Di ujung perjalanan itu, manusia akan menunggu keputusan Ali.
Seseorang mungkin datang dengan suara bergetar, menuntut haknya dikembalikan. Di hadapannya berdiri orang lain yang bersumpah bahwa tuduhan itu dusta. Keduanya membawa cerita. Keduanya menginginkan pembenaran.
Dan satu keputusan dapat mengubah kehidupan mereka.
Kita dapat membayangkan beratnya tugas itu: bagaimana jika orang yang pandai berbicara ternyata menyembunyikan kebohongan? Bagaimana jika pemilik hak justru terbata-bata, sehingga kebenarannya tenggelam di bawah suara lawannya?
Ke Yaman itulah Rasulullah SAW mengutus Ali.
Untuk mengadili.
—
Bayangkan suasana menjelang keberangkatan. Jalan panjang membentang di luar permukiman. Bekal perjalanan akan habis dan diisi kembali. Debu akan melekat pada pakaian. Malam akan berganti dengan pagi, sampai akhirnya utusan Rasulullah itu tiba di tengah orang-orang yang harus ia layani.
Tetapi sebelum semua itu, ada sebuah percakapan.
Ali berdiri di hadapan Rasulullah.
Ia menerima tugas yang menyangkut kehormatan, harta, dan kehidupan manusia. Di hadapan orang yang paling ia cintai dan hormati, ia menyampaikan keadaan dirinya dengan terus terang.
“Wahai Rasulullah, engkau mengutusku, sedangkan aku masih muda dan belum mengetahui urusan mengadili?”
Kalimat itu membawa kita mendekat kepada Ali.
Seorang manusia yang mengerti bahwa kewenangan memutus perkara mempunyai beban. Di belakang sebuah putusan terdapat manusia yang akan menanggung akibatnya. Kesalahan seorang hakim dapat mengikuti seseorang pulang, memasuki rumahnya, lalu tinggal bersama keluarganya bertahun-tahun.
Ali menyampaikan perkara itu kepada Rasulullah.
Dan Rasulullah menjawabnya dengan keyakinan yang menenteramkan:
“Sesungguhnya Allah akan membimbing hatimu dan meneguhkan lisanmu.”
—
Hati.
Lisan.
Dua hal yang akan menentukan nasib orang-orang yang kelak duduk di hadapannya.
Hati harus sanggup mengenali arah yang benar ketika kemarahan, belas kasihan, tekanan, dan kepentingan saling menariknya. Lisan harus sanggup menyampaikan keputusan dengan tepat ketika kebenaran telah menjadi jelas.
Betapa dalam bekal yang diberikan Rasulullah.
Manusia dapat mempunyai pengetahuan, tetapi gentar ketika harus menggunakannya untuk menghadapi orang berkuasa. Manusia dapat berani berbicara, tetapi keberaniannya dapat mendahului pemahamannya.
Kepada Ali, Rasulullah memberikan jaminan tentang bimbingan hati dan keteguhan lisan.
Dalam salah satu jalur penuturan, tangan Rasulullah menepuk dada Ali, lalu beliau berdoa:
“Ya Allah, bimbinglah hatinya dan teguhkanlah lisannya.”
Bayangkan sejenak adegan itu.
Tangan Rasulullah menyentuh dada orang yang akan berangkat membawa amanahnya. Sebuah doa terucap. Di hadapan mereka terbentang perjalanan, perkara-perkara yang belum diajukan, dan wajah-wajah yang belum datang meminta keadilan.
Ali akan menempuh semuanya dengan bekal dari Rasulullah.
—
Kemudian datang pesan yang akan menentukan bagaimana ia mendengarkan manusia.
Apabila dua orang bersengketa duduk di hadapannya, Ali harus mendengar pihak kedua sebagaimana ia mendengar pihak pertama, sebelum menjatuhkan keputusan.
Mari kita berhenti sejenak di ambang ruang pengadilan yang dibuka oleh pesan itu.
Bayangkan seorang pengadu telah selesai berbicara.
Ceritanya runtut. Lukanya tampak nyata. Orang-orang yang mendengarkan mulai mengangguk. Sebagian barangkali sudah memutuskan siapa yang bersalah, bahkan sebelum pihak lain membuka mulut.
Di situlah seorang hakim harus menahan dirinya.
Masih ada seseorang yang belum didengar.
Mungkin ia gugup. Mungkin kata-katanya tidak teratur. Mungkin sebuah penjelasan yang menentukan justru tersimpan di balik diamnya.
Pesan Rasulullah memberikan ruang bagi suara itu.
Orang yang datang belakangan tetap berhak didengarkan dengan kesungguhan yang sama. Tuduhan harus diperiksa. Jawaban harus diberi tempat. Keputusan menunggu sampai persoalan menjadi lebih terang.
Betapa banyak kezaliman bermula ketika manusia merasa sudah mengetahui seluruh cerita.
Dan betapa besar perlindungan yang lahir dari kesediaan seorang hakim untuk berkata kepada dirinya sendiri: masih ada yang harus kudengar.
—
Kini jalan menuju Yaman terasa berbeda.
Di dalam penggambaran kita, Ali melangkah meninggalkan tempat pertemuan itu. Suara perjalanan mulai terdengar: gesekan perlengkapan, langkah kendaraan, angin yang menyapu tanah.
Namun, pusat kisah ini tetap berada pada percakapan yang baru saja berlangsung.
Rasulullah telah mengutusnya.
Rasulullah telah membekalinya.
Ali membawa pesan agar manusia didengar sebelum diputuskan perkaranya, bersama keyakinan bahwa Allah akan membimbing hati dan meneguhkan lisannya.
Kelak, ketika mengenang peristiwa itu, Ali menyampaikan sesuatu yang membuat percakapan singkat tersebut terasa menjangkau seluruh perjalanan hidupnya.
Sejak saat itu, katanya, ia tidak lagi ragu dalam memutus perkara antara dua orang.
Di situlah kisah ini mencapai kedahsyatannya.
Kita telah mengikuti keberangkatan seorang utusan. Namun, melalui ingatan Ali sendiri, kita menyaksikan betapa dalam bekas bimbingan Rasulullah pada dirinya.
Sebuah tugas diserahkan.
Sebuah hati diteguhkan.
Sebuah lisan dipersiapkan untuk mengucapkan keadilan.
Dan di ujung perjalanan, orang-orang yang bersengketa akan duduk di hadapan Ali—membawa kegelisahan mereka, menunggu untuk didengar.
Sebelum Ali mendengarkan perkara mereka, ia telah mendengarkan Rasulullah.

Hasyim Arsal Alhabsi
Dehills Institute
—–
Catatan riwayat:
Pengutusan ke Yaman, bimbingan hati dan lisan, serta kewajiban mendengar kedua pihak terdapat dalam Sunan Abu Dawud 3582, yang dinilai hasan oleh al-Albani. Detail tepukan pada dada dan doa terdapat dalam Sunan Ibn Majah 2310.
—
Artikel dan gambar sumber: https://www.facebook.com/share/p/14qNAqW8r2M/

