Ketika Imam Ali Meruntuhkan Fatalisme dengan Satu Pertanyaan yang Tak Terbantahkan
Matahari tenggelam di belakang dataran Shiffin.
Cahaya merah menggantung di langit seperti sisa-sisa api pertempuran. Kuda-kuda berjalan perlahan. Pedang-pedang telah kembali ke sarungnya, tetapi suara benturan besi seakan masih terperangkap dalam ingatan para prajurit.
Di sepanjang perjalanan, tampak tempat-tempat sunyi yang baru saja menjadi saksi keberanian, pengkhianatan, kehidupan, dan kematian.
Sebagian prajurit menundukkan kepala. Mereka telah melihat sahabatnya gugur. Mereka telah menyaksikan kaum Muslimin berdiri saling berhadapan dengan pedang terhunus. Tidak mudah memahami bagaimana semua itu dapat terjadi di bawah langit yang sama-sama diciptakan Allah.
Di tengah rombongan terdapat seorang lelaki dari Syam.
Ia berjalan mendekati Imam Ali. Langkahnya ragu-ragu, tetapi pertanyaan di dalam dadanya tidak lagi dapat ditahan.
Ia berdiri di hadapan Amirul Mukminin.
“Wahai Amirul Mukminin,” katanya, “apakah perjalanan kita untuk menghadapi penduduk Syam ini terjadi karena ketetapan dan takdir Allah?”
Orang-orang yang berada di dekat mereka menoleh.
Pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun, di baliknya terbuka sebuah jurang besar.
Apabila seluruh perjalanan itu telah ditentukan Allah, apakah mereka masih mempunyai pilihan?
Apabila pedang telah ditakdirkan terhunus, apakah orang yang menghunusnya masih bertanggung jawab?
Apabila pembunuhan, pengkhianatan, keberanian, dan kesetiaan semuanya dipaksakan oleh takdir, untuk apa ada pahala dan dosa?
Apakah manusia hanya wayang yang digerakkan oleh tangan yang tidak terlihat?
Imam Ali berhenti.
Beliau memandang lelaki itu dengan ketegasan seorang guru yang mengetahui bahwa satu kekeliruan dalam memahami Tuhan dapat merusak seluruh bangunan agama.
Kemudian beliau menjawab:
«“Celakalah engkau! Barangkali engkau mengira takdir itu sebagai ketetapan yang pasti dan keputusan yang tidak dapat dihindari, sehingga manusia dipaksa melakukannya.”»
Suasana menjadi hening.
Imam Ali tidak menolak adanya ketetapan dan takdir Allah. Beliau menolak pemahaman bahwa takdir berarti manusia tidak memiliki kehendak.
Lalu beliau meletakkan sebuah ukuran yang tidak dapat dibantah:
«“Seandainya demikian, niscaya tidak ada lagi pahala dan hukuman. Janji dan ancaman Allah pun tidak akan mempunyai makna.”»
Kalimat itu menghantam akar fatalisme.
Jika manusia dipaksa berbuat baik, mengapa ia harus diberi pahala?
Jika manusia dipaksa berbuat jahat, mengapa ia harus dihukum?
Jika tangan seorang pembunuh digerakkan oleh paksaan Tuhan, atas dasar apa ia dimintai pertanggungjawaban?
Jika seorang penindas tidak mempunyai pilihan selain menindas, mengapa Allah mengharamkan kezaliman?
Dan jika seorang manusia tidak dapat memilih jalannya sendiri, untuk apa para nabi diutus?
Imam Ali melanjutkan:
«“Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya dengan memberikan pilihan. Dia melarang mereka sebagai peringatan. Dia memberikan kewajiban yang mudah dan tidak membebani dengan sesuatu yang berat.”»
Allah menunjukkan jalan, tetapi tidak menyeret manusia untuk menempuhnya.
Allah mengingatkan tentang neraka, tetapi tidak mendorong manusia ke dalam kemaksiatan.
Allah menjanjikan surga, tetapi tidak memaksa manusia melakukan kebaikan.
Justru karena manusia dapat memilih, ketaatannya memiliki nilai.
Justru karena manusia mampu menolak, keimanannya menjadi bermakna.
Imam Ali lalu berkata:
«“Allah memberikan balasan yang banyak atas amal yang sedikit. Dia tidak didurhakai karena dikalahkan, dan tidak ditaati karena memaksa.”»
Langit di atas mereka semakin gelap.
Namun, jawaban Imam Ali membuat persoalan itu menjadi terang.
Ketika seseorang bermaksiat, bukan berarti Allah telah kehilangan kekuasaan. Allah mampu menghentikannya, tetapi memberinya ruang untuk memilih agar tindakannya dapat dipertanggungjawabkan.
Demikian pula, ketika seseorang taat, ketaatannya bukanlah gerakan tubuh tanpa kehendak. Ia melihat dua jalan, lalu memilih mendekati Allah.
Imam Ali menatap orang-orang di sekelilingnya.
«“Allah tidak mengutus para nabi sebagai permainan. Dia tidak menurunkan kitab kepada hamba-hamba-Nya tanpa tujuan. Dia tidak menciptakan langit, bumi, dan segala yang ada di antara keduanya dengan sia-sia.”»
Kemudian beliau mengingatkan firman Allah:
«“Itulah anggapan orang-orang kafir. Maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.” — QS Shad: 27»
Jika seluruh tindakan manusia hanyalah paksaan, pengutusan para nabi menjadi pertunjukan tanpa makna.
Nabi menyeru, tetapi manusia tidak bisa memilih.
Kitab suci memerintah, tetapi manusia tidak mempunyai kemampuan untuk menaati.
Allah menjanjikan pahala dan memperingatkan tentang siksa, tetapi sejak awal manusia dipaksa menuju salah satunya.
Itu bukan keadilan.
Dan Allah Mahasuci dari kezaliman.
Lelaki dari Syam itu terdiam.
Di hadapannya, takdir tidak lagi terlihat seperti rantai yang membelenggu manusia. Takdir adalah tatanan Allah yang di dalamnya manusia diberi kehidupan, kemampuan, kesempatan, petunjuk, dan kebebasan untuk menentukan sikap.
Allah mengetahui pilihan manusia sebelum manusia melakukannya. Namun, pengetahuan Allah tidak memaksa manusia menjatuhkan pilihan.
Seseorang yang berdiri di tempat tinggi dapat melihat dua kendaraan akan bertabrakan di kejauhan. Pengetahuannya tentang apa yang akan terjadi tidak membuat tangannya menjadi penyebab tabrakan itu.
Terlebih lagi ilmu Allah—sempurna, meliputi segala masa, tetapi tidak menghapus tanggung jawab hamba-Nya.
Imam Ali tidak mengajarkan bahwa manusia berkuasa sepenuhnya, terpisah dari Allah. Manusia tidak menciptakan dirinya sendiri. Ia tidak menentukan kapan dilahirkan, di keluarga mana ia tumbuh, berapa panjang usianya, dan kapan kematian menjemputnya.
Namun, di dalam batas-batas yang ditetapkan Allah itu, manusia diberi kehendak.
Ia dapat berkata jujur atau berdusta.
Ia dapat membela orang yang tertindas atau berdiri bersama penindas.
Ia dapat mengangkat pedang karena keadilan atau menggunakannya demi kekuasaan.
Karena itulah manusia akan dimintai pertanggungjawaban.
Takdir bukan alasan untuk membenarkan kejahatan.
Takdir tidak dapat digunakan seorang penguasa untuk berkata, “Kezalimanku telah ditetapkan Allah.”
Takdir tidak dapat digunakan seorang pengkhianat untuk berkata, “Aku tidak mempunyai pilihan.”
Takdir tidak dapat digunakan seorang pengecut untuk berkata, “Kepergianku meninggalkan medan adalah kehendak Tuhan.”
Sebab apabila semua perbuatan dipaksakan, penjahat dapat menyalahkan Allah atas kejahatannya.
Di situlah bahaya fatalisme.
Fatalisme dapat menjadi tempat persembunyian manusia yang tidak berani bertanggung jawab. Ia melakukan keburukan dengan tangannya sendiri, lalu menunjuk ke langit agar Tuhan menanggung kesalahannya.
Imam Ali menghancurkan tempat persembunyian itu.
Beliau mengembalikan dosa kepada pelakunya, kezaliman kepada penindasnya, pengkhianatan kepada pengkhianatnya—dan kemuliaan kepada manusia yang dengan sadar memilih kebenaran meskipun jalan itu berat.
Malam semakin turun.
Rombongan kembali bergerak.
Jejak kaki manusia dan tapak kuda tertinggal di atas pasir. Angin segera menghapus sebagian darinya, tetapi jawaban Imam Ali tidak akan terhapus oleh waktu.
Allah menetapkan alam beserta hukumnya.
Allah memberi manusia kehidupan dan kemampuan.
Allah mengutus para nabi, menurunkan kitab, menunjukkan jalan, dan memperingatkan akibatnya.
Namun, manusialah yang memilih ke arah mana ia melangkah.
Karena itu, jangan pernah berkata:
“Aku menjadi jahat karena sudah ditakdirkan.”
Katakanlah:
“Aku telah memilih, dan aku harus mempertanggungjawabkan pilihanku.”
Manusia tidak sepenuhnya bebas dari kekuasaan Allah. Namun, manusia juga bukan makhluk yang dipaksa melakukan dosa lalu dihukum karenanya.
Ia hidup di antara ketetapan Allah dan kehendak yang Allah anugerahkan kepadanya.
Takdir menghadirkan manusia di persimpangan.
Petunjuk menerangi jalan.
Namun, manusialah yang menentukan ke arah mana kakinya melangkah.
Dan di ujung perjalanan itu, setiap orang akan berdiri di hadapan Allah—bukan untuk ditanya tentang apa yang tidak mampu ia kendalikan, melainkan tentang pilihan yang pernah dibuatnya ketika kebenaran dan kebatilan berdiri di hadapannya.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Catatan Rujukan
Pokok dialog ini bersumber dari Nahjul Balaghah, Hikmah 78, yang diberi tema On Predestination.
Teks mencatat seorang lelaki dari Syam bertanya kepada Imam Ali apakah perjalanan untuk menghadapi pasukan Syam berlangsung berdasarkan ketetapan dan takdir Allah. Sayyid ar-Radhi menjelaskan bahwa jawaban Imam Ali sebenarnya panjang dan yang dimuat dalam Nahjul Balaghah hanyalah bagian pilihannya.
Lihat “Nahjul Balaghah, Bagian Surat dan Hikmah, Hikmah 78, hlm. 161–162”.
Jawaban Imam Ali menolak jabr, yaitu anggapan bahwa manusia dipaksa melakukan seluruh perbuatannya.
Beliau tidak menolak qadha dan qadar Allah, tetapi menolak menjadikannya alasan untuk menghapus kehendak serta tanggung jawab manusia. Prinsip ini selaras dengan ajaran Ahlul Bait: manusia tidak berada dalam paksaan mutlak, tetapi juga tidak memiliki kekuasaan yang terpisah dari Allah.
Latar perjalanan, matahari terbenam, keadaan para prajurit, gerak tubuh, dan perenungan lelaki dari Syam merupakan pengembangan dramatik. Pertanyaan lelaki tersebut serta inti jawaban Imam Ali mengenai pilihan, pahala, hukuman, pengutusan para nabi, penurunan kitab, dan QS Shad: 27 berpijak pada teks sumber.
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1JznPtBhen/

