan meneriakkannya di tengah-tengah mereka.”
Ia keluar menuju Masjidil Haram, tempat para pembesar Quraisy berkumpul. Kemudian dengan suara lantang ia berseru,
“Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya!”
Orang-orang Quraisy bangkit dan menghajarnya. Mereka memukulnya sampai ia tersungkur dan hampir mati.
Al-Abbas datang, menjatuhkan tubuhnya untuk melindungi Abu Dzar, lalu mengingatkan mereka bahwa lelaki itu berasal dari Ghifar—sementara jalur perdagangan Quraisy menuju Syam melewati wilayah kabilah tersebut.
Mereka pun berhenti.
Namun keesokan harinya Abu Dzar kembali ke tempat yang sama dan meneriakkan kesaksian yang sama. Sekali lagi ia dipukuli. Sekali lagi Al-Abbas melindunginya.
Inilah permulaan Islamnya Abu Dzar al-Ghifari—lelaki yang kelak dikenal tidak pernah mampu berdamai dengan kebatilan, penumpukan kekayaan, dan penyalahgunaan kekuasaan.
Namun sebelum Abu Dzar berdiri sendirian meneriakkan kebenaran di hadapan Quraisy, ada seorang pemuda yang terlebih dahulu mengenali kesendiriannya.
Pemuda itu memberinya tempat bermalam.
Menjaga rahasianya.
Memahami kegelisahannya.
Lalu mengantarkannya kepada Rasulullah SAW dengan kecerdasan, keberanian, dan kehati-hatian.
Pemuda itu adalah Ali bin Abi Thalib.
Ali tidak memulai dakwahnya kepada Abu Dzar dengan pidato. Ia memulainya dengan keramahan kepada seorang asing.
Ia tidak memaksa Abu Dzar membuka rahasianya. Ia lebih dahulu membuatnya merasa aman.
Ali tidak hanya mengetahui jalan menuju Rasulullah. Ia sendiri adalah jalan aman bagi orang yang sungguh-sungguh mencari Rasulullah.
Di kemudian hari, Abu Dzar akan berdiri bersama Ali ketika banyak orang berpaling. Ia akan membela kebenaran ketika kebenaran membuatnya terusir dan hidup dalam kesendirian.
Barangkali kesetiaan itu berakar sejak malam pertama di Makkah—ketika tidak seorang pun berani menunjukkan jalan kepadanya, tetapi Ali membuka pintu rumahnya.
Sebelum Abu Dzar mengikuti Ali dalam perjuangan, ia terlebih dahulu mengikuti langkah Ali menuju Muhammad.
Dan siapa pun yang dengan tulus mengikuti langkah Ali, tidak akan dibawanya ke mana-mana selain kepada Rasulullah SAW.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—–
Sumber utama: Riwayat Ibnu Abbas tentang masuk Islamnya Abu Dzar dalam Shahih al-Bukhari, hadis 3861. Redaksi-riwayatnya memuat dua gambaran isyarat pengamanan: Ali seolah memperbaiki sandal atau seolah menepi untuk membuang air. Keduanya menunjukkan kehati-hatian Ali dalam mengantar Abu Dzar menemui Rasulullah SAW. “Teks hadis dan penjelasannya” dan “syarah riwayat Bukhari”.
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1MQvAaNFys/

