Sejarah tidak mencatat nama lelaki itu.
Sejarah juga tidak menyimpan kata-kata hina yang keluar dari mulutnya.
Kita tidak mengetahui apa yang ia ucapkan, seberapa kasar bahasanya, atau mengapa ia mencaci Qanbar.
Namun mungkin justru di situlah kemenangan pertama dari pelajaran Imam Ali:
Caciannya dilupakan. Nasihat Ali tetap hidup.
Hari itu, seorang lelaki berdiri di hadapan Qanbar—sahabat dan pengikut setia Imam Ali—lalu melontarkan kata-kata buruk kepadanya.
Lidah lelaki itu seakan kehilangan kendali.
Satu hinaan disusul hinaan lain. Ia mungkin berharap Qanbar marah, kehilangan kesabaran, kemudian membalasnya dengan kata-kata yang sama kotornya.
Sebab seorang pencaci jarang merasa puas hanya dengan melukai.
Ia membutuhkan reaksi.
Ia ingin melihat wajah korbannya berubah. Ia ingin mendengar suara meninggi. Ia ingin memastikan racun yang dilemparkannya berhasil masuk ke dalam hati orang lain.
Qanbar mendengarnya.
Ia bukan manusia tanpa harga diri. Ia bukan batu yang tidak dapat merasakan penghinaan. Ia memiliki kehormatan, perasaan, dan kemampuan untuk menjawab.
Dadanya mulai dipenuhi kemarahan.
Kata-kata balasan telah sampai di ujung lidahnya.
Barangkali Qanbar berpikir bahwa diam akan dianggap sebagai kelemahan. Barangkali ia merasa perlu mempertahankan kehormatannya agar lelaki itu tidak semakin kurang ajar.
Ia pun bersiap membalas.
Namun sebelum satu kata keluar dari mulutnya, terdengarlah suara Imam Ali:
“Perlahan, wahai Qanbar.”
Suara itu menghentikan Qanbar.
Ali tidak membentak lelaki yang mencaci. Ia tidak meminta orang-orang menangkapnya. Ia bahkan tidak membalas penghinaan tersebut dengan penghinaan lain.
Ali justru berbicara kepada Qanbar.
“Biarkan orang yang mencacimu itu tetap dalam kehinaannya.”
Qanbar menoleh.
Ali melanjutkan,
“Dengan begitu, engkau menyenangkan Allah Yang Maha Pengasih, membuat setan murka, dan menghukum musuhmu.”
Lelaki yang mencaci itu mungkin menunggu balasan.
Namun yang datang bukanlah cacian.
Yang datang adalah keheningan.
Kemudian Ali bersumpah:
“Demi Dia yang membelah biji-bijian dan menciptakan makhluk bernyawa, tidak ada sesuatu yang lebih menyenangkan Tuhan seorang mukmin daripada hilm—kemampuan menahan diri.”
“Tidak ada sesuatu yang lebih memurkakan setan daripada diam.”
“Dan tidak ada hukuman bagi orang bodoh yang lebih berat daripada tidak menanggapinya.”
Kata-kata balasan yang semula berada di ujung lidah Qanbar pun berhenti.
Cacian itu tidak menemukan mulut kedua untuk melanjutkan kehidupannya.
Ia mati di tempat ia dilahirkan.
Pencaci Membutuhkan Balasan
Imam Ali melihat sesuatu yang mungkin tidak disadari Qanbar.
Qanbar mengira peristiwa itu hanya melibatkan dua orang: dirinya dan lelaki yang mencacinya.
Namun Ali melihat pihak ketiga:
Setan.
Setan tidak selalu perlu menciptakan keburukan baru. Terkadang ia hanya membutuhkan seseorang untuk melempar satu cacian, lalu membuat orang yang menerimanya membalas dengan cacian yang lebih keras.
Setelah itu, keburukan akan berkembang sendiri.
Satu kata melahirkan dua kata.
Dua kata melahirkan permusuhan.
Permusuhan melahirkan kebencian.
Dan kebencian dapat diwariskan jauh melampaui orang-orang yang pertama kali memulainya.
Itulah sebabnya Ali berkata bahwa diamnya Qanbar akan membuat setan murka.
Setan menginginkan rantai itu berlanjut.
Namun Qanbar memutuskannya.
Lelaki itu telah melemparkan api, tetapi Qanbar tidak menyediakan kayu untuk membesarkannya.
Diam Bukan Berarti Lemah
Tidak semua diam adalah kemuliaan.
Diam ketika kebenaran diinjak dapat berubah menjadi kepengecutan. Diam ketika orang lemah dizalimi dapat menjadi bentuk pembiaran. Ali sendiri bukan manusia yang berdiam ketika agama dipermainkan, keadilan dirampas, atau manusia ditindas.
Namun Ali mengajarkan kepada Qanbar agar membedakan antara membela kebenaran dan sekadar membela ego yang terluka.
Tidak semua perkataan kasar harus diberi kehormatan berupa jawaban.
Tidak semua orang bodoh harus diberi panggung perdebatan.
Dan tidak setiap serangan terhadap harga diri harus dijawab dengan menurunkan diri ke tempat penyerang itu berdiri.
Diam yang lahir dari ketakutan memang kelemahan.
Tetapi diam ketika seseorang mampu membalas, lalu memilih menahan diri karena Allah, adalah kekuatan.
Itulah hilm.
Hilm bukan tidak memiliki kemarahan. Ia adalah kemampuan menguasai kemarahan sebelum kemarahan menguasai kita.
Orang lemah terkadang diam karena tidak memiliki jawaban.
Namun orang yang memiliki jawaban, memiliki kekuatan, bahkan memiliki kesempatan untuk membalas—kemudian memilih diam demi menjaga jiwanya—telah memenangkan peperangan yang jauh lebih sulit.
Ia telah mengalahkan dirinya sendiri.
Kehinaan Kembali kepada Pemiliknya
“Biarkan orang yang mencacimu tetap dalam kehinaannya.”
Ali tidak meminta Qanbar mempermalukan lelaki itu.
Ia tidak menyuruh Qanbar menyebarkan keburukannya.
Kehinaan itu telah diciptakan oleh si pencaci sendiri.
Setiap kata buruk yang tidak dibalas akan kembali berdiri di samping orang yang mengucapkannya. Ia tidak dapat memindahkan kehinaannya kepada Qanbar karena Qanbar menolak menerimanya.
Jika Qanbar membalas dengan cacian yang sama, batas antara keduanya akan menjadi kabur.
Orang-orang mungkin hanya melihat dua lelaki yang saling memaki.
Namun ketika Qanbar diam, perbedaan keduanya menjadi terang.
Satu orang kehilangan kendali atas lidahnya.
Satu orang mempertahankan kendali atas dirinya.
Satu orang sedang menurunkan kehormatannya sendiri.
Satu orang menjaga kemuliaannya tanpa harus mengucapkan satu kata pun.
Diam Qanbar bukan kekosongan.
Diam itu adalah keputusan.
Diam itu adalah hukuman.
Lelaki tersebut tidak mendapatkan apa yang dicarinya. Tidak ada kemarahan yang dapat dinikmatinya. Tidak ada pertengkaran yang dapat dipertontonkannya. Tidak ada kata-kata Qanbar yang dapat dipelintir untuk membenarkan keburukannya sendiri.
Ia ditinggalkan sendirian bersama caciannya.
Dan bagi seorang pencaci, tidak ada hukuman yang lebih menyakitkan daripada mengetahui bahwa racunnya tidak berhasil melukai.
Siapa yang Mengendalikan Jiwa Kita?
Nasihat Imam Ali kepada Qanbar terasa semakin penting pada zaman ketika satu cacian dapat menyeberangi ribuan layar dalam beberapa detik.
Manusia merasa harus menjawab semuanya.
Setiap sindiran harus dibalas.
Setiap ejekan harus dilawan.
Setiap komentar buruk harus dipatahkan.
Seolah-olah kehormatan kita bergantung pada kecepatan jari menulis jawaban.
Padahal, jika satu cacian mampu menentukan kapan kita marah, apa yang kita tulis, dan seburuk apa bahasa yang kita gunakan, sesungguhnya si pencaci telah berhasil mengambil alih kemudi jiwa kita.
Ia berkata—kita langsung bereaksi.
Ia memancing—kita segera menyambar.
Ia menurunkan dirinya—kita ikut turun bersamanya.
Ali mengajarkan kebebasan yang sesungguhnya:
Jangan berikan kendali atas dirimu kepada orang yang tidak mampu mengendalikan lidahnya sendiri.
Tanyakanlah sebelum menjawab:
Apakah kebenaran memang harus dibela, atau hanya egoku yang sedang menuntut kemenangan?
Apakah jawabanku akan menyenangkan Allah, atau justru memberi setan pertengkaran baru?
Apakah kata-kataku akan menjernihkan keadaan, atau hanya memperpanjang usia sebuah kebodohan?
Kadang-kadang kebenaran mengharuskan kita berbicara dengan tegas.
Namun kadang-kadang, jawaban yang paling tegas adalah tidak memberikan jawaban sama sekali.
Cacian Itu Mati, Ajaran Ali Tetap Hidup
Kita tidak mengetahui apa yang kemudian dilakukan lelaki itu.
Riwayat tidak menceritakan apakah ia menundukkan kepala, pergi dengan malu, atau tetap bertahan dalam kebodohannya.
Riwayat juga tidak menyebutkan satu pun kata hina yang telah diucapkannya.
Cacian itu benar-benar mati.
Namun sejarah mengingat Qanbar—karena ia mampu menahan lidahnya.
Sejarah mengingat Ali—karena ia mengajarkan bahwa kehormatan tidak selalu dipertahankan dengan membalas.
Dan sejarah melupakan pencaci itu—sebagaimana akhirnya dunia melupakan orang-orang yang hanya mampu meninggalkan keburukan.
Hari itu Qanbar tidak memenangkan perdebatan.
Ia memenangkan dirinya sendiri.
Ia tidak mengalahkan pencacinya dengan kata-kata.
Ia membuat pencacinya kalah karena kata-katanya tidak dianggap layak untuk dijawab.
Sungguh benar perkataan Ali:
Tidak ada yang lebih menyenangkan Allah daripada kemampuan menahan diri.
Tidak ada yang lebih memurkakan setan daripada diam.
Dan tidak ada hukuman bagi orang bodoh yang lebih berat daripada membiarkannya berbicara sendirian.
Qanbar, biarkan cacian itu mati sendiri.

Bersama HASYIM ARSAL ALHABSI
Dehills Institute
—
Catatan riwayat:
Kisah ini diriwayatkan dengan sanad dalam “Al-Amālī karya Syekh al-Mufid, Majelis 14, hadis 2”. Rangkaian periwayatannya berakhir pada Jabir, yang menuturkan bahwa Imam Ali mendengar seorang lelaki mencaci Qanbar ketika Qanbar hendak membalasnya.
Allamah al-Majlisi menyalinnya dari Majālis al-Mufid dalam “Biḥār al-Anwār, jilid 68, halaman 423”.
Perbedaan nomor halaman yang kadang ditemukan—118, 77, 423, atau 424—berasal dari perbedaan kitab dan edisi pencetakan.
Menariknya, kisah yang sama dalam bentuk lebih ringkas juga dikutip oleh ulama Sunni, Imam al-Qurthubi, ketika menafsirkan “QS Fussilat 41:34” : keburukan ditolak dengan sesuatu yang lebih baik.
Namun al-Qurthubi menyampaikannya dengan bentuk ruwiya—“diriwayatkan”—tanpa penilaian sanad tersendiri.
Al-Amālī mencantumkan mata rantai periwayatan, tetapi sumber yang saya periksa tidak menyertakan penilaian rijal lengkap terhadap seluruh perawinya. Karena itu, kisah ini lebih hati-hati ditempatkan sebagai riwayat akhlak yang masyhur, bukan dinyatakan sebagai riwayat sahih atau mutawatir tanpa pemeriksaan lebih lanjut.
Nama pencaci, tempat kejadian, ekspresi para tokoh, serta suasana percakapan tidak dijelaskan dalam riwayat.
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/19XA5poiAR/

