Pertanyaannya: adakah para pencaci Ahlul Bait?
Dahulu, iya. Mereka hadir secara terang-terangan, terutama ketika kekuasaan Muawwiyah menjadikan permusuhan terhadap Imam Ali a.s. sebagai bahasa politik.
Hari ini, hampir tidak ada orang yang berani berdiri di hadapan umat lalu berkata, “Aku membenci Ali. Aku mencaci Ahlul Bait.” Nama Ali, Fathimah, Hasan, dan Husain terlalu agung dalam kesadaran kaum Muslimin untuk diserang secara terbuka.
Namun kebencian tidak selalu datang dengan wajah lamanya. Ia dapat mengganti pakaian.
Hari ini, orang tidak harus mencaci Imam Ali dengan lisannya. Cukup dengan memuliakan orang yang mencacinya, membersihkan sejarah orang yang memeranginya, menyebut kejahatannya sebagai “ijtihad”, lalu menyerang siapa pun yang berani membuka fakta.
Kebencian modern tidak selalu menghina korban; kadang-kadang ia bekerja dengan menyucikan pelaku dan membungkam ingatan.
Ketika mencaci Ali berarti mencaci Rasulullah
Ummu Salamah r.a. pernah bertanya dengan nada mengguncang:
“Apakah Rasulullah dicaci di tengah-tengah kalian?”
Orang yang ditanya menjawab,
“Semoga Allah melindungi kami dari itu.”
Ummu Salamah lalu menjelaskan mengapa ia bertanya demikian. Ia mendengar Rasulullah saw. bersabda:
مَنْ سَبَّ عَلِيًّا فَقَدْ سَبَّنِي
“Barang siapa mencaci Ali, sungguh ia telah mencaciku.”
Al-Hakim menilainya sahih al-isnad dalam Al-Mustadrak, dan Al-Dzahabi menyetujuinya dalam At-Talkhish.
Kalimat Nabi ini tidak memberi ruang untuk permainan kata. Ali bukan sekadar tokoh politik yang boleh dihina atas nama perbedaan sejarah.
Kehormatan Ali terhubung dengan kehormatan Rasulullah saw. Mencaci Ali bukan serangan yang berhenti pada diri Ali; ia sampai kepada Nabi.
Karena itu, ketika seorang lelaki dari Syam mencaci Imam Ali di hadapan Ibnu Abbas, Ibnu Abbas menegurnya keras:
“Wahai musuh Allah! Engkau telah menyakiti Rasulullah.”
Lalu ia membaca firman Allah:
“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya, Allah melaknat mereka di dunia dan di akhirat serta menyediakan bagi mereka azab yang menghinakan.” (QS Al-Ahzab [33]: 57)
Al-Hakim juga menilai riwayat ini sahih al-isnad.
Lebih tegas lagi, Imam Muslim meriwayatkan janji Rasulullah kepada Imam Ali:
لَا يُحِبُّنِي إِلَّا مُؤْمِنٌ وَلَا يُبْغِضُنِي إِلَّا مُنَافِقٌ
“Tidak mencintaiku kecuali seorang mukmin, dan tidak membenciku kecuali seorang munafik.”
Jadi, ukuran yang diberikan Nabi bukan ukuran politik, suku, atau mazhab. Cinta kepada Ali adalah tanda iman; kebencian kepada Ali adalah tanda kemunafikan.
Catatan sejarah yang tidak dapat diputihkan
Dalam Sahih Muslim, Muawwiyah berkata kepada Sa‘ad bin Abi Waqqash:
مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسُبَّ أَبَا التُّرَابِ؟
“Apa yang mencegahmu mencaci Abu Turab?”
Sa‘ad menolak. Ia menyebut tiga keutamaan Imam Ali yang didengarnya langsung dari Rasulullah:
- kedudukan Ali terhadap Nabi seperti Harun terhadap Musa—kecuali tidak ada nabi sesudah Muhammad;
- panji Khaibar diberikan kepada lelaki yang mencintai Allah dan Rasul-Nya serta dicintai Allah dan Rasul-Nya; dan
- Ali, Fathimah, Hasan, serta Husain dipanggil Nabi pada peristiwa Mubahalah seraya beliau menyatakan, “Ya Allah, mereka adalah keluargaku.”
Orang boleh memperdebatkan maksud pertanyaan Muawwiyah. Namun teks sahih itu tidak dapat dihapus:
“pencacian terhadap Imam Ali telah menjadi praktik politik yang dikenal, dan Sa‘ad menolaknya justru dengan menghadirkan sabda-sabda Rasulullah.”
Di sinilah persoalan hari ini menjadi jelas. Memang tidak semua orang yang mewarisi pandangan baik tentang Muawwiyah otomatis merupakan pencaci Ahlul Bait; sebagian mungkin hanya menerima sejarah tanpa pernah memeriksanya.
Tetapi setelah fakta dibuka, orang yang tetap memutihkan permusuhan terhadap Ali, membela pencacian atas nama “ijtihad”, atau memarahi korban sejarah demi menjaga kemuliaan pelakunya, tidak lagi bersikap netral.
Ia telah memilih keberpihakan moral.
Anda tidak dapat mengaku mencintai Ali sambil terus mencari alasan bagi orang yang merendahkannya.
Anda tidak dapat bershalawat kepada Muhammad dan keluarganya, lalu menyucikan kekuasaan yang menjadikan penghinaan terhadap Ali sebagai alat politik.
Dan Anda tidak dapat menyerukan persatuan dengan cara melindungi pelaku sambil membungkam luka korban.
Apakah pencaci Ahlul Bait otomatis murtad?
Ibnu Hajar Al-Haitami memang menukil dalam Ash-Shawa‘iq Al-Muhriqah sebuah redaksi:
“Barang siapa mencaci Ahlul Baitku, sesungguhnya ia murtad dari Islam ….”
Namun ketelitian ilmiah menuntut kita menjelaskan bahwa Ibnu Hajar memperkenalkannya dengan kata وَوَرَدَ—“dan telah disebutkan”—tanpa menampilkan sanad atau penilaian kesahihannya pada tempat itu. Karena itu, redaksi tersebut boleh disebut sebagai nukilan yang terdapat dalam kitabnya, tetapi tidak tepat langsung diumumkan sebagai hadis sahih tanpa penelitian sanad lebih lanjut.
Kita juga tidak perlu tergesa-gesa menjatuhkan vonis murtad kepada individu tertentu.
Vonis terhadap perbuatan berbeda dari vonis terhadap orang tertentu; yang terakhir memerlukan pengetahuan tentang maksud, kesengajaan, tegaknya hujah, dan otoritas keagamaan yang berwenang.
Sikap hati-hati ini bukan apologi. Justru inilah ketegasan ilmiah: jangan melemahkan kebenaran yang kokoh dengan sandaran yang belum kokoh.
Tapi, sejujurnya, dalil yang sahih sudah sangat keras. Mencaci Ali berarti mencaci Rasulullah.
Membenci Ali adalah tanda kemunafikan. Menyakiti Rasulullah mengundang laknat Allah di dunia dan akhirat.
Maka, jika hari ini kita bertanya, “Di manakah para pencaci Ahlul Bait?” jangan hanya mencari orang yang terang-terangan menghina Ali.
Perhatikan pula siapa yang gelisah ketika kezaliman terhadap Ali dibicarakan; siapa yang selalu mencari pembenaran bagi pelakunya; siapa yang menyuruh kita diam demi menyelamatkan kehormatan Muawwiyah, tetapi tidak pernah meminta Muawwiyah tunduk di hadapan kehormatan Ali.
Mereka mungkin tidak mencaci Ali dengan lidahnya. Namun mereka sedang bekerja keras agar pencacinya tetap dimuliakan.
Dan cinta kepada Ahlul Bait bukan hiasan dalam shalawat. Ia adalah keberpihakan moral: mencintai yang mereka cintai, menolak kezaliman terhadap mereka, serta tidak pernah menyucikan orang yang memerangi dan merendahkan mereka.
الحمد لله الذي جعلنا من المتمسكين بولاية أمير المؤمنين علي بن أبي طالب عليه السلام
اللهم صل على محمد وآل محمد وعجل فرجهم الشريف والعن أعداءهم

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
Catatan rujukan:
Al-Qur’an, QS Al-Ahzab [33]: 57.
Muslim bin Al-Hajjaj, Sahih Muslim, no. 78: cinta kepada Ali sebagai tanda iman dan kebencian kepadanya sebagai tanda kemunafikan.
Muslim bin Al-Hajjaj, Sahih Muslim, no. 2404d: percakapan Muawwiyah dengan Sa‘ad bin Abi Waqqash dan tiga keutamaan Imam Ali.
Al-Hakim An-Naisaburi, Al-Mustadrak ‘ala Ash-Shahihain, jil. 3, hlm. 121–122 pada penomoran edisi yang lazim dirujuk: riwayat Ummu Salamah dan teguran Ibnu Abbas.
Ibnu Hajar Al-Haitami, Ash-Shawa‘iq Al-Muhriqah, hlm. 240 pada edisi yang lazim dikutip; nomor halaman dapat berbeda antar-edisi. Perhatikan penggunaan kata wa wurida dan tidak adanya sanad yang ditampilkan pada nukilan tersebut.
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/18m9C2KRx5/

