Ketika Cinta Menjadi Jalan, Kebencian Menjadi Murka, dan Sikap Berlebihan Menjadi Kesesatan
Madinah masih diselimuti keheningan ketika suara Rasulullah ﷺ membelah fajar:
«بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.»
Kalimat itu turun lembut, tetapi langit mengenalnya sebagai kalimat yang agung. Ia pernah membuka surat Nabi Sulaiman a.s. kepada Ratu Bilqis. Kini ia mengawali wahyu yang berada di jantung setiap shalat: al-Fatihah.
Di belakang Rasulullah ﷺ berdiri para sahabat. Di antara mereka ada Ali bin Abi Thalib a.s.—pemuda yang tumbuh di rumah kenabian, orang pertama yang menyerahkan wajahnya kepada Allah tanpa pernah menundukkannya kepada berhala, dan lelaki yang kelak akan menjadi ujian bagi hati manusia.
Rasulullah ﷺ melanjutkan bacaannya hingga sampai pada permohonan yang akan diulang umat Islam sepanjang zaman:
«اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
Tunjukilah kami jalan yang lurus.»
Lalu:
«صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ
Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat.»
Dan akhirnya:
«غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
Bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang tersesat.»
Suara beliau berhenti. Namun makna ayat itu tidak pernah berhenti berjalan.
Al-Fatihah ternyata bukan sekadar bacaan pembuka. Ia adalah peta perjalanan manusia. Di dalamnya ada satu jalan keselamatan dan dua jurang kehancuran: jalan orang yang diberi nikmat, jalan orang yang mendatangkan murka, dan jalan orang yang kehilangan arah.
Dalam makna zahir yang dikenal dalam tafsir klasik, mereka yang dimurkai dikaitkan dengan kaum yang mengetahui kebenaran tetapi menentangnya, sedangkan mereka yang tersesat dikaitkan dengan kaum yang melampaui batas tanpa pengetahuan yang benar. Akan tetapi, riwayat-riwayat Ahlul Bait mengajak manusia menyelam lebih dalam. Ayat memiliki lapisan makna; sejarah lama dapat muncul kembali dengan wajah baru di tengah umat Muhammad ﷺ.
Sebab manusia boleh berganti nama, bangsa, pakaian, dan bahasa—tetapi penyakit hati sering menempuh jalan yang sama.
Pada suatu majelis, Rasulullah ﷺ memandang Ali a.s. Di hadapan para sahabat, beliau mengabarkan sesuatu yang lebih berat daripada denting pedang:
«“Sepeninggalku, manusia akan diuji mengenai dirimu. Pada dirimu terdapat perumpamaan Isa putra Maryam. Orang-orang Yahudi membencinya hingga memfitnah ibunya, sedangkan orang-orang Nasrani mencintainya secara berlebihan hingga mengangkatnya sebagai Tuhan.”»
Majelis itu seakan membeku.
Ali tidak sedang diberi pujian yang membuat hidupnya lebih mudah. Ia sedang diberi tahu bahwa dirinya kelak akan berdiri di antara dua gelombang besar: kebencian yang buta dan cinta yang kehilangan batas.
Yang satu akan merendahkannya meskipun mengetahui kedekatannya dengan Rasulullah ﷺ. Yang lain akan mengagungkannya sampai melampaui kedudukannya sebagai hamba Allah. Yang pertama mengulangi jalan para pembenci Isa; yang kedua mengulangi kekeliruan para pemujanya.
Rasulullah ﷺ tidak sedang menyamakan seluruh pemeluk agama dengan satu watak. Beliau sedang memperlihatkan dua penyakit abadi: menolak hujah karena kebencian dan melampaui hujah karena fanatisme.
Kemudian sejarah bergerak.
Rasulullah ﷺ wafat. Kota yang dahulu mendengar sabdanya memasuki masa yang penuh persimpangan. Ali a.s. tetaplah Ali: berdiri bersama kebenaran ketika kebenaran membuat seseorang kehilangan kawan; membela keadilan ketika keadilan membuat para pemilik kepentingan merasa terancam; dan menolak membeli kesetiaan manusia dengan harta milik umat.
Karena itu, tidak semua orang sanggup berjalan bersamanya.
Sebagian mengangkat pedang di hadapannya. Sebagian membangun mimbar untuk mencaci namanya. Sebagian menyembunyikan keutamaannya karena takut kepada penguasa. Bahkan setelah tubuhnya rebah di mihrab Kufah, kebencian terhadapnya tetap dipelihara sebagai kebijakan kekuasaan.
Namun di sisi lain, muncul pula orang-orang yang mencintainya tanpa tuntunan. Mereka mengucapkan sesuatu yang tidak pernah Ali ajarkan. Mereka meninggikan seorang hamba yang paling tunduk kepada Allah hingga melewati batas kehambaan. Padahal seluruh hidup Ali adalah sujud. Bagaimana mungkin orang yang dahinya tidak pernah bosan menyentuh tanah demi Allah justru diangkat menjadi Tuhan?
Ali menolak kedua kelompok itu.
Ia terlalu agung untuk direndahkan oleh kebencian, tetapi ia terlalu taat kepada Allah untuk dipertuhankan oleh cinta yang tersesat.
Di situlah sabda Rasulullah ﷺ menemukan maknanya. Ada orang yang binasa karena membenci Ali, sebab kebenciannya bukan lagi perbedaan biasa, melainkan penolakan terhadap nilai-nilai yang Ali tegakkan: ilmu, keberanian, kesetiaan, keadilan, dan wilayah kepada kebenaran. Ada pula yang tersesat karena mengaku mencintai Ali, tetapi merusak tauhid yang justru menjadi napas seluruh perjuangannya.
Cinta yang benar tidak menjadikan Ali sebagai Tuhan. Cinta yang benar mengikuti Ali menuju Tuhan.
Maka takwil batin al-Fatihah menjadi terang. Jalan orang-orang yang diberi nikmat bukanlah jalan yang kosong dari teladan. Ia hadir dalam diri manusia-manusia yang disucikan, yang ilmu dan akhlaknya menuntun umat kepada Allah. Dalam pembacaan Ahlul Bait, keluarga Muhammad ﷺ adalah penunjuk jalan itu; sementara permusuhan kepada mereka mencerminkan jalan kemurkaan, dan sikap berlebihan terhadap mereka mencerminkan jalan kesesatan.
Ini bukan berarti makna zahir al-Fatihah dibatalkan. Makna batin tidak menghapus makna lahir; ia menunjukkan bagaimana pola yang dikisahkan al-Qur’an dapat hidup kembali dalam diri kita. Seseorang tidak perlu lahir sebagai bagian dari umat terdahulu untuk mengulangi kesalahan mereka. Cukup ia mengetahui kebenaran lalu memusuhinya, atau mencintai tanpa ilmu lalu melampaui batasnya.
Bukankah Rasulullah ﷺ telah memperingatkan bahwa umat ini akan mengikuti jalan umat-umat sebelumnya—bahkan andaikata mereka memasuki lorong yang sangat sempit dan berbahaya, akan ada yang tetap mengikuti mereka?
Sejarah bukan hanya cerita tentang orang yang telah mati. Sejarah adalah cermin bagi orang yang masih hidup.
Lalu al-Fatihah membawa kita kembali kepada gerbang pertamanya: Bismillāhir-raḥmānir-raḥīm.
Imam Ali a.s. menegaskan bahwa basmalah merupakan bagian dari al-Fatihah sehingga keseluruhannya berjumlah tujuh ayat. Dalam riwayat yang dinukil melalui Imam Hasan al-Askari a.s., Rasulullah ﷺ menerangkan keagungan tujuh ayat tersebut dan kemuliaan basmalah. Ia bukan sekadar rangkaian huruf yang dibaca sebelum melakukan sesuatu. Ia adalah pernyataan bahwa setiap langkah dimulai dengan Allah, berlangsung dalam rahmat-Nya, dan harus berakhir dalam keridaan-Nya.
Riwayat itu juga menghubungkan pembacaan basmalah dengan kecintaan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, ketaatan kepada mereka, serta keimanan kepada kedudukan mereka. Seakan-akan manusia sedang diingatkan: jangan mengucapkan nama Allah dengan lidah, sementara hati memusuhi orang-orang yang hidupnya sepenuhnya dipersembahkan bagi Allah.
Basmalah bukan mantra. Ia adalah perjanjian.
Ketika seseorang membaca Bismillāh, ia berjanji tidak akan memulai langkahnya dengan kebencian. Ketika membaca ar-Raḥmān ar-Raḥīm, ia berjanji tidak akan menjadikan agama sebagai alat kezaliman. Ketika membaca ihdināṣ-ṣirāṭal-mustaqīm, ia mengakui bahwa dirinya belum tentu berada di jalan lurus dan masih membutuhkan bimbingan. Dan ketika membaca ghairil-maghḍūbi ‘alaihim walaḍ-ḍāllīn, ia memohon perlindungan dari dua penyakit: mengetahui kebenaran lalu memusuhinya, serta mencintai sesuatu dengan cara yang menyalahi kebenaran.
Di antara dua jurang itulah Ali berdiri.
Bukan sebagai Tuhan, melainkan sebagai hamba Allah yang paling setia.
Bukan sebagai nabi setelah Muhammad ﷺ, melainkan sebagai penjaga ajaran Nabi.
Bukan sebagai nama untuk diperebutkan dalam pertengkaran, melainkan sebagai ukuran: seberapa kuat kita berpihak kepada keadilan ketika keadilan merugikan kepentingan kita sendiri?
Setiap hari, kaum Muslim membaca al-Fatihah. Setiap hari mereka meminta jalan lurus. Namun permohonan itu akan kehilangan kejujurannya apabila lidah meminta petunjuk sementara hati membenci manusia yang menunjukkan jalan; atau apabila lidah mengucapkan tauhid sementara cinta berubah menjadi pengkultusan.
Mencintai Ali bukan sekadar menangis ketika namanya disebut. Mencintai Ali berarti tidak menjual keadilan demi kekuasaan. Tidak menukar kebenaran dengan kenyamanan. Tidak merendahkan orang miskin. Tidak mengkhianati amanah. Tidak membela kezaliman hanya karena dilakukan oleh tokoh yang kita kagumi.
Itulah cinta yang membawa manusia mendekat kepada surga—bukan karena nama Ali dipakai sebagai jimat, melainkan karena jalan Ali membawa manusia kepada Muhammad ﷺ, dan Muhammad ﷺ membawa manusia kepada Allah.
Kelak, ketika seluruh suara telah diam dan setiap manusia berdiri membawa amalnya sendiri, tidak seorang pun akan diselamatkan oleh slogan. Yang akan berbicara ialah kejujuran iman: apakah ia mencintai kebenaran ketika kebenaran itu hadir di hadapannya, atau justru membencinya karena mengganggu kepentingannya?
Maka setiap kali kita menutup bacaan al-Fatihah, janganlah menganggapnya sekadar akhir bacaan.
Ia adalah ikrar.
Ya Allah, tuntunlah kami kepada jalan Muhammad dan keluarga Muhammad. Jangan biarkan kebencian menyeret kami kepada kemurkaan-Mu. Jangan pula biarkan cinta tanpa ilmu menyesatkan kami dari tauhid. Ajari kami mencintai Ali sebagaimana Rasul-Mu mencintainya: cinta yang jernih, taat, berakal, dan membawa kami semakin tunduk kepada-Mu.
Sebab Ali bukan jalan yang berhenti pada dirinya.
Ali adalah penunjuk jalan menuju Allah.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—
Catatan Riwayat:
Kisah ini merupakan rekonstruksi naratif-reflektif berdasarkan riwayat yang dinukil dalam bahan sumber, terutama penafsiran batin terhadap akhir surah al-Fatihah, hadis penyerupaan kedudukan Imam Ali a.s. dengan ujian umat terhadap Nabi Isa a.s., serta riwayat tentang basmalah dan tujuh ayat al-Fatihah yang disebutkan dalam Tafsir Imam Hasan al-Askari, ‘Uyūn Akhbār al-Riḍā, dan Amālī al-Shadūq. Makna batin yang dikemukakan di sini diposisikan sebagai takwil riwayat Ahlul Bait dan tidak dimaksudkan menghapus makna zahir ayat
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/1F4CUQKRWX/

