5 September 2026

Bismillahirrohmaanirrohiim…
Allahumma sholli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad

Kisah ini menggambarkan hubungan yang sangat erat, penuh rasa hormat, dan kasih sayang antara dua tokoh besar Islam, yaitu Imam Malik bin Anas (pendiri Mazhab Maliki) dan Imam Ja’far ash-Shadiq (cucu Rasulullah SAW).

Sambutan Hangat dan Rasa Cinta yang Mendalam

Setiap kali berkunjung ke kediaman Imam Ja’far ash-Shadiq, Imam Malik selalu disambut dengan penuh penghormatan. Imam Ja’far mempersilakannya duduk, memberikan bantal untuk bersandar, dan bahkan menyatakan cintanya secara langsung dengan berkata, “Wahai Malik, aku benar-benar mencintaimu”. Pernyataan ini membuat Imam Malik sangat gembira dan bersyukur kepada Allah atas perlakuan luar biasa dari seorang keturunan Rasulullah.

Meskipun Imam Malik tidak meyakini konsep Imamah sebagaimana yang diyakini oleh kaum Syiah, hubungan di antara kedua ulama ini tetap terjalin dengan sangat mesra, akrab, dan hangat.
Hal ini menjadi cerminan nyata dari akhlak Islami dan etika kenabian (etika Nabawi) yang luhur.

Keteladanan Ibadah Imam Ja’far ash-Shadiq

Imam Malik mengenang bahwa setiap kali ia bertamu, ia selalu mendapati Imam Ja’far berada dalam salah satu dari tiga keadaan mulia ini:

  • Sedang menjalankan ibadah puasa.
  • Sedang mendirikan shalat sunnah.
  • Sedang duduk dengan khusyuk mengucapkan zikir kepada Allah SWT.

Perjalanan Haji dan Rasa Takut yang Menggetarkan (Khasyyah)

Dalam kesempatan lain, Imam Malik ikut serta dalam rombongan haji bersama Imam Ja’far.
Saat perjalanan sudah mendekati kota suci Mekkah dan ia mengenakan pakaian ihram, terjadi peristiwa yang menggetarkan hati.
Setiap kali ingin mengucapkan kalimat talbiyah (“Labbaik Allahumma Labbaik”), Imam Ja’far tidak sanggup menyuarakannya.
Tubuhnya bergetar hebat hingga hampir pingsan dan terjatuh dari kudanya.

Ketika Imam Malik bertanya dengan penuh heran mengapa kalimat mulia tersebut tidak terucap dari mulutnya, Imam Ja’far menjawab:

“Wahai Putra Abu Amir, aku khawatir ketika aku mengucapkan ‘Labbaik Allahumma Labbaik’ (Aku datang memenuhi panggilan-Mu, ya Allah), justru akan datang jawaban murka dari Allah: ‘La Labbaika wa la Sa’daika’ (Aku tidak menerima kehadiranmu dan tidak memberikan kebahagiaan untukmu).”

Sikap ini menggambarkan betapa mendalamnya rasa takut (khasyyah) dan takzim Imam Ja’far ash-Shadiq kepada Allah SWT.

Kesimpulan

Kisah perjalanan dan interaksi kedua imam besar ini menjadi potret indah yang sangat didambakan oleh seluruh umat Islam.
Di tengah perbedaan penafsiran dan pemahaman agama, para ulama terdahulu tetap saling menghormati, mengasihi, dan menjunjung tinggi persatuan di bawah naungan kalimat tauhid.

Keagungan Akhlak Imam Ja far

 

Judul video: Kenangan Indah Imam Malik ra Bersama Imam Ja’far ash Shadiq as – Watch on Youtube

Yuk Subscribe PANDU AHLULBAYT:
Subscribe Channel PANDU AHLULBAYT

 

Berita Timur Tengah

  • Memuat berita terbaru...

Buku Yang Perlu Anda Miliki

Imam Ali Khamenei: Jangan Ikuti Syiah Ekstrim

Video Thumbnail
WA Follow Us