Zikir yang Tidak Ditinggalkan Ali, Bahkan pada Malam Shiffin
Tidak semua kisah hebat dimulai dengan derap ribuan kuda.
Tidak semuanya dibuka oleh dentang pedang, gemuruh pasukan, atau pintu benteng yang runtuh.
Ada kisah besar yang bermula dari suara dua batu yang bergesekan di sebuah rumah sederhana di Madinah.
Krek… krek… krek…
Batu penggiling itu terus berputar di hadapan Sayyidah Fathimah az-Zahra a.s.
Butir-butir gandum hancur di antara kedua batu. Namun setiap putaran juga meninggalkan tekanan pada telapak tangannya. Kulit yang lembut mulai menebal, lecet, lalu melepuh.
Riwayat hanya menyebutkan bahwa batu penggiling telah meninggalkan bekas pada tangannya. Namun beberapa kata itu sudah cukup untuk membuka pintu rumah tersebut bagi kita.
Di sanalah putri Rasulullah saw. menjalani kehidupannya.
Tidak ada singgasana.
Tidak ada barisan pelayan.
Tidak ada kemewahan yang biasanya mengelilingi putri seorang pemimpin.
Yang ada hanyalah rumah kecil, pekerjaan yang tidak pernah selesai, anak-anak yang harus dirawat, air yang harus diangkut, makanan yang harus disiapkan—dan sepasang tangan yang terus bekerja meskipun mulai terluka.
Imam Ali a.s. melihat tangan itu.
Lelaki yang sanggup berdiri di hadapan para pendekar paling menakutkan itu kini berhadapan dengan sesuatu yang tidak dapat diselesaikan oleh pedang: keletihan perempuan yang paling dicintainya.
Kemiskinan bukan musuh yang datang dengan bendera. Ia menyusup melalui dapur yang sunyi, persediaan yang menipis, dan pekerjaan yang setiap pagi harus dimulai kembali.
Ali tidak mempunyai seorang pelayan untuk diberikan kepada istrinya.
Namun tersiar kabar bahwa beberapa tawanan telah datang kepada Rasulullah saw.
Ali kemudian menyarankan agar Fathimah menemui ayahnya dan meminta seseorang yang dapat membantu pekerjaan rumah. Bukan untuk kemewahan, melainkan agar tangan yang telah terluka itu memperoleh sedikit kelegaan.
Fathimah pun pergi.
Tetapi pada saat itu ia tidak menjumpai Rasulullah. Dalam riwayat yang masyhur, hajat tersebut kemudian disampaikannya kepada Aisyah agar diteruskan kepada beliau.
Fathimah pulang tanpa membawa seorang pelayan.
Malam turun di atas Madinah.
Rumah kecil itu kembali sunyi. Batu penggiling telah berhenti, tetapi bekasnya masih terasa pada tangan Fathimah.
Ali dan Fathimah telah berbaring ketika terdengar kedatangan seseorang.
Rasulullah saw.
Begitu mengetahui siapa yang datang, keduanya hendak bangkit untuk menyambut beliau.
Namun Rasulullah berkata lembut,
“Tetaplah di tempat kalian.”
Beliau tidak memanggil mereka menghadap ke masjid.
Beliau tidak menyuruh putrinya datang kembali keesokan hari.
Rasulullah sendiri mendatangi rumah mereka.
Beliau duduk di antara keduanya begitu dekat hingga Ali kelak mengingat dinginnya telapak kaki Rasulullah yang menyentuh tubuhnya.
Bayangkanlah keheningan malam itu.
Seorang nabi duduk di antara putrinya yang kelelahan dan menantunya yang tidak mampu meringankan seluruh bebannya.
Rasulullah mengetahui apa yang mereka harapkan.
Seorang pelayan.
Sepasang tangan tambahan.
Seseorang yang dapat memutar batu penggiling ketika tangan Fathimah tak lagi sanggup melakukannya.
Namun beliau berkata,
“Tidakkah kalian ingin aku tunjukkan sesuatu yang lebih baik daripada yang kalian minta?”
Ali mendengarkan.
Fathimah mendengarkan.
Lalu Rasulullah mengajarkan kepada mereka seratus butir zikir:
- Allahu Akbar—tiga puluh empat kali.
- Alhamdulillah—tiga puluh tiga kali.
- Subhanallah—tiga puluh tiga kali.
Allah lebih besar daripada seluruh beban yang mengepungmu.
Segala puji bagi Allah, bahkan ketika hidup tidak memberikan semua yang engkau harapkan.
Mahasuci Allah dari segala sangkaan bahwa Dia meninggalkan hamba-Nya sendirian.
Malam itu, rumah mereka tetap tidak memiliki pelayan.
Batu penggiling masih menunggu untuk diputar kembali.
Air masih harus diangkut.
Makanan masih harus disiapkan.
Namun Rasulullah telah meninggalkan sesuatu yang tidak akan berakhir ketika usia seorang pelayan berakhir. Beliau meninggalkan mata air kekuatan yang dapat dibawa ke mana pun—ke dalam rumah, ke tempat tidur, ke mihrab, bahkan ke tengah medan perang.
Tasbih itu kemudian dikenal sebagai Tasbih Fathimah az-Zahra.
Dalam riwayat-riwayat Ahlulbait, tasbih tersebut diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Imam Ja‘far ash-Shadiq a.s. bahkan mengatakan bahwa mereka memerintahkan anak-anak mereka untuk menjaganya sebagaimana mereka memerintahkan anak-anak mereka mengerjakan salat.
Sebab hadiah Rasulullah malam itu bukan hanya untuk menguatkan tangan yang sedang terluka.
Ia adalah pusaka ruhani bagi seluruh keturunan Fathimah—dan bagi siapa pun yang mencintai mereka.
—
Tahun-tahun berlalu.
Rasulullah saw. telah meninggalkan dunia.
Fathimah pun telah kembali kepada Tuhannya.
Rumah kecil yang pernah dipenuhi suara batu penggiling itu hanya tinggal dalam ingatan.
Imam Ali kini berdiri di tengah badai yang jauh lebih besar.
Shiffin.
Di hadapannya terbentang pasukan yang besar. Malam dipenuhi suara langkah prajurit, ringkik kuda, denting senjata, dan kegelisahan orang-orang yang tidak mengetahui apakah mereka masih akan melihat matahari esok hari.
Seorang panglima dapat melupakan banyak hal pada malam seperti itu.
Ia dapat melupakan rasa lapar.
Ia dapat melupakan tidur.
Ia bahkan dapat melupakan luka yang mengalir dari tubuhnya.
Namun Ali tidak melupakan hadiah yang diajarkan Rasulullah di sisi Fathimah.
Ketika seseorang bertanya apakah sejak malam itu ia pernah meninggalkan tasbih tersebut, Ali menjawab,
“Sejak diajarkan kepadaku, aku tidak pernah meninggalkannya.”
Orang itu bertanya lagi,
“Bahkan pada malam Shiffin?”
Ali menjawab,
“Bahkan pada malam Shiffin.”
Di tengah gemuruh dua pasukan, lidah Ali masih mengucapkan zikir yang dahulu diajarkan di sebuah tempat tidur sederhana.
Allahu Akbar.
Allah lebih besar daripada pasukan yang memenuhi cakrawala.
Alhamdulillah.
Segala puji bagi Allah, meskipun umat yang dahulu dipersatukan Rasulullah kini saling mengangkat senjata.
Subhanallah.
Mahasuci Allah dari kezaliman, kebencian, dan ambisi manusia yang mengoyak persaudaraan.
Mungkin tidak seorang pun mengetahui kenangan apa yang melintas dalam hati Ali ketika mengucapkannya.
Apakah ia teringat malam ketika Rasulullah duduk di antara dirinya dan Fathimah?
Apakah ia teringat tangan istrinya yang terluka?
Apakah ia teringat suara Rasulullah yang menawarkan sesuatu yang lebih baik daripada seorang pelayan?
Riwayat tidak menjelaskannya.
Namun riwayat memastikan satu hal:
Ali tidak meninggalkan tasbih itu—bahkan ketika Shiffin menggelegar di sekelilingnya.
—
Kisah ini bukan alasan untuk meremehkan keletihan seorang perempuan.
Luka Fathimah benar-benar ada. Kebutuhannya nyata. Rasulullah tidak menertawakannya dan tidak mengabaikannya. Beliau bahkan datang sendiri ke rumah mereka pada malam hari.
Tasbih juga bukan dalih untuk membiarkan orang-orang yang kelelahan bekerja tanpa pertolongan.
Akan tetapi, di rumah kenabian itu, Rasulullah sedang mewariskan sesuatu yang lebih panjang daripada umur seorang manusia: kemampuan untuk mengikat setiap kesulitan kepada Allah.
Beliau tidak memberikan tangan lain untuk menggantikan tangan Fathimah.
Beliau memberikan zikir yang akan menguatkan hati di balik kedua tangan itu.
Dunia mengenal Imam Ali melalui pedangnya.
Namun malam di rumah Fathimah memperlihatkan sisi lain kebesarannya.
Ali adalah seorang suami yang melihat luka pada tangan istrinya.
Ia tidak menuduh Fathimah lemah ketika meminta pertolongan.
Ia membawa kegelisahan rumah tangganya kepada Rasulullah.
Dan ketika Rasulullah memberinya sebuah amalan, Ali menjaganya sepanjang hidup—bukan hanya pada malam-malam yang tenteram, melainkan juga ketika pedang-pedang telah terhunus di Shiffin.
Itulah kesetiaan seorang murid.
Perintah yang didengarnya di rumah kecil tidak tenggelam oleh kebisingan medan perang.
Kerajaan-kerajaan kemudian tumbang.
Pasukan-pasukan besar tercerai-berai.
Nama banyak panglima lenyap dari ingatan.
Namun seratus zikir yang diajarkan di rumah tanpa pelayan itu tetap hidup. Jutaan manusia masih mengucapkannya setelah salat dan menjelang tidur.
Suara batu penggiling telah lama berhenti.
Tetapi tasbih yang lahir di sisinya masih terdengar hingga hari ini.
Dan ketika dunia bertanya apa yang ditinggalkan oleh rumah Ali dan Fathimah yang begitu sederhana, sejarah menjawab:
Mereka tidak mendapatkan seorang pelayan.
Mereka mendapatkan zikir yang bertahan melewati Shiffin—dan melintasi zaman.

Bersama Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Catatan Riwayat:
Pokok kisah—bekas batu penggiling pada tangan Fathimah, permintaannya akan seorang pelayan, kedatangan Rasulullah ketika Ali dan Fathimah telah berbaring, serta pengajaran zikir seratus hitungan—diriwayatkan langsung dari Imam Ali dalam “Shahih al-Bukhari no. 5361 dan “Shahih Muslim no. 2727a”.
Pernyataan Imam Ali bahwa beliau tidak pernah meninggalkan zikir tersebut, “bahkan pada malam Shiffin,” terdapat dalam “Shahih al-Bukhari no. 5362”.
Dalam tradisi Ahlulbait, susunannya yang masyhur sesudah salat ialah 34 kali Allahu Akbar, 33 kali Alhamdulillah, dan 33 kali Subhanallah. Tradisi tersebut juga menekankan pengajarannya kepada anak-anak dan penjagaannya setelah salat. Ringkasan riwayat-riwayat itu dapat dibaca dalam bahasan “Tasbih Fathimah az-Zahra”.
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/19HYXriZ3B/

