Debu mengambang rendah di jalan ketika Marwan bin al-Hakam membawa Abu Dzar keluar dari Madinah.
Dari atas tunggangannya, Marwan mengawasi jalan. Orang-orang menjauh. Perintah Utsman telah diumumkan: Abu Dzar harus diberangkatkan ke Rabadzah, dan siapa pun dilarang berbicara dengannya atau mengantarnya.
Di sepanjang jalan itu, sebuah salam pun dapat menjadi pembangkangan.
Abu Dzar berada di tengah kesunyian yang dipaksakan tersebut. Usianya telah lanjut.
Kota yang harus ditinggalkannya menyimpan jejak Rasulullah: jalan-jalan yang pernah dilalui beliau, tempat suaranya pernah terdengar, orang-orang yang masih menyebut namanya dalam salawat.
Sekarang semua itu akan tertinggal di belakang.
Di depan terbentang perjalanan menuju Rabadzah.
Angin menyentuh ujung pakaiannya. Ia harus pergi dari kota Nabi karena kehadirannya telah menjadi beban bagi penguasa.
Di Syam, perkataannya tentang penimbunan harta menimbulkan perselisihan dengan Muawiyah.
Pengaduan dikirim, lalu ia dipanggil ke Madinah. Kini Madinah pun mengantarnya ke jalan keluar.
Marwan membawa perintah itu dengan kewenangan seorang utusan. Larangan telah dibacakan. Orang-orang menjaga jarak. Keberangkatan itu seolah tinggal menunggu selesainya perjalanan melewati batas kota.
Kemudian Ali datang.
Bersamanya Hasan dan Husain, Aqil bin Abi Thalib, serta Ammar bin Yasir. Mereka mendekati Abu Dzar, memasuki ruang yang oleh larangan penguasa hendak dikosongkan dari persaudaraan.
Hasan menghampiri lelaki tua itu dan mulai berbicara.
Suara Marwan segera menyela.
“Hasan! Tidakkah engkau tahu Amirul Mukminin melarang berbicara dengan orang ini?”
Teguran itu jatuh di antara mereka. Abu Dzar ada di sana, mendengarnya. Begitu pula Ali. Orang yang hendak dibuang masih harus menyaksikan bagaimana sebuah percakapan dengannya diperlakukan sebagai pelanggaran.
Marwan menambahkan bahwa jika Hasan belum mengetahui larangan itu, sekarang ia telah diberi tahu. Ia telah menyebut gelar penguasa. Ia telah mengingatkan perintahnya.
Ali bergerak mendekatinya.
Jarak antara mereka memendek. Marwan masih berada di atas tunggangannya ketika cambuk Ali terangkat, lalu mengenai bagian di antara kedua telinga hewan itu.
“Menyingkirlah!”Aqil
Gerak kepala tunggangan, tarikan tali kendali, dan debu di bawah kakinya memecah ketegangan sesaat. Perintah yang tadi dibawa Marwan bertemu dengan ketegasan yang tidak bergeser di hadapannya.
Tangan Marwan menegang pada tali kendali. Kemarahannya masih menyala, tetapi gertakan kepada Hasan tadi terhenti di hadapan ayahnya. Ia membawa nama penguasa; Ali tetap berdiri di sana.
Marwan memutar tunggangannya. Lelaki yang tadi menghardik cucu Nabi itu membawa kemarahannya kembali kepada Utsman untuk diadukan. Hasan tetap berada bersama Abu Dzar. Percakapan yang hendak dihentikan Marwan memperoleh kembali ruangnya.
Abu Dzar berhenti. Para pengantar berkumpul di dekatnya. Bunyi tunggangan yang menjauh perlahan surut, menyisakan angin dan suara orang-orang yang akan berpisah.
Ali menghadap sahabatnya.
Ia memanggil nama Abu Dzar, lalu mengingatkan untuk siapa kemarahannya selama ini menyala. Jika ia marah demi Allah, kepada Allah pula ia harus menggantungkan harapan. Setelah itu, Ali menyentuh pangkal luka yang telah membawanya sampai ke tempat tersebut.
“Mereka takut kepadamu karena dunia mereka; engkau takut kepada mereka karena agamamu.”
Abu Dzar mendengarkan.
Di belakang kalimat itu terbentang pertengkaran panjang tentang harta, kekuasaan, dan kewajiban manusia kepada Tuhannya.
Di hadapan Ali sekarang berdiri seorang tua yang harus menanggung akibatnya dengan tubuhnya sendiri: meninggalkan tempat tinggal, menjauh dari orang-orang yang dicintai, menempuh perjalanan yang tidak dipilihnya.
Suara Ali terus menguatkannya. Biarlah mereka menggenggam apa yang mereka pertahankan; bawalah selamat agama yang hendak engkau lindungi. Bahkan apabila langit dan bumi terasa tertutup bagi seorang hamba, Allah dapat membukakan jalan keluar bagi orang yang bertakwa kepada-Nya.
Di jalan yang mengarah ke pengasingan itu, kata-katanya memberi ruang untuk bernapas.
“Jangan merasa tenteram kecuali bersama kebenaran, dan jangan merasa asing kecuali bersama kebatilan.”
Angin terus bergerak di antara mereka. Jalan tetap menunggu. Kalimat Ali seakan menahan sejenak beratnya keberangkatan, memberi Abu Dzar sesuatu yang dapat dibawa ketika suara-suara para pengantarnya sudah tidak terdengar lagi.
Kemudian Aqil berbicara.
“Engkau tahu kami mencintaimu, dan kami tahu engkau mencintai kami.”
Kata-kata itu begitu dekat. Di tempat seseorang sedang dijauhkan dari banyak manusia, Aqil menyebut ikatan yang tetap tinggal. Ia mengenang kesetiaan Abu Dzar kepada keluarga Nabi, lalu mengingatkannya agar bersandar kepada Allah dan tidak menyerah kepada keputusasaan.
Hasan meneruskan perpisahan itu. Sebutan pamanku mengawali ucapannya. Lelaki yang baru saja disebut Marwan sebagai orang ini kini mendengar panggilan dari cucu Rasulullah. Hasan mengajaknya bersabar, menanggung kepahitan dunia dengan harapan kepada apa yang menantinya, sampai kelak berjumpa dengan Nabi dalam keridaan beliau.
Husain juga menyapanya sebagai seorang paman. Ia mengingatkan bahwa Allah berkuasa mengubah keadaan. Mereka telah menahan dunia mereka dari Abu Dzar, sementara Abu Dzar mempertahankan agamanya dari mereka.
Satu demi satu, suara orang-orang yang dicintainya mengisi perpisahan itu.
Ketika tiba giliran Ammar, kemarahan terdengar dalam perkataannya. Ia mengecam orang-orang yang membuat Abu Dzar terasing dan ketakutan. Kecintaan kepada dunia, katanya, telah menahan manusia dari mengucapkan kebenaran.
Abu Dzar menangis.
Air mata mengalir di wajah tuanya. Di hadapannya ada Ali. Ada Hasan dan Husain. Ada saudara-saudara yang tetap datang ketika larangan telah diumumkan, tetap berbicara ketika seorang utusan penguasa berusaha membungkam perpisahan mereka.
“Apabila melihat kalian, aku teringat Rasulullah.”
Nama itu keluar bersama dukanya.
Rasulullah.
Ia sedang meninggalkan Madinah, dan di wajah-wajah yang mengantarnya, ingatan kepada Rasulullah mendekat begitu kuat. Orang-orang inilah yang membuat kota itu masih mempunyai tempat bagi hatinya.
Kini, di jalan menuju pembuangan, mereka berdiri cukup dekat untuk mendengar suaranya.
Abu Dzar menyampaikan betapa keberadaannya telah memberatkan Utsman sebagaimana sebelumnya memberatkan Muawiyah. Ia akan dibawa ke tempat yang menjauhkannya dari kebersamaan manusia.
Namun ia menyatakan bahwa Allah tetap menjadi teman baginya; bersama Allah, ia tidak merasa kehilangan segala tempat bersandar.
Tangis itu berjalan bersama keteguhannya.
Ali dan orang-orang yang datang mengantar masih berada di dekatnya. Mereka dapat menemani saat ini, memperpanjang percakapan beberapa saat lagi. Setelah itu, jalan akan meminta mereka berpisah.
Dalam riwayat pengantaran tersebut, Ali mengingatkan:
“Berilah salam perpisahan kepada saudara kalian; yang berangkat harus melanjutkan perjalanan, dan yang mengantar harus kembali.”
Waktu mereka sampai di batasnya.
Di sekitar Abu Dzar, perpisahan menahan kata-kata yang masih ingin diucapkan. Seorang saudara akan pergi. Orang-orang yang mencintainya harus membiarkan jarak tumbuh di antara mereka.
Lalu perjalanan itu diteruskan.
Debu terangkat lagi dari jalan. Abu Dzar menjauh bersama arah menuju Rabadzah, sementara para pengantarnya harus kembali ke Madinah.
Suara-suara yang tadi begitu dekat perlahan tinggal dalam ingatan. Di antara suara itu ada Ali, yang memintanya tetap merasa tenteram bersama kebenaran.
Di Madinah, persoalan pengantaran tersebut belum selesai.
Marwan telah mengadu. Utsman mempermasalahkan tindakan Ali, dan perkara itu kemudian dibicarakan. Ali menegaskan bahwa ia datang untuk menunaikan hak Abu Dzar.
Marwan telah menghalanginya menunaikan hak tersebut, dan Ali menyingkirkan penghalangan itu.
Sesudahnya, orang-orang dari Quraisy dan Bani Umayyah mendesak Marwan. Mereka mengungkit perlakuan Ali terhadapnya dan tunggangannya, mempertanyakan kesediaannya menerima kejadian itu tanpa membalas.
Marwan menjawab:
“Demi Allah, sekalipun aku menginginkannya, aku tidak akan sanggup.”
Gertakan di jalan tadi berakhir pada pengakuan itu. Marwan sanggup menghardik orang-orang yang hendak berpamitan kepada seorang tua. Ketika Ali menghadangnya, kemarahan itu dibawanya pulang untuk diadukan.
Sementara mereka masih membicarakan penghormatan yang dianggap telah dilanggar, Abu Dzar sedang menempuh jalan pengasingannya. Perintah pembuangan berhasil menjauhkannya dari kota. Larangan pengantaran gagal membuatnya berangkat tanpa mendengar kasih saudara-saudaranya.
Di belakangnya, Ali telah berdiri menghadapi orang yang hendak memutus perpisahan itu.
Dan di sepanjang jalan menuju Rabadzah, Abu Dzar membawa suara yang tidak dapat dirampas Marwan:
ia masih dicintai.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Catatan pengisahan:
Debu, angin, gerak kecil, dan suasana suara merupakan rekonstruksi sastra. Tindakan pokok serta dialog mengikuti riwayat yang dirujuk
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/19LWLgnp6q/

