(Diambil dan diolah dari Ceramah Ustadz Hadi Al-Hadi, di Dehills Institute)
Bagian 1 dari 5
Bulan Maulid seharusnya menjadi bulan kegembiraan. Bukan sekadar karena kita sedang mengenang suatu kelahiran, melainkan karena kelahiran Rasulullah SAWW merupakan hadirnya rahmat Allah dalam bentuk manusia yang dapat dilihat, didengar, dicintai, dan diteladani.
Allah berfirman:
“Sungguh, Allah telah memberikan karunia kepada orang-orang beriman ketika Dia mengutus seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri…”
(QS Ali ‘Imran [3]: 164)
Al-Qur’an menyebut pengutusan Rasulullah sebagai mann—karunia besar yang dicurahkan Allah. Karena itu, mencintai Rasulullah bukan sekadar penghormatan kepada seorang tokoh sejarah. Cinta kepada Rasulullah adalah kesadaran bahwa melalui beliaulah manusia mengenal jalan pulang kepada Allah.
Allah sendiri menegaskan:
“Kami tidak mengutus engkau, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
(QS Al-Anbiya [21]: 107)
Maulid adalah momentum ketika kita merayakan rahmat itu. Namun cinta tidak boleh berhenti sebagai perasaan. Cinta harus mencari jalan. Cinta yang tidak melahirkan gerak hanya akan menjadi kekaguman; sedangkan cinta yang benar akan mengubah cara berpikir, cara berjalan, dan arah kehidupan.
Imam Ja‘far ash-Shadiq as pernah bertanya:
هَلِ الدِّينُ إِلَّا الْحُبُّ؟
“Bukankah agama itu adalah cinta?”
Kemudian Imam membacakan firman Allah:
“Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku; niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.”
(QS Ali ‘Imran [3]: 31)
Riwayat ini terdapat dalam Al-Khiṣāl karya Syekh ash-Shaduq. Imam ash-Shadiq tidak memisahkan cinta dari mengikuti Rasul. Cinta kepada Allah memperoleh bentuknya melalui ittibā‘—mengikuti Rasulullah SAWW. Dengan kata lain, cinta membutuhkan jalan, dan jalan cinta kepada Allah adalah Muhammad dan keluarga Muhammad.
Tiga Getaran dalam Jiwa Seorang Hamba
Manusia yang menyadari dirinya sebagai hamba akan bergerak menuju Allah melalui tiga kekuatan batin: cinta, harapan, dan takut.
Cinta membuatnya ingin mendekat. Harapan membuatnya tidak berhenti berjalan. Sementara rasa takut membuatnya berhati-hati agar tidak tersesat dari jalan.
Seorang anak yang mengetahui betapa besar kasih sayang ibunya tidak ingin jauh darinya. Kalaupun tubuh mereka berjauhan, hatinya selalu mencari cara untuk mendekat: menelepon, bertanya, mengenang, atau sekadar mendengar suara ibunya. Bukan karena sang ibu tidak mengetahui keberadaannya, melainkan karena cinta selalu menuntut hubungan.
Demikian pula seorang hamba. Ketika ia mengenal kasih sayang Allah, ia ingin dekat kepada-Nya. Tetapi kedekatan kepada Allah bukanlah kedekatan ruang. Allah tidak berada di suatu tempat sehingga manusia dapat mendekati-Nya dengan ukuran meter atau langkah kaki.
Imam Ali as menegaskan bahwa Allah bersama segala sesuatu, tetapi bukan dalam pengertian kedekatan fisik; dan berbeda dari segala sesuatu, tetapi bukan dalam arti berjarak secara fisik. Nahj al-Balaghah, Khotbah 1.
Karena itu, mendekat kepada Allah berarti meninggalkan segala sesuatu yang menjauhkan hati dari-Nya. Kedekatan itu terjadi melalui pengetahuan, ketaatan, penyucian jiwa, kasih sayang, dan keselarasan kehendak manusia dengan kehendak-Nya.
Adapun harapan—rajā’—mencegah manusia berputus asa. Seorang hamba mungkin membawa dosa, kelemahan, dan masa lalu yang kelam, tetapi ia tidak pernah kehilangan keyakinan bahwa rahmat Allah lebih luas daripada seluruh kesalahannya.
Sementara khauf bukanlah ketakutan imajinatif seperti takut kepada kegelapan, kuburan, atau bayangan kematian. Khauf adalah kesadaran bahwa dosa mempunyai akibat; bahwa hidup akan dimintai pertanggungjawaban; dan bahwa manusia tidak boleh mempermainkan kasih sayang Allah.
Harapan tanpa rasa takut dapat berubah menjadi kelalaian. Rasa takut tanpa harapan dapat berubah menjadi keputusasaan. Karena itu, keduanya harus hidup secara seimbang.
Imam Ja‘far ash-Shadiq as meriwayatkan dari ayahnya, Imam Muhammad al-Baqir as:
“Dalam hati setiap mukmin terdapat dua cahaya: cahaya takut dan cahaya harapan. Jika ditimbang, keduanya tidak mengungguli satu sama lain.”
Riwayat ini memperlihatkan keindahan pendidikan Ahlul Bait. Mereka tidak mengajarkan manusia hidup hanya dengan ketakutan, seolah-olah Allah selalu menunggu kesempatan untuk menghukum. Mereka juga tidak mengajarkan harapan kosong yang membuat seseorang merasa bebas berbuat apa saja. Seorang mukmin berjalan dengan dua cahaya: takut kehilangan Allah dan berharap tidak pernah ditinggalkan oleh-Nya. Al-Kāfi, jilid 2, Bab “Khauf dan Rajā’,” hadis 1 dan 13.
Mereka Pun Mencari Wasilah
Ketiga unsur itu—keinginan untuk mendekat, harapan, dan rasa takut—dipertemukan Al-Qur’an dalam satu ayat:
“Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari wasilah kepada Tuhan mereka—siapa di antara mereka yang lebih dekat—mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya. Sesungguhnya azab Tuhanmu adalah sesuatu yang patut ditakuti.”
(QS Al-Isra’ [17]: 57)
Ayat ini sangat penting. Ia tidak sedang menolak wasilah. Justru ayat tersebut menegaskan bahwa hamba-hamba Allah yang paling dekat sekalipun tetap mencari wasilah kepada-Nya, mengharapkan rahmat-Nya, dan takut kepada-Nya.
Yang ditolak Al-Qur’an adalah menjadikan makhluk sebagai tuhan yang berdiri sendiri, seolah-olah mempunyai kekuasaan yang terpisah dari Allah. Para nabi, malaikat, dan hamba-hamba suci tidak pernah menjadi tandingan Allah. Mereka sendiri adalah penyembah Allah. Mereka hidup karena Allah, bertindak dengan izin Allah, dan memperoleh kedudukan karena Allah.
Di sinilah batas yang harus dijaga dengan terang: tawasul bukan meyakini adanya kekuatan yang merdeka dari Allah. Tawasul justru mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya sumber kekuatan, tetapi Dia menciptakan jalan-jalan yang dengannya manusia mendekat kepada-Nya.
Allah adalah tujuan; wasilah adalah jalan.
Allah adalah sumber; wasilah adalah sesuatu yang diberi-Nya kemampuan untuk mengantarkan.
Allah adalah pemberi; wasilah tidak memiliki apa pun kecuali yang dianugerahkan Allah kepadanya.
Menggunakan Sebab Bukan Menyekutukan Allah
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia selalu menggunakan wasilah. Rasa haus tidak hilang tanpa air. Penyakit diobati melalui obat dan dokter. Ilmu diperoleh melalui guru. Manusia lahir ke dunia melalui ayah dan ibu.
Kita tidak mengatakan bahwa air adalah Tuhan hanya karena air menghilangkan dahaga. Kita juga tidak menganggap dokter sebagai sekutu Allah hanya karena melalui tangannya seseorang memperoleh kesembuhan. Air, obat, dokter, dan guru hanyalah sebab-sebab yang diciptakan Allah.
Air tidak memiliki kekuatan mandiri untuk menghilangkan dahaga. Allah-lah yang menciptakan air sekaligus memberikan kepadanya sifat yang dapat menyegarkan tubuh. Obat tidak menyembuhkan secara independen. Allah-lah yang meletakkan khasiat pada obat.
Tauhid bukanlah menolak hukum sebab-akibat. Tauhid adalah meyakini bahwa seluruh sebab memperoleh keberadaan dan pengaruhnya dari Allah.
Karena itu, ketika Al-Qur’an memerintahkan manusia mencari wasilah, perintah tersebut tidak bertentangan dengan tauhid:
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah, carilah wasilah untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya agar kalian beruntung.”
(QS Al-Ma’idah [5]: 35)
Perhatikan urutannya. Ayat ini ditujukan kepada orang-orang yang telah beriman. Mereka diperintahkan bertakwa. Namun iman dan takwa tidak membuat perintah mencari wasilah menjadi tidak diperlukan. Setelah beriman dan bertakwa, mereka masih diperintahkan:
وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ
“Carilah dengan sungguh-sungguh wasilah menuju kepada-Nya.”
Kalau wasilah dengan sendirinya merupakan kemusyrikan, mustahil Allah memerintahkannya kepada orang-orang beriman. Maka persoalan sebenarnya bukan apakah wasilah diperbolehkan, melainkan wasilah seperti apa yang dipilih, diridai, dan ditetapkan oleh Allah.
Wasilah Bukan Hanya Sosok
Dalam ajaran Ahlul Bait, wasilah mempunyai bentuk yang luas. Iman adalah wasilah. Salat adalah wasilah. Puasa, zakat, haji, sedekah, silaturahmi, amal saleh, doa, dan pelayanan kepada manusia adalah wasilah.
Imam Ali as berkata:
“Sesungguhnya sebaik-baik sesuatu yang dijadikan wasilah oleh orang-orang yang bertawasul kepada Allah adalah iman kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya…”
Kemudian Imam Ali menyebut jihad di jalan Allah, kalimat tauhid, salat, zakat, puasa Ramadan, haji, umrah, silaturahmi, sedekah secara tersembunyi dan terang-terangan, serta perbuatan baik kepada sesama. (Nahj al-Balaghah, Khotbah 110.)
Dengan demikian, tradisi Ahlul Bait tidak pernah mempersempit tawasul hanya menjadi penyebutan nama seseorang di dalam doa. Seluruh ketaatan yang mendekatkan manusia kepada Allah adalah wasilah.
Namun Ahlul Bait juga mengajarkan bahwa Allah memilih hamba-hamba suci-Nya sebagai penunjuk jalan. Sebagaimana Allah menjadikan amal saleh sebagai wasilah, Allah juga dapat menjadikan manusia-manusia pilihan sebagai wasilah.
Dalam Doa Arafah, Imam Ali Zainal Abidin as bershalawat kepada keluarga Rasulullah dan berkata:
وَجَعَلْتَهُمُ الْوَسِيلَةَ إِلَيْكَ، وَالْمَسْلَكَ إِلَى جَنَّتِكَ
“Engkau telah menjadikan mereka sebagai wasilah menuju-Mu dan jalan menuju surga-Mu.”
Perhatikan kata yang digunakan Imam: ja‘altahum—“Engkau telah menjadikan mereka.” Jadi, Ahlul Bait bukan mengangkat diri mereka sendiri sebagai wasilah. Allah-lah yang memilih, menyucikan, dan menjadikan mereka sebagai jalan menuju keridaan-Nya. (Shahifah Sajjadiyah, Doa ke-47, bagian 56.)
Di sinilah tawasul menemukan fondasi tauhidnya. Kita tidak mendatangi jalan karena melupakan tujuan. Kita menempuh jalan justru karena ingin sampai kepada tujuan. Kita tidak mencintai Muhammad dan keluarga Muhammad untuk berhenti pada mereka. Kita mencintai mereka karena mereka tidak pernah menunjukkan arah selain Allah.
Mereka bukan dinding yang menutupi Allah. Mereka adalah jendela yang membuat cahaya petunjuk-Nya masuk ke dalam kehidupan manusia.
Cinta yang Menjadi Perjalanan
Tawasul pada akhirnya bukan hanya persoalan kalimat yang dibaca setelah salat. Ia adalah cara memandang hubungan manusia dengan Allah. Seorang hamba datang membawa cinta, harapan, dan rasa takut. Ia mengetahui tujuan akhirnya adalah Allah, tetapi ia juga rendah hati untuk mengakui bahwa dirinya membutuhkan petunjuk, tuntunan, dan jalan.
Kesombongan spiritual membuat seseorang berkata, “Aku tidak membutuhkan siapa pun untuk menuju Allah.” Padahal Al-Qur’an diterima melalui Rasulullah, tata cara salat diajarkan Rasulullah, dan makna agama diterangkan melalui manusia pilihan-Nya. Bahkan ucapan “aku langsung mengikuti Al-Qur’an” tetap berarti mengikuti kitab yang sampai kepada kita melalui Rasulullah SAWW.
Tawasul bukan pengakuan bahwa Allah jauh. Tawasul adalah pengakuan bahwa kitalah yang masih jauh.
Allah tidak membutuhkan perantara agar mengetahui doa kita. Kitalah yang membutuhkan wasilah agar hati kita pantas mengetuk pintu-Nya.
Karena itulah bulan Maulid bukan sekadar bulan mengenang kelahiran. Ia adalah bulan memperbarui hubungan dengan wasilah terbesar yang dianugerahkan Allah kepada manusia: Rasulullah Muhammad SAWW. Cinta kepadanya bukan penghentian perjalanan menuju Allah, melainkan permulaan perjalanan yang benar.
Sebab cinta selalu mencari jalan. Harapan membuat kita bertahan di jalan itu. Rasa takut menjaga agar langkah kita tidak menyimpang. Dan ketika ketiganya disatukan oleh tuntunan Muhammad dan keluarga Muhammad, tawasul tidak menjauhkan manusia dari tauhid—ia justru mengantarkan manusia menuju inti tauhid.
Allahumma shalli ‘alā Muhammad wa āli Muhammad.
Rujukan Utama
1. Al-Qur’an: QS Ali ‘Imran [3]: 31 dan 164; QS Al-Ma’idah [5]: 35; QS Al-Isra’ [17]: 57; QS Al-Anbiya [21]: 107.
2. Syekh ash-Shaduq, Al-Khiṣāl, bab “Agama adalah Cinta,” hadis 1.
3. Syekh al-Kulaini, Al-Kāfi, jilid 2, bab Al-Khauf wa ar-Rajā’.
4. Imam Ali as, Nahj al-Balaghah, Khotbah 1 dan Khotbah 110.
5. Imam Ali Zainal Abidin as, Ash-Shahifah as-Sajjadiyah, Doa ke-47, bagian 56.

Bersama Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1BD47EYmZU/

